M to Z – Tie 18

Zee berhasil diterima bekerja. Itu bukan berita yang terlalu mengejutkan untuk Zee karena ia yakin kantor Cynthia itu terlalu membutuhkan make-up artist tambahan. Ia yang orang baru saja bisa menyadari banyak job yang masuk ke tempat Cynthia berbading terbalik dengan jumlah pekerja di sana. Yang bahkan kalau Zee mau jujur, seorang yang hanya mengaku bisa merias akan diterima oleh Cynthia.

Ia menangai 3 job sekaligus pada hari pertamanya. Bahkan ia harus bergadang untuk menyelesaikan semua tugasnya tersebut. Ia sudah melupakan soal konser, Max dan Brian karena begitu banyak hal baru yang menyita perhatiaannya. Membuatnya kelelahan sekaligus kesenangan. Bahkan ia membiarkan handphonenya dalam keadaan mati selama ia bekerja.

Dan akhir minggu ini, seharusnya ia tidur sepanjang hari. Mengisi kembali tenaganya, ia yakin sekali ia tidak memiliki tugas. Jadi ia memeras otaknya sekuat tenaga, mencoba mengingat kembali bagaimana ceritanya sampai ia berada di dalam mobil Cynthia dan sedang dalam perjalanan menuju airport.

 

Samar-samar ingatan tersebut kembali pada Zee. Jam 8 tadi pagi, cewek itu muncul di depan rumah Zee, mengedornya seperti ibu hamil mau melahirkan. Mendorong Zee ke luar berikut tas berisi pakaiannya yang Zee tidak mengerti kapan diambil oleh Cynthia.

Kalau Zee yang normal, ia pasti sudah berteriak-teriak dan menolak mentah-mentah dan memarahi boss barunya ini. Ia tidak suka Cynthia sudah melanggar batas privasinya dan mengaduk-aduk barang-barangnya. Tapi hari masih terlalu pagi dan ia belum terbangun sepenuhnya dan jujur saja, ia bahkan tidak menyimak apa yang dikatakan oleh Cynthia.

Hanya memdengar sayup-sayup kalau Cynthia meminta maaf  dan menjelaskan kalau ada masalah mendesak dan ia tidak bisa mempercayai orang lain selain Zee, dirinya untuk membantu.

Ia bahkan kembali tertidur ketika duduk di kelas bisnis pesawat. Tubuhnya terlalu lelah dan semalam ia sulit tidur memikirkan omongan Brian.

 

Jadi tidak bisa disalahkan ketika Zee terbangun dan mendapati dirinya dalam antrian imigrasi Jepang dengan Cynthia di sampingnya. Ia meracau dalam bahasa Inggris dan membuat orang-orang menontonnya. Dan baru berhenti ketika Cynthia membentak, menyuruhnya diam.

“Maaf….” kata Zee malu.

Tapi kemarahan Cynthia tidak bertahan lama, sedetik kemudian ia sudah melambai riang pada cowok gemuk dan berkepala botak. Setelah selesai berbasa-basi. Mereka ikut cowok itu ke dalam mobil dan pergi dari airport.

Zee dalam ketidak tahuannya memutuskan untuk menikmati saja perjalanan itu. Ia belum pernah ke Sorong, dimana kota ini saja ia tidak tahu. Kemungkinan di dekat Sulawesi dan Papua.

Kota yang cukup ramai dan panas. Bahkan di dalam mobil ber-AC saja Zee masih berkeringat. Ia menatap Cynthia yang sedang mengipasi dirinya tapi tidak mengeluh sama sekali. Salut juga padahal Cynthia berdandan lengkap dan berpakaian super rapi. Blazer hitam dengan celana jeans panjang. Ada topi lebar dan kacamat juga, tapi sudah dicopot cewek itu.

Bosan memperhatikan orang-orang di dalam mobil, Zee memandang ke luar dan baru menyadari kalau mereka sedang menuju pelabuhan.

“Kita mau kemana?” tanya Zee menolehkan kepalanya ke Cynthia.

“Raja Ampat, Zee. Pulau kecil di seberang kota ini. Kurang lebih 2 jam dengan Speadboat. Memangnya kamu tidak menyimak sama sekali omonganku tadi pagi yah?” terang Cynthia agak kesal dan ia hanya bisa mencibir ketika Zee mengeleng menjawabnya.

