In devil arm – part 8

Rencana menikmati sisa hari dengan santai langsung bubar begitu Prue menangkap ujung kepala seseorang di kantor Dominique.

Tidak butuh IQ 150 untuk menebak siapa orang itu.

Dengan enggan, Prue mendorong pintu kantor.

“Imp!!!!!” seru patrick seraya menemukan berlian.”Kamu harus menolongku.”

Prue mengerutkan keningnya, masalah apa yang dibuat oleh Patrick dalam waktu 2 jam?

“Kamu harus membuat Dominique menarik kembali staffnya! Aku tidak mungkin bekerja dengan 5 ibu-ibu bawel seperti itu! Dia pasti sengaja! Dia kan tahu aku alergi dengan ibu-ibu!”

Prue mengatup bibirnya sekuat tenaga, agar tidak menyemburkan tawa yang sudah memenuhi dadanya.

“Imp…” panggil Patrick curiga, tawa Prue meledak.

“Ehm haahahahahahhaha….” tawa Prue memeluk perutnya. “Kamu ingat pas kita disuruh mendatangi panti jompo, gara-gara sponsor kita memaksa agar kita memasukkan foto tempat itu di katalog acara? Terus kamu dikerubuni oleh nenek-nenek dan dipaksa nyanyi keong Racun?” tanyanya sambil terus tertawa. Tidak peduli wajah Patrick berubah merah hitam dan mengeram kesal.

“Baiknya kamu Imp, mengungkit hari bersejarah itu!” ujar Parrick masam.

Prue mengangkat bahu, “Menurutku kamu imut sekali hari itu.”

“Damn! Imut? Kamu tahu kan cowok tidak suka dikatakan imut.”

“Imut. Imut. Imut. Imut” ledek Prue berulang-ulang dan ia kembali tertawa.

Karena kebiasaan tertawa yang aneh, Prue terebiasa memejamkan matanya ketika tertawa terlebih jika ia benar-benar merasa geli, ia tidak melihat Patrick menghampirinya.
Tahu-tahu, Patrick sudah memojokannya ke meja.

“Ucapkan sekali lagi dan kamu tidak akan menganggapku imut untuk selamanya.” ancam Patrick.

Prue menatap mata Patrick. Saatini wajah mereka hanya terpaut sedikit. Hanya tinggal sejengkal lagi maka hidung mereka bertubrukan.

Menolak merasa tereintimidasi, Prue tersenyum dan merangkulkan tangannya ke leher Patrick.

“Oh yah, Pete?” tanya Prue mengoda, puas melihat Patrick terkejut dan menarik wajahnya menjauh tanpa sadar. Dalam satu gerakan, Prue menjewer telinga Patrick, membuat pria itu menjerit.

Selain ibu-ibu, Kelemahan Patrick terletak di kupingnya.

“Stop, stop Prue! Sakit….” erang Patrick seperti anak lima tahun yang sedang dihukum.

“Jangan mengangguku, Pete. Atau aku akan menyebarkan semua aibmu.” ancam Prue.

Prue pikir Patrick akan takut padanya? Sudah lama Patrick membuang rasa malu dan bakat dan apa kata kakeknya harga dirinya? ke laut jauh-jauh hari. Ia mundur beberapa langkah, mengunci leher Prue dan memosisikan dirinya di belakang perempuan itu lagi, satu tangannya mengunci tangan Prue yang tidak menjewernya ke punggung perermpuan itu.

Terkejut dengan perubahan situasi, Prue hanya bisa memiringkan badannya sambil menarik kuping Patrick lebih kencang.

“Kamu lupa, aku tidak punya urat malu.” ucap Patrick dan mencium bibir Prue.

Ia melahap bibir Prue, atas dan bawah. Awalnya Prue memberontak, dan Patrick menghentak tubuh Prue agak lebih menempel padanya, memperdalam ciumannya. Patrick menggila, ia begitu rindu pada Prue. 4 tahun berjauhan dengan perempuan ini tidak membuatnya lupa pada rasa Prue. Prue masih semanis yang ia ingat. Lebih manis, lebih lembut.

KRING…..KRINGGGG…..

Prue tersentak, mendorong Patrick. Sesaat mereka saling bertatapan. Bertukar kata dalam keheningan.

“PRUE! Kenapa tidak menjawab telepon?!” serbu Dominique, memasuki kantor. Ia langusng menyadari ada sesuatu yang terjadi di sana. Sesuatu yang tidak ingin ia ketahui lebih lanjut.

Serta merta, Prue dan Patrick menoleh padanya dan terlihat kikuk.

“Ada apa ini?” tanya Dominique, bisa merasakan ketegangan yang terjadi sebelum digangu olehnya.

“Maaf…” ujar Prue gugup.

Dan mereka kembali terdiam, Prue melirik Patrick, mengharapkan bantuan laki-laki itu untuk menjelaskan situasi mereka. Tapi yang ada Patrick hanya memandanginya dengan intens. Membuat Prue teringat kembali dengan ciuman mereka dan wajahnya berubah merah.

