M to Z – Tie 21

Rudy memencet klakson mobil di depan pagar rumah miliknya di daerah Kuningan, Jakarta. Pintu gerbang terbuka otomatis dan mobilnya menghilang di balik kerimbunan pohon. Rumah utama keluarga terletak di ujung jalan menanjak hampir menyerupai bukit. Di halaman depan terdapat air mancur replika Trevi Fountain di Roma. Almarhum istrinya amat mencintai kota tersebut. Hingga memindahkan hampir seluruh bangunan antik di kota itu. Rumahnya sendiri memiliki banyak pilar, menyerupai Pantheon, kuil ala Roma kuno. Bagian belakang rumah tidak kalah megah. Ada jembatan besar dengan kanal buatan di bawahnya, mengelilingi taman belakang seluas 2000 m2.

Ia masuk ke kamarnya yang terletak di lantai bawah, persis menghadap taman. Meletakan tongkatnya dan duduk di meja kerja. Kedatangan Rianty hari ini, membawa serta semua kenangan lamanya. Ingatan pertemuannya dengan Riantay, istrinya dan persahabatan mereka.

Ia dan almarhum istrinya memang orang berada sejak dahulu. Sama-sama pewaris tunggal orang-orang berpengaruh di Indonesia. Alasan klasik seperti perjodohan yang menyatukan mereka, tapi Rudy tidak pernah menyangkal bahwa seiring berjalannya waktu ia menyintai Putriana. Bagaimanapun juga Putriana adalah wanita lemah lembut, keibuan dan amat cantik. Sulit untuk tidak jatuh cinta pada perempuan seperti itu.

Ia memperkenalkan istrinya pada Rianty beserta suaminya, berempat mereka menjalin persahabatan juga. Membuat kesepakatan bodoh untuk menikahkan anak mereka. Tapi terpaksa menunda karena tidak mungkin menikahan dua laki-laki. Kesepakatan itu pindah tangan ke cucu mereka dan untunglah kali ini mereka berbeda jenis kelamin.

Lalu terjadi kecelakaan yang merengut anak Rianty, membuat Regina lumpuh dan Rianty putus asa. Mereka pindah ke Kanada, memutuskan bahwa negara itu lebih baik untuk masa rehabilitasi Zee.

Sejak hari itu pula, Rudy menyadari perasaannya pada Rianty. Terlalu terlambat baginya untuk menyatakan cinta. Jadi ia tetap mempertahankan persahabatan mereka sampai detik ini.

 

Keakraban Regina dengan Max amat mirip dengan keakraban dirinya dengan Rianty, yang membuatnya bertanya-tanya apakah mungkin dua orang itu juga memiliki apa yang ia dan Rianty rasakan dulu. Sebuah perasaan yang terlalu terlambat untuk disadari. Yang terus membuatnya memyesal karena tidak memiliki keberanian untuk memgakuinya.

Dan kalau seandainya benar seperti itu, lalu apa maksud Brian dengan pertunangan mereka akan berlangsung? Apa cucunya berbohong, atau Zee berdiri di atas dua perahu?

Rudy menoleh ketika mendengar suara deru mobil dan klakson nyaring dari mobil anaknya. Ia lebih berharap Brian yang akan pulang terlebih dahulu sehingga ia bisa mendapat jawaban darinya. Tapi bicara dengan anaknya, mungkin juga lebih baik. Bagaimanapun juga Lily dan Alan lebih dekat dengan Brian dibanding dirinya bukan?

 

Ia keluar dan menyambut anak mantunya.

“Papa sudah kembali?” tanya Alan yang wajahnya menyerupai Rudy. “Aku pikir, Papa akan mengajak Tante Rianty kemari. Aku ingin sekali melihat sahabat Papa yang katanya jago balap itu.”

Rudy tertawa, rupanya anaknya masih ingat dengan semua cerita miliknya.

“Papa sudah bertemu dengan Regina juga? Apa dia mirip dengan Tante Rianty? Terus terang aku khawatir jika menantuku ke tomboy itu.” tanya Lily, menantu Rudy.

“Regina memang mirip dengan Rianty, tapi rasanya tidak tomboy, tapi mungkin kamu harus banyak mengajarinya nanti. Sepertinya dia koki yang buruk, seburuk neneknya.” ujar Rudy sambil tertawa.

“Astaga…. Kalau begitu lebih baik pelajaran memasak ini dimulai lebih awal. Papa tahu sendiri, Brian sangat memilih jika sudah menyangkut makanan.”

“Ngomong-ngomong, mana si Brian? Dia masih belum pulang?” tanya Alan, yang kemudian bertanya pada pembantunya.

“Den Brian sudah kembali tadi, tapi pergi lagi.” jawab pembantu mereka.

