Double Matters – Act 20

Aku kabur ke arah parkiran, dan syukurlah tadi aku parkir di dalam gedung.

Begitu melihat mobilku, aku merogoh ke dalam tas, berusaha menemukan kunci mobil. yang kemudian tasku disambar oleh Ethan.

“Eth, kembalikan…” pintaku lirih, dadaku terasa sesak dan sulit bernafas. Mungkin ini yang dimaksud oleh Denise dengan serangan jantung, karena sungguh aku tidak lagi bisa merasakan jantungku berdenyut ketika Ethan merengkuhku ke dalam pelukannya.

“Kamu mau kemana Aria?”

“Lepaskan aku Eth, kamu tidak berhak bertanya.”

“Kamu marah soal perjanjian aku dengan kakakmu?”

Mulutku membisu. Karena aku betul-betul lupa soal yang satu itu. Aku bahkan tidak memikirkannya sama sekali. Aku terlalu terkejut mendengar penyakit yang diklaim oleh Mario.

“Jangan marah ya? Karena aku berbohong saat itu.”

Aku menahan bibirku rapat-rapat membiarkan Ethan melanjutkan.

“Maaf tapi aku tidak tahu harus berkata apalagi pada kakakmu, agar dia memberiku ijin untuk mendekatimu. Aku sudah jatuh cinta padamu bahkan sebelum aku mengenalmu.”

“Bah!”

“Okay, cross that. I fell in love when i found you just the way i imagine. Even better. Anak kampus sering membicarakan kamu, kembaran Mario. Mereka bilang kamu too good to be Mario’s twin. Cewek cantik seperti bidadari yang bisa membanting orang dan memainkan pedang.”

Aku memukul punggung Ethan, satu-satunya tempat yang bisa dijangkau oleh tanganku. Aku sudah pernah bilang belum kalau pelukan Ethan itu selalu erat dan sering juga membuatku kesulitan bernafas. “Aku anggap itu pujian.” balasku.

“Itu memang pujian, my dear Aria. Walau awalnya aku menganggap semua itu omong kosong. Karena tidak mungkin Mario punya kembaran. Dia terlalu self-center untuk bisa saling berbagi. Yah, aku rasa kamu tahu maksudku. Lalu kalau seandainya dia punya, tidak mungkin kembarannya itu perempuan dan seperti bidadari. Mengingat bidadari itu seharusnya berwajah cantik, dan menurutku Mario ┬ámemiliki wajah paling maskulin dengan rahang lebar.”

Aku terkikik mendengarnya. Rahang Mario memang cukup lebar tapi tidak membuatnya terlihat konyol. Malah lebih dari itu, Mario terkesan kuat, gagah dan aku mulai gila karena memuji dan membela Mario, meski hanya dalam pikiranku.

“Jadi aku penasaran dan dengan nekad, aku mendatangi Donna, karena aku tahu dia berpacaran dengan kembaranmu itu. Berharap dia memiliki fotomu atau sedikit cerita tentang kamu. Tapi ternyata..”

“Tapi ternyata dia malah menyerang kamu dan menganggap kamu menginginkan dia. Tipikal Donna.” sambungku, bergurau.

“Benar! Aku tidak tahu kalau dia bermusuhan denganmu.”

“Siapa suruh tidak tanya-tanya dulu.” candaku lagi.

Ethan tersenyum. “Yah, aku memang bodoh dan cukup putus asa saat itu. Tapi setidaknya kejadian itu membuat Donna dump Mario dan kamu datang ke kampus.”

Aku ikut tersenyum. Ethan sudah melepaskanku sekarang. Ganti merogoh tas dan mengeluarkan kunci mobilku.

“Good afternoon, my lady.” ucap Ethan dengan gaya, membukakan pintu samping dan membungkuk setelahnya.

Membuatku terkikik geli lalu berdeham dan memelototinya.

“Apa?” tanya Ethan bingung.

“As your Lady, bukannya aku seharusnya duduk di belakang?”

Ethan mengelengkan kepala dengan gaya dramatis, “My lady will always seat next to me.”

Lalu ia menarik tanganku dan mengecupnya, membuat aku tertawa lagi.

“Jadi Maria, will you take me as your man? In good or bad, in health or …”

Aku menendang betis Ethan dan memukul kepalanya. Senyum lebar menghiasi wajahku begitu mendengar Ethan mengerang.

“What’s that for?” tanya Ethan dengan satu tangan mengelus kepala dan satu lagi mengelus betisnya.

“Itu untuk semua kerepotan dan kesusahanku saat aku menjadi pacar pura-puramu.”

Aku meninggalkannya terbengong-bengong dan masuk ke dalam mobil. Duduk di kursi samping.

Ethan menyusul dengan cepat, duduk di balik kemudi, menyalakan mesin sambil terus melirikku, jelas ingin bertanya tapi juga takut padaku.

“Jadi sekarang kita pacarankan? Karena kamu tetap masuk dan membiarkan aku menyetir?”

“Tidak, sekarang kita lebih parah. Kita bahkan tidak punya hubungan apa-apa.”

Ethan melemparkan pandangan bingung, sedangkan aku tetap menjaga raut wajahku agar tetap tenang.

“Aku cuma perlu seseorang mengantarkan aku ke Lab.”

Ethan mematung untuk sekian detik, lalu memutar mobilnya.

Sisa perjalanan kami lalui dalam diam. Lagu Falling Slowly bersenandung melalui speaker.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s