In Devil’s Arm – part 6

Tempat parkir Gedung 88

Patrick sedang bersandar ke pintu mobil, menunggu Prue. Ia berhasil menipu perempuan itu untuk menjemputnya di sini. Pura-pura tidak tahu jalan menuju Pasific Place.

Ia yakin Prue tidak bisa menolaknya. Rasa tanggung jawab perempuan itu tidak mengijinkannya walau kedatangannya kemari sama dengan mencari masalah.

Patrick menyeringai, ia bisa menjadi apapun asal tidak diacuhkan oleh Prue. Tidak peduli apa kata Domimique nanti.

Ia melirik kantong belanjaan di dalam mobilnya dan kembali tersenyum.

Mendengar suara langkah kaki mendekati, Patrick menoleh dan melihat Prue. Senyum lebarnya mengikis dengan cepat berubah menjadi cemberut.

“Lama.” protes Patrick.

Sial, dia kalah selangkah! Prue sudah berganti pakaian!

“Oh, salah siapa ya? Kamu seharusnya bersyukur aku diijinkan menjemputmu. 15 menit lagi meeting akan dimulai dan klien kita sudah dalam perjalanan.”

Prue tiba di hadapan Patrick, dengan sepatu barunya yang setinggi 8cm, mudah baginya menjajarkan mata dengan pria itu. Hanya perlu memiringkan kepalanya sedikit.

Ia tidak menyangka kalau Dominique akan membelikannya pakaian baru, dari atas sampai bawah semua pilihan pria itu. Sudah waktunya Dom memperlakukan dia dengan lebih manusiawi. Menghitung betapa serignnya Prue berkorban air mata, keringat dan darah demi atasannya itu.

“Aku lihat kamu sudah kembali tampil layak. Kamu membawa baju ganti? Sampai sepatu juga?”

“Dominique yang membelikannya tadi. Bagaimana pun juga dia pria yang lebih bertanggung jawab dan tahu kewajibannya dibanding sebagian orang yang bahkan mengucapkan maaf juga tidak.” tikam Prue.

“Aku sudah minta maaf tadi.”

“Oh Pete, bahkan Dominique pun tahu kamu tidak sungguh-sungguh dengan ucapanmu.”

Patrick mengeram, ia membuka pintu mobil dan mendorong kantong belanjaannya ke pelukan Prue.

“Apa ini?” tanya Prue bingung.

Patrick tersenyum malas, “Seharusnya itu menjadi ungkapan maafku yang sempurna.”

Prue menyipitkan matanya, “Apa maksudmu?”

“Sudahlah, masuk ke mobil. Aku tidak mau bossmu memarahiku lagi karena menahan assistantnya yang teramat berharga di tempat ini.”

Patrick membukakan pintu mobil lagi, mempersilakan Prue masuk, tentunya duduk di sampingnya, bukan di belakang.

Prue menurut, masuk dan duduk dengan memangku kantong tadi.

Begitu melihat kalau baju isinya. Prue tertegun.

Patrick membelikannya pakaian ganti? Tidak hanya itu, ada pakaian dalam juga?

Darimana ia tahu kalau pakaian dalamnya juga basah. Ia memakai bra dengan tali di leher yang otomatis ikut tersiram kopi. Tapi tidak mungkin ada yang menyadari hal tersebut.

Bahkan Dominique saja tidak.

Ia kembali memicingkan matanya, menatap Patrick yang sedang menyetir dengan santai, keluar dari gedung menuju jalan besar. Bahkan dia tahu kemana arah yang ia tuju!

“Bagaimana kamu tahu ukuranku, Pete?” tanya Prue

Patrick hanya menyeringai penuh arti.

“Lupakan! Jangan jawab itu!” potong Prue tersipu. Ia lupa kalau Patrick punya mata tembus pandang. “Tapi bisa kamu jelaskan bagaimana kamu tahu jalan menuju Pasific Place?”

Ia perlu mengalihkan pembicaraan sebelum Patrick menyudutkannya kembali dengan ucapan ala hidung belangnya.

“Kamu tidak berpikir aku sebuta itukan? Aku tahu semua tentang kamu Prue. Kamu tidak berubah banyak dari 4 tahun yang lalu. Mungkin lebih berisi di beberapa tempat. Kamu mau ikut gym? Aku bisa menemanimu untuk membentuk bagian-ba..”

Patrick terpaksa menahan ucapannya kerena Prue mulai meninjun lengan kirinya.

“Auuu Imp! Aku betul-betul menyesal sudah mengajarimu cara memukul! Tinju itu seharusnya kamu layangkan ke orang-orang yang menganggumu.” protes Patrick.

