M to Z – Tie 23

Max bangun dengan kepala berat dan kuping berdengung. Ia tahu hari sudah siang dan seharusnya ia sudah tiba di tempat Zee. Tapi seluruh badannya seperti memberontak, ia tidak bisa merasakan kaki dan tangannya. Menghabiskan lebih banyak waktu untuk mandi dan berpakaian. Padahal Jack sudah membantu.

“Kamu yakin kamu bisa menghadiri acara tanpa membuat keributan?” tanya Jack melihat kondisi Max yang menyedihkan.

Max mengeleng, namun ia segera mengerang. Gerakan tadi membuat kepala seperti dihantam palu berkali-kali.

“Aku harus melihat Zee. Cewek itu pasti kebingungan jika bestman-nya tidak muncul kan?”

Jack segera membantu Max berdiri, menopang cowok yang badannya lebih besar dari dirinya itu, menuruni tangg dan masuk ke mobil.

Micky tidak ikut. Cowok itu malah tidak kembali ke rumah sejak kemarin. Menurut Ben yang menelepon Mixky tadi pagi, teman mereka yang satu ini sedang di tempat Yunna dan berencana pergi ke Bali.

“Lebih baik aku melihat ikan dibanding menonton Max merusak dirinya sendiri.” kata Ben mengulang ucapan Micky padanya.

Jadi Jack tetap menjadi supir mereka, sedangkan Alex, kepala suku mereka itu, membantu menyiapkan bangku untuk Max.

 

Saat tiba di Hotel Kempinski, mereka tidak membuang waktu lagi, langsung menuju ke hall yang diberitahu oleh nenek Zee. Begitu masuk, harum semerbak wangi anggrek dan mawar menyambut mereka. Tempat itu sudah dihias dengan kain serba putih yang menutupi seluruh dinding bahkan langit-langitnya sekaligus. Menyisakan lamapu candeliar besar menjutai ke bawah seperti bintang. Bangku-bangku sudah tersusun membentuk dua baris panjang dan dihiasi dengan pita merah dan bunga anggrek putih. Karpet merah membagi dertan bangku itu, membentang dari pintu masuk ke ujung ruangan. Sebuah podiom dari kaca berdiri gagah di sana.

 

“Kamu bilang acara tunangan kan? Kok dekorasinya seperti mau akad nikah begini?” bisik Ben ketika mereka masuk.

Mereka tidak menemukan usher yang biasa menyambut para tamu. Asumsi Ben, semua orang masih sibuk membenahi diri karena acara baru berlangsung 2 jam lagi.

“Kira-kira mereka dimana? Atau kita tunggu di sini saja?” tanya Ben sedikit bingung.

“Coba aku menelpon Zee.” ujar Max dan ia menekan angka 2, nomor speed-dial Zee.

“Hallo, Zee? Aku sudah sampai. Kamu dimana?”

“Maxie? Kamu sudah datang?”jawab nenek Zee mengangetkan Max.

“Selamat siang, Oma.” ucap Max tiba-tiba kaku.

“Baguslah kalau kamu sudah datang, Zee sedang dirias di kamar. Naik saja kemari, kamar 2505 yah.”

Max mengangguk dan memberitahu teman-temannya kalau mereka diminta naik ke atas.

Kembali keluar, mereka menuju lift hotel dan memencet angka 25.

 

“Kamu yakin tidak akan menghentikan Zee sekarang? Mumpung mereka belum melangsungkan apa-apa?” tanya Jack, tidak tahan juga melihat Max bertingkah bodoh.

Max hanya tersenyum, menurutnya semua sudah terlambat. Zee memilih untuk bersama Brian, terlepas apakah Zee sudah bertunangan atau belum.

Sesuai ucapan nenek Zee, cewek itu sedang dirias ketika Max dan sekutunya masuk ke dalam kamar.

Zee mengangkat tangannya sepertinya mau melambai pada mereka tapi tangannya keburu dipukul oleh sang perias dan Zee dimarahi.

 

Ben pasti sudah mentertawakan cewek itu seandainya Max tidak memasang senyum terpaksa di sampingnya. Mereka duduk tidak jauh dari Zee dan menonton TV.

“Max….” bisik Jack, memanggil temannya. Tapi cowok itu hanya berdeham tidak jelas.

