M to Z – Tie 20

Nenek Zee akhirnya menginjak lagi tanah air tercintanya ini begitu mendengar cucu tersayangnya bersedia bertunangan dengan cucu sahabatnya.

Ia tidak menyangka akhirnya tiba juga hari dimana ia dan Rudy, sahabatnya itu akhirnya memiliki ikatan yang tidak dapat terputuskan, mereka akan segera menjadi keluarga.

Dengan langkah ringan, ia mendorong bagasinya yang hanya berupa koper kecil. Ia tersenyum ketika mendapati kakek tua itu berdiri dengan tangan terbuka sambil memegang tongkatnya. Menantinya di ujung pintu keluar airport.

“Selamat datang kembali ke kotaku, Rianty!!” seru Rudy menyambut sahabatnya. Walau sekarang mereka sudah sama-sama bungkuk dan beruban, baginya nenek tua di hadapannya itu akan selalu terlihat semuda dulu.

“Jadi kamu berhasil menguasainya setelah aku pergi?” ledek Rianty mengingat gurauan mereka dulu, untuk mencantumkan nama di setiap lampu merah yang ada di Jakarta.

“Inginnya begitu, tapi tulang tuaku tidak menginjinkanku. Aku berhenti di lampu merah Duren Sawit.” ujar Rudy jenaka.

Rianty tergelak, karena letak lampu merah itu ada di depan rumah Rudy yang artinya sahabatnya ini tidak melakukan kemajuan apapun sejak ditinggalnya.

“Kamu masih sekonyol yang aku ingat, Rudy. Aku harap cucu yang kamu jodohkan pada cucuku jauh lebih pintar.” gurau Rianty.

“Sebetulnya aku ingin mengajak cucuku itu hari ini. Tapi dia masih dalam misi yang kita berikan untuknya. Menjaga cucumu.”

“Mereka masih di Raja Ampat? Kata Zee kemarin, mereka hanya 3 hari. Seharusnya mereka sudah pulang kan?” tanya Rianty menyelidik.

Sambil mengeleng dan tertawa terbahak-bahak, Rudy menjawab, “Astaga, Ty! Kamu tidak menduga cucuku sedang menculik cucumu kan? Yang aku dengar Regina punya bodyguard. Cowok bernama Max. Cucumu ada bercerita sesuatu tentang cowok itu?” gantian Rudy yang mencoba mengorek sesuatu.

“Max?” tanya Rianty bingung. Rasanya ia pernah mendengar nama itu disebut diantara e-mail yang dikirim Zee tapi ingatannya sedang tidak mau diajak bekerja sama.

 

“Rudy, apa kamu hendak menyiksaku sekarang? Menyuruh kaki tuaku ini berdiri berlama-lama atau kamu akan mengajakku ke mobilmu? Lalu membahas masalah ini atau memulai perdebatan kita seperti biasa?”

Pertanyaan yang khas Rianty ketika ia tidak mengerti atau terpojokan.

Pertanyaan yang selalu berhasil membuat Rudy tertawa senang karena artinya Rianty mengaku kalah padanya. Ia menarik tangan Rianty dan meletakannya di lengannya, menuju mobilnya.

“Rud, kamu sudah gila yah. Kita ini sudah 65 tahun dan kamu masih mengendarai mobil sport?”

Benar, Rudy membawa Porshe hitam miliknya yang sudah 40 tahun tidak pernah ia gunakan.

“Benarkah? Kenapa aku merasa masih berusia 25? Ah, itu pasti karena kamu pulang…”

Apa yang bisa Rianty lakukan selain tersipu dan tertawa? Sahabatnya ini masih segila yang ia ingat. Dan mobil itu membangkitkan kenangan lama mereka.

Dulu sekali mereka selalu mengendarai mobil Rudy ini melakukan segala macam hal yang bisa dipikirkan anak muda pada jaman itu. Balap mobil, mencari pacar, kabur dari kuliah. Semua hal…

 

“Kita langsung ke rumah Regina? Atau kamu ingin makan dulu? Soto Mamat langganan kita masih jualan, anaknya sih. Tapi sama saja lah.”

Mereka tertawa, karena Rianty tidak perlu menjawab, Rudy mengenalnya terlalu baik untuk tahu bahwa ia ingin langsung menemui cucunya. Rudy memahami dirinya sebaik ia memahami cowok itu yang pasti saat ini kelaparan dan mereka sudah siap melakukan perdebatan panjang untuk meributkan keinginan siapa yang harus diikuti.

