Double Matters – Act 21

Untuk kesekian kalinya aku pikir aku tahu aku ada dimana, tapi lagi-lagi aku harus bertanya pada Ethan.

“Laboratorium.” jawab Ethan singkat.

Aku mengedarkan pandanganku ke arah rumah pondokan dengan tumbuhan rambat menutupi hampir seluruh dinding luar pondok tersebut. Palang namanya nyaris tak terbaca karena tertutup oleh pohon tinggi dengan daun rindang. Pohon beringin.

Ethan menarikku yang berdiri ragu di samping mobil, “Trust me.”

“Trust you?! Terakhir kalinya kamu mengatakan hal itu, aku berakhir mabuk dan kamu nyaris digebukin Mario.” ungkitku malas. Walau tak urung aku tersenyum mengingat kebodohan kami.

“Kali itu bukan salahku dong, aku kan tidak tahu kamu tidak bisa minum.” elak Ethan, “Tapi kali ini, kamu boleh percaya padaku. Ini laboratorium paling terpercaya seIndonesia. Karena yang punya masih tanteku sendiri.”

Aku hanya mendesis malas, tidak mungkin membantah ucapan Ethan tadi. Masa aku meragukan kredibilitas tante Ethan. Bisa-bisa cowok itu berubah sinis lagi.

Malas deh. Baru juga aku menikmati diperlakukan bak putri, masa harus berubah lagi menjadi upik abu.

“Aria, kamu lagi mikirin apa sih? Berhenti khawatir ok? Apa kamu perlu aku temenin nanti pas ditest?”

“Temenin? Memangnya boleh?”
Ethan hanya tersenyum dan menarikku, mendorongku masuk ke ruanganyang sepertinya tempat test MRI. Suster penjaga langsung menyambut kami dengan antusias. Menyambut Ethan tepatnya.
“Ethan? Aduh, apa kabar nak? Dan siapa ini? Pacarmu?” sapa si suster.
“Baik dok. Kenalkan ini Maria.”
“Hallo Maria, kamu yang menemani Ethan hari ini?”
“Bukan, Maria yang akan dicek dok.”
“Maria? Oh, baiklah, aku pikir… Sini nak, ganti bajumu dengan ini lalu berbaring di sana.”
Aku menerima baju putih tanpa kancing hanya tsli kecil di bagian punggung dan masuk ke ruangan ganti.
Sepertinya ada yang aneh dengan dokter tadi dengan Ethan. Menemani Ethan katanya? Memang Ethan terlihat sering datang ke tempat ini. Tapi rasanya tidak mungkin kalau sampai akrab dengan adokter MRI. Test ini kan bukan test umum layaknya ambil darah.
Saat aku keluar, aku mendapati Ethan sedang berbicara serius dengan sang dokter. Tapi mereka buru-buru menghentikan pembicaraannya ketika melihatku.
“Ok, Maria berbaring dan jangan banyak bergerak ya.” perintah sang dokter membimbingku ke bbaring dalam lubang.
Aku berusaha senyaman mungkin berbaring di ruanganf kecil. Setidaknya tida gelap dan ada Ethan di balik ruangan. Mereka pindah ke ruang itu tadi, sepertinya ruangan opeator.
15 menit kemudian pemeriksaan selesai. Au beerganti pakaian dan. Bergabung dengan Ethan dan dokteer.
“Berita bagus atau buruk dulu?” tanya sang dokter.
“Buruk?” tanyaku ragu-ragu. Ethan meremas tanganku menenangkan.
“Kamu memang punya kelainan jantung dan paru-paru.”
Jantungku berhenti.
“Tapi tidak berbahaya.” sang dokter tersenyum. “Saya lihat kamu banyak berlatih dan cukup menjaga badanmu. Ethan cerita kamu beermain anggar? Itunolahraga yang bagus tapi jangan terlalu sering, tidak baik berada di ruangan dengan udara tipis dan pakaian yang terlalu ketat bisa membuatmu sesak nafas.”
Aku meremas tangan Ethan, lega. “Jadi tidak ada masalah lainnya.” aku melirik Ethan lalu tersipu sebelum bertanya, “Maksudnya kalau aku mengalami patah hati atau terlalu bahagia, jantungku sanggup menahannyakan?”
Sang dokter tertawa sebelum menjawab, “Bahkan kalau kamu memutuskan untuk punya anak, saya pikir tidak akan ada masalah.”
Mukaku semakin merah.
Tak lama, kami berpamitan, Ethan membantuku untuk membayar biaya MRI dahulu, karena aku tidak membawa kartu kredit atau atm.

