M to Z – Tie 22

“Oma?” seru Max begitu melihat nanek Zee yang menjadi tamunya. Ia tidak menyangka bahwa nenek galak yang katanya akan mencarinya untuk menuntutnya adalah tetangganya sendiri.

Saat mendengar ia dicari oleh wanita tua yang katanya dngan heboh menyoba untuk masuk dan menemuinya, ia pikir ada masalah lagi dengan pengemarnya. Karena cukup sering para orang tua datang menuntut dengan alasan aneh-aneh. Biasanya juga, sekurity berhasil menghalang mereka atau manager mereka yang akan mendatangi orang-orang tersebut dan menyelesaikannya.

Namun kali ini, situasi menjadi cukup tidak terkendali karena katanya nenek itu sudah  membawa media berikut pengacara yang akan langsung menyorot dan melaporkan tindakan pengusiran mereka, ketika melihat nenek itu digiring keluar.

Jadi pihak agency merasa lebih baik untuk mereka jika Max muncul dan mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh nenek itu.

“Kamu mengenalnya?” tanya manager Max. Tadinya ia pikir akan harus memanggil pengacara untuk memgurus nenek keras kepala ini. Walau ia agak sulit percaya kalau wanita dihadapannya ini seorang nenek-nenek. Dari caranya berpakaian dan perawakannya, rasanya wanita itu tidak lebih  tua dari 45 tahun.

“Tenang saja. Aku mengenalnya. Boleh ditinggal kok.” ujar Max ditambah dengan senyum dan tepukan pada pundak managernya itu.

Walaupun ia masih melihat keraguan di mata Boom, managernya itu keluar juga.

Ia mengahampiri nenek Zee yang sedang mengelilingi ruangan, melihat-lihat piagam dan penghargaan yang ditata di dinding, berikut kliping berita dan poster-poster konser FoxT.

“Rupanya kalian cukup berhasil dan terkenal yah. Bahkan kamu manggung di Tokyo Dome? Hollywood Bowl?”

Max mengaruk kepalanya yang tidak gatal, malu juga dipuji seperti itu oleh nenek Zee. Target market FoxT sendiri memang cukup luas, setelah berhasil menguasi belantika musik di Indonesia, mereka ke luar negeri dan memulai demam FoxT di seluruh Asia. Semua itu mungkin karena pihak management mereka amat cermat dalam mengambil keputusan dan karena mereka memang sanggup. 5 cowok dengan kemampuan vokal mengagumkan, ditambah wajah ganteng, perawakan menarik serta kesan bersahabat dan kekeluargaan, membuat mereka semakin dicintai dan diagungkan.

“Kamu bisa menyanyikan satu lagu? Barangkali aku pernah mendengarnya.” pinta Rianty sambil mengarah kembali ke bangku yang disusun di sekitar meja bundar besar.

Max dengan sopan menarikan bangku untuk Rianty duduk.

Ia sendiri memilih berdiri karena ia harus bernyanyi. Ia memilih lagu lama yang telah digubah dan dinyanyikan kembali oleh grup mereka.

“Cintakan Membawamu Kembali di sini….” mulai Max dengan suara tenornya, “Di ruang rindu, membasuh perih…..”

Rianty menyimak dengan baik dan ia tidak bis menahan air matanya. Entah anak muda ini sadar atau tidak. Tapi lagu itu sendiri adalah lagu kenangan antara dirinya dengan Rudy.

“Apa Zee yang bercerita padamu?” tanya Rianty spontan begitu Max selesai bernyanyi.

“Soal apa?” tanya Max bingung.

Rianty hanya tersenyum. Baru teringat jika ia bahkan tidak pernah bercerita soal ini pada Zee.

“Kenapa kamu memilih lagu itu?”

“Aku ingin membuat Oma senang atau setidaknya terkenang sesuatu. Karena aku dengar lagu ini menjadi hit di jaman Oma.”

“Maksud kamu, Oma sudah tua?” tanya Rianty sedikut tersinggung namun tidak benar-benar marah.

“Bukan begitu Oma…” elak Max gelagapan. Ia tidak bermaksud membuat nenek itu marah.

“Aku hanya bergurau, Maxie, boleh Oma memanggilmu seperti itu? Oma pikir kamu sudah terbiasa dengan candaan seperti itu dengan Zee.”

“Itu…..” Max kembali salah tingkah. Ia berdiri bingung layaknya anak yang sedang dihukum.