Dan seperti dulu, Rudy akan selalu mengalah pada Rianty. Membiarkan sahabatnya itu melakukan sesukanya.

 

Mereka tiba di rumah Regina. Rianty tidak perlu menunggu Zee untuk membukakan pintu untuknya.Ia tahu cucu kesayangannya itu pasti menyimpan kunci cadangan di bawah pot bunga depan rumah. Ia membungkuk sedikit dan merogoh ke dalam pot tersebut. Menarik pita kecil berwarna hitam yang tertutup tanah, yang mengikat kunci apartment Zee.

Mereka masuk dan terus terang cukup bingung harus duduk dimana. Rumah Zee masih tidak memiliki sofa.

“Apa cucumu itu lebih suka duduk di lantai seperti dirimu, hingga melupakan sofa sebagai perabot penting dalam rumah?” tanya Rudy yang jelas unuk meledek Rianty.

“Sepertinya begitu, tapi aku sudah tua, Rud. Punggungku bisa langsung patah jika kita duduk di tempat rendah speerti itu. Jadi lebih baik kita duduk di meja makan saja. Kamu ingin makan sesuatu? Minum?” tanya Rianty sambil membuka kulkas.

Berdua mereka tercengang melihat kulkas itu kosong melompong. Mereka bertukar pandang lalu bahu mereka mulai bergetar dan tawa mereka melompat keluar.

“Astaga, sepertinya Zee benar-benar menuruni sifatku. Aku jadi khawatir sekarang. Selama ini anak itu makan apa?”

 

Suara kunci pintu diputar membuat mereka terdiam dan sambil mengendap-endap, mereka bersembunyi di balik kulkas. Orang yang masuk dari pintu tidak dapat melihat mereka.

 

“Taruh saja di situ Max. Nanti aku akan menyusunnya sendiri.” kata Zee meminta Max meletakan oleh-oleh yang mereka beli dari Raja Ampat.

“Mempercayai kamu mengurus barang-barang ini sama saja percaya kalau ikan bisa naik sepeda.” ujar Max meledek Zee.

“Enak saja, kalau cuma menyusun aku bisa kok.”

“Aku lapar, Dory…. Jadi aku akan memasak langsung ikan-ikan ini.”

Rudy dan Rianty saling berpandang dan karena faktor usia mereka tidak cukup cepat untuk pindah ke tempat lain. Dengan mudah ia ditemukan oleh Max.

Max terkejut ketika mendapati sepasang kakek nenek berdiri di dekat kulkas. Dengan sopan ia langsung menunduk dan memberi salam.

“Selamat sore, ehm Kakek.. nenek…” ujar Max cukup kencang agar Zee bisa mendengar.

Zee berderap keluar dari kamarnya untuk melihat siapa yang datang. Begitu melihat neneknya, ia langsung memeluk orang tua itu dan menghujani neneknya dengan ciuman.

“Oma datang? Kapan? Kok tidak bilang-bilang?” tanya Zee beruntun dan terus memeluk neneknya lagi.

“Baru saja, Zee. Ini Kakek Rudy, kakek Brian.” jawab Rianty, berharap cucunya itu cepat tanggap dan buru-buru menjaga sikap.

Muka Zee yang mendadak berubah merah padam, cukup memuaskan Rianty. Cucunya sudah mengerti.

“Maaf Opa, aku tidak tahu ada tamu. Max, tolong bawain air ehm tunggu, Opa mau minum apa?” tanya Zee, jelas terlihat panik.

 

Tapi Rudy tidak marah, ia bahkan tertawa melihat calon menantu cucunya itu. Mana mungkin ia marah jika Regina atau Zee ini begitu mirip dengan Rianty muda. Bahkan sampai ke sifat cerobohnya.

“Air putih saja, Zee. Dan kalau boleh Opa tanya, kamu meletakkannya dimana? Karena kami mencarinya juga dari tadi.” tanya Rudy dengan nada kekakekan.

Zee tahu teman neneknya ini orang yang baik hati, tapi tetap saja ia tidak biasa menghentikan wajahnya untuk tidak memerah dan menunduk malu.