“Max! Berhenti melihat Zee seperti itu!” tegur Jack. Walau ia memaklumi alasan Max bertingkah bodoh – Zee dalam pakaian serba putih, wajah dipulas make up dan rambut hitam panjang yang belum selesai ditata memang terlihat begitu berbeda dengan cewek itu yang biasa. Cantik.

“Max! Kamu sudah menatap Zee selama 38 menit 2 detik tanpa berkedip. Aku mengukurnya dengan stop watch. Jadi jangan bersebat soal itu!” tegas Ben sambil berbisik, tapi hanya ditanggapi dengan dengusan tidak percaya oleh teman-temannya.

Jadi Ben meralat, “Baiklah, dengan berkedip! Tapi bukan itu intinya! Kalau kamu memang tidak rela Zee menikah dengan orang lain, katakan perasaanmu!”

Kali ini Jack dan Alex mengangguk menyetujui, bertiga mereka menatap Max yang sepertinya sedang berdebat dengan dirinya sendiri.

Berani bersumpah, Ben bahkan bisa melihat Max jahat sedang dipukuli oleh Max baik, yang menyuruh Max jahat diam dan meyakinkan Max bahwa mengutarakan perasaannya oada Zee adalah yang terbaik untuk mereka.

Ketika akhirnya Max berniat untum bangun – ia baru saja meletakan tangan kanannya untuk mendorong tubuhnya berdiri, pintu terbuka.

Brian masuk dengan tampang luar baisa bahagia dan menghampiri Zee.

“Aku tidak percaya akhirnya kamu setuju untuk melakukan ini. Aku bersumpah Zee, aku akan selalu menjagamu, menemanimu dan melindungimu dengan seluruh kekuatan yang aku punya. Sampai maut memisahkan kita.”

 

Ucapan Brian barusan lansung memupuskan apapun juga niatnya tadi. Ia tidak akan pernah bisa memberikan Zee semua itu. Ia tidak bisa menemani cewek itu setiap saat karena pekerjaannya menuntut seluruh waktu yang ia miliki. Ia tidak mungkin bisa melindungi Zee dari apapun juga. Tidak jika ia berada kiloan meter jauhnya dari cewek itu. Jadi kenapa ia harus maju dan menghancurkan kesempatan Zee untuk berbahagia.

 

Brian sedang memeluk Zee ketika pintu kembali terbuka. Kali ini yang masuk Maria, model mereka waktu syuting viseo klip kemarin.

“Maria?” ujar Alex menyapa cewek itu. Tapi sepertinya Maria terlalu sibuk dengan apapun juga yang membuat cewek itu menarik Brian dan menampar cowok itu.

PLAAAAK…..

“Apa maksud kamu, kamu jadi menikah dengannya? Bagaimana denganku?!” pekik Maria.

“Kita sudah membahasnya kemarin! Aku dan kamu tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kita sudah selesai! Putus!”

“Lalu bagaimana dengan anak ini?!” tanya Maria sambil mengelus perutnya.

“Mana aku tahu? Lagipula itu kan belum tentu anakku! Siapa yang tahu kamu tidur dengan siapa saja!” elak Brian.

“Brengsek kamu Brian! Jelas-jelas waktu itu kamu tahu waktu itu aku masih perawan!” tutur Maria lagi setengah menjerit setengah menangis.

“Tapi siapa yang tahu kamu tidur dengan siapa setelah itu. Lagipula bagaimana mungkin kamu bisa hamil, kita baru berhubungan seminggu yang lalu!!!! Bisa saja kamu memang terlambat biasa!” elak Brian pintar.

 

Maria kembali mengayunkan tangannya, siap menampar Brian. Tapi kali ini ia kurang beruntung, pukulannya berhasil dielak oleh Brian. Membuat Maria terjebam ke depan. Ia berhasil menangkap sofa dan bersandar di sana. Dengan cepat ia membalikan badang dan kembali berteriak pada Brian.

“Satu minggu cukup untuk mengetahui bahwa aku hamil dan aku tidak datang bulan! Lagipula kamu bisa melihat sendiri hasil tesnya!!!” pekik Maria dan melempar strip tes pack yang sengaja ia bawa, ke muka Brian.

Tapi lagi-lagi Brian mengelak. Ia bahkan tidak memungut tes pack tersebut untuk melihat apakah Maria berbohong atau tidak.

