In devil arm – part 1

Lobby Gedung SE

“Pagi Bu Prudance. Tenang, Pak Dominique belum tiba. Jangan lari-lari.” sapa satpam membiarkan Prue melewati pengencekan ID tanpa ditunjukan kartu ID Prue.
“Makasih Mas, salam untuk istri yah… Kasih tahu nastar buatannya enak banget!” balas Prue sedikit berteriak. Agak sulit melewati kerumunan orang dengan 2 kopi starbucks yang di tangan kanan dan tumpukan jas di tangan kiri.
Jas milik Mr. D yang sudah selesai di laundry dan harus tersampir dengan rapi di hanger ruangan Mr. D.
Kopi itu satu juga milik Mr. D, kopi yang selalu membuat Prue mampir ke Sarinah sebelum ke Kantor, terjebak macet dan bangun jam 5 pagi.
“Pagi Prue.” sapa operator lift. Lift khusus untuk Mr. D, dan sebagai assitantnya Prue berhak mengunakan lift yang sama dan terlepas dari berdesak-desakan dengan puluhan orang lainnya.
Satu lift luas untuk dirinya sendiri. 30 detik untuk menarik nafas dan menenangkan diri.
“Pagi, Aryo. Bagaimana pertunjukan bandmu semalam? Sorry, saya tidsk bisa datang. Ada panggilan mendadak.”
Aryo mengangguk penuh simpatik. Sebagai salah satu pekerja lama di sana, ia sudah terbiasa melihat assistant pribadi Pak Dominique lari mondar-mandir ke sana kemari bahkan di jam-jam tidak wajar.
Jarang ada yang bertahan lebih dari tiga bulan. Jadi melihat Prue yang sudah 6 bulan menjabat di posisi teresebut menimbulkan kekaguman sendiri di antara dirinya dan karyawan lainnya.
“Kirimin lagi yah kalau ada pertunjukan lainnya. Saya usahan datang.” ujar Prue sebelum keluar dari lift.

“Prue, Pak Riyadi dari PT. Sekar minta dimajukan meetingnya ke jam 2. Ibu Siska menunggu hasil audit. Lalu Ibu Vonny menelepon 3 kali…” sambut Amelia, resepsionis dengan suara merdu yang sedang hamil tua.
“Ini laporan audit untuk Ibu Siska. Semalam aku harus ke Bogor nyamperin Boss kita. Jadwal sudah penuh sampai akhir minggu, dan ini Pak Riyadi kayak tidak tahu saja, percuma minta ganti jadwal.”
“Mungkin dia pikir Mr. D lagi good mood kali gara-gara dapet tender.”
Prue menaikan alisnya menanyakan kewarasan Amelia dan ingatannya sebagai karyawan yang telah lebih lama bekerja di PT. Sejaterah ini.
“Ya, I know. Mr. D tidak akan pernah merubah jadwalnya walau ada gempa, kebakaran atau banjir bandang sekalipun. Aku akan menelepon Pak Riyadi kembali.” ucap Amelia mulai mengangkat telepon, “Ibu Vonny gimana?”
Prue menarik nafas panjang, menghadapi sang iblis saja sudah membuat kepala sakit, sekarang Prue harus berurusan dengan ibunya.
“Aku akan menelponnya sendiri. Paling-paling dia menanyakan keberadaan anak tercintanya yang sedang dalam pelukan sang dayang-dayang.”
“Jadi benar Mr. D kencan dengan calon Miss Extravagansa?” pekik Amelia, lupa sudah dia dengan telepon.
“Ssstt…. Mr. Dominique yang terhormat itu special juri untuk ajang pemilihan tersebut jadi dia berhak melakukan apapun juga. No…not a date.” ucap Prue penuh arti yang langsung ditanggapi dengan cekikan dan pekikan dari Amel.
“Sekarang aku akan masuk dan Amel, please pastikan Pak Riyadi tidak berpikir untuk merubah jam di kemudian hari.”
Prue kembali berjalan menelusuri koridor kantor dengan cepat, ruangan Mr. D ada di ujung satunya, naik 1 lift khusus dan viola, taman kecil nan asri di lantai 42 gedung bertingkat menyambut Prue.
Betul-betul sebuah taman berikut jembatan di atas kolam koi. Di ujung jembatan terletak ruangan dari kaca ukuran 6×6, bernuansa kayu dan terlihat nyaman dsn ber-AC.
Kantor ini salah satu hal ajaib yang hanya bisa dimiliki oleh sang iblis.
Prue mengesek kartu ID miliknya ke sensor dan memasukan nomor pin untuk membuka pintu. Tanggal lahir si Iblis. 2902.
Kopi diletakan di meja, jas di hanger dan kopi satunya di atas mejanya. Padahal Prue tidak suka kopi. Tapi 6 bulan ini dengan terpaksa meminum setiap gelas cadangannya.
Baru saja Prue ingin duduk dan menelepon, pintu terbuka diikuti suara bantingan tas ke sofa tamu.
Laki-laki dengan badan atletis, tinggi tegap dan tampan campuran muncul sambil melepaskan kemeja dan berjalan mendekati Prue.

