In devil arm – part 7

Ketika Patrick dan Prue tiba di Papilon. Klien sudah datang. Dominique memandang Prue sebentar sebelum kembali mendengarkan ucapan kliennya orang Jepang yang berbicara bahasa Inggris.

Prue menunduk sedikit sebelum duduk di samping Dominique dan mengeluarkan catatannya. Meminta maaf karena terlambat.

“Daijoubu. Daijoubu. No worries.” ujar si orang Jepang itu dan tersenyum ramah pada Prue.

Patrick duduk di samping Dominique tanpa mengucapkan sepatah katapun. Membiarkan Dominique memperkenalkannya.

“This is Mr.Patrick Adiputra. He will help us in advertising your product in Indonesia.

Mereka saling mengangguk dan kembali membicarakan rincian pengiriman barang serta biayanya.

Satu jam kemudian mereka berjabat tangan dan berkata akan segera memberikan surat kontrak dagang untuk menyepakati kerjasama mereka.

“Thank you very much. Matsumoto-san will be very please upon our negotiation. Sayonara.”

“Sayonara.”

Mereka saling menunduk dan berjabat tangan kembali.

 

“Resort theme park, Dom?” tanya Patrick usai memastikan tamu mereka telah pergi.

Dominique kembali duduk, “Benar. Aku sudah menyiapkan kantor dan staffnya. Kalau ada yang kurang kamu bisa beritahu Prue dan ia akan mengurusnya untukmu.”

“Kamu pasti sudah gila! Resort Theme Park di Indonesia? Dufan saja sudah mau bankrut! Kita mau ikut-ikutan?”

“Kamu cukup mengambar. Aku akan mengurus sisanya. Don’t let me down.”

Dominique tidak menunggu Patrick untuk membantahnya lagi. Ia berdiri dan mengajak Prue untuk pergi ke meeting selanjutnya.
“Hei, tunggu Dom. Lalu aku harus kemana sekarang? Memangnya kamu tidak bisa mengatur agar aku bekerja di bawah pengarahmu saja?” kejar Patrick.
“Kamu tidak butuh bantuanku, cousin.” ujar Dominique dan menepuk punggung Patrick.

“Kamu hanya perlu mengunakan imajinasimu. Aku yakin kamu masih memiliki kreatifitas yang menurut kakek sudah kamu buang ke laut bersama harga dirimu.”

 

“Kakek cerita apa padamu?!”

 

Tidak menghiraukan teriakan Patrick, Dominique mengoyong Prue keluar.

 

Prue tersenyum lebar dan melambai riang ke arah Patrick.
Ia terbebas dari pria itu. Memang ada kemungkinan Patrick akan menganggunya di kemudian hari. Tapi itu tidak akan terlalu sering. Ia selalu bisa mengatur agar orang lain yang menghadapi Patrick.Ia harus merayakan hal ini.

 

Prue tidak sadar kalau Dominique memperhatikannya dan ikut tersenyum.
Lega dengan keputusannya untuk menjauhkan Patrick dari Prue yang mendadak membawa hasil positif.

 

Prue terlihat lebih santai sekarang.
Ia tidak mau menerima resiko kinerja Prue menurun karena ganguan seperti tadi. Sudah cukup banyak yang dikerjakan oleh Prue dan ia tidak berniat membuat Prue kelelahan ataupun menaikan gajinya karena harus bekerja double.
Semua yang ia lakukan ini demi perusahan. Tidak lebih, tidak kurang. Mungkin ia harus menjelaskan keputusannya pada Kakek nanti tapi setidaknya untuk saat ini, Dom puas dengan tindakannya.
“Terima kasih.” ucap Prue tulus.

 

Dan Dominique lupa sudah dengan semua alasannya tadi.

 

“Maaf kalau aku terdengar terlalu senang. Tapi asli deh. Aku tidak bisa membayangkan untuk terus bekerja dengan Patrick. Memang sih awalnya aku pikir aku bisa menghadapi dia.” Prue mengelengkan kepala, letih, “Dia tidak punya jadwal dan keteraturan Dom! Aku tidak bisa bekerja tanpa kepastian seperti tadi. Belum lagi kelicikan dia!”

 

Prue menunjukan kantong tentengnya. “Dia berbohong demi menyerahkan ini padaku! Kamu bisa percaya itu? Hanya deki memberikan pakaian ganti, dia membuatku terlambat datang. Untungnya klien kita tidak marah.”

 

Dominique tidak mendengar omongan Prue berikutnya. Sibuk memikirkan ucapan Prue sebelumnya. Jelas Patrick masih menyimpan rasa untuk Prue. Dan jelas pula ia terlalu menganggap remeh hubungan diantara mereka ini. Mana pernah sebelumnya Prue mengoceh panjang lebar seperti ini padanya.