Ampun deh, karyawan barunya ini benar-benar mahluk luar biasa berani. Bisa-bisanya menjawab sejujur itu kalau ia sedang tidak mendengarkan atasannya berbicara. Jadi ia mengulang ucapannya,

“Rina, stylist yang diutus ke sana jatuh sakit. Dan kita tidak punya stylist lain yang bebas tugas selain dirimu.”

Dan lagi-lagi Zee membuatnya bingung dengan pernyataan Zee yang mengejutkan.

“Aku mabuk laut, takut berada di ruangan tertutup dan tidak bisa berenang, Boss. Jadi tolong jaga diriku baik-baik yah, kalau tidak kamu betul-betul tidak akan memiliki stylist yang tersisa.” jawab Zee sama cueknya.

Cynthia kehabisan kata-kata. Ia sadar ia tidak akan pernah bisa menang jika berbicara dengan Zee. Anak buahnya ini selalu menemukan jawaban untuk setiap ucapannya.

“Tenang, Zee. Kapalanya terbuka kok. Ada pelampung juga, jadi kamu boleh tenang.” Ganti cowok di depan yang menjawab.

“Yah, aku hanya sekedar memberitahu. Bukannya takut naik kapal.” ujar Zee dan melempar senyuman pada cowok tadi.

“Sudah jangan dengarkan Zee. Kamu coba hubungi manager FoxT. Mereka sudah di lokasi atau kita harus menemui mereka di hotel.” perintah Cynthia.

Dan kali ini Zee menoel-noel bossnya itu, membuat Cynthia mendelik kesal, “Apa sih?!”

“FoxT? Mereka di sini?” tanya Zee polos.

Cynthia mengangkat tangan dan menjulurkannya ke leher Zee seakan-akan ingin mencekik leher Zee. Tapi Zee malah tergelak.

“Astaga, aku tidak tahu kamu juga suka bercanda. Bosa Thia… Makin senang deh bisa kerja denganmu.” selosor Zee dan merangkul lengan Cynthia kesenangan.

Membuat Cynthia memandangi Zee bingung dan mengeleng kepala.

Tobat deh. Cynthia tidak akan bisa membuat Zee marah padanya. Cewek ini tidak punya urat malu. Keluh Cynthia dalam hati.

Dibiarkannya Zee merangkul lengannya dan berceloteh riang.

Lucunya ia tidak merasa terganggu dengan sikap masa bodoh Zee ini. Sejujurnya Cynthia malah merasa terhibur, karena Zee selalu mempunyai cerita tentang segala sesuatu. Bahakan tentang gantungan pewangi mobil yang kata Zee, pernah dikira sebagai pemanas tangan dan dibawanya kemana-mana. Membuat Cynthia tergelak dan pusing.

 

Berkat celoteh Zee, perjalanan panjang tidak dirasakannya. Mereka sudah tiba di pelabuhan. Ia menyuruh Zee berjalan mengikutinya di antara dek. Cowok yang bertugas menyambut mereka tadi ternyata juga bertugas mengantarkan mereka ke pulau. Zee lega ketika memandangi kapal yang harus ia naiki. Benar-benar terbuka dan memiliki 4 mesin.

Cynthia menyuruhnya mengenakan life jaket dan duduk manis di sampingnya.

“Ini iPad, bukan untukmu, tapi ini alat komunikasi yang aku berikan untuk semua karyawanku. Aku memposting semua jadwal kerja, daftar klien berikut permintaan mereka di web ini.” unjuk Cynthia membuka halaman yang di-pin di safari. “Pokoknya ini alat komunikasi antar aku denganmu. Kamu bisa mengunakannya kan?”

“Sepertinya cukup mudah. Mirip dengan ipod, kan? Tidak masalah.” ujar Zee sok yakin.

“Di sini juga ada beberapa program styling, kamu bisa menginput wajah klienmu dan langsung melakukan test make up di sini kemudian menunjukan pada klien sebelum application.”

Cynthia menjelaskan dengan sabar semua program-program yang ada. Membuat Zee lupa sama aekali kalau dia sedang berada di atas kapal. Sampai kapal itu berhenti.

Mereka sudah tiba di Raja Ampat. Cynthia turun terlebih dahulu sedangkan Zee, ia berdiri di dok kapal memandang keindahan pulau tersebut.

