Double Matters – Act 19

“Maria…. Aria….” rintih Denise yang dengan cepat berubah menjadi teriakan bersemangat dengan senyum lebar dan wajah kuyu namun jelas terlihat besemangat di depan pintu, terduduk sambil dipegangi oleh suster, dokter, Mama Denise dan Mario.

Aku terkesiap, nyaris terjatuh karena lemas tapi lengan Ethan menopangku dengan sigap dan mendorongku sedikit ke depan.

Dorongan kecil yang melahirkan kekuatan baru untuk menghampiri Denise dan ….

Dia merengkuhku, memaksa untuk berdiri, kemudian memelukku.

Seharusnya aku senang dengan sambutan Denise yang jelas merindukan aku, yang juga membesarkan hatiku sedikit banyak mengenai perasaannya padaku.

Karena tidak mungkin Denise bertindak seagresive ini, sampai memaksa turun dari kasur dan memanggil-manggil namaku, kalau aku tidak berarti sesuatu untuknya.

Tapi yang ada, aku malah berusaha melepaskan diri dari pelukan Denise, cukup berhasil karena dia menjauh tapi tidak lebih untuk mendaratkan ciuman di keningku.

“Aku kangen.” ucap Denise tidak lebih dari bisikan.

Pipiku kontan berubah merah, malu.

Itu saja, tidak ada debaran atau perasaan bahagia.

“Denise, nak, kembali yuk ke kasur, dokter perlu memeriksamu dulu. Maria sudah kembali kan.” panggil Mama Denise.

Aku menoleh padanya, sedikit mendorong Denise lebih kuat, dan memaksa cowok itu kembali ke ranjang.

Tak ayal, Denise menarikku serta dan baru berbaring dengan manis ketika aku berjanji duduk di sampingnya.

Mataku sibuk memperhatikan bagaimana dokter dan suster memeriksa Denise, tapi tetap saja hatiku tidak bisa tenang, menyadari Ethan berdiri di belakangku dalam diam.

Setelah para dokter dan suster keluar, berikut Mama Denise yang akan diberikan pengarahan dan sebagainya, Denise menjulurkan tangannya, meminta aku mendekat dan menyambutnya. Membantunya menaikan kasur ke posisi duduk.

“Aku pikir kamu tidak datang.” ucap Denise dengan senyum semuringah, “Kamu mengajaknya kemari?”

Aku melirik “nya” (Ethan) yang dimaksud oleh Denise. mengangguk.

“Dia berutang maaf padamu.” jawabku kaku, tegang dan entah kenapa aku tidak bisa membalas pandangan Denise.

Denise tertawa. Dengan suara yang cukup keras juga.

“Astaga, Aria. Kamu tidak perlu membawanya menemuiku, dan apa? Maaf? Dia bahkan tidak melukai aku sedikit pun.”

Aku tidak tahu kalau ia menatap Ethan sebelum menarikku hingga aku terpaksa duduk di samping Denise.

“Jadi, Ethan, kamu boleh pulang. Aria akan di sini, Mario bisa mengantarnya pulang. Atau kamu mau menginap Aria? Mama akan kupaksa pulang malam ini. Kondisi dia tidak lebih baik daripadaku, padahal aku yang sakit.”

Suara Denise terasa menusuk, mencengkram dan memaksa padahal ia mengucapkannya sambil tersenyum.

Aku merasa takut, untuk alasan yang tidak berani aku yakinkan.

“Aku tetap akan mengucapkan maaf, Denise.” ujar Ethan setenang air danau yang dalam, “Karena aku memang bersalah sudah meninjumu tanpa terlebih dahulu memperkenalkan diri.”

Ethan menarikku, menghentakku berdiri. Dalam sekejap, aku pindah posisi, berdiri di belakangnya, membuat aku sulit melihat wajah Denise ketika tangan Ethan diulurkan, “Ethan, pacar Maria.”

Aku memejamkan mata, menunggu reaksi Denise. Aku tidak ingin melihat sahabatku memasang tampang galak atau bahkan menatapku dengan tuduhan yang tidak bisa aku perbaiki.

3 detik berlalu sebelum aku mendengar Denise tergelak. Aku minggir sedikit dari perlindungan Ethan dan melihat Denise memeganggi perutnya dan tertawa.

“Dia bercanda kan, Aria? Kamu tidak mungkin pacaran dengannya kan?” tanya Denise setelah berhasil mengontrol tawanya.

Melihat aku membungkam, dan aku yakin, mataku menyampaikan perasaan menyesal dan bersalah yang bisa langsung dibaca oleh Denise.