Sejak Prue bekerja sebagai assistantnya, sikap Prue selalu profesional. Menjaga jarak dan pembicaraan terbatas pada urusan pekerjaan. Bukannya ia ingin tahu soal kehidupan Prue, tapi kadang Dominique penasaran apa yang dipikirkan oleh Prue atau apa yang dilakukan oleh perempuan itu saat tidak bekerja untuknya.

 

Mungkin tidak banyak, karena kalau dipikir-pikir Prue harus mengurusi urusan pribadinya dan mengetahui affair-affair kecilnya. Tapi mereka tidak pernah membahasnya. Asal tahu sama tahu.

Damn, kira-kira apa yang dipikirkan oleh Prue mengenai dirinya. Karena kenyataannya ia tidak terlalu berbeda dari Patrick kan? Sama-sama sering berganti pasangan.

 

“Auch!” teriak Dominique, diusapn-usap betis kakinya yang terasa sakit.

Ia menatap Prue marah, karena pasti perempuan itu yang menendangnya tadi.

Tapi Prue malah menatapnya balik dan menyuruhnya menghadap ke depan.
Ia terkejut melihat Ibu Rose, kliennya sudah duduk di hadapannya dan terlihat menunggu jawaban darinya.

“Dom, Ibu Rose bertanya apakah dia boleh meminta potongan tarif untuk proyek berikutnya.” bantu Prue.

“Ehm ehem.” deham Dominique. “Saya rasa bisa diatur, kontrak kita selalu dikerjakan berdasarkan besar dan kecilnya proyek. Tapi khusus untuk Ibu, saya bisa memberikan pengecualian.” jawabnya dengan senyum berkharisma.

Membuat pipi Ibu Rose yang tembem memerah dan mengangguk antusias. “Kalau begitu, pembangunan 2 apartment kami akan dikerjakan oleh perusahaan anda.”
Dan diskusi kembali berjalan dengan baik.

Beberapa jam kemudian

 

“Jangan berkomentar Prue.” ujar Dominique saat mereka menuju mobil.

Prue tersenyum geli, “Aku kan tidak berkata apa-apa.”

“Belum. Tapi aku kenal kerlingan matamu tadi. Kamu pasti akan menceritakan pada Amel dan Amel pada semua orang kalau Mr. D melamun saat rapat.”

“Kamu tahu?”

“Tck, aku punya kuping dimana-mana, Prue.”

“Jadi kamu juga tahu Cerita indomie?” tanya Prue panik.

“Oh, jadi gosip soal aku makan indomie campur pete juga kamu yang menyebarkannya? Tck! Dan aku pikir kamu bisa menjaga rahasia.” marah Dominique yang terdengar terlalu riang.

“Yah, kapan lagi bisa menjelekan Mr. D, the perfect gentlement. Cowok sepertimu doyan pete. Siapa sangka!” tutur Prue terus terang.

“Jadi menurutmu aku Mr. Perfect?”

“Ya iyahlah, Dom. Kamu kaya, ganteng, pintar, keren, apalagi kalau bukan perfect. Sayang selera perempuan kamu sama anehnya dengan kegemaranmu makan pete. Memangnya kamu tidak bisa mencari perempuan yang lebih pantas apa?”

Senyum Dominique semakin lebar, “Aku serahkan urusan itu pada mamaku.” lalu ia memejamkan mata. Mendadak ia merasa ngantuk.

“Maksud kamu kamu tidak menolak dijodohkan lagi?”

Dominique mengangguk.

“Baguslah, karena sekarang kita akan menemui calon istrimu itu.”
Kalau ini film katrun, Dominique pasti terbangun dengan menjeduk tembok atau jatuh terlepeset karena terkejut. Tapi karena ini dunia nyata, ia hanya membelalakan mata dan menegakkan posisi duduknya.

“Kamu lupa kan?” tanya Prue meledek, “Tenang, aku sudah menyiapkan buket dengan kado kecil.”

Dominique menerima buket yang disimpan di kulkas mobil dan kotak Tiffanny&Co. dengan tampang bingung.

“Karena kamu berkata kamu setuju dengan perjodohan ini. Tidak ada salahnya memperlakukan calon istrimu dengan baik. Now, get your ass off here and snatch your bride.” goda Prue. Ia membukakan pintu dan tidak memberikan pilihan untuk Dominique selain turun.

“Selamat berkencan Mr. D.” goda Prue lagi.

Pintu mobil tertutup dan Dominique mendapati dirinya seorang diri berdiri di depan lobby.

Sial, ia lupa dengan janji ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s