Ia tidak pernah melihat pasir seputih pasir di sana. Udara seenteng dan sesegar di pulau itu. Lanhit dan laut serasa menyatu di hadapannya. Membuatnya ingin meloncat ke dalam air dan bermain di sana. Tidak penting apakah ia bisa berenang atau tidak. Cuaca seindah ini terlalu sayang untuk dibiarkan lewat begitu saja.

“Zee, buruan!!! Mereka sudah menunggu!” teriak Cynthia dari darat mengagetkan Zee.

Ia oleng sedikit, tapi seharusnya ia tidak terjatuh kalau saja kapal itu tidak ikut oleng akibat dihempas ombak besar. Membuatnya mental ke air biru di sampingnya dengan kencang.

 

Zee masuk ke dalam air. Dengan gelagapam ia mengehentak-hentakan kakinya berusaha membali ke atas. Tapi dia memang tidak ada bakat olaraga, ia malah semakin tenggelam dan sulit bernafas. Entah sudah berapa banyak air yang ia minum sampai dirasakannya sebuah tangan merangkul dadany dan menariknya ke atas.

Zee tidak benar-benar tengelam jadi ia masih cukup sadar untuk mendengar teriakan panik Cynthia dan menyadari siapa yang menolongnya.

Bukan Max! Brian yang menolongnya. Dan itu membuat Zee bingung.

 

Jadi amat wajar jika kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah, “Kenapa kamu bisa ada di sini?”

Brian mencopot bajunya yang basah dan mengelap kepala Zee dengan kaos tersebut. Tidak banyak membantu sebetulnya tapi sukses membuat Zee bengong.

“Aku tanya pada kantormu. Untung aku berhasil mengejarmu dan tiba duluan.” ujar Brian sambil terus mengeringkan rambut Zee.

“Dan kamu tahu aku bekerja di sana dari?!” tanya Zee bingung. Semalam cowok itu bahkan terkejut ketika mengetahui ia bekerja.

“Aku tahu nama perusahan tempatmu bekerja dari nenekmu. Aku sudah bilangkn kalau aku mendapatkan restu darinya.”

Zee mencibir kesal, ia memang sudah memberitahu pada neneknya soal pekerjaan barunya ini. Jadi Zee tidak bisa berkata Brian berbohong.

 

“Zee… Kamu tidak apa-apa?” tanya Cynthia tanpa terdengar panik. Lalu langsung lanjut bertanya, “Siapa cowok ini? Yah siapapun juga, terima kasih. Kamu bisa jalan kan? Kepala tidak terluka? Bagus. Kita harus masuk segera. Ganti pakaian di dalam saja. Manager FoxT sudah membawa pisau untuk membunuh kita jika kamu tidak muncul di lokasi dalam 5 menit. Jadwal mereka sudah tertunda satu hari dan tidak berniat berlama-lama lagi di tempat ini.”

Cynthia tidak menunggu jawaban Zee sama sekali, langsung menarik dan menyeretnya pergi.

Begitu masuk ke dalam cottage yang Zee duga, disewa oleh FoxT, Cynthia menarik satu baju dan satu set pakaian dalam lalu mendorong Zee masuk ke dalam kamar mandi.

“Buruan ganti, aku tunggu kamu di luar.” teriak Cynthia.

Sementara Cynthia keluar dan bergabung dengan cowok-cowok keren. Zee melempar baju yang diberikan Cynthia ke meja wastafel dan masuk ke bathtub. Ia tidak mungkin menuruti permintaan Cynthia untuk keluar hanya dengan berganti pakaian. Tubuhnya lengket dan rambutnya berantakan. Ia tidak mau terlihat seperti orang habis tercebur di hadapan FoxT, di hadapan Max tepatnya. Nanti cowok itu kembali meledeknya ceroboh dan sebagainya. Membuat dirinya terlihat bodoh.

Setelah puas mandi, ia memakai baju tadi. One piece dress berwarna putih tanpa lengan dan lehernya berbentuk U. Ukurannya juga kecil bukan main. Zee terpaksa membuka 1 kancing teratas, untungnya ia berhasil membentuknya seperti kerah kecil hingga tidak terlihat aneh.

Ia keluar dengan rambut basah dan tanpa sendal. Mengangumi sebentar interior ruangan itu yang didominasi warna putih. Ia suka dengan bahan rotan anyaman yang diwarnai putih yang menjadi bahan kursi, meja serta rangka ranjang.

Ia sedang mengambil tasnya ketika Max menerobos masuk ke dalam dan memanggil namanya.

