in Devil’s Arm – part 4

“Kapan kamu akan mulai memberi penjelasan Prudence Danura.” mulai Dominique ketika mereka sampai di lift. Tempat yang dirasanya sudah cukup aman untuk membahas masalah pribadi. Lagipula ia tidak berpikir dapat menahan rasa penasarannya sampai mereka masuk ke mobil.

Prue meringkis, tahu kalau ia lebih baik menjawab sekarang, sejak Dominique menyebut nama lengkapnya dengan nada menuntut seperti tadi.

“Aku tidak tahu kalian sepupuan sampai aku mulai bekerja denganmu. Lagipula kupikir, aku tidak akan bertemu lagi dengannya.”

“Bukan itu pertanyaanku, Prue.”

Prue mengerutkan alis, kemudian tersadar kalau yang Dominique ingin ketahui adalah jenis hubungan mereka.

Prue menatap layar penerangan lift, bertanya-tanya kapan mereka sampai ke tempat parkir sehingga ia bisa mengelak dari pertanyaan tersebut.

Melihat gelagat Prue yang ingin menghindar, Dominique menekan tombol darurat dan

menghentikan lift. Mengundang pekikan Prue.

“Kamu gila yah.” sembur Prue panik dan putus asa.

“Jelaskan Prue.” tekan Dominique lagi.

“Apa urusannya denganmu sih? Pokoknya aku akan menjaga jarak dengannya. Kalau perlu menghindar setiap kali batang hidungnya keliatan. Aku tidak akan membuat keributan.”

Prue mengigit bibirnya, sadar kalau ia sudah berbicara kasar pada atasannya.

 

Pelan-pelan Prue melirik Dom, dan buru-buru memejamkan matanya saat melihat Dominique yang memandanginya dengan tatapan tajam.

 

“Maaf, Pak.”

 

“Talk.” perintah Dominique.
Menghela nafas putus asa, Prue menatap lantai dan menjawab dengan berbisik. “Aku mengenal dia waktu kuliah. Diminta secara khusus untuk menghadapi Patrick karena tidak ada yang berani menemuinya dan meminta bantuannya untuk meloloskan proyek amal. Well, yang perempuan sih pada saja menghampirinya tapi kamu tahu seperti apa Patrick itu. Playboy cap kodok.”

 

Prue mengigit bibirnya lagi, “Maaf.”

 

“Lanjutkan.”

“Jadi mereka mengutus aku untuk menemuinya karena menurut mereka, aku sebagai ketua pelaksana tidak akan pulang dengan tangan hampa.”
“Terus?” tanya Dominique setenang yang ia bisa walau dalam hati ingin menjitak perempuan di hadapannya ini karena bersikap ceroboh.
Prue mengangkat bahu, “Dulu aku terkenal dengan nama gunung es, lagipula aku tidak tertarik dengan cowok. Ambisiku cuma mencari uang sebanyak dan secepat mungkin untuk mengalang dana.”
“Kenapa kamu tidak meminta bantuan Mama? Dia pasti dengan senang hati memberikan.”

Prue mendengus, “Aku benci KKN.”

“Jadi kamu…” potong Dominique lagi.tapi segera disela kembali oleh Prue, “Kamu mau aku cerita atau tidak sih?”

Dominique menyandarkan punggungnya ke dinding lift. Ia perlu semua kenyaman yang ia bisa miliki untuk mendengar cerita Prue.

Prue ikutan menyender di seberang Dominique.

“Jadi aku mendatangi Patrick dengan proposal sponsor. Dia menerima dengan senang hati hanya saja ada satu syarat. Dia harus dilibatkan dalam acara tersebut. Selanjutnya yah, seperti yang Patrick bilang, kami berpacaran.”

 

“Berapa lama?”

“Apanya?” tanya Prue bingung.”Oh, 2 tahun. Kemudian dia…” Prue menghela nafas, “Aku menemukan dia di hotel dengan cewek.”

Dominique tidak tahu harus berkomentar apa.

“Dia tidak berusaha menjelaskan?”

 

“Aku tidak memberinya kesempatan.” ucap Prue gamblang.
Lama mereka terdiam. Menyisakan seribu pertanyaan di udara dan membuat suasana canggung yang sulit diartikan dibanding penjelasan Prue.

 

Perasaan Prue begitu gamang. Terus terang ia masih shock bertemu kembali dengan Patrick. Terlebih dengan kondisi serupa. Dia dengan perempuan lain dalam pelukan. Man will never change, won’t he, dengus Prue.
“Jadi kamu yakin kamu tetap bisa bersikap professional?”

 

Prue mendongkak kaget. “Hmm?!”

 

“See?! Mana mungkin kamu bisa baik-baik saja bertemu kembali dengan Patrick. Honestly, Prue kalau kamu bukan Prue…”

 

“I know… kamu akan memecatku.” potong Prue, “Tapi karena aku Prue, please percaya padaku. Aku akan bersikap profesional. Lagipula kamu takut apa sih, aku dan dia kan tidak akan sering bertemu.”

 

Dominique menghela nafas panjang.

 

“Ya kan? Dia tidak akan bekerja di tempat kita kan? Ya kan, boss? Betul kan?”

 

Dominique melempar nafas panjang lagi.

 

“Dom, serius… Dia tidak akan bekerja di kantor kita kan?”

 

Dominique menekan tombol darurat dan lift terbuka kemudian keluar lebih dulu.
Sedangkan Prue….
Ia masih berusaha meyakinkan dirinya kalau Patrick tidak bekerja di tempatnya. Kalau ia tidak akan bertemu terlalu sering dengan Patrick.

 

Menghadapi satu iblis sudah cukup memusingkan. Sekarang ia harus menghadapi dua?

 

What a joke!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s