M to Z – TIe 19

Ditinggal Maria, Zee tertawa sambil merapikan barang-barangnya. Ia harus segera menyusul juga kalau-kalau ada di antara mereka yang perlu di-touch-up.

“Perlu dibantu?” tanya Brian tiba-tiba muncul.

Zee lagi-lagi bereaksi berlebihan dan berteriak cukup kencang. Ia tidak pernah suka dengan kejutan seperti itu. Jantungnya seperti copot dari tempatnya.

“Sial Brian! Jangan lakukan itu lagi. Aku bisa mati mendadak di sini.” gerutu Zee, tapi kemudian menyuruh cowok itu membawakan cosmetic box miliknya (punya Cynthia sih sebenarnya).

Beriringan mereka menuju pantai, bergabung dengan Cynthia dan yang lainnya. Ketika melihat Max menungangi kuda putih. Tawa Zee otomatis meledak dan ia harus mati-matian menahannya. Cynthia memelototinya dengan mata menusuk karena sepertinya ia menganggu.

Dengan tangan menutup mulutnya, Zee berbisik pada Cynthia, “Boss Thia, itu kuda dari mana?”

“Aku juga tidak tahu, tiba-tiba konsepnya dirubah menjadi adegan romantis seperti itu. Ceritanya si Max sedang berkuda lalu bertemu dengan Maria yang baru selesai menyelam.”

Zee melihat Max menunggang dan kemudan berhenti lalu Maria muncul dari dalam laut dan menyibak rambutnya ala iklan shampoo dan tersenyum bak bidadari. Itu persis seperti di film James Bond kan? Yah, tidak apalah meniru-niru sedikit, Zee memakluminya, tapi entah mengapa ia tidak bisa berhenti tertawa. Menurutnya adegan itu terlalu murahan.

Selesai adegan tersebut, Maria duduk di hadapan Zee. Dia harus memberikan touch-up ulang ke Maria karena cewek itu benar-benar basah kuyup sekarang sedangkan katanya, mereka harus membuat Maria kering dan berjalan-jalan di pantai, ketika bertemu dengan Micky dan Jack yang sedang bermain volley pantai. Dengan efek angin, mengibarkan rambut Maria, membuat dua cowok itu terpesona.

Untuk mengejar waktu, matahari sudah setengah tenggelam, Zee menyuruh Brian untuk membantunya mengeringkan rambut Maria. Agar ia bisa mendandani cewek itu lebih cepat. Ia masih harus mengurusi Micky dan Jack setelah itu.

“Brian, tolong lanjutkan yah. Aku ke sana.” ujar Zee ketika melihat Cynthia memanggilnya.

Walau tergesa-gesa, mereka berhasil mendapatkan gambar yang mereka mau. Dan ketika matahari benar-bener menyelinap di balik cakrawala, syuting mereka hentikan.

Zee menghela nafas lega. Baru kali ini ia harus bur-buru mendandani seseorang dan merasa puas setelahnya.

“Kerja yang bagus Zee. Tapi kita masih ada 3 hari lagi di sini. Jadi jaga kesehatanmu.” puji Cynthia. “Terima kasih juga untuk tunanganmu itu, mau repot-repot membantu. Kalian boleh kembali ke kamar.”

“Tunangan? Brian, maksudnya? Dia…”

“Tidak apa, aku tidak melarangmu untuk membawa pasangan, terlebih pasangan yang membantu seperti cowokmu itu.” tandas Cynthia tidak memberi Zee kesempatan membela diri. Lalu seakan ingin membuktikan status mereka, Brian merangkulnya dan menariknya dalam pelukan cowok itu.

Sayang Cynthia keburu membalikan badan, jadi tidak melihat Zee menyikut Brian dan memarahi cowok itu.

“Hentikan Brian! Aku tidak mau membuat skandal dan tolong berhenti memperkenalkan diri sebagai tunanganku!”

“Karena ada cowok itu?”

Dahi Zee menyerengit, “Cowok siapa?”

“Max.”

“Apa hubungannya Max dengan kita?” tanya Zee semakin bingung. Ditunggunya Brian untuk memberi penjelasan, tapi cowok itu hanya tersenyum dan mengeleng.

“Benar, dia tidak ada urusannya.” tutur Brian penuh teka-teki. Menurutnya jika Zee belum menyadari perasaan cewek itu pada Max, maka ia beruntung. Dan jika Max juga belum mengutarakan perasaannya pada Zee maka ia masih ada kesempatan. Jadi untuk apa membantu dua orang itu padahal ia ingin menikahi Zee?

Karena sudah ditinggal berdua, Brian mengajak Zee makan di tempat lain. Ia harus memakai kesempatan ini untuk menaklukan Zee. Ia harus membuat Zee jatuh cinta padanya dan menyetujui pertunangan mereka. Segera. Sebelum semuanya terlambat.

“Aku tidak lapar, tapi kalau hanya jajanan sih rasanya boleh juga. Tapi kamu harus berjanji untuk berhenti mengatakan kita sudah bertunangan.” kata Zee meresponi ajakan Brian.