“Menurut kamu kenapa Mario ngomong kalau aku sakit parah?” tanyaku saat kami kembali ke mobil.
“Aku tidak tahu, mungkin dia hanya khawatir sebagai seorang kakak? Kamu tahu kan Mario sayang banget sama kamu.”
“Tapi tetap saja itu tidak menjelaskan tindakan dia untuk membatasi cowok-cowok yang mendekatiku dong. Terutama Denise.”
Aku mengigit bibirku, merasa bersalah karena sudah mengungkit nama Denise.
“Tapi sekarang sudah jelas semua. Kamu bisa memberitahu Mario dan Denise.” ucap Ethan.
Aku menggigit bibirku lagi. Rasanya seperti ditinju ketika mendengsr Ethan meqnyuruhku memberitahu Denise. Memberitahu apa? Kalau aku bisa jatuh cinta? Boleh berpacaran? Tapi aku tidak mau! Aku tidak mau Denise!
Aku mau….
Aku terkesiap.
Astaga, aku jatuh cinta pada Ethan!
Aku melirik Ethan yang sedang menyetir.
Lucu kalau mengingat dia tidak suka menyetir, sedangkan bersamaku sudah berapa kali Ethan berada di balik kemudi.
Aku mengenggam lengan Ethan, dia menoleh.
“Eth… Aku….”
Ethan menatapku sebentar sebelum kembali menghadap jalanan. Bagaimanapun juga dia sedang menyetir.
“Jangan khawatir soal aku. Kita bisa menyudahi hubaungan kita. toh itu cuma pura-pura.”
Ucap Ethan dan menepuk tanganku.
Aku mencengkram lebih erat.
Beranikan dirimu Maria. Mungkin Ethan tidak memikirkanmu lebih dari pacar pura-pura. Mungkin kemarin ini dia hanya terbawa perasaan. Tapi dia tetap butuh dirimu, Maria.
Aku mengeleng, “Tidak mau. Aku akan tetap jadi pacarmu, pura-pura atau tidak. Urusanku dengsn Donna belum selesai.”
Ethan memandangiku, dan aku balas memandangnya.
“Kamu yakin? Kalsu kits tetap melanjutkan sandiwara kita, kamu tidak bisa sering-sering ke tempat Denise.”
Aku menangguk, tanla sadar semakin keras meremas lengan Ethan.
“Bahkan aku mungkin melarang kamu bertemu dengannya. Begitu juga tidak apa-apa?”
Aku mengangguk dengan cepat. Aku tidak peduli.ysng penting aku bisa tetap mempertahankan Ethan di sisiku.
“Kalau begitu, kamu boleh melepaskan tanganku. Aku tidak bisa memutar.” ucap Ethan diserti senyuman mengoda.
Buru-buru kulepaskan tanganku. Memindahkannya ke pipiku yang terasa panas karena malu. Sekilas tadi aku melihat bekas tsnganku di lengan Ethan.
“Kamu tenang saja. Kita akan mengurus Donna bersama.”
Aku terdiam, berdoa dalam hati agar urusan Donna ini tidak teerlalu cepat berakhir. Setidak sebelum aku memastikan Ethan menyukaiku juga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s