Rianty tersenyum melihat kegugupan Max yang dirasanya wajar. Bagaimana pun juga Ia adalah seorang nenek-nenek, orang yang jauh lebih tua dari Max. Tentu anak itu terkejut melihat dirinya bergurau layaknya anak SMA. Apalagi ia mendadak muncul di tempat kerjanya ini.

Sebetulnya agak lancang untuk Rianty, datang begitu saja mencari Max. Tapi anak muda ini tidak pernah muncul kembali sejak pertemuan mereka. Ia menunggu selama satu minggu, berharap kalau Max akan mengantar Zee pulang atau mereka bisa bertemu di luar. Ia punya banyak pertanyaan untuk Max. Pertanyaan-pertanyaan yang dapat membantunya mengambil keputusan terbaik bagi Zee.

“Duduklah, Max. Oma punya cerita untukmu. Ceritanya cukup panjang. Kamu ada waktukan?”

Max melirik jam tangannya sebelum duduk di samping nenek Zee itu.

“Ada jadwal jam 5 sore nanti. Jadi sampai saat itu, saya akan menemani Oma.”

“Sebelum itu, boleh Oma meminta kamu menjawab sesuatu?”

Melihat Max mengangguk, Rianty melanjutkan pertanyaannya, “Menurutmu Zee, cucuku itu bagaimana?”

Max tertegun, ia tidak menyangka nenek Zee akan mengajukan pertanyaan itu dengan lugas. Tanpa basa-basi. Ia tersenyum, seperti setiap kali ia memikirkan Zee. Setiap kali membicarakan cewek itu.

“Zee itu teman yang menyenangkan. Cerewet tapi juga pendengar yang baik. Ceroboh, tidak bisa diam belum lagi pelupa yang parah. Tapi aku tidak pernah melihat cewek dengan ketegaran dan kecerian yang dimiliki Zee. Dia banyak membuat aku dan teman-temanku tertawa. Dia, sahabat yang akan selalu aku jaga seumur hidupku.”

Rianty tersenyum mendengar jawaban Max. Anak ini sudah menyebutkan semua kelebihan dan kekurangan Zee dengan tepat. Dan ia pasti buta jika tidak bisa melihat perasaan sayng yang berpedar di mata Max ketika membicarakan cucunya itu.

“Lalu bagaimana menurutmu soal Brian? Soal pertunangannya dengan Zee?”

Max tersenyum, tapi Rianty tahu senyum itu tidak dari hati, karena ia bisa merasakan kepedihan dari tatapan Max. Tatapan yang begitu dikenalnya karena dirinya sendiri sering melihat tatapan serupa dari sahabatnya.

“Mereka pasti akan menjadi suami istri yang baik.” jawab Max diplomatis.

Hanya itu yang terpikirkan oleh Max. Karena ia tidak tahu harus bagaimana lagi bersikap. Pertunangan Zee dengan Brian tidak pernah mudah untuk diterima olehnya dan sebisa mungkin ia tidak ingin membahas masalah tersebut dengan Zee. Dan sekarang nenek cewek itu menanyakan bagaimana pendapatnya?

“Aku ingin memintamu untuk menjadi bestman di pertunangan mereka. Karena Zee tidak punya teman lain di Jakarta. Tapi sebelum itu, coba pikirkan cerita Oma ini.”

Rianty memulai dengan menceritakan awal perkenalan dirinya dengan Rudy.

“Saat itu aku baru masuk kuliah. Rudy itu senior dan amat terkenal karena bengalnya. Dia ribut dengan teman sekelas Oma dan mereka turun ke jalanan. Saat itu, adu balap dengan motor sangat terkenal dan Rudy adalah salah saru yang terbaik.“

Ia tertawa sejenak, mengenang kembali saat itu, “Teman Oma tidak berani muncul malam itu dan sebagai gantinya Oma, dengan mengunakan helm melawan Rudy. Oma menang karena beruntung, motor yabg Oma kendarai memiliki ban yang lebih baik dari milik Rudy. Sama seperti cowok pada umumnya, Rudy tidak menerima kekalahannya dengan lapang dada. Rudy bersumpah akan menaklukan Oma.”

Ia menatap Max sesaat dan melihat anak muda itu ikut tersenyum.

“Tapi Oma rasa kamu juga bisa menebak, cowok bodoh itu tidak pernah berhasil menjadikan Oma sebagai pacarnya, alih-alih kami menjadi sahabat yang tidak terpisahkan. Bahkan ketika akhirnya kami menikah, punya anak dan cucu. Lalu Oma pindah ke Kanada.”