“Kamu melihat Zee?” tanya Max terkejut ketika melihat cewek berambut hitam panjang itu menoleh padanya.

“Hei, Obelix! Bagaimana kabarmu?” sapa Zee sambil berjalan mendekati cowok itu.

Sepertinya cowok itu habis berenang karena kepala Max sama basahnya dengan kepalanya dan bertelanjang dada. Memamerkan otot-otonya yang kekar.

 

Cowok itu menatapnya terkejut dan marah? Jadi Cynthia juga sudah memberitahu soal kecelakan tadi? Mungkin lebih baik ia segera mengaku salah sebelum Max menyemburkan kalimat hinaan.

“Ya.. Ya… Aku tahu kamu mau bilang apa. Regina Sundoro, kenapa kamu bisa sampai jatuh ke laut? Memangnya kamu bisa berenang?” kata Zee meniru omelan Max yang biasa.

“Kamu jatuh??!” tanya Max kaget, betul-betul kaget.

“Lho, kamu bukannya kesini untuk memarahi aku?” tanya Zee bingung. Jadi apa maksud Max memandangnya dengan galak tadi.

“Sekarang iya! Kamu harus cerita kenapa bisa jatuh sambil kita jalan. Mereka sudah menunggu di pantai.”

Zee menurut dan ia maklum Max memasang tampang jengkel setelahnya, cowok itu pasti ingin memarahinya lagi!

“Jadi Brian ada di sini? Dan kenapa rambut kamu hitam? Disuruh cowok itu juga?”

Bukan pertanyaan yang diduga Zee. Tapi seperti biasa, siapa Zee hingga bisa menebak jalan pikir cowok ini.

“Iyah, tapi aku tidak tahu dia ada dimana sekarang. Kami meninggalkannya di lobby tadi. Lalu soal rambut, aku pikir Cynthia sudah memberitahumu. Aku terlihat menyeramkan, kan???” pekik Zee mengingat rambutnya sekarang sehitam tikus.

“Tidak juga. Lumayanlah. Cocok dengan warna mata kamu. Hiii…tam….” Max mengucapkan kata hitam seperti mengatakan ada hantu di sana.

Zee mendorong Max kesal, cowok itu selalu berhasil meledeknya. Belum sempat melancarkan serangan kedua, ia mendengar seseorang memanggilnya.

 

“Yoooo Zeeeeee!” teriak Ben ketika melihat mereka datang.

Zee tersenyum pada Ben, membalas lambaian Micky dan Jack. Membungkuk sedikit pada Alex. Karena ia belum pernah dikenalkan padanya.

“Weits, ada yang ganti warna rambut nih.” ledek Ben. Sejauh ini cowok itu memang yang paling akrab dengan Zee. Sama-sama suka bercanda.

“Gara-gara itu telat yah?” ledek Micky ikutan mengoda Zee.

“Kamu sakit Zee? Kamu kelihatan pucat! Oh bukan, itu hanya karena rambutmu.” ledek Jack dan Zee langsung menutup mukanya. Malu luar biasa. Perkenalan mereka tidak berlangsung lama, karena kemudian Boss Thia muncul.

“Zee, kamu sudah datang? Aku pikir baju itu tidak muat. Yah, syukurlah. Sini, kita harus membahas konsepnya dulu.” kata Cynthia yang lagi-lagi menarik Zee.

Cynthia bertanya hanya untuk basa-basi. Tidak pernah berniat mendengar jawaban dari Zee. Jadi ia maklum ketika Zee juga tidak membuang-buang waktu dengan menjawabnya.

 

Setelah mendengar penjelasan singkat dari sang produser, Zee mengangguk-angguk mengerti.

“Yang perempuan cerah dan manis. Yang cowok dibuat natural.” ulang Zee meminta persetujuan dan sang produser tersenyum puas.

Zee kembali ke tempat FoxT berkumpul dan mengecek pakaian mereka.

“Aku sebal dengan kalian! Kenapa sih kalian bisa tetap keren walaupun hanya bertelanjang dada dan mengenakan celana surfing bodoh seperti itu.”

Dan ia mendengar mereka tertawa.

“Kamu doang yang berani ngomong begitu ke kita, Zee! Thank you! Kamu juga ok dengan rambut hitam!” balas Jack menanggapi candannya.