“Kata Regina, Brian dipanggil kliennya. Mungkin ada sesuatu yang terjadi di kantor.” ujar Rudy menyampaikan tapi melihat kerutan di dahi Alan, ia merasa ada yang tidak beres

Tanpa menunggu, Alan mengambil handphone dan menghubungi Brian.

“Tidak ada yang menjawab.” terang Alan setelah beberapa kali mencoba. “Aku jadi bingung, belakangan anak ini terlalu sering menghilang, aku pikir dia pergi dengan Regina jadi tidak terlalu banyak bertanya.”

Mereka terdiam sejenak, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mengira ini adalah acara bincang-bincang sore biasa, pembantu mereka mengantarkan teh dan buah.

 

“Sebetulnya ada yang ingin aku tanya kan pada kalian,” ujar Rudy memulai.

“Apa Brian pernah bercerita soal Regina? Misalnya apakah mereka cocok atau sekedar menceritakan kegiatan mereka?”

Anak mantunya sama-sama mengeleng.

“2 bulan mereka saling mengenal dan pergi bersama tapi tidak ada satu cerita pun mengenai Regina?” tanya Rudy lagi.

“Brian hanya pernah bilang, ia akan mencoba dulu. Itu di pertemuan pertama mereka. Sebetulnya aku juga sedikit bingung, biasanya Brian pasti akan bercerita jika ia menyukai seseorang dan mengajaknya ke rumah sekali dua kali atau makan bersama. Tapi lagi-lagi aku tidak terlalu ambil pusing sebab aku pikir, Regina ini pilihan Papa jadi pasti yang terbaik.” tutur Lily yang disetujui oleh semua orang.

“Lalu ketika Brian mengatakan mereka akan bertunangan, Zee juga tetal diajak kemari?” tanya Rudy lebih mendetail. Berhubung saat itu ia tidak mendengar langsung, Alan yang menyampaikam kabar gembira itu ketika ia sedang nermain golf.

“Siapa Zee?” tanya Lily.

“Regina, tapi mereka selalu memanggilmya dengan Zee, mungkin kependekan dari Gina lama-lama makin singkat.”

“Aku bahkan belum pernah bertemu dengan dia!” ujar lily sesikit kesal karena sepertinya calon mantunya ini amat disukai oleh ayah mertuanya. Sampai-sampai mata orang tua itu berbinar-binar seperti lampu kelap-kelip.

“Besok, aku akan mengundangnya datang dengan Rianty. Mudah-mudahan anak itu tidak bekerja.” ujar Rudy menutup pembicaraan mereka.

 

Keesokan paginya, Rudy mendatangi rumah Zee. Tampaknya usia mulai mengerogoti ingatannya hingga ia lupa meminta nomor telepon mereka kemarin. Membuat dirinya sendiri kerepotan sekarang.

Ia tidak berharap Rianty akan membukakan pintu untuknya dan memyambutnya dengan sarapan lengkap. Roti bakar, omelette serta kopi hangat.

“Jadi kamu tidak berbohong soal memasak!” ledek Rudy soal sarapan yang baru berpindah tempat ke perutnya itu.

“Syukurlah kamu menikmatinya. Karena cucuku yang ceroboh itu, bangun kesiangan dan tidak sempat sarapan. Membuatku menyesal sudah repot-repot memasak.” gerutu Rianty.

“Aku senang menjadi tong sampahmu.” gurau Rudy. “Kamu sempat belanja kemarin?”ungkit Rudy soal kulkas kosong Zee.

“Tidak, aku terlalu lelah kemarin. Untunglah Max menyerahkan seluruh isi kulkas sekaligus isi apartmentnya untuk Zee. Kamu tahu, anak itu bahkan tidak punya pengorengan dan minyak!”

“Sepertinya cucumu menurunkan semua sifatmu yah. Aku penasaran apa dia juga sama sepertimu, cewek pembalap.”

“Astaga, aku tidak mungkin membiarkan cucu semata wayangku mengikuti kegilaan masa mudaku dulu. Anak itu bahkan tidak aku ajari bersepeda.”

 

Rudy tergelak mendengar alasan Rianty yang kekanak-kanakan. Ia bersyukur puluhan tahun dan jauhnya jarak diantara mereka tidak membuat hubungan mereka terputua atau merubah salah satu diantara mereka. Rianty dan Rudy akan selalu menjadi sahabat. Itu yang ia dan Rianty katakan dulu. Sumpah itu juga yang menghentikan dirinya untuk tidak mengatakan betapa ia menginginkan Rianty menjadi kekasihnya, istrinya, ibu dari anak-anaknya dan nenek dari cucu-cucunya.

“Rianty….” ujar Rudy sambil mengenggam tangan Rianty. Dan cewek itu masih tetap saja tersipu malu walau sudah menjadi nenek-nenek. Membuat Rudy batal melanjutkan omongannya dan kembali tertawa.