“That’s you! Dasar hidung belang! Playboy cap kampak! Batang murahan! Aku benci kamu!” sembur Prue dengan nafas terengah-engah.

Ia memukul dengan seluruh kekuatannya tapi Patrick terlihat tidak terpengaruh. Sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda kesakitan. Teriakan Patrick tadi lebih untuk menunjukan protes bukan kesakitan.

“Sepertinya kamu tidak berubah sama sekali ya, Imp. Bahkan makianmu masih sama seperti dulu.”

Prue menghentikan pukulannya dan menatap pria itu. Kenapa Patrick terdengar kesakitan dan penuh penyesalan?

Tidak Prue, kamu pasti salah. Patrick tidak mungkin menyesali perbuatannya. Dulu tidak, apalagi sekarang.

Oh, Patrick memang berusaha menjelaskan keberadaan perempuan itu di kamar hotelnya. Walau ia berkata ia tidak mau mendengarkan, tapi ia dua kuping sehat dan otak yang mampu mengingat dengan sempurna setiap kata yang diucapkan Patrick hari itu.

Ia mabuk dan Sherly mengantarnya ke kamar. Mereka terjatuh ke atas kasur karena tersandung pakaian.

Kalau mengingat hal itu, Prue masih ingin meninju Patrick berkali-kali karena berpikir kalau ia akan mempercayainya. Patrick si tukang pesta dan minum, bisa mabuk lalu diantar oleh perempuan?
Bahkan ibunya pun bisa mengatakan kalau Patrick berbohong.

Tapi yang paling membuat Prue kecewa, Patrick memilih hari dimana mereka harus serah terima kotak amal dan membuat Prue terlihat seperti pembohong karena mengatakan Patrick Adiputra sendiri yang akan muncul dan menyerahkan kotak amal tersebut di hadapan seluruh jajaran universitas dan TV nasional.
“Prue….” panggil Patrick memutus lamunan Prue.
“Tidak. Kamu salah. Aku sudah berubah. Yang tidak berubah itu kamu.” tandas Prue sukses membungkam Patrick untuk sisa perjalanan mereka.

Prue memalingkan muka. Memilih memandangi jalanan di sisi kirinya daripada melihat ke depan yang otomatis menyisakan Patrick di sudut matanya. Yang pastinya membuat dirinya tergoda untuk memperhatikan laki-laki itu.

Ia harus jujur kalau ia tidak sepenuhnya membenci Patrick seperti yang ia tunjukan. Ia juga harus jujur kalau ucapannya tentang Patrick yang tidak berubah juga termasuk perhatiannya pada Prue.

“Kita sudah sampai. Aku akan memakirkan mobil, kamu naik saja dulu.”

“Tidak perlu. Dominique memberi instruksi kalau aku harus datang bersamamu. Aku tidak mau mengambil resiko kamu berubah pikiran dan kabur.”

“Shit Imp. Aku mungkin bajingan tapi aku tidak akan mengecewakan Dominique.” mereka sudah tiba di lobby dan valet boy membukakan pintu Prue. Tapi Prue meminta maaf dan menutup kembali pintu tersebut.

Melihat hal itu Patrick berkata, “Belajar percaya sedikit padaku kenapa Imp.”

“Aku akan percaya padamu saat kamu memang bisa dipercaya.”

Patrick memberi tatapan tajam pada Prue hanya sedetik sampai-sampai Prue pikir ia berhalusinasi tadi. Karena sekarang Patrick tersenyum lebar dan melajukan kembali mobilnya menuju tempat parkir.

“Kamu tahu Imp, aku tidak akan pernah menolak ditemani olehmu. Mungkin aku harus membuat Dominique tidak mempercayaiku terus jadi ia bisa menempatkan kamu untuk mengawasiku.”

Prue merinding. Mendadak ia merasa terancam dan terjebak. Karena ia tahu jika Patrick berhasil meyakinkan Dominique maka ia harus bertemu dengan Patrick lebih banyak dari sekarang dan ia tidak mempercayai dirinya sendiri jika berada di sekitar Patrick.

Dua pertemuan terakhir sudah bisa menjadi bukti kalau ia tidak memiliki akal sehat dalam menghadapi Patrick. Ia menjadi implusif, emosional dan gegabah. Belum lagi ia tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh Patrick terhadapnya.

Patrick bukan Dominique yang amat mementingkan tanggapan orang. Dia bisa mempermalukan dirinya dan juga Prue di depan umum.

Lalu apa tanggapan orang tua Dominique nanti? Bagaimana kalau ia dipecat? Lalu bagaimana nasib orangtuanya?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s