Zee yakin Jack bermaksud meledek dan bukan memujinya karena berikutnya kelima cowok itu kembali tertawa, termasuk Max.

Membuat Zee dongkol.

“Untuk pujian tadi kalian, aku loloskan dari berdandan hari ini. Kalian akan didandani oleh rekanku, Surya!” ujar Zee yang tentu saja tahu kalau itu sama saja menghukum mereka. Karena Surya itu gay dan yah, tanpa bermaksud menyingkung siapa-siapa, sikap Surya terkadang membuat cowok-cowok merinding karena kesannya Surya ingin memakan semua cowok yang ada. Terlepas apakah cowok-cowok itu senang diperlakukan demikian atau tidak.

Ia puas mendengar teriakan protes mereka.

“Dimana pemeran ceweknya sih?” tanya Zee pada mereka. Tentu setelah berhasil meyakinkan mereka kalau Surya akan menjaga sikap hari ini.

“Lho, Cynthia belum cerita? Cewek itu di sana. Sembunyi dari tadi. Kita saja belum bertemu.” jawab Ben menunjuk tenda kuning tidak jauh dari tempat ini.

Zee menyerengit tapi tetap melangkahkan kaki menuju tenda itu. Begitu masuk ke dalam, ia di sambut dengan asap rokok tebal.

Seketika itu juga Zee terbatuk. Ia bahkan tidak menyadari kalau ada orang di dalam sana, saking tebalnya asap tersebut.

“Kamu stylistnya?” tanya seorang cewek, setidaknya suara itu terdengar seperti perempuan di kuping Zee.

“Benar, maaf saya terlambat. Namaku Zee. Bisa keluar sebentar? Aku perlu…”

“Aku tidak akan keluar kecuali kalian sudah siap syuting. Aku tidak akan membuat diriku berkeringat atau kepanasan di luar sana. Btw, namaku Maria.”

Zee mendengus mendengar alasan manja Maria. dengan acuh, Zee menyibak pintu masuk tenda dan menyampirkannya, pokoknya ia harus memasukan udara sebanyak mungkin ke dalam tenda tersebut.

Setelah asapnya menipis, ia melihat cewek dengan rambut pirang meringkuk di pojokan sambil memejamkan mata.

Zee menyengir, secantik apapun cewek itu tidak akan banyak gunanya jika ia terus merokok.

“Maria, aku perlu melihat kamu berdiri dan mengecek warna kulitmu. Kamu tahukan aku harus membuat kamu terlihat cerah dan ceria? Seperti matahari yang kamu benci itu? Dan untuk keterangan, ini sudah sore, matahari sudah nyaris menghilamg di luar sana.”

 

Ia tidak menyangka kalau ucapannya itu bisa langsung membuat Maria berdiri dan menghampirinya.

Dan Zee harus mengakui, Maria itu luarbiasa cantik. Tubuhnya tinggi langsing dan matanya berwarna biru. Sepertinya blasteran.

“Kamu tidak berbohongkan?” tanya Maria.

Dan suaranya juga begitu indah, Zee mendengus. Hebat, ia bahkan terpesona oleh cewek ini.

“Lihat saja sendiri.” kata Zee dan menarik lengan Maria, menuntun cewek itu keluar atau tepatnya menjadi tameng Maria karena cewek itu bersembunyi di balik punggungnya.

Sekedar untuk informasi, ia lebih pendek 15 cm dari Maria, jadi bagaimanapun caranya Maria bersembunyi, cewek itu tetap terlihat.

“Kenalkan ini Maria.” teriak Zee dan ia berhasil membuat kelima cowok itu menoleh padanya. Ia tidak heran cowok-cowok itu berdiri dan celingukan untuk melihat cewek di belakangnya ini lebih jelas.

Maria mengintip di balik punggung Zee dan tersenyum malu-malu. Jangan tanya bagaimana Zee tahu hal itu. Ia hanya bisa merasakannya saja.

“Nah, seperti yang aku bilang, matahari sudah nyaris tengelam.” ujar Zee sambil membalikan badan dan melihat Maria tersenyum ceria persis seperti anak kecil.

“Syukurlah kamu sudah mengenakan bikini, aku hanya perlu memulaskan sedikit make-up di wajahmu.”

 

Maria kembali tersenyum tapi kali ini bukan kepada Zee melainkan pada seseorang yang sepertinya sedang berjalan mendekati mereka. Jadi Zee kembali menoleh ke belakang. Kelima cowok itu yang sedang diperhatikan Maria.