Dominique, sebagai orang sehat yang memiliki dua mata yang sehat juga semakin memicingkan mata, kerutan di dahinya bertambah dan keinginan untuk menarik Prue serta menguncang-guncangkan tubuhnya untuk meminta penjelasan. Atau mengambil pisau dan mengorok leher Patrick. Karena jelas sepupunya itu telah melakukan sesuatu terhatap Prue!

“Jadi ini kantor kamu Dom?” tanya Sherly.

Tiga kepala menoleh pada perempuan dengan penampilan menarik dan anggun. Dua pasang mata memerjap terkejut sedangnya satu lainnya tidak menunjukan ketertarikan lebih.

“Kenalkan, saya Sherly.” ujar Sherly disertai senyum yang sudah terlatih. Tarikan 30 derajat ke atas, tidak menunjukan gigi dan menyampaikan pesan yang jelas. Ramah dan sopan.

Prue mengulurkan tangan dan disambut sama ramahnya. “Prudence. assisstant Pak Dominique.”

Sherly mengangguk kemudian mengalihkan pandangannya ke laki-laki di samping Prue. Yang tidak mengulurkan tangan ataupun tersenyum padanya. Dan sepertinya tidak ada seorang pun yang berniat memperkenalkannya pada laki-laki itu.

Tapi Sherly tidak menahan diri, ia mengulurkan tangannya pada laki-laki itu. Tapi sambutannya sama sekali tidak ramah. Dia malah membuang muka.

“Dom, aku tidak mau bekerja dengan nenek-nenek yang kamu atur.” keluh Patrick.

“Siapa maksudmu deengan nenek-nenek?” tanya Dominique bingung.

“Semua perempuan di atas 35 tahun adalah nenek menurut Patrick.” jawab Prue otomatis. Merasa ucapannya mengundang perhatian semua orang, Prue meminta maaf.

“Prue tidak bersedia membantuku merubahnya. Jadi sepupu, tolong bantu aku. Atau kamu boleh melupakan bisnismu dengan orang Jepang tadi.”

Prue dan Patrick kembali berdebat. Saling melempar argument yang tidak terlalu diperhatikan oleh Dominique. Ia terlalu lega mendapati pikirannya salah. Tidak terjadi sesuatu diantara mereka. Hanya perdebatan biasa.

Ia menoleh ketika merasa lengan kanannya dirangkul.

“Mereka akrab ya?” tanya Sherly, terlihat tertarik dengan pertengkaran di ruangan itu.

“Hmm? Ah, yah dulu mereka berpacaran.” jawab Dominique. “Maaf. Kamu jadi harus mengalami semua ini.”

Sherly tersenyum memaklumi, “Tidak apa. Aku malah senang bisa bertemu dengan mereka. Sepertinya mereka juga akrab sekali denganmu. Kalau tidak, mana mungkin mereka berani bertengkar di hadapan atasannya.”

Dominique memandangi Sherly sebentar sebelum perhatiannya kembali teralih ke dua orang gaduh di hadapannya.

“Pokoknya aku tidak mau bekerja untukmu. Kamu pikir aku belum cukup sibuk ya?” pekik Prue, sebelum akhirnya ia mengigit bibir bawahnya karena ia kembali lupa kalau ada Dominique.

“Cousin, just choose whoever you want. Ask for their names on HRD. Prue siapkan bahan meeting kita. Kita harus berangkat sekarang.” putus Dominique.

“Siapa saja?” tanya Patrick memastikan.

“Siapa saja kecuali aku, Pete! Aku tidak available.” seru Prue.

“Memangnya siapa yang bilang aku akan merekrutmu?”

“Bah! Memangnya kita tidak kenal kamu?” seloros Prue kesal.

“Loh, seandainya aku memang mau kamu, kamu tidak berhak menolak. Kamu kan karyawan di sini.”

“Dom, bantu aku.” mohon Prue.

“Yes, Dom, help her.” tantang Patrick.

Dominique menghela nafas. “Maaf Patrick. Pilih siapa saja selain Prue.”

“Apa maksudmu? Tadi kamu bilang siapa saja?”

“Siapa saja yang terdata di HRD.” bentak Dominick tidak sabar. Pertengakaran ini semakin lama semakin konyol.

“Apa maksudmu?” tanya Patrick.

“Prue diperintahkan khusus untuk bekerja untuk membantuku. Dia tidak terdaftar di kantor ini. Karena dia bekerja di bawah naungan Kakek.”

Sherly menepuk tangannya kemudian menyelak, “Ah, jadi kamu pembantu yang dimaksud oleh Tante?”

“Apa maksud ucapanmu?” tanya Patrick tidak suka dengan sinonim yang digunakan oleh Sherly.