“Itu, Opa Oma akan segera saya urus. Zee, mungkin lebih baik kamu mengajak mereka ke tempatku. Di sini masih tidak ada sofa dan kursi dudukmu tidak memiliki sandaran.”

 

Walau masih tidak mengerti apa yang terjadi, Rianty dan Rudy menuruti usulan Max. Dan semakin terkejut ketika mengetahui Max itu ternyata tinggal persis di sebelah pintu. Yah, walaupun itu sedikit menjelaskan keakraban dua anak muda ini. Mereka sama-sama berasumi, Max banyak membantu Zee selama ini.

Setelah menyuguhkan teh hangat untuk para tamunya, Max menghilang di dapur, memberikan kesempatan untuk mereka berbicara.

 

Rianty tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia bertanya apa yang sebenarnya terjadi dan dimana Brian.

“Begini Oma tersayang, Brian sedang diantar pulang oleh supir Max. Katanya memdadak dia dipanggil oleh kliennya. Lalu mengenai apa yang terjadi? Yah kami baru pulang dari airport.”

“Kenapa tetanggamu bisa ikut denganmu ke Raja Ampat? Apa ada sesuatu di antara kalian?!” tanya Rianty lagi, masih tidak puas dengan jawaban sederhana Zee.

“Max itu artis yang aku rias Oma. Dia anggota band FoxT, nanti aku akan jelaskan lagi.”

“Artis? Tinggal di sebelah apartmentmu, Zee? Dan kenapa kamu tidak pernah cerita soal ini?” tanya Rianty kembali ke cucunya.

“Tidak penting kan, Oma? Lagipula Oma juga pasti tidak percaya kalau aku bilang tetanggaku artis.”

“Zee benar soal itu.” dukung Rudy membuat Rianty bingung.

Tapi Rudy memberinya tatapan untuk berhenti, jadi Rianty menahan lidahnya dan menarik nafas.

“Zee, kenapa di rumahmu tidak ada sofa, makanan dan yang lainnya? Kamu tidak…..”

Max memutuskan sudah saatnya ia keluar dan membantu Zee. Atau mereka akan semakin menduga yang tidak-tidak.

“Silakan cicipi.” ujar Max yang keluar dengan nasi goreng sosis andalannya. Ia duduk di lantai di samping bangku Zee, sengaja memberi jarak tapi juga tidak terlalu jauh. Jadi Ia tetap bisa memberikan dukungan mental pada Zee yang mendadaken iut di samping Oma-nya.

“Kamu memasak?” tanya Rianty tidak percaya, jaman sekarang maaih ada cowok yang bisa memasak.

“Ty, kamu harua coba nasi goreng ini. Rasamya tidak kalah enak dengan nasi goreng Joko dulu.”

Max dan Zee bengong, melihat kakek Rudy menyuapi Nenek Rianty dan nenek itu juga melahap seperti terbiasa dengan semua itu.

Rianty terdiam sejenak, menikmati nasi goreng buatan Max dan dengan pahit harus mengakui kalau nasi goreng itu memang enak.

“Oma, aku harus mengaku sesuatu.” melihat mata neneknya kembali menyerengit, Zee menelan nafas, kembali bimbang.

“Zee tidak bisa masak, jadi selama ini aku membantunya. Aku dan Zee tidak lebih dari sekedar tetangga dan sahabat.” ucap Max mengantikan Zee menjelaskan situasi.

“Kamu masih belum bisa memasak?” tanya Rianty dengan muka memerah, ia melirik pada Rudy yang seperti mendadak kena sakit ayan. Pundaknya naik turun dan mukanya mengerut menahan nafas.

“Hentikan Rudy! Kamu tidak perlu menyindirku. Setidaknya sekarang aku sudah bisa memasak dan keluargaku tidak ada yang mengeluh mengenai masakanku.” semprot Rianty dan serta merta tawa Rudy lepas.

“Kalau begitu, kenapa kamu tidak mengajari cucumu memasak Rianty? Sampai-sampai merepotkan anak muda ini. Sudahlah, akui saja, kamu sendiri tidak bisa memasak lebih dari 3 jenis sayur yang dulu aku ajarkan padamu.”

Melihat Rianty mendengus, Rudy tertawa lagi. Mereka kembali saling mencela, sambil sesekali Rudy menyuapi Rianty. Seakan lupa kalau ada 2 pasang mata memperhatikan mereka.