“Kamu tahukan kalau hanya tinggal Max yang single diantara mereka? Dan aku yang akan menjadi pasangannya.” bisik Maria di kuping Zee. Cewek itu kembali bergelayut di belakang Zee.

“Dia bukannya dengan Cynthia?” bisik Zee balik.

Dan ia mendengar Maria tertawa. “Bukan, aku berani menjamin mereka hanya rekan kerja. Informasiku cukup akurat.” bisik Maria kembali lalu tiba-tiba melambai pada mereka dan berkata, “Hai….” dengan manisnya.

Zee saja rasanya ingin lumer ketika mendengar Maria berbicara seperti itu persis di kupingnya. Jadi ia yakin cowok-cowok itu juga bereakasi sama sepertinya.

Tapi ia malah mendengar 5 suara tawa tergelak.

“Zee, sini ngaca.” panggil Ben.

Muka Zee ditangkup oleh Ben dengan kedua tangan kekar cowok itu dan membuatnya menatap cermin yang dipegang Jack. Seketika itu juga Zee menepis tangan Ben dan menunduk malu. Mukanya berubah menjadi kepiting rebus karena suara Maria tadi.

“Aku jadi curiga kamu itu lesbi, Zee.” ledek Max memberi tusukan terakhir pada Zee.

“Obelix tidak perlu ikut campur!” omel Zee.

“Ikan dory itu seharusnya berwarna biru, Zee. Bukan merah seperti tomat begitu.” ledekan Max berlanjut.

Dasar nasib Max itu mujur, Cynthia datang menyelamatkannya. Boss Thia menyuruh cowok-cowok itu keluar, memungkinkan Zee untuk mulai mendandani Maria.

Ia membuat rambut lurus Maria menjadi keriting seperti mie dngan alat frizzer listrik, yang hanya memerlukan waktu 15 menit untuk panas dan siap digunakan. Waktu yang sama yang ia habiskan untuk memakaikan bedak serta memulaskan lipstik di bibir Maria. Karena pada dasarnya cewek itu sudah cantik, jadi Zee tidak perlu menambahkan sesuatu yang khusus.

“Zee, kamu akrab dengan mereka ya? Bantu aku yah….. Rasanya aku betul-betul jatuh cinta pada Max!” ujar Maria dengan gaya imut dan terlalu mendadak juga. Zee nyaris membuat tangannya tersengat panas ketika mencabut frizzer dari rambut Maria.

“Lumayan, tapi tidak terlalu juga.” jawab Zee hati-hati. Ia tidak berbohong, ia memang tidak terlalu akrab dengan kelima cowok itu. Bahkan ia baru mengenal Max selama 2 bulan walau rasanya sih sudah mengenal mahluk purba itu berabad-abad. Tapi tetap saja, ia baru mengenal mereka.

“Masa sih? Melihat cara mereka meledekmu tadi, sepertinya kalian sudah lama kenal.”

“Serius. Aku baru mengenal mereka. Dasarnya mereka memang usil.”

“Menurutmu Max seperti apa?”

“Dia?” tanya Zee kaget, ia tidak pernah memikirkan Max itu orang seperti apa. Jadi bingung juga harus menjawab apa. Masa ia harus mengatakan kalau Max itu mahluk purba atau cowok keras kepala yang suka memasak nasi goreng sosis?

“Benar Max? Apa benar seperti pangeran tampan yang menunggang kuda putih? Siap menyelamatkan putri dari naga?”

Membayangkan ucapan Maria, Zee jadi tergelak. Astaga, Maria pasti terlalu banyak membaca dongeng hingga bisa membayangkan Max seperti itu. Walau untuk bagian tampan dan pangerannya sedikit bisa dimaklumi. Tapi menunggang kuda putih?

Dan Zee pun kembali tertawa.

“Apa yang lucu?” tanay Maria bingung.

“Sudah deh, kamu keluar saja, ini sudah semakin sore. Yah, mungkin Max memang pangeran tampan penunggang kuda putih. Aku tidak tahu.” menurutku, Max akan selalu menjadi Obelix yang ditunggangi menhir, sambung Zee dalam hati. Kemudian kembali tergelak.

Maria menatap Zee sebentar sebelum akhirnya keluar.

 

Advertisements

One thought on “M to Z – Tie 18

  1. Pingback: M to Z and vice versa « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s