In Devil’s Arm – part 12

Prue tertawa.
Trtawa geli seperti orang nonton komedi. Hanya saja ini komedi hidupnya.
Apa kata Patrick tadi? Mengikutinya? Berusaha mencarinya?
“Jangan bohongi aku, Pete. Kamu memang bajingan tapi bukan pembohong. Jangan memulainya sekarang.” Continue reading

Advertisements

In Devil’s Arm – part 11

Showroom Merdeka di Jakarta Selatan

Prue memandangi pundak Patrick yang diikutinya, termasuk perempuan cantik yang semakin menempel, mungkin dia akan bergelayut bak monyet pada pohonnya kalau tidak ada Prue di sana.
Dengan kesabaran yang terlatih, bukan sekali ini ia harus menemani atasannya yang sedang berkencan. Dominick juga sama. Walau dalam hal ini ia lebih memilih ketahu-dirian Dominick, setidaknya atasannya yang satu itu tidak pernah membuatnya berlama-lama memandangi aksi rayu-merayu. Continue reading

In Devil’s Arm – part 10

Prue sedang tidur di kasurnya, pulas. Nyaris tidak bisa dibedakan dengan mayat ketika Patrick masuk ke kamarnya. Duduk di samping kasur, memandangi wajah Prue, diusapnya poni Prue yang panjang menutupi mata, menyelipkannya kembali ke balik telinga.

Prue mengulat dan terbangun ketika merasakan sentuhan jari Patrick.

“Huaaam, pagi, Pete.” ucapnya. Membuka mata sebentar lalu kembali menutup dan mengulat.

Sedetik kemudian, ia membelalak, memutar badannya dan memandangi Patrick 5 detik sebelum berteriak lantang. “PA…TRIIICK???!”

“Morning Imp.” jawab Patrick dengan senyum 1000wattnya. Semuringah. Continue reading

In devil arm – part 7

Ketika Patrick dan Prue tiba di Papilon. Klien sudah datang. Dominique memandang Prue sebentar sebelum kembali mendengarkan ucapan kliennya orang Jepang yang berbicara bahasa Inggris.

Prue menunduk sedikit sebelum duduk di samping Dominique dan mengeluarkan catatannya. Meminta maaf karena terlambat.

“Daijoubu. Daijoubu. No worries.” ujar si orang Jepang itu dan tersenyum ramah pada Prue.

Patrick duduk di samping Dominique tanpa mengucapkan sepatah katapun. Membiarkan Dominique memperkenalkannya. Continue reading

In Devil’s Arm – part 6

Tempat parkir Gedung 88

Patrick sedang bersandar ke pintu mobil, menunggu Prue. Ia berhasil menipu perempuan itu untuk menjemputnya di sini. Pura-pura tidak tahu jalan menuju Pasific Place.

Ia yakin Prue tidak bisa menolaknya. Rasa tanggung jawab perempuan itu tidak mengijinkannya walau kedatangannya kemari sama dengan mencari masalah.

Patrick menyeringai, ia bisa menjadi apapun asal tidak diacuhkan oleh Prue. Tidak peduli apa kata Domimique nanti. Continue reading