In devil’s arm -part 2

Immigrant

Dominique tiba bersama Annisa sesuai dengan jadwal. Jam 11 lewat. Ia melirik perempuan di sebelahnya. Cantik, seksi dan menarik.
Semua perempuan pilihannya selalu sama. Tidak bercacat. Karena selera Dominique tidak kurang dari itu dan ia tahu ia pantas mendapatkannya.

Ia mengidarkan pandangannya mencari Patrick. Sepupunya yang mendadak kembali dari pengasingan, mengutip berita yang ia baca di halaman utama harian bisnis Indonesia.

Berita tersebut dengan lengkap menyangkup biodata Patrick, sepak terjangnya di antara wanita dan proyek terakhir yang membawa nama Patrick terkenal sekaligus tenggelam 4 tahun yang lalu.

Patrick sang arsitek jenius kembali ke tanah air.
Tidak terlalu sulit untuk menemukannya, cukup mencari laki-laki setinggi dirinya dengan rambut ikal dan berada di tengah kerumunan. Karena Patrick memang selalu menjadi pusat pesta. Sikap mudah bergaulnya membuat Patrick lebih mudah diterima oleh orang-orang dan Patrick selalu bersikap santai.

Wajar sih, dia tidak dituntut untuk menjadi pewaris perusahan besar. Tidak perlu bekerja malah. Dengan uang tunjangan yang diberikan kakek untuknya, Patrick bisa menghidupi 1 kampung selama ratusan tahun. Keistimewaan menjadi cucu dari putri semata wayang kakek yang telah tiada.

Tidak, Dominique tidak iri. Semua yang dimiliki oleh Patrick juga dimiliki olehnya. hanya bedanya, Dom mengunakan otaknya untuk bertahan, sedangkan Patrick…

He is born to be the king.

“Yo, cousin!” teriak Patrick dari atas meja bar. Patrick melompati meja bar terebut dalam satu lompatan dan berlari menghampirnya. Memeluk dan merangkul leher Dominique.

Penyambutan khas Patrick.

“Thank you, for the party.” ucap Patrick lalu ia melirik pasangan Dominique dan mengulurkan tangan, “Dan siapa ceweek cantik ini. Bukan pacar kamu kan? Say you’re not, cause you’ll break my heart.” lanjutnya kemudian mengecup tangan Annisa. Membuat pipi perempuan itu bersemu.
Dominique hanya mengelengkan kepala. 4 tahun di gurun tidak membuat buaya darat lupa caranya mencari mangsa.

“Patrick kenalkan. Annisa, calon Miss Extravagansa. Jadi jangan pernah mengatakan kamu melihatnya di sini.”

Patrick bersiul dan mengedipkan mata pada Annisa.

“Dan Annisa, ini Patrick. Arsitek, fotografer, designer, and heartbreaker. Jadi jangan percaya kalau dia memintamu menjadi model.”

Patrick tertawa, “Cousin, jangan menjatuhkan martabat yang kubangun dengan keringat dan air mata. I never sleep with my model. They sleep with me.”

Pipi Annisa semakin memerah mendengar ucapan tidak selolor Patrick. Di hadapan dua laki-laki tampan, yang satu rapi berwibawa, yang satu lagi begitu bebas dan santai. Ia merasa seperti mimpi ayng terlalu indah. Sungguh tepat ia mencalonkan diri sebagai Miss Extravagansa. Pergaulannya semakin luas dan terdiri dari kalangan jetset Indonesia. Bukan hanya satu tapi dua calon pewaris Sejahtera berdiri di hadapannya. Dua pria yang sama kayanya, sama tampannya dan sama mempesonanya.

“Now, girl. Silakan pilih sendiri minumanmu sendiri. Bartender siap melayanimu.” usung Patrick menunjuk meja bar yang ia lompati tadi. Mengusir perempuan itu secara halus.

Begitu Annisa berlenggok pergi, Patrick langsung menarik leher Dominique, “Cewekmu betul-betul mantap. Tidak heran aku rindu setengah mati pada Jakarta. Kota ini semakin ramai dan…,” Patrick bersiul rendah, “Perempuan-perempuannya semakin berani.”

“Bagaimana kabarmu Pete? Kok mendadak pulang ke Indo?” tanya Dominique penasaran. “Bukannya kamu bilang kamu tidak akan kembali ke Jakarta walaupun aku datang menarikmu sendiri?”

