M to Z – Tie 24

Max dan Zee berdiri berdamping, mereka menjadi braidmaid dan man of honor untuk Kakek Rudy dan Nenek Zee. Berada di belakang pasangan baru itu, mendengarkan mereka mengucap sumpah mereka di usia yang tidak lagi muda. Entah mengapa membuat sebagian undangan terharu dan sebagian lagi menahan tawa.

Setelah peneguhan oleh pendeta, mereka memasuki acara jamuan. Max beserta teman-temannya naik ke podium. Micky juga datang, ternyata temannya yang satu itu sedari tadi menanti mereka di hall. Kebingungan karena tidak bisa menemukan mereka.

Jadi lima sekawan itu memegang mic dan melantunkan “Cinta Kan Membawamu Kembali” untuk pasangan baru tersebut.

Max tidak menyangka, mereka akan bangkit dan berdansa mengikuti alunan lagu. Beberapa pasangan lainnya ikut turun dan memadati tengah hall.

Max tidak bisa menahan diri, turun dari panggung dan menarik Zee. Mengajaknya ikut berdansa.

“Aku tidak menjamin kakimu akan kembali utuh. Aku harus memperingatimu kalau aku ini penari yang buruk.” peringat Zee.

Tapi Max tidak terlalu peduli, ia tetap menarik Zee, ehm memanggul Zee karena cewek itu terus menerus menolaknya. Ia menurunkan Zee dan seperti biasa cewek itu memelototinya dengan mulut cemberut dan tangan terlipat ke dada. Max membalasnya dengan tersenyum usil lalu menempelkan kedua tangannya ke pipi Zee.

“Cewek bawel, sekali-sekali tolong dengarkan aku. Karena aku sendiri sudah belajar untuk mendengarkan orang lain.”

Max tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena tiba-tiba ruangan itu dipenuhi suara tepuk tangan dan teriakan penyemangat yang cukup mememikan telinga.

Max membalikan badan dan berdiri di samping Zee. Ikut mendengarkan pidato kakek Rudy.

“45 tahun yang lalu, aku bertemu dengan wanita istimewa ini, menjadi musuh sebelum akhirnya menjadi sahabatnya. Saling peduli dan saling mencela begitu lama hingga tidak menyadari tumbuhnya cinta diantara kita. 45 tahun yang terasa terlalu panjang, hanya untuk mengetahui bahwa orang yang paling kucintai selalu berada di sampingku.” ujar Rudy sambil menatap penuh cinta pada Rianty yang berdiri di sampingnya dengan wajah memerah bahagia.

“Aku berharap, tidak ada seorangpun di ruangan ini yang melakukan kesalahan yang sama. Jujurlah pada hatimu dan tunjukan sedikit keberanian dengan mengatakan kamu mencintainya.”

Rudy merengkuh Rianty dan mengecup bibirnya. Membuat kegaduhan baru, siulan dan teriakan penyemangat. Sepertinya tidak ada yang peduli kalau dua orang itu adalah sepasang kakek nenek berusia 65 tahun. Semua turut bahagia.

“Itu bisa saja kita…” bisik Max di kuping Zee sambil mengenggam tangan Zee, menyampirkannya ke pinggangnya.

“Kamu benar…”

“Tapi aku tidak mau, 45 tahun terlalu untukku mengatakan kalau aku mencintaimu.”

“Hemm???” tanya Zee, kali ini ia membalikkan badannya agar ia bisa melihat mata Max ketika cowok itu mengulang ucapannya.

“Aku bilang, aku cinta padamu, Regina Sundoro.”

“Lalu?”

“Apa maksudmu dengan lalu?” tanya Max dengan satu alis terangkat.

“Yah lalu kenapa? Aku tahu kamu cinta padaku. Kamunya saja yang bolot. Untung Oma dan Opa melakukan sesuatu. Atau kita betul-betul akan menjadi kakek nenek dulu.”

“Apa maksudmu? Aku tidak pernah bolot, cewek bandel. Kamu sendiri?!” tanya Max, suaranya mulai meninggi.

“Aku sih….. yah…… begitu deh….” elak Zee, ia bersiap untuk kabur, lupa kalau tangannya masih digenggam oleh Max.

Niatnya untuk kabur, malah membuat ia menghantam dada Max.

“Mau kemana cewek nakal?” tanya Max di kuping Zee. Ia bisa melihat kuping Zee berubah menjadi merah, membuat dirinya tersenyum sendiri.

Zee tidak menjawab, hanya memeluk Max dengan kedua tangan dengan erat. Mungkin niatnya membuat Max sesak nafas tapi tenaga cewek itu mana mungkin bisa melawan otak-otak tubuh Max yang terlatih.

Jadi setelah mencoba beberapa menit, cewek itu melepaskannya dan meninju dada Max.

“Cewek keras kepala!” ledek Max.

“Cowok kasar! Manusia purba! Obelix!”

“Dory! Cewek ceroboh! Tapi aku tetap cinta!”

Max memeluk Zee, “Kali ini, gantian kamu yang tidak bisa bernafas.” gurau Max.

Zee pikir Max akan membalas mendekapnya erat. Sama sekali tidak terpikirkan kalau Max akan menangkup kepalanya dan menciumnya.

 

Ciuman singkat, tapi rasanya begitu lama dan panjang.

Mereka diusik oleh teriakan usil teman-teman Max dari atas panggung, membuat mereka menjadi pusat perhatian.

 

“Cieee… yang baru jadian…” teriak Ben.

“Suit..suit…” siul Jack.

“Begitu dong….” teriak Micky disertai gelak tawa.

Sedangkan Alex, ia hanya bisa mengeleng, memikirkan banyaknya gosip yang akan muncul.

 

Advertisements

One thought on “M to Z – Tie 24

  1. Pingback: M to Z and vice versa « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s