Diacuhkan seperti itu, Maria semakin tidak terkendali, ia mulai melempari Brian dengan semua barang yang dapat dijangkaunya dan berteriak terus menerus. Sedangkan Brian sendiri, membalas teriakan itu dengan sama kerasnya dan terus membalikan ucapan Maria.

 

Biasanya, jika ada keributan seperti ini, Alex dan Max pasti turun tangan untuk melerai, tapi saat ini, detik ini, mereka terlalu bingung dan kalau boleh jujur, terlalu senang menyaksikan adegan pertengkaran di hadapan mereka ini. Mereka seperti menonton sinetron live.

 

Pertengkaran Maria dan Brian membuat semua orang terkejut. Terutama Zee. Ia belum selesai dirias, tapi sepertinya stylistnya terlalu seru menonton pertengkaran dua orang itu, sehingga lupa sama sekali dengan dirinya.

Ia bangkit berdiri dan memungut test pack yang dilempar Maria. Ada dua garis yang berarti Maria positif hamil.

“Jangan sentuh itu!” teriak Maria dan tiba-tiba menerjang Zee, mendorong cewek itu hingga terjebam ke lantai, membuat Zee mengerang karena pantat dan kepalanya menghantam lantai dengan keras.

“Zee…” pekik max, terkejut dengan perubahan mendadak. Ia tidak menyangka kalau Zee akan terlibat di antara dua orang ribut. Dan sekarang, Maria mulai menjabat rambut Zee dan menarik leher gaun Zee.

Walau melihat Zee berusaha membela diri, cewek itu berusaha melepaskan cengkraman tangan Maria dari rambut dan bajunya. Tapi tidak sungguh-sungguh mendorong Maria menjauh. Mungkin kasihan atau tidak berani bertindak kasar pada Maria yang sedang mengandung.

Sedangkan Max, ia tidak bisa menghentikan dirinya untuk tidak meloncati sofa, menyelamatkan Zee dari amukan ibu hamil itu. Ia mencengkram tangan Maria dengan kencang, membuat cewek itu melepaskan jambakannya dan ganti menendang Max, karena sekarang kedua tangan Maria sudah dalam cengkraman Max.

“Tenang sedikit.” omel Max, tapi Maria terus meronta.

Tidak sabar, Max memelintir tangan Maria dan menguncinya di punggung cewek itu. Membuat Maria meringkis kesakitan dan menangis semakin kencang.

 

Pintu kembali terbuka dan masuklah kakek Brian dan nenek Zee.

“Ada apa ini?!” tanya Rudy melihat kekacauan di hadapannya.

Nenek Zee langsung menghampiri cucunya yang bersandar di pinggir sofa dengan rambut berantakan. “Ada apa ini?” ulang Rianty.

“Dia menghamiliku!!!” raung Maria, sukses membuat semua orang menoleh padanya lagi.

“Max?” tanya Rianty salah paham.

“BRIAN!!!” seru Maria putus asa dan ia kembali mengulang ceritanya. Bagaimana mereka berkenalan dan mengapa dirinya sampai hamil.

Selesai mendengarkan cerita Maria, Rudy menatap Brian yang sedari tadi duduk dengan gelisah diapit Ben dan Alex. Jack juga berdiri di belakang Brian, membuat cowok itu terkepung.

“Benar seperti itu Brian? Perempuan ini hamil dan mengandung anakmu?” tanya Rudy penuh wibawa.

“Tentu saja dia berbohong Opa. Mana mungkin aku berbuat kurang ajar seperti itu pada anak orang. Bukankah Opa selalu mengajarkan aku untuk bertanggung jawab? Lalu aku kan selalu bersama Zee, mana mungkin dengan cewek itu.” tukas Brian meyakinkan.

Ia tidak menyangka jika Zee mengangkat suara, “Kamu kemana waktu pulang dari Raja Ampat kemarin, Brian?”

Brian tidak bisa menjawab, ia menelan ludah dengan susah payah.

“Brian…. Apa kamu kenal dengan cewek ini?” tanya Rudy, serta merta mendorong pintu agar terbuka lebih lebar. Memberi ruang yang cukup untuk mempersilakan seorang cewek muda  yang sedang membawa bayi.

Wajah Brian langsung memucat melihat Nadia, mantannya.