“Kamu bohong kan, Aria?” tanyanya lagi, frustasi. “Aria, kamu… Aku…Aku cinta kamu, Aria.Setelah 5 tahun menyesali keputusanku untuk memenuhi perjanjian dengan Mario. Karena setelah aku pikir-pikir, alasan dia tidak masuk akal.”

Aku menatap Denise lebih berani begitu mendengar nama Mario disebut.

“Memangnya apa yang dikatakan Mario?” tanyaku sinis, merasa tidak perlu menyembunyikan kekesalan pada Mario dan kebodohan Denise.

“Aku bilang padanya, kalau kamu tidak boleh berpacaran Maria. Jantung kamu tidak sanggup.” jawab Mario dari arah pintu.

“Apa?” tanyaku nyaris berteriak, dan menghampirinya kalau saja Ethan tidak menahan tanganku, aku memelototinya.

Ethan hanya mengelengkan kepala.

“Maaf tapi memang itu yang Mama bilang. Kamu tidak boleh berpacaran, tidak boleh jatuh cinta. Memangnya kamu pikir untuk apa aku mengacaukan semua cowok yang berusaha mendekatimu?” Mario duduk di kursi yang aku duduki tadi, persis di samping tempatku berdiri. “Den, kamu masih ingat Ivan, Gerry, Fendy, semua cowok-cowok yang kita labrak dan takut-takutin dulu kan? Atau Raka, Jimmy, yang pasti belum perna kamu dengar namanya Mar, karena keburu aku giring ke cewek-cewek lain.”

Mario belum selesai, kemudian ia memandang Ethan dengan pandangan remeh, “Dan kamu Ethan, bukannya kamu bilang kamu tidak akan membuatnya jatuh cinta padamu? Atau perjanjian kita tidak lagi berlaku karena kamu tidak bisa menjaga hatimu sendiri untuk tidak jatuh cinta pada adikku yang manis ini?”

“Jadi kamu memberinya ijin untuk mendekati Aria?” serang Denise tidak senang, “Dan aku yang sahabatmu ini tidak boleh?”

“Dia bilang, dia tidak akan membuat Maria mencintai dia? Kamu menyimak tidak sih, Den? Maria tidak boleh jatuh cinta! Tidak boleh patah hati! Tidak boleh terlalu tegang!”

“Tapi apa hubungan…” potong Denise yang kembali dipotong dengan geraman dari Mario.

“Memangnya kamu tidak tahu Maria suka padamu? Dan jangan bialng kamu tidak tahu kamu menderita diabetes akut yang bisa kambuh kapan saja?” Mario melirik padaku sekilas lalu kembali pada Denise, “Dua orang dengan penyakit kambuhan seperti kalian, yang setiap saat harus diselamatkan dari kejutan, perasaan tegang dan takut tidak mungkin bisa bersama! Tidak jika kalian ingin hidup! Kalian tahu betapa kesalnya aku waktu Denise pingsan dan koma kemarin ini?”

Tidak ada yang menjawab.

“Aku merasa aku ini orang paling tolol sedunia! 8 tahun usahaku sia-sia begitu cowok ini muncul! Ok, memang benar aku yang memberinya ijin mendekatimu, tapi tidak pernah Mar. Tidak sekalipun aku berpikir kamu akan menyukai dia. Cowok dengan tampang pangeran. Jadi tolong kalian bertiga, demi diri kalian masing-masing, hentikan perasaan kalian.”

Ceramah panjang Mario ditutup dengan gelegar kilat di luar jendela, membuat  kaca-kaca ikut bergetar.

Dalam sekejap, hujan deras membasahi bumi. Suara deburan dan kilat mengantikan kami yang hanya bisa termenung.

“Aku…” ucapku membuat 3 kepala menengadah dan memandangku. Aku menarik nafas, menguatkan diri, “Aku tidak, maksudku, aku….”

Aku memandang ketiga orang itu bergantian, lalu mengeleng dan melempar senyum tipis. Lalu kabur keluar raungan.

Aku tidak bisa berada di sana untuk memikirkan semua ucapan Mario. Tidak dengan dituntut untuk memberikan jawaban (oleh Denise dan Mario – walau jelas mereka menginginkan jawaban yang berbeda). Tapi terutama tidak dengan dipandangi dengan seksama, dengan intens oleh Ethan.

Jadi aku keluar dari kamar Denise, berlari secepat yang aku bisa, karena ternyata tidak mudah berlari dengan mata berkaca-kaca.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s