Patrick tertawa mendengar sumpah konyolnya dulu, “I’m older and wiser now. Tidak mungkin aku tidak datang dan membantumu. Tante bilang perusahaan membutuhkan dua orang Dominique. Jadi aku pikir, tidak ada salahnya aku pulang dan membuatmu lebih relax.”

Sekarang ganti Dom yang menertawai kelakar aneh Patrick, sedikitpun ia tidak percaya Mamanya meminta Patrick kembali untuk membantunya. Lebih tidak percaya lagi bahwa Patrick bersedia dikekang dan bekerja.

“Ayolah. Kamu tidak perlu berbohong padaku. Cuma ada satu alasan kamu kembali ke Indonesia and it’s gotta be about that girl! Siapa namanya? Cewek yang bikin kamu melawan perintah kakek?”

Melihat Patrick tersenyum tipis, Dom tahuia telah menyentuh topik terlarang.

“Aku murni datang untuk membantumu. Tante cerita panjang lebar padaku soal kondisi perusahaan berikut cerita soal sekertaris kamu!” pekik Patrick kembali merangkul leher Dominique.

Kali ini lebih erat dan membuat Dom sesak nafas.Ia memukul-mukul lengan Patrick, meminta direnggangkan sedikit sehingga udara bisa mengalir nyaman ke paru-parunya.

“Jadi begitu?” Dom merasa ia kembali bernafas dengan normal, ia bertanya “Kamu sudah dengar soal dia?”
“Mana mungkin tidak? Mama kamu dan kakek membanggakannya setinggi langit. Katanya sejak diurus oleh dia, kamu jadi lebih beradab dan apa kata tante tadi, bersedia dijodohkan?” ucap Patrick dengan nada meledek dan usil.

Dominique mengerang, “Brengsek, aku tidak pernah setuju soal perejodohan itu, semua masih dalam tahap pembicaraan.”
Patrick tergelak kembali, “Aku dengar calonmu itu dididik oleh Ratu Inggris loh. Terus jago masak, pokoknya calon istri yang sempurna untuk penerus keluarga Sejaterah.”
Dominique meringkis, masalah perjodohan ini semakin lama semakin konyol. Dia baru berusia 27. Kenapa harus buru-buru menikah?
Patrick menepuk-nepuk punggung Dominique, menghiburnya, “Lupakan dulu soal calon istrimu, malam ini kita have fun ok? Tidak boleh pulang sebelum mabuk!”
Patrick menyodorkan gelas yang muncul entah dari mana dan memaksa Dominique menghabiskan isinya.
Lalu gelas berikutnya, berikutnya dan berikutnya.

Lewat tengah malam

“Prue, kamu dimana?” tanya Dominique kesal dengan lamanya waktu yang dibutuhkan Prue untuk menjawab panggilannya. Kesal karena kepalanya mulai berdengung dan berdentam, pengaruh alkohol yang dikonsumsinya 3 jam terakhir ini.
“Hmmm? Di rumah…” jawab Prue dengan suara bantal. serak dan tidak jelas.

“Kenapa kamu masih di rumah? Immigrant jam 11, ingat?!” tanya Dom penuh emosi.

Sial, berisik sekali tempat ini.

Dom keluar dari ruangan, menuju service area yang lebih sepi.

“Iyah, semua sudah dibooking sesuai keinginan kan? Malah aku dikasih diskon 30% dan service tambahan jika membutuhkan LC. Tapi aku pikir kamu tidak butuh LC jadi minta tambahan dipanggilkan DJ Daze yang kebetulan sedang ada di Jakarta.”

Dominique memijit keningnya, sabar Dom, sabar. Hitung 1, 2, 3.
“Semua akan hancur 30 menit lagi kalau kamu tidak ke sini. Patrick mulai menyuruh semua orang minum dan minum lebih banyak. Cewek yang kubawa mulai mabuk dan sekarang naik ke atas meja. Apa aku perlu menyebutkan semua kekacauan yang terjadi di sini sebelum kamu menyeret pantatmu kemari?”

“Baik, baik. Aku mengerti.” jawab Prue tidak bergeming dengan umpatan dan kata-kata kasar Dominique. Ia hanya ngantuk bukan mabuk, sedangkan Dom jelas sudah mabuk. Prue tidak melihat adanya keuntungan menanggapi emosi Dom yang meledak karena pengaruh minuman keras.

“Bagus, kalau aku tidak bisa menemukan kamu dalam waktu 30 menit, kamu boleh menyerahkan surat pengunduran diri.” putus Dominique, terlalu mabuk dan terlalu emosi untuk menyadari kalau ia sudah mengancam satu-satunya sekertaris yang bisa ia andalkan. Satu-satunya sekertaris yang tidak membuat ia sakit kepala. Kecuali malam ini.