 

Dengan duduk bersebrangan dengan kakek-nenek itu, Max seperti Melihat dirinya dan Zee di masa depan. Terlepas dari betap miripnya dua perempuan itu.

Jadi ia tidak mendengat ucapan Zee yanh memang berbisik pelan padanya, “Menurutmu mereka terlalu akrab tidak sih?”

“Oma-mu cantik yah.” jawab Max tidak nyambung.

Ia sangat berharap Zee hanya mendengus padanya dan bukannya malah memukulnya dengan suara cukup keras. Mengerang mengerang kesakitan dan bertanya dengan galak, “Apaan sih Zee?!”

Omelan Max sukses membuat ia menjadi pusat perhatian.

 

“Ada apa?” tanya Rianty bingung.

“Itu Oma, Ma hammmm.”

Mulut Zee dibekap oleh Max. Membuat Zee gagal membalas dendam dengan memfitnak Max agar neneknya memarahi cowok itu/.

“Aku bilang Oma cantik sekali. Brian beruntung sekali mendapatkan istri yang akan selalu cantik seperti Oma.”

Selesai berkata demikian, Max baru melepaskan Zee. Ia mengacuhkan Zee yang memelototinya. Yang penting oma Zee tertawa mendengar gurauannya dan kembali makan.

Ia melirik jam tangannya, ia sudah harus kembali. Ada acara radio tengah malam dan FoxT menjadi tamunya.

Max bangkit berdiri dan berpamitan.

“Terus kunci kamu?” tanya Zew polos sambil mengantar Max ke pintu keluar. Lagi-lagi lupa lalau seharusnya ia tidak terlihat terlalu akrab dengan Max karena ada kakeknya Rudy di sini.

“Pakai dulu saja tempatku. Di sini ada lebih banyak makanan dan sofa dibanding tempatmu. Toh, aku tidak tinggal di tempat ini untuk sementara.”

Zee menangguk dan mengucapkan terima kasih. Max membalas dengan tersenyum dan menyentil dahi Zee, “Not free, Zee!”

“Iyah tahu, aku akan mengisi kembali kulkasmu dan membayar tagihan listrik kalau perlu. Ada Oma di sini, kamu tidak perlu takut aku tidak bisa menbayar.” dengus Zee dan Max mendegar itu sambil lalu. Terus berjalan menuju tangga.

 

Ketika masuk kembali ke dalam, dua orang tua itu sudah tidak ada di ruang tamu. Celingukan Zee mencari mereka, dan ketika mendengar suara tawa dari arah dapur. Ia berjalan menuju ke sana. Mengintip sedikit.

Rasanya ia tidak pernah melihat nenek begitu bawel dan tertawa sekeras itu. Biasanya nenek selalu memarahinya jika ia bersikap ceroboh dan urakan. Tapi melihat neneknya sekarang, rasanya ia mengerti dari sisi mana ia mendapatkan semua rasa humorisnya.

Ia sempat termenung sejenak hingga tidak sadar pintu dapur terbuka.

“Max sudah pergi, Zee?” tanya Rianty.

Zee mengangguk.

“Kalau begitu aku juga pulang. Selamat datang kembali di Jakarta, Rianty.” ujar Rudy lalu keluar dari apartment itu.

 

Rianty, menoleh pada cucu semata mayangnya itu dengan menyilangkan tangan ke dada.

“Sekarang anak nakal, ceritakan pada Oma, apa yang sebenarnya terjadi!”

 

Mereka pindah kembali ke rumah Zee dan sepanjang malam itu dihabiskan Zee dengan bercerita tentang Max, tentang Brian dan detail-detail lain yang selama ini terlewatkan di email-emailnya.

Nenek tidak menyelak ataupun berkomentar berlebihan tapi banyak bertanya soal Max dan Brian. Untuk Brian, tentu saja Zee tidak memiliki banyak informasi mengenai cowok itu. Bahkan ia tidak tahu kapan anak itu berulang tahun atau apa makanan kesukaannya.

Sedangkan Max? Zee menjawabnya dengan mudah, malah ditambah dengan beberapa kalimat selaan yang membuat neneknya tertawa terbahak-bahak atau menyerengit tidak percaya.

 

Advertisements

One thought on “M to Z – Tie 20

  1. Pingback: M to Z and vice versa « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s