Brian mengangguk menyetujuinya. Ia mengandeng tangan Zee dan mengajaknya makan ikan bakar di dekat sana. Kebetulan tadi ia sudah bertanya pada orang lokal dan menurut mereka, rumah makan tenda itu menyediakan ikan bakar terenak satu pulau.

“Memangnya kamu harus mengandengku yah?” tanya Zee sambil melirik tangan mereka yang saling bertaut. Zee merasa tidak nyaman dengan keakraban itu.

Cukup mengerti, Brian melepas tangan Zee. Ia tidak ingin membuat cewek itu marah, tidak sampai ia berhasil mengajak Zee ke pelaminan.

“Terima kasih.” ujar Zee setelah tangannya terbebas kembali.

“Maaf, mungkin aku terlalu terburu-buru. Aku hanya terlalu senang karena akhirnya kamu memaafkanku.”

“Teman memang saling memaafkan lagipula, kamu menyelamatkan aku tadi siang. Amat tidak sopan kalau aku masih tetap marah pada penyelamatku kan?”

Brian tersenyum, syukurlah, Zee sudah kembali menjadi Zee yang normal. Memang seharusnya ia tidak mendesak Zee kalau ingin berhasil menaklukan cewek itu. Ia menarik bangku untuk Zee duduk. Rumah makan itu tidak terlalu ramai, tapi Brian tetap memilih meja paling pojok untuk memberikan privasi lebih.

Ia mengoder ikan pari dan tuna sashimi untuk mereka berdua. Beberapa bir juga untuknya. Makan ikan bakar dengan alkohol itu paling enak menurutnya. Toh, beberapa kaleng tidak akan membuatnya mabok.

Ketika ia melihat Zee, cewek itu sedang menatap kaleng birnya, iseng, Brian menawarkan minuman tersebut. Tapi cewek itu mengeleng.

“Aku tidak suka rasanya. Dulu pernah mencoba dengan Max tapi asli deh, pahit dan tidak enak. Aku minta kelapa saja.”

Zee menoleh untuk memanggil pelayan bertepatan dengan masuknya Max dengan Maria. Cewek itu melambai seru pada Zee, menarik Max dan kemudian sudah duduk di samping Zee.

“Kalian di sini juga? Pesan apa?” tanya Maria riang.

Brian menyebutkan pesanan mereka dan Maria mengorder makanan yang sama untuk dirinya dan Max.

“Pantas kamu tidak tertarik dengan FoxT. Kamu punya tunangan super baik hati dan keren seperti dia.” bisik Maria sambil tersenyum-senyum penuh maksud. Membuat Zee jengah.

“Dia bukan…”

“Zee, coba yang ini.” kata Brian sambil menyuapi Zee dengan tuna mentah, dan entah kenapa Zee juga spontan membuka mulutnya dan mengunyah ikan itu.

“He…nah” gugam Zee dengan mulut penuh, ia mengambil lagi selembar potongan tuna mentah dengan tangannya dan melahapnya.

“Kamu ngomong apa Zee??” tanya Brian tidak mengerti karena Zee berbicara dengan mulut penuh.

“Enak katanya.” jawab Max.

“Zee… jorok ih! Pakai sumpit dong.” tegur Maria mengomentari Zee tapi begitu melihat Max melakukan hal yang sama, Maria membisu. Ia tidak berani mengatai Max hal yang serupa.

“Tidak apa, Zee memang seperti itu. Kalau dia tiba-tiba memakai sumpit, malah aku yang bingung.” ujar Brian sambil mengelap ujung mulut Zee yang sebetulnya tidak ada apa-apa. Ia hanya ingin menunjukan keakrabannya.

Ia tidak peduli Zee menatapnya bingung. Ia melirik sedikit pada Max yang duduk di sampingnya, berharap cowok itu melihat apa yang dilakukannya. Tapi ia harus kecewa, karena Max tetap asyik menikmati ikan mentahnya.

Brian jadi bertanya-tanya, mungkinkah ia salah menilai kedekatan Max dengan Zee? Salah mengira kalau Max memiliki perasaan pada calon tunangannya itu? Atau Max hanya belaga tidak peduli. Hanya ada satu cara untuk mengetahui, yaitu dengan menunjukan lebih banyak lagi keintiman dengan Zee.

Ia tersenyum pada Zee dan menarik kepala Zee mendekat padanya lalu mengecup dahi Zee. Ia tahu Zee pasti akan langsung mengelap bekas kecupannya itu, ia tidak berharap reaksi yang kurang dari itu. Tapi Max, cowok itu malah tertawa melihat mereka. Bahkan Maria saja masih bisa bereaksi lebih normal dengan belaga membuang muka.

“Brian, kamu sudah bermain dengan api. Hati-hati…” nasehat amx sedikit terlambat karena seiring dengan omongannya, tangan Zee sudah mendarat di pipi Brian dan cewek itu keluar dari warung begitu saja.

“Kamu tidak mau mengejar dia?” tanya Max lagi sambil menahan tawanya. Tapi sepertinya Brian terlalu shock untuk melakukan apapun juga selain duduk di sana. Jadi Max berinisiatif untuk menyusul Zee. Cewek itu kan buta arah dan hari sudah cukup gelap. Bisa-bisa Zee tersesat dan masalah lain akan muncul.