 

Rudy membantu Nadia duduk di sofa, di sampingnya. Semua orang terdiam, termasuk Maria yang sedari tadi menangis. Air mata cewek itu seperti menguap begitu saja. Melihat cewek yang sedari tadi dijaganya sudah lebih tenang, Max melepaskan cengkramannya dan ia menarik bangku dan meminta Maria duduk di sana.

Max pindah ke sisi Zee, menanyakan keadaannya dan melihat Zee mengeleng, ia tersenyum dan kembali memperhatikan ucapan Nadia yang sebetulnya bisa ia tebak. Brian menghamilinya dan meninggalkan cewek itu.

“Aku sudah bilang, aku pasti bisa menemukanmu, Brian.” tutup Nadia dengan penuh kebencian pada Brian.

“Bagaimana Brian? Apakah anak ini juga bukan anakmu?” tanya Rudy masam. Tidak menyangka cucunya akan bertindak begitu memalukan.

Ia bertemu dengan Nadia seminggu yang lalu ketika mengunjungi kantor Brian untuk mencari cucunya itu. Awalnya ia tidak percaya dengan ucapan Nadia, sampai-sampai ia meminta bantuan dokter untuk mengetahui kebenarannya dan diperlukan waktu 1 minggu untuk mengetahui kepastiannya. Menunggu hingga Nadia melahirkan.

“Bikin malu!!” semprot Rudy ketika melihat cucunya itu tidak bisa membela diri. Ia meminta tolong pada teman-teman Max untuk menjaga Brian sementara dirinya mengurus Maria dan Nadia.

 

Rianty ikut membantu, memberikan jalan keluar. Meninggalkan Zee berduan dengan Max.

“Jadi, kamu tidak jadi bertunangan dong?” tanya Max dengan mata berbinar-binar.

Zee menyerengit, membuat Max bingung apalagi yang sedang dipertimbangkan oleh cewek itu ketika calon tunangannya jelas-jelas sudah kerepotan mengurus dua wanita yang harus dinikahinya.

“Kata siapa aku…” ucapan Zee terputus karena stylistnya kembali berteriak dan memintanya untuk kembali ke bangkunya dan dirias.

Zee mengerang dan protes dengan berbisik, “Dasar iblis bertanduk tiga!”

 

Kebingungan, Max menarik Zee kembali, “Kamu apa?” tanya Max tidak sabar. Karena cewek itu mengenakan hak tinggi bermata kecil, Zee kembali oleng dan terjatuh, membentur dada Max.

Zee mendongkak dan menatap Max kesal, mendorong tubuhnya agar bisa berdiri kembali. “Cowok kasar!” omel Zee.

“Jangan mengalihkan pembicaraan, Regina Sundoro. Jawab pertanyaanku!” seru Max semakin tidak sabar, ia bahkan mencengkram kedua bahu Zee dan menggoncang-goncangkannya.

“Zee tidak pernah bertunangan. Hari ini adalah hari pernikahanku dengan Rudy.” jawab Rianty cukup lantang dari balik pundak Max.

Max melepaskan Zee dan menoleh ke belakang, menatap orang tua itu tidak percaya. Bagaimana mungkin nenek itu membohongi dirinya?

“Oma tidak pernah mengatakan kalau yang akan menikah adalah Zee. Bukankah Oma sudah bercerita kalau akhirnya Oma dan Opa Rudy menyadari kalau kami saling mencintai dan memutuskan untuk menikah dan menghabiskan hidup bersama?” tanya Rianty sambil tersenyum.

Max semakin bingung tapi akhirnya membalas tersenyum. Ia menoleh pada Zee dan melihat cewek itu menutup mulut dengan tangannya. Menahan tawa.

“Jangan macam-macam Zee. Kalau aku melihat sedikit saja gigimu muncul atau suara tawamu, aku berani menjamin kamu tidak bisa menghadiri acara nenekmu.” ancam Max.

Tapi bukankah Zee selalu tidak mengindahkan ancamannya dan selalu saja bertindak seenaknya?

Tawa Zee meledak, diikuti oleh Rianty, Ben, Micky dan syukurlah Alex tidak ada di sini. Cowok itu menemani Opa Rudy mengantar Brian, Nadia dan Maria.

“Sialan!” maki Max tapi kemudian ikut tertawa.

 

 

Advertisements

One thought on “M to Z – Tie 23

  1. Pingback: M to Z and vice versa « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s