“Yah, mengurusi pakaian kotor, menyiapkan makanan, lalu…”Sherly tertawa sebentar, “Kamu bahkan membelikan hadiah untuk mantan-mantan Dominick? Terus terang aku tidak mengenal mantan-mantan Dom, tapi aku yakin mereka tidak akan terlalu ramah. Mendengar Dom memutusksn mereka melalui mulutmu. Yang sama-sama wanita muda, cantik pula.”

Seperti itukah orang lain melihatnya? Prue tahu ia selalu bekerja di luar batas normal seorang sekertaris tapi tidak pernah sekalipun ia berpikir kalau ia menjadi BABU. Apa selama ini orang-orang membicarakan dirinya seperti itu?

Prue melirik Dominique yang terlihat merasa bersalah?

“Aku harap kamu bukan orang berikutnya yang kukirimi ucapan perpisahan walau mungkin kamu tertarik dengan bingkisan yang mengikutinya.” tandas Prue yang cukup membuat tiga orang itu terkejut.

Well, apa yang mereka harapkan? Prue harus menyelamatkan harga dirinya sendiri kan?

“Prue, kamu sudah siap?” tanya Dominique berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia sungguh merasa pertengkaran berikutnya akan melibatkan calon tunangannya dan hell, ia tidak mau membuat keadaan semakin runyam.

Prue segera mengangguk.

“Kalau begitu kita jalan sekarang.”

Prue mengangguk lagi.

“Senang berkenalan denganmu Patrick.” ujar Sherly, siap mengikuti Dominique dan Prue.

Dominique memandang Sherly serba salah. Ia sama sekali lupa kalau ia harus mengantar Sherly terlebih dulu karena meeting ini meeting dadakan dan tidak mungkin membawa calon tunangannya ini pergi meeting.

“Aku akan mengantarnya. Kalian pergi saja.” kata Patrick menyelamatkan Dominique

Ia melempar tatapan terima kasih pada Patrick dan membukakan pintu untuk Prue. Buru-buru keluar dari kantor.

Sherly membalikan badan dan menatap Patrick penuh arti.

“Tadinya aku ingin mengucapkan terima kasih untuk tidak mengungkit rahasia kita. Tapi kelihatannya tidak ya?” ujar Sherly.

“Tidak ada hal yang harus disembunyikan diantara kita.” ujar Patrick tajam.

“Memang tidak ada. Tapi sepertinya pacar kecilmu tidak menganggp demikian. Kalian masih bertengkar? Perlu bantuanku?”
“Jangan ikut campur!”

“Terserah.”

“Apa rencanamu dengan Dominique?”

“Menikah, punya anak. Melakukan hal-hal normal yang dilakukan orang setelah perjodohan. Sepupumu orang yang menarik.”

Patrick merasa was-was seketika. Ia terlalu mengenal Sherly untuk mengerti arti kata menarik bagi perempuan ular ini.

“Tidak peelu memasang tampang seperti itu. Patrick. Aku tidak akan melahapnya. Sulit menemukan seseorang yang menarik setelah dirimu.”

“Jangan macam-macam, Sher. Aku bisa membongkar kedokmu segampang membalikan tangan.” ancam Patrick dingin.

Tapi Sherly hanya menatapnya sebentar sebelum tawanya lepas, “Oh, aku akan menikmati ini. Kira-kira siapa yang akan kamu lindungi lebih dulu? Dominique atau pelacur kecilmu?”

Kalap, Patrick mencengkram tangan Sherly, dan mendorongnya hingga menabrak dinding,

“Satu helai saja kamu sentuh mereka, aku tidak hanya akan memburumu tapi aku akan membuatmu menyesal sudah mengenalku, Sher.”

“Aku selalu menyesal sudah mengenalmu Pete.” jawab Sherly getir.

Masa lalu di antara mereka memang tidak bisa dibilang manis, terlalu banyak air mata malah. Tapi Patrick tidak tersentuh.

“Aku berterima kasih atas pertolonganmu dulu, Sher. Aku tidak tahu apa rencanamu sekarang tapi kalau kamu berani menyentuh mereka berdua….”

“Kamu pikir aku suka berada di sini?! Papa….” Sherly mengibas rambutnya kesal, ia pikir Patrick cukup mengenalnya untuk tahu kalau dalang dibalik semua ini adalah ayah mafianya.

“Aku juga tidak peduli dengan ayahmu. Aku tetap akan melindungi mereka berdua.”

Usai berkata demikian, Patrick membukakan pintu untuk Sherly.

“Hati-hati di jalan, aku tahu pengawalmu sedang menunggumu di bawah.”

“Hati-hati, Pete. Papa bukan orang yang bisa kamu permainkan. Dia dipanggil Gacho

untuk satu dan lain hal.”

Usai ditinggal oleh Sherly, Patrick menghabiskan waktu cukup lama untuk membenahi isi kepalanya.

Ucapan Sherly terlalu menakutkan untuk dianggap sepele. Apa pun rencana Gacho tua itu, pastinya tidak akan berujung baik.

Mungkin sudah saatnya ia mendatangi kakek dan meminta penjelasan darinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s