Kenapa dia sudah ada di kantor? Dia pasti naik heli lagi deh,sampai-sampai satpam tidak tahu Dom sudah di kantor.
“Prue, tolong shaver.” perintah Dom dan menuju bathroom di bagian belakang kantor.
Prue mengekor di belakang, ikut masuk ke kamar mandi. Sudah biasa dengan sikap cuek dan tanpa basa-basi Dom. Ramah tamah hanya untuk orang luar. Buat Prue yang hanya seorang asistant cukup perintah dan perintah dan perintah.
Prue berjongkok dan membuka lemari di bawah wastafel sedangkan Dom di sampingnya mencuci muka.
“Belikan 1 kalung liontin dan kirim ke Linda.”
“Yes D. Perlu bunga juga?”
“I never send flower to break with someone..”
“…only to pursue.” sambung Prue.
Dom tersenyum, senyum yang bisa meluluhkan gunung es dan merontokan benteng dan menipu Prue 6 bulan lalu untuk bekerja pada iblis itu, “Benar asistantku yang pintar. Sekarang tolong ambilkan kemeja di mobil. Dan tahan semua telepon untuk hari ini.”
“Termasuk dari Mama-mu?”
“Termasuk dari mama… Dia menelepon?”
“3 kali kata Amel.”
“3 kali? Dan kamu ada dimana saat itu? Kenapa Amel yang menjawab? Kamu kan tahu Mama itu….”
“Mengurus pesanan kapal untuk acara mancing dengan Linda. Yang sekarang harus aku batalkan?”
Dominique menatap Prue dengan wajah tak bersalah, “Tidak perlu, aku bisa mengajak Annisa akhir minggu nanti. Tapi tolong bawa koki. Aku tidak yakin sanggup memancing ditemani oleh cewek itu.”
Prue mengangguk dan berjalan dengan mantap keluar kamar mandi sebelum dihentikan lagi oleh atasannya “Prue, sekalian kantong di jok belakang.”
“Yes, boss.” sahut Prue.
10 menit kemudian, Prue kembali dengan kemeja putih, 1 kantong besar dalam pelukan dan file dikepitannya.
Dominique sedang menelepon jadi ia hanya memberi kode pada Prue untuk menghampirinya dan memakaikan kemeja untuknya.
Dengan terpaksa Prue melepeh File ke atas mejanya. Lalu ia menurunkan kantung ke lantai, sesuai kode bisu Dominique dan mulai memakaikan kemeja tersebut satu tangan ke tangan yang lain.
“Iya, Ma. Aku akan datang. Hotel Nikko jam 7 kan?” suara Dom tidak begitu yakin menyebutkan jam ketika melihat Prue mengelengkan kepala dan menunjukan jadwal pertemuan di Kemang pada jam yang sama.

“Tunggu Ma, aku ada meeting. Jam 6?” tanya Dom pada Prue, lagi-lagi Prue menunjukan janji lainnya. “Jadi bisanya jam berapa Prue?”

“Atur besok jam 2. Kamu kosong sampai jam 5. Rapat dengan..”

“Majalah Bazzar. Aku ingat yang itu. Nah, Mama dengar? Kata assistant favorite mama, aku baru bebas besok jam 2. Ok, bye Ma.”