“Kami selalu berencana menjodohkan anak kami, tapi karena yang lahir sama-sama laki-laki, kami menangguhkannya untuk para cucu. Aku dan Rudy begitu takut kehilangan satu sama lain saat itu. Dan mengira dengan mengikat hubungan kami dengan pertalian keluarga, akhirnya kami bisa tidak terpisahkan. Aku bisa melihat dia tua sambil terus meledeknya. Membagi satu ikatan yang lebih dalam dibanding persahabatan. Ketika cicit kami lahir dan kami cukup sehat untuk melihatnya.”

Rianty berhenti sejenak ketika merasa air matanya akan terjatuh. Ia tidak tahu kapan Max mengenggam tangannya dan sekarang menepuk-nepuk punggung tanggannya. Membagi kekuatan untuknya. Rianty tersenyum keibuan pada Max dan balas menepuk.

Rianty diam sejenak, memberi Max waktu untuk memikirkan ceritanya, membiarkan anak itu menyimpulkan sendiri.

Pikiran Max begitu berkabut, ia mengerti sedikit tujuan nenek Zee menceritakan masa lalunya. Memberitahukan padanya betapa besar keinginan nenek Zee untuk melihat pernikahan Zee dengan Brian tetap berlangsung. Dan mungkin nenek Zee berpendapat bahwa ia dapat meyakinkan sahabtnya untuk menerima dan menjalankan pertunangan itu.

“Oma tenang saja, aku yang akan menyeret Zee kalau cewek itu berniat untuk kabur. Kapan??” tanya Max, bahkan terlalu takut untuk menyebutkan kata pertunangan Zee.

“Besok. Hari Sabtu. Kamu tidak ada jadwal kan?”

“Tidak ada jadwal untuk setiap akhir Minggu sementara ini.”

“Baguslah. Datanglah lebih awal, jadi kalian bisa makan lebih dulu. Hotel Kempinski Indonesia, Hall … ”

“Aku akan mengajak teman-temanku, mungkin mereka mau menyumbangkan lagu. Kita semua teman kan.”

“Tentu saja, teman Zee adalah teman Oma juga.” ujar Rianty.

Setelah berbicang-bincang lagi mengenai hal-hal lainnya, Max mengantar orang tua itu turun dan dengan sopan meminta kesediannya untuk diantar pulang oleh supirnya. Tapi dengan sopan ditolak olehnya.

“Nenek masih mau jalan-jalan dulu. Tidak perlu repot-repot, Maxi” jawab Rianty dan ia masuk ke dalam taksi.

Max lama berdiri di lobby. Ia tidak percaya Zee akan bertunangan besok. Jadi akhirnya cewek itu menyetujuinya juga? Dan sekarang ia tidak bisa menghindar atau belaga sakit. Ia sendiri yang berjanji pada nenek Zee untuk muncul. Menjadi Bestman pula! Apa nenek Zee tahu mengenai perasaannya pada cucunya itu? Jadi meminta restu darinya dengan mengantarkan cincin pada dua orang itu?

Ia tersenyum getir. Seharusnya nenek Zee tidak perlu khawatir soal ini. Ia sudah merelakan dua orang itu jauh-jauh hari.

Max kembali ke atas, teman-temannya sedang berkumpul di ruang latihan. Micky dan Ben sedang memainkan piano, melakukan kanon tidak jelas. Ia mencari tempat duduk kosong. Tapi di atas sofa sudah ada Jack yang tertisur, menguasai love sofa tersebut. Alex berdiri di dekat jendala, merokok sambil menelpon.

Satu-satu tempat yang bisa ia pakai hanya lantai. Ia menyandarkan punggung ke dinding cermin dan menyerosok pelan hingga menyentuh lantai. Rasanya lelah luar biasa. Lebih lelah dibanding habis melakukan konser keliling Asia selama 1 bulan. Dibanding habis berlari keliling Monas. Dibanding apapun juga.

Ia tidak sadar kalau ia sudah menarik perhatian teman-temannya itu dan membuat mereka berjongkok mengelilinginya.

“Sakit Max?” tanya Alex perhatian.

Max menyeringai, hebat, bahkan ketua mereka yang selalu sibuk bisa sampai mendatanginya.

Ia mengeleng, ia mungkin memang sakit tapi bukan sakit yang bisa disembuhkan.