Dengan kepala yang semakin mendengung, Dominique berusaha meluruskan pandangannya ke sekelilingnya. Ada 3 perempuan sekarang yang berjoget di atas bar. Bukan Annisa, Teman-teman Patrick. Jadi dimana perempuan itu?

Sial, seharusnya ia tidak perlu membawa pasangan hari ini, paling repot mengurus perempuan mabuk. Ia tidak punya kesabaran yang cukup atau kepedulian yang dibutuhkan untuk itu.

Beda dengan Patrick yang suka ikut campur dan memang hobby membawa perempuan mabuk ke kasur. Dom tidak suka mengurusi perempuan mabuk atau hal memusingkan lainnya. Semua hal memusingkan serahkan pada Prue.

“Dom…… Joget dong….” sapa perermpuan sexy yang tidak Dominique kenal tapi sepertinya punya cukup bernyali untuk menyapanya. Atau mungkin terlalu mabuk sampai lupa diri? Yang mana pun tidak akan membuat Dominique menanggapinya.

Ia melempar tatapan menusuk pada perempuan tadi. Tapi mungkin karena gelap, perempuan itu tidak melihatnya, malah berpikir kalau ia sedang menikmati penampilan liar perempuan tersebut. Dress pendek dengen belahan dada terlalu rendah dan terlalu sempit.

Dan cewek itu mengelayut padanya! Dua tangan di leher dan mulai meliuk-liuk lekat di dadanya.

Ia siap mendorong cewek itu. Tidak peduli cewek itu terjengkang atau apa, tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh tubuhnya tanpa seijin Dominique.

Syukurlah seseorang menarik perempuan itu dan menempelkannya ke cowok lain.

“Jadi kamu perlu bodyguard dari cewek-cewek ini? Kenapa tidak menyuruh Thomas, pengawalmu saja yang datang?” ucap Prue.

Tidak peduli pada sindiran halus dari Prue, Dominique memeluk perempuan itu, “Aku tahu kamu terlalu cinta padaku untuk meninggalkan aku di sini.”

“Mr. D. berapa banyak minuman yang kamu minum malam ini?” tanya Prue sambil menjepit hidungnya dengan jari.

Dom berbicara terlalu dekat dengannya dan 100% bau minuman keras. Karena Dom tidak menjawab, Prue mendongkak dan beberapa detik mereka hanya saling bertatapan, sebelum mendadak merasa canggung, jantung menjadi berdebar lebih kencang dari bass loudspeaker dan insting mereka sama-sama meneriakan tanda bahaya.
Buru-buru mereka saling melepaskan diri. Dominique menyempatkan diri berdeham, satu dehaman untuk menata kembali detak jantungnya, satu dehaman lagi untuk mengembalikan kerja otaknya dan dehaman terakhir untuk mengingatkan dirinya kalau saat ini ia harus memarahi Prue, “Kenapa lama sekali?! Dan kamu pakai baju apa sih?!”
Prue berdecak pinggang. Ia memang berpakaian sembarang tadi karena buru-buru. Celana panjang dengan tanktop, tanpa make-up. Hanya satu pulasan lip-gloss. Lip gloss yang kebetulan tertinggal di mobil dia. Seharusnya Dominique bersyukur Prue tidak datang dengan baju tidur karerna terlalu kaget mengangkat telepon Dominique tadi.
“Sudahlah, lupakan saja! Sekarang bantu aku cari Patrick. Aku mau pulang.”
Melihat Prue membalikan badan begitu saja, Dominique menarik tangan Prue, “Mau kemana?”
“Cari Patrick kan? Sepupumu itu kalau belum berubah seharusnya ada di dekat toilet dengan perempuan.”
Ucapan Prue terdengar masuk akal. Ia mengikuti Prue secara reflek. Percaya kalau Prue pasti bisa menemukan Patrick.
Dom berusaha mengingat-ingat kembali kebiasaan Patrick yang disebut oleh Prue. Seharusnya ia sebagai sepupu dan teman onar Patrick mengingat jelas kebiasaan yang ini. Kenapa ia lupa ya?

