In Devil’s Arm – part 5

Keesokan harinya

Prue muncul di kantor seperti biasa. Dengan dua kopi di tangan, kemeja Dominique dan tas miliknya sendiri.

Penting baginya untuk terlihat normal hari ini. Ia tidak mau Dominique menganggapnya omong besar kemarin.

Lagipula ia sudah menyakinkan dirinya sendiri kalau ia memang sanggup menghadapi Patrick.

Patrick adalah Dominique dalam versi santai. Atasan yang boleh Prue suruh-suruh kalau perlu karena mereka satu level, sama-sama bekerja untuk Dominique.

Masuk ke kantor meletakan barang-barang di tempatnya dan mulai bekerja.

Setidaknya rencana awalnya seperti itu, sebelum Patrick mengagetkannya dari belakang.

Dua gelas kopi melayang, tas dan kemeja Dominique terkempas ke lantai, lalu Prue memekik kaget lalu mengerang karena kebasahan.

“Damn it, Pete!” maki Prue ketika melihat siapa yang membuatnya terkejut. “Ngapain sih kamu ke sini?”

Ia mulai mengibas sisa kopi dari blazernya dan kemejanya. Percuma noda kopi ini tidak akan hilang kalau tidak dicuci.

“Disuruh Boss besar.” Jawab Patrick santai sambil mengibas kemejanya yang juga basah kuyup. “Ingatkan aku untuk tidak mengagetkan kamu lagi Imp. Walaupun aku senang kamu masih mengingat panggilanku.”

Prue mendongkak dan melihat Patrick sedang mencopot jasnya. Sepertinya ikut ketumpahan juga.

Prue menyeringai, “Bagus! Jadi kamu harus pulang untuk berganti pakaiankan? Silahkan, aku akan menjelaskannya pada Dominique nanti.”

Patrick tidak terpengaruh dengan kesinisan Prue. Baginya normal jika Prue menolak kehadirannya, merasa risih ataupun sinis. Tapi ia juga menolak untuk menerima perlakuan tersebut. Ia yakin kalau ia mampu membuat Prue bersikap manis kembali padanya.

Jangan panggil dirinya Patrick jika ia tidak sanggup menaklukan perempuan.

Dengan cuek, ia meraih kemeja putih yang tergeletak di lantai dan membuka bungkusannya. Belum juga ia mencoba kemeja tersebut, pakaian itu sudah direbut oleh Prue.

“Ini punya Dominique!”

“Dia tidak akan keberatan.” balasnya dan ia menarik kembali kemeja tersebut lalu melepas kancingnya.

“Ya, dia pasti keberatan. Dom selalu datang dengan pakaian santai lalu menganti pakaiannya di kantor.”

Prue menarik kemeja tersebut namun ditahan oleh Patrick. Membuat kemeja itu tertarik tegang. Untung bahannya cukup tebal dan kuat kalau tidak pasti akan robek ditarik-tarik oleh mereka.

Akhirnya Patrick menyerah dan melepaskan pegangannya, membuat Prue sedikit terhempas ke pintu kantor yang ada di belakangnya.

“Terserah. Aku tidak masalah harus bertelanjang dada.” ucap Patriack santai.

Serta merta, Prue melempar kemeja tadi ke dada Patrick sekuat tenaga. Tidak peduli jarak mereka hanya 1-2 meter. Masih dengan emosi yang sama, ia membalikan badan dan masuk ke dalam kantor.

Seumur-umur ia belum pernah sekesal ini. Heran, ia masih saja kalah berebat dengan Patrick. Prue pikir ia sudah lebih pintar dalam bersilat lidah. Toh, ia berhasil menjadi assistant Dominique tanpa kendala berarti. Menghadapi berbagai tipe orang dengan mulus.

Lalu kenapa di hadapan Patrick, ia berubah kembali menjadi Prue yang naif dan panasan?

Mendengar Patrick bersiul kagum, Prue menengok pada laki-laki itu “Apa lagi sekarang?”

“Selera Dom boleh juga. Tadinya kupikir mereka bercanda mengatakan kantor dia ada di taman atas, tapi melihat ini.” Patrick menunjuk pemandangan gedung di luar jendela. “Aku sedikit mengerti. Walau aku tidak menyukai kaca-kaca tembus pandang ini, tapi setidaknya ada AC dan blinder kan.”

Prue menatap punggung telanjang Patrick yang bidang sesaat sebelum melanjutkan ke kamar mandi.

Peduli amat dengan Patrick. Mau dia suka dengan kantor ini atau merasa selera Dominique bagus. Tidak ada urjsan dengannya. Gerutu Prue. Dilemparnya blazer ke atas meja dan mencopot pakaiannya dengan kasar. Lalu mulai mengucek.

Sebisa mungkin tidak membasahi seluluh kemeja tersebut. Sedangkan blazer, Ia melirik pakaian yang teronggok lesu di sampingnya. Dan mendesah, sepertinya ia harus merendamnya.

Tok tok tok

“Prue….” panggil Dominique dari balik pintu.

Shit, Dominique!

Buru-buru Prue memakai kemeja yang masih basah dan membuka pintu toilet. Belum juga ia bersuara, Dominique dan Patrick sudah adu mulut.