“Maria, titip Brian yah. Aku harus menyusul Zee. Dia tidak tahu jalan.” ucap Max dan meninggalkan cewek itu pada Brian. Tidak terlalu peduli apa Maria akan menganggapnya aneh atau tidak bertanggung jawab karena sudah meninggalkannya dengan cowok lain. Tapi mudah-mudahan Maria juga cukup mengerti.

 

 

 

Max menemukan Zee berdiri di dekat pantai. Tidak jauh dari warung tempat mereka makan. Sepertinya cewek itu sadar kalau ia tidak bisa kemana-mana dengan langit yang gelap. Senyum mengembang di bibir Max ketika mendengar Zee menyebut namanya. Padahal Zee tidak menoleh ke belakang sama sekali.

“Untuk apa kemari Max? Membela Brian?” dengus Zee sedikit sengau.

Max menduga, cewek itu habis menangis. Jadi ia memutuskan untuk berdiri di samping Zee, ikut-ikutan memandangi laut yang gelap. Suara ombak mengisi keheningan mereka sesaat sampai Zee tiba-tiba berteriak marah-marah.

“BRIAN BRENGSEK!!!!! Tadi dia sudah kurang ajar!!!” seru Zee kesal.

Lalu ia mendengar Max tertawa di sampingnya, benar-benar tidak sopan. Ia mendelik pada Max sebelum akhirnya beranjak meninggalkan cowok itu sambil menghentak-hentakkan kaki dan mengomel panjang pendek pada Max.

Max mengikuti Zee dari belakang, cukup dekat untuk mengawasi setiap langkah cewek itu. Iseng ia melangkah di atas jejak Zee. Ia terus menatap ke bawah hingga tidak sadar kalau Zee sudah menghadap padanya.

“Kamu sedang apa sih?” tanya Zee dengan tangan terlipat di dada dan tampang cemberut.

Max hanya menjawab dengan tersenyum. “Kamu sudah tenang sekarang?”

“Bukan urusanmu!” ujar Zee kembali membalikan badan tapi kemudian berbalik menghadap padanya, “Kamu tidak jadi membelanya?”

“Kata siapa aku ke sini untuk membela dia? Aku mau ikut marah-marah denganmu, karena cowok itu sudah dengan kurang ajar membuat ikan memakan ikan. Apa Brian tidak tahu itu artinya sudah menganggu ekosistem alam?”

Zee menghela nafas dan bergugam, “Dan kenapa aku bisa berpikir kalau kamu lebih baik dari dia?”

Max tersenyum mendengar ucapan Zee, ia tentu tidak bisa terus terang betapa ia ingin menghajar Brian di dalam tadi karena sudah mencium Zee seperti itu. Di depan umum pula. Untungnya Zee dengan cepat menampar cowok itu, ia cukup puas melihatnya.

“Jadi kalian masih belum bertunangan?”

“Menurut kamu????”

“Jangan marah begitu, aku kan hanya bertanya.”

“Tetap saja, seharusnya kamu tahu dong.”

“Tahu apa?” tanya Max belaga bodoh. Mengoda Zee.

“Tahu kalau….”

Zee berhenti karena bingung menjelaskan perasaannya sendiri. Tahu kalau apa? ia sendiri bertanya pada dirinya. Semakin dipikirkan, Zee semakin bingung, jadi ia mengeleng dan kembali berjalan.

Max menyamakan langkah dan berjalan di sisi Zee. Cukup lama membiarkan keheningan menyelimuti mereka. Ia perlu menilai kejadian tadi dari sisi Brian.

“Aku tahu kok Zee. Kalau kamu belum yakin dengan perasaan kamu sendiri. Tapi Zee, coba nilai Brian lebih dalam. Aku rasa dia melakukan hal tadi karena ada aku di sana, mungkin dia sedikit curiga melihat hubungan kita.” ujar Max akhirnya.

Ia menunggu Zee meresponi omongannya. Meresponi kata-kata yang tidak mudah ia rangkai karena dengan demikian ia sudah membantu membersihkan nama Brian kan? Mendorong Zee pada cowok itu.

“Brian memang pernah bilang kalau dia curiga dengan kita dan jujur saja, aku tidak mengerti. Memangnya ada apa di antara kita, Max?”

Zee menengok padanya dan Max bisa merasakan tatapan Zee yang dalam, menyelami dirinya. Max buru-buru membuang muka, ia tidak ingin Zee melihat terlalu dalam. Tidak ingin Zee membaca isi hatinya. Tidak sekarang, saat ia sendiri belum yakin dengan perasaannya sendiri.

Sisa perjalanan pulang, mereka kembali membisu. Max tidak tahu kalau kebisuan bisa lebih banyak berbicara dibanding dengan kata-kata dan ia benci mengetahui isi hatinya. Benci mengakui kalau Zee jauh lebih penting dari yang ia inginkan. Benci mengakui kalau ia telah jatuh cinta padanya.

 

Advertisements

One thought on “M to Z – TIe 19

  1. Pingback: M to Z and vice versa « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s