Ah, sudahlah, yang penting Prue ingat. Semasa ada Prue, everything will be alright and ….
“Hei, Prue, how do you know, he’s going to be…” pertanyaan Dom terhenti ketika ia melihat Patrick dalam kondisi persis seperti yang dikatakan Prue. Dengan pakaian setengah terbuka, mencumbu perempuan.
Dominique menyipitkan matanya begitu sadar siapa perempuan itu.
Annisa.
Serta merta Dominique maju ke depan tapi sesosok perempuan berdiri di hadapannya, mendahului Dom dan melakukan persis seperti ia inginkan.

Menarik Annisa dari Patrick.
“Apa-apaan sih?!” maki Annisa yang kemudian membungkam ketika melihat Dominique.

Dominique cuma tersenyum masam. Pasangan kencannya dengan sepupunya? Could this night be more interesting?

It could, pikir Dom ketika mendengar ucapan Patrick.

“Hello Imp. Lama tidak jumpa. Kamu makin cantik.”

Patrick merapikan kemeja dan menyisir rambut ikalnya yang agak kepanjangan. Lalu membuka tangan hendak memeluk Prue.
Tepat kurang beberapa senti, Prue menonjok perutnya. Membuat Patrick meringkis lalu tertawa.

“Astaga Imp! Kamu belum berubah yah. Aku semakin menyesal mengajarimu tinju.”

Prue bertolak pinggang, “Kamu juga belum berubah. Masih tetap mengobral dengan batanganmu.”

Tubuh Patrick terguncang oleh tawa.

“Well….. Aku lebih suka menyebutnya love service, Imp.”

Prue mendengus dan berbalik badan, menabrak Dominique.

“Er, itu ….” Ucap Prue gelagapan.

Astaga, ia lupa sama sekali kalau ada laki-laki ini. Atasannya melihat ia menonjok sepupunya. Habis sudah. Habis sudah. Mana Dominique pasang tampang galak. Matanya mengeluarkan kilat, petir, halilintar, dan Prue yakin kalau tadi Dominique mau memukul Patrick, sekarang kemarahan itu ditujukan padanya.

“Hallo cousin. Maaf soal cewekmu. Aku hanya mengambil apa yang disodorkan olehnya.” selak Patrick dan merangkulkan tangannya ke bahu Prue yang langsung ditepis kembali tapi Patrick tidak menyerah, mengembalikan tangannya terus menerus.
“Hentikan! Kalian berdua!” marah Dominique. “Sekarang jelaskan, kalian saling kenal?!”

“Dulu kami berpacaran.” jawab Patrick berbarengan dengan “Tidak ada hubungan apa-apa.” dari Prue.

Patrick menyeringai dan kali ini ia memindahkan tangannya ke pinggang, mengepit dua Prue dari belakang. Memeluknya sekaligus memastikan Prue tidak berkutik. Inginnya sih menyandarkan kepalanya ke pundak Prue juga, ia merasa sedikit pusing akibat minum-minum tadi. Tapi Prue pasti akan menyundul kepalanya.

Kenyamanan Patrick hanya bertahan sekejap karena Dominique menarik Prue darinya.

“Hentikan leluconmu, Pete.” ancam Dominique setelah mengamankan Prue di sisinya.

Rasanya ia lebih marah melihat Patrick gelayutan dengan Prue dibanding dengan Annisa tadi.

Dominique menatap Patrick.

Apa kata sepupunya tadi? Mereka dulu berpacaran? Masa sih? Perempuan secerdas Prue mau dengan sepupu konyolnya ini?

Dominique menengok ke belakang dan melihat kegelisahan Prue.

Sial, masa sih?

Tidak puas dengan hasil analisanya, Dominique menoleh kembali ke arah sepupunya yang malah menyeringai usil.
“Kenapa aku bisa tidak tahu?” tanya Dominique.
“Aku akan menjelaskannya padamu di luar. Kamu mau pulang kan, Boss?” jawab Prue cepat.
Ia mulai menarik Dominique keluar dari lorong.

Namun langkah mereka terhenti ketika Patrick berseru, “Kami malah berencana untuk menikah dulu.”

“Tutup mulutmu Patrick! Kamu tahu tidak pernah ada pembicaraan seperti itu!”

“Masa kamu lupa, upacara di gereja, 2 anak, rumah di Puri lengkap dengan kebun belakang?”
Prue nyaris berteriak lagi untuk membalas ucapan Patrick. Tapi kemudian ia berhasil memerintahkan dirinya untuk tidak bertindak bodoh.

Sabar, Prue. Kamu tidak ingin menjadi tontonan. Kamu sudah dewasa sekarang. Jangan terpancing olehnya. Jangan terpancing, perintah Prue pada dirinya.
Prue membalikan badan, kembali menarik Dominique keluar.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s