In Devil Arm – part 9

“Apa benar menyusahkan?” tanya Dominique setelah menahan diri sepanjang hari.

“Hmm? Soal apa?” tanya Prue balik.

“Soal…” Dominique melirik Prue yang menatapnya penuh tanya.

Apa mungkin seharusnya ia tidak bertanya? Bagaimanapun juga, Prue itu assitant Dominique yang sudah sepatut dan sewajarnya bekerja tanpa mengeluh.

Rasa ingin tahu Dominique menang.

“Mengurusku. Apa benar merepotkan?” tanya Dominique lebih serius. Setidaknya ia berhak bertanya secara profesional.

Prue diam sejenak sebelum menjawab dengan lantang.

“Banget! Aku harus bangun jam 5, tiba di kantor sebelum jam 8 dengan kopi pesananmu yang artinya harus muter ke Sarinah, kamu jugw menelepon saat aku sedang tidur. Kalau sesndainya kamu tidak mencariku, aku bermimpi kamu mencariku. Aku sudah menjadwal ulang 4x untuk menutup tambalan gigi. Dan sekarang dokterku cuti jadi aku harus menunggu 2 bulan lagi sebelum aku bisa makan daging sapi. Terus…”

“Ok, ok!” potong Dominique, “Aku mengerti, aku atasan paling menyebalkan yang pernah kamu punya.”

Prue tersenyum.

“Benar, kamu memang paling menyebalkan. Tapi kamu juga boss paling hebat. Kamu peduli pada kesejahteraan karyawan, memberi sumbangan tanpa nama padahal kamu tahu kalaua memasukannya dengsn nama perusahaan kita bisa mengurangi pajak. Kamu juga tidak pernah membuat mantan-mantanmu merasa tidak dihargai. Mereka dengan senang hati diputusi dan dengsn bangga berkata mereka pernah terlibat denganmu.”

“Itu sih karena hadiah-hadiah yang aku kirimi.”

“Aku rasa tanpa perhiasan-perhiasan itu pun, mereka tetap senang pernah mengenalmu. Karena mereka tahu mereka tidak mungkin memilikimu seorang. Kecuali Sarah kayaknya, yang ngotot ingin menjadi istri kamu sampai, Tante turun tangan dan mengusirnya.”

“Sarah? Cewek yang mana?”

“Nah, nah, kadang aku bingung, kenapa kamu tidak bisa menghafal nama perempuan yang pernah atau sedang kamu kencani? Padahal kamu bisa menghafal nama semua karyawan dan karyawan kita.”

“Karena mereka tidak penting.” sahut Dominick singkat.

“Tck! Aku harap kamu tidak lupa nama tunanganmu tadi.”

Dan Dominique tertawa, “Well, aku punya kamu untuk mengingatkanku.”

“Aku kan tidak selamanya bekerja untukmu, Dom.”

“Apa maksudmu? Memangnya kamu mau berhenti kerja?”

Melihat Dominique panik, ganti Prue yang tertawa, “Aku kan harus menikah juga. Dan saat itu, aku tidak mungkin bekerja.”

“Sebutkan pacarmu yang bodoh dan egois itu? Biar aku marahi dia. Jaman sekarang mana ada orang yang tidak mengijinkan istrinya bekerja? Apa dia tidak diajari kalau perempuan berhak memiliki kesempatan yang sama dalam berkarier?” tanya Dominique sengit membuat Prue kembali tertawa.

“Nanti kalau aku sudah menemukan orangnya, aku akan menyuruh dia menghadapmu, boss.”

“Tck. Aku pikir kamu betul sudah punya pacar.”

“Mana ada cowok yang mau pacaran dengan cewek yang tidak punya waktu untuknya?”

“Memangnya kamu mau pacaran?”

Prue tersenyum walau dalam hati heran. Selama bekerja untuk Dominique, mereka tidak pernah membahas masalah pribadi apalagi membicarakan dirinya.

“Semua cewek pasti ingin berpacaran dan menikah. Tapi ini bukan saat yang tepat untukku.”

Dominique terdiam. Bingung harus menjawab apa. Tidak tahu juga harus bereaksi seperti apa.

 

Mendadak ia merasa bersalah.

 

Sebagai atasan Prue, tentu saja ia menjadi tanggung jawab perempuan itu sepenuhnya. Dom bahkan tahu dengan spesifik sejauh apa Prue harus mengurusi dirinya dan menilai karakter Prue,

Karena sepertinya kesibukan Prue berada di seputar dirinya. Sedangkan ia tidak bisa merubah jadwal kegiatannya. Tidak juga bisa meminta Prue tidak mengurusinya.

“Makanya Dom, buruan menikah. Jadi pekerjaanku bisa berkurang separuh.” canda Prue tapi Dominique sepertinya menanggapinya degnan serius. “Ya ampun, Dom. Jangan serius begitu kali. Kamu tidak perlu memusingkan aku. Aku cukup bahagia sekarang. Dan sama sekali tidak memikirkan soal menikah. Setidaknya sampai aku berusia 27 yang artinya masih 5 tahun lagi.”

Dominique memaksakan untuk tersenyum. Ia tahu Prue hanya berusaha terlihat cuek. Mata Prue terlihat berbinar saat membicarakan mengenai kehidupan pernikahan tadi. Dan Prue pasti bisa menjadi istri dan ibu yang baik.

“Ah, Dom. Soal Patrick, sepertinya kamu harus menuruti keinginannya. Dia phobia berada dekat-dekat dengan orang tua. Mungkin kamu bisa mengatur perempuan yang lebih muda dan cantik untuknya. Kamu tahu, yang seperti Sherly itu.”

“Sherly?”

Prue mengigit bibirnya, ia sudah keceplosan, “Iyah, Sherly kan muda, cantik dan pintar. Kalau ada yang seperti itu otomatis Patrick bisa disibukan olehnya.” dan berhenti mengangguku, “Ngomong-ngomong, kamu tidak khawatir membiarkan calon istrimu bersama cowok playboy macam Patrick?”

Dominique tersenyum, “Patrick tidak akan pernah mengambil milikku. Kecuali cewek itu yang menyodor kan diri padanya. Which mean she’s not worthy to get me.”

Apa sih yang sedang ia bicarakan? Masa ia mau memberitahu Dominiqiue kalau calon tunangannya itu perempuan yang sama dengan perempuan yang ia temukan di hotel bersama Patrick. Terlebih lagi apa hak dia menghakimi calon tunangan slash istri atasannya? Ia sudah cukup sibuk dengan hal lain. Biar keluarga besar Adiputra saja yang mengurusinya.

“Ah, Prue. Tolong atur mobil baru untuk Patrick juga. Karena sekarang Patrick dipastikan akan menetap di Jakarta, dia harus punya mobil dan tempat tinggal sendiri.”

Prue mengangguk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s