“And you said, she’s fine.” gerutu Dominique ke Patrick yang juga berada di balik pintu.

“Cuma ketumpahan kopi doangkan.” elak Patrick asal, ia sudah mengenakan kemeja Dominique.

“Jadi menurutmu ketumpahan kopi itu fine? Bagaimana dia harus bekerja? Kita ada 2 meeting pagi ini, lalu 2 lagi di sore hari.”

“Well…… Baiklah, aku mengaku salah. Maaf Imp.” ucap Patrick sambil bersandar di sisi pintu, sama sekali tidak terdengar tulus.

“Kenapa kamu selalu memanggilnya Imp?”

“Kenapa juga kamu jadi marah-marah?”

Prue pasti sudah ikut mengoceh kalau saja ia tidak keasyikan mengagumi dua laki-laki keren itu bersilat lidah. Walaupun menyebalkan, harus Prue akui, dua laki-laki di hadapannya ini memang memiliki semua point of Mr.Right.

Muka di atas rata-rata, tinggi dan berbadan tegap, Uang, jabatan dan garis keturunan.

Tck.

Kenapa dua laki-laki ini harus sepupuan dan membuat hidupnya sengsara?

Padahal dengan kriteria mereka, Prue akan berteriak amin. Mungkin tidak dengan Patrick, kerena cowok itu cuma tahu bercanda.

Lihat saja sekarang, Dom sudah melotot sampai matanya mau keluar, Patrick tetap saja membalas dengan lelucon tidak karuan.

Tapi, Prue suka rambut ikal mereka, but no untuk rambut Patrick yang mulai kepanjangan. Dia tidak tahu kalau kerja kantor harus terlihat rapi ya? Lalu apa-apaan itu? Sejak kapan Patrick jadi berkulit coklat? Bukannya dia paling takut kena sinar matahari?

Karena mendadak suasana menjadi tenang, Prue memandangi mereka yang juga sedang menatap kepadanya.

Menolak untuk melihat ke arah Patrick, Prue menatap Dom yang melihatnya aneh…

“Kenapa?” tanya Prue bingung.

Dominique mengeretakan gigi, lalu berdeham. “Aku tidak suka kalian bersikap main-main selama jam kerja. Jadi tolong jaga sikap kalian.” tuturnya, kemudian meninggalkan tempat tersebut, kembali ke mejanya.

“Apa dia selalu seserius itu?”

Prue menghela nafas dan mengacuhkan pertanyaan Patrick. Ia berjalan menuju meja miliknya. Sabar, sabar Prue. Kamu memerlukan pekerjaanmu.
“Nodanya nggak bisa hilang ya?” tanya Patrick menyentuh kerah baju Prue membuat Prue mundur terkejut.

“Menurut kamu?”
Yang ditanya malah tersenyum. Sudahlah, percuma meladeni Patrick. Perintah Prue dalam hati.
“Prue…” panggil Dominique dan Prue menghampirinya.

Masih dengan senyum lebar di wajahnya, Patrick mengikuti Prue dan mendengarkan pembicaraan dua orang itu. Tapi baru juga 5 menit, Patrick merasa ia sudah bolak balik India-Afrika.

Damn! Why business has to be that complicated?! Lebih baik ia pergi.

“Mau kemana? Kita ada Meeting jam 11 di Pasific Place.” tahan Domnique.

“I’ll be there.” jawab Patrick singkat dan melambaikan tangannya tanpa menoleh.

Terbiasa dengan tingkah cuek Patrick, Dominique memutuskan untuk mengacuhkan sepupunya itu. Kembali ke laporan dan Prue. Tapi rupanya perempuan itu tidak bisa menahan lidahnya untuk berkombentar.

“Itu loh sepupumu.” ledek Prue.

“Mantanmu juga.” balas Dominique.

“Penting yang ngungkit masalah itu?” tanya Prue sinis.

“Itu fakta.”

Mendengar Prue mendesis, mau tidak mau Dominique tersenyum. “Kalau dia merepotkan, aku bisa memindahkan dia.” ucap Dominique sungguh-sungguh namun buru-buru menambahkan, “Tidak ada maksud lain, aku hanya tidak ingin melihat kalian ribut-ribut dan membuat pekerjaan tertunda.” takut Prue berpikir ia memiliki alasan lain.

“Maaf soal hari ini. Aku hanya ceroboh. Aku janji tidak akan terjadi lagi.” Ujar Prue lalu menunduk seraya membaca laporan yang sedang mereka bahas tadi.
Dominique memperhatikan Prue cukup lama. Sebelum memutuskan untuk menyudahi meeting kecil mereka dan meminta Prue menemaninya keluar sebelum pertemuan mereka dengan klien.
Seperti biasa Prue menurutinya tanpa komentar ataupun mengeluh penampilannya berantakan. Sepertinya dia ingin menunjukkan kesungguhannya.

Tapi ia tidak bisa membiarkan seorang assistant direktur, terutama assistantnya sendiri berpenampilan kacau seperti itu.

Mungkin sudah saatnya ia melakukan sesuatu untuk Prue.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s