Prue meminta Dominique berdiri untuk mengancingkan kemejanya.

“Untung ada kamu. Kalau nggak, nyokap sukses deh jodohin aku hari ini. Aww”
Prue yang sedang memakaikan dasi Dom terkejut dan tidak sadar mengikatnya terlalu kencang.

“Sorry.” ucap Prue buru-buru melepaskan tangannya dari leher Dom dan membiarkan laki-laki itu mengurus dasinya sendiri.

“Kalau kamu bukan Prue, pasti sudah kupecat.”

“Maksud kamu kalau kamu tidak butuh aku untuk mengurus semua kerjaan kamu maka aku sudah dipecat, begitu kan?”

“Bingo!” jawab Dominique girang.

“Dan bisa beritahu aku apa yang harus aku lakukan dengan kantong ini?”

“Untuk kamu.”

“Aku?!”

“Iya, itu….” Ucapan Dom terputus oleh bunyi telepon. Prue mengangkatnya langsung dari meja Dominique.

“Selamat Pagi. Kantor Pak Dominique.” jawab Prue. “Baik, sebentar.Dari Ethan.”

“Ethan? Yo, cousin! Sudah pulang honeymoon?” sambar Dom.
Prue meninggalkan meja Dom dan merogoh isi kantong yang kata Dom untuknya. Baju bekas, jas dan celana untuk dicuci. Lalu kantong kecil. Mungkin ini yang dimaksud Dom untuknya. Diletaknya barang-barang Dom ke sofa lalu mulai membuka bungkusan kecil tersebut. Kotak berisi coklat yang sayangnya sudah meleleh.

Geleng-geleng kepala Prue memasukan kembali kotak tersebut dan mencuci tangannya yang lengket.

Yah, harusnya Prue tidak pernah berharap Dom akan memberikan apa-apa untuknya. Sejak awal ia mulai bekerja pada Dom, ia tahu kalau atasannya ini bukan orang yang mudah. Berdasarkan pengalaman orang tuanya, kakeknya, kakek buyutnya yang telah bekerja pada keluarga Sejahtera, menjadi assistent pribadi aka sekertaris aka tangan kanan, itu merangkap pekerjaan rumah tangga, supir pribadi, dan jika dibutuhkan stylist sekaligus tukang antar surat putus pada kekasih-kekasih Dom. Seperti yang harus ia lakukan besok.
Kalau saja ia tidak diminta langsung oleh Mama Dom, Prue pikir ia tidak akan pernah sanggup bertahan selama ini bekerja di bawah perintah Iblis Dom. Bukannya ingin mengeluh, tapi Dom itu sangat gila kerja dan super perfeksionis. kadang Prue tidak habis pikir bagaimana laki-laki itu sanggup membagi waktunya. Setiap malam, Dom masih sempat berkencan dengan banyak wanita. Lalu kembali bekerja keesokan paginya dnegan semangat yang sama besarnya seperti orang yang baru tidur 8 jam penuh.
Mungkin fakta bahwa Dom anak jenius terlalu mengecilkan kepandaian Dominique.

Prue menghentak kepalanya ketika mendengar Dominique memanggilnya. Secepat mungkin Prue meluncur ke meja Dom dan menerima berkas-berkas yang diserahkan oleh Dominique ke tangannya. Sekaligus catatan-catatan kecil dan perintah tambahan.

“Prue, tolong book Immigrant untuk malam ini, whole venue.” ujar Dominique.

“Jam 10?” ulang Prue.

“Jam 10. Dan bawakan bunga, aku harus menjemput Anita. Magnolia saja.”

“Anita? Bukannya Annisa?”
“Ah, benar Annisa. Tidak pentinglah. Aku tetap memanggil mereka baby.” ucap Dominique, lalu seakan baru teringat, ia menambahkan, “Kamu harus datang juga.”
“Apa?!” pekik Prue.

Tapi Dom tidak menyahut, terus keluar dari kantornya dan menyeberangi jembatan, hilang di balik pintu.

Meninggalkan Prue dengan telepon yang berdering dan kepala pusing.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s