In devil’s arm – part 3

Patrick menyulut sebatang rokok dan bersender di pintu mobilnya.

“What a meet up, Pete.” gugam Patrick seorang diri.

Prue, perempuan itu tidak berubah. Tetap berapi-api.

Still his Imprudence little minx.

4 tahun berlalu tidak membuat Patrick lupa seperti apa dirinya dan Prue dulu. Segila apa dirinya mengejar perempuan itu. Senekad apa dirinya dulu.

 

“No, bahkan sekarang pun kamu tetap gila dan nekad, Pete. Kamu langsung terbang dari Mesir begitu mendengar Prue menjadi sekertaris Dom.”

 

Patrick mengelengkan kepalanya. Ia tahu ia terdengar gila, berbicara seorang diri.

 

Ia memang gila.

 

Gila dan takut Prue direbut oleh Dom.

 

Padahal selama 4 tahun ini ia tidak pernah mengubris semua surat yang dikirim oleh tante mengenai keadaan di Jakarta. Setidaknya ia tidak pernah serius menangapi semua berita tersebut.
Waktu ia membaca Prue bekerja untuk Dominique, hanya satu hal yang terlintas di kepalanya, bahwa ia harus menyelamatkan Prue dari Dom. Walau artinya ia harus kembali ke Jakarta dan menghadapi amukan kakek karena ia sudah berjanji untuk tidak kembali ke Indonesia jika ia ingin melindungi Prue.

 

“Apa kata kakek itu… Prue tidak pantas untuk seorang Adiputra.” Patrick mendengus. “Dia tidak pantas untuk menjadi istri Patrick Adiputra tapi boleh untuk Dom?!”

 

Karena tidak mungkin si Kakek tua itu menempatkan Prue sebegai sekertaris Dom hanya karena perempuan itu berbakat dalam mengurus orang dan hal lainnya yang memang membuat Prue dapat diandalkan.

 

Patrick tidak akan tinggal diam. Dulu kakek bisa mengancam akan membuat Prue sengsara, tapi sekarang. Kakek tua itu tidak akan berani menyentuh Prue karena posisi pekerjaannya sekarang.

 

Menyentuh Prue berarti membuat Dominique berantakan dan Kakek tua itu membutuhkan Dom dalam kondisi prima.

 

Seakan panjang umur, handphone Patrick bergetar dan menampilkan nama Kakeknya.

 

“Selamat pagi Pak Radja.”

 

“Bagus kamu menjawab. Jam 8 di kantor.”

 

Klik.

 

Patrick menyelipkan handphonenya kembali ke saku celana.

 

Kakek tua itu selalu irit bicara.

 

Patrick menyulut kembali sebatang rokok dan mulai menyusun rencana berikutnya. Ia harus memastikan ia bekerja di tempat Prue, lalu pelan-pelan ia harus membuat perempuan itu kembali padanya.

 

Not an easy task, tapi ia pasti bisa. Ia tahu apa kesukaan dan apa yang dibenci oleh Prue.

 

Patrick mengangguk-angguk. Benar Prue bukan masalah sesungguhnya. Dom, ia harus memikirkan cara untuk menyingkirkan Dom.

 

Patrick mengelus-elus dagunya, kalau dipikir-pikir. Hari ini sepupunya itu aneh sekali. Masa dia tidak marah Annissa dipeluk-peluk olehnya?

 

Well, penjelasan pertama, Annissa is a playmate, which is fine. Mempertimbang kebiasan mereka berdua yang serupa dalam hal perempuan.

 

Play and toss. No hard feeling. No feeling at all. Jadi sikap Dom masih relevan. Tapi kenapa dia melotot melihat Prue ia peluk? Prue cuma sekertaris kan?

 

“Tck… Kalau dia sampai punya perasaan sama Prue bisa runyam.”

 

Patrick mengetuk-ngetukan bagian belakang kepalanya ke mobil.

 

Another war between him and Dom?

 

“I’m officially back.” ucap Patrick sambil menyentil putung rokok ke tong sampah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s