“Dasar kakek tua!”

“Kamu juga sudah menjadi nenek, Ty! Jadi jangan menyinggung masalah usia. Bagaimana kalau kamu bercerita padaku soal cucumu itu.”

Rianty menghela nafas berat, menegakkan punggungnya yang pegal dan menatal Rudy lama, sebelum berkata, “Aku bingung.”

“Ada apa? Apa mendadak kamu tidak mengenal cucumu sendiri?” gurau Rudy walau ia tahu maksud ucapan Rianty, ia hanya senang melihat Rianty memasang mulut cemberut padanya. Mereka benar-benar kembali ke masa lalu.

“Semalaman aku dan Zee berbicara. Aku mendengar, dia yang berbicara. Aku semakin bingung. Zee bilang kalau dia belum menyetujui untuk bertunangan apalagi menikah dengan Brian. Mereka jarang sekali berbicara dan bertemu. Zee bersumpah kalau ia tidak akan menikah dengan orang yang tidak ia kenal dengan baik dan yang paling membuat aku khawatir. Anak itu terlalu sering melibatkan nama Max di dalam cerita-ceritanya. Aku berani menjaminkan padamu mereka bahkan mempunyai nama julukan masing-masing. Dory dan Obelix.”

“Dory dan siapa???”

“Dory ikan pelupa di film Finding Nemo dan Obelix si bayi besar dari Asterix.” dengus Rianty, tidak sudi cucunya dipanggil Pelupa.

Rudy bengong sesaat sebelum akhirnya ia kembali tertawa. Itu adalah julukan terkonyol yang pernah ia dengar.

“Rudy, tidak sopan! Yang kamu tertawakan itu cucuku, calon mantumu juga!”

“Maaf Ty, tapi Obelix? Entah apa yang terjadi diantara mereka, tapi aku tidak bisa melihat kemiripan Max dengan bayi tambun itu!”

“Itulah yang membuat aku khawatir, Rud. Zee terlalu akrab dengan Max…”

“Seperti kita dulu.” sambung Rudy mengerti. “Aku juga menyadarinya kemarin. Dan Brian tidak pulang semalam. Entah ada apa, tapi kita akan mencari tahukan? Kamu pergilah dengan Zee kalau bisa Max juga. Kenali mereka. Sedangkan aku akan mengurus cucuku.”

“Kamu yakin? Bagaimana kalau….”

“Sssttt…… Kalau itu yang terjadi, aku ada rencana lain. Aku bisa pergi denganmu ke Kanada.”

Rianty tertawa mendengarnya, “Kamu bukan sedang melamarku kan? Kita terlalu tua untuk semua romantisme ini, Rudy. Sudah terlalu terlambat.”

“Tidak juga. Setidaknya kita bisa melihat siapa duluan yang masuk peti nanti.” gurau Rudy kembali.

“Setelah melamar lalu kamu mengungkit kematian? Kakek gila!” balas Rianty mengantar Rudy pulang. Sahabatnya itu hanya tergelak mendengar sindirannya.

“Aku sungguh-sungguh Rianty. Rasanya konyol jika kita memaksakan pernikahan yang tidak akan membuat cucu kita bahagia. Terlebih jika alasan itu hanya untuk mengukuhkan ikatan diantara kita berdua. Dua orang tua yang terlalu keras kepala. Aku tidak menyesali pernikahan atau persahabatan kita, Ty. Hanya saja, alangkah baiknya jika kita menyadari semua perasaan ini dulu. Bukannya ketika kita sudah berkeriput dan memakai tongkat dan hanya bisa melewati hari dengan menonton semua orang berlari.”

“Tapi…”

“Ssst….. Aku tidak bilang tidakmenyukai duduk bersamamu, denganmu segalanya lebih indah, Ty. Sekarang, ijinkan aku menyelidiki semua ini. Janjilah padaku, untuk menyari tahu juga.”

Rianty tersenyum dan melambai pada Rudy. Temannya ini memang selalu cekatan dan sulit dihentikan jika sudah merencanakan sesuatu. Tapi Rudy benar, tidak ada yang terlalu penting dibanding kebahagian cucu mereka.

Rudy dan Rianty akan selalu saling memiliki, terlepas apakah mereka memiliki status sebagai keluarga atau hanya pertemanan. Dan sekarang, mereka punya tugas masing-masing.

Menyelidiki bukan pekara mudah, jika kamu tidak mengenal baik siapa saja yang terlibat. Dibutuhkan beberapa minggu, sampai semua masalah jelas bagi Rudy dan Rianty. Sampai mereka tiba pada suatu kesimpulan dan merealisasikannya menjadi tindakan.

 

Advertisements

One thought on “M to Z – Tie 21

  1. Pingback: M to Z and vice versa « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s