“Apa nenek-nenek tadi benar-benar mengancammu? Kata Boom, kamu mengenalnya.” tanya Ben, tumben-tumbennya menanyakan pertanyaan yang tepat dengan info yang akurat pula.

“Tadi nenek Zee. Dia meminta aku datang besok ke Hotel Kempinski.”

“Untuk apa?” tanya Ben bingung.

“Zee tidak….” pertanyaan Jack mengantung begitu melihat Max menyeringai masam.

Melihat teman-temannya terdiam dan ikut memasang tampang sedih. Ben celinggukan dan mengetuk-ngetuk jari ke lantai. Ia tidak tahu apa yang akan Zee lakukan di hotel besok, tapi sepertinya bukan hal yang menyenangkan. Ia tidak berani bertanya karena situasinya begitu muram. Salah-salah ia akan kembali dikeplak.

“Tenang, kami akan menemanimu ke sana. Jam berapa?” ujar Jack akhirnya memecahkan keheningan sekaligus membuat Ben berhenti mengetukan jari.

“Aku memang berencana mengajak kalian. Kita akan bernyanyi di sana.”

“Whuaaat?! Max?! Begini, kalau kamu tidak berencana untuk mengclaim bahwa Zee adalah milikmu. Aku bisa mengerti! Tapi kenapa kamu harus muncul di sana, dan betul-betul mengucapkan selamat untuknya?! Bahkan kamu ingin kita bernyanyi?” maki Micky, ia sudah banyak bersabar. Tapi kebodohan Max harus dihentikan.

“Lalu kamu berharap aku mengatakan apa pada Nenek Zee. Dia bahkan memintaku menjadi Bestman dan mengantarkan cincin untuk Zee!”

“Tolak kek! Bilang kamu sibuk kek! Apa saja! Apa kamu tidsk punya harga diri? Apa kamu betul-betul tidak apa-apa melihat Zee dengan Brian?! Berani sedikit dong menghadapi perasaan kamu!” teriak Micky sambil merengut kerah Max.

“Lalu apa?! Mengulang lagi tragedi Keiko?! Membuat Zee menjadi sorotan dan menerima ancaman?!” balas Max dengan mata merah dan berair.

Tidak ada yang berani menjawab. Tidak ada yang berani membahas masalah Keiko. Karena itu sama saja mereka mengorek luka lama, membicarakan ketidakmampuan mereka untuk melindungi cewek itu.

Micky melepas rengutannya. Ia berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. “Aku tidak akan datang besok! Aku tidak ingin melihat kamu menyesal seumur hidup kamu!”

Pintu dibanding.

Jack menepuk bahu Max, berusaha mengambil sedikit sakit hati dan rasa putus asa yang sedang mendera Max sekarang

Ia merasakan bahu Max bergetar dan mengira cowok itu menangis.

“Sudahlah Max….” hibur Jack.

Max mengangkat kepalanya dengan mulut rapat berusaha menahan tawa.

“Mulai besok aku tidak perlu repot mengurusi Zee lagi. Ayo, siapa yang mau ikut denganku merayakan kebebasanku?” seru Max tiba-tiba berdiri menjulang di hadapan teman-temannya.

“Ayolah, aku yang traktir hari ini. Tidak boleh pulang sebelum mabok! Ben, kamu harus ikut kali ini. Jangan jadi anak alim terus.” ajak Max sambil menarik cowok itu berdiri.

Ben bukan lawan Max jika itu sudah menyangkut kekuatan, jadi ia menarik Jack yang disebelahnya.

“Aku tidak ikut yah, masih ada rapat ntar terus kalian memerlukan supir kan? Karena sekarang Micky tidak ada.” ujar Alex menghindar.

“Jangan alasan, kamu menyetir? Lebih baik menyuruh Jack, biarpun hang over masih lebih cepar darimu.” tukas Ben dan dengan sigap menarik kerah baju Alex.

Malam itu mereka benar-benar minum sampai mabuk. Max sih. Kalau Ben di tegukan kedua sudah muntah dan seluruh tubuhnya memerah. Jack tidak terlihat mabuk kalaupun memang orang itu mabuk. Cowok itu tidak menciumi siapa-siapa malama itu. Sebagaimana biasanya yang dilakukan Jack jika mabuk parah. Jadi mungkin memang tidak mabuk. Sedangkan Alex! Ketua mereka berhasil kabur dengan alasan rapat! Membuat Max kesal dan meminum lebih banyak lagi.

Advertisements

One thought on “M to Z – Tie 22

  1. Pingback: M to Z and vice versa « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s