In Devil’s Arm – part 10

Prue sedang tidur di kasurnya, pulas. Nyaris tidak bisa dibedakan dengan mayat ketika Patrick masuk ke kamarnya. Duduk di samping kasur, memandangi wajah Prue, diusapnya poni Prue yang panjang menutupi mata, menyelipkannya kembali ke balik telinga.

Prue mengulat dan terbangun ketika merasakan sentuhan jari Patrick.

“Huaaam, pagi, Pete.” ucapnya. Membuka mata sebentar lalu kembali menutup dan mengulat.

Sedetik kemudian, ia membelalak, memutar badannya dan memandangi Patrick 5 detik sebelum berteriak lantang. “PA…TRIIICK???!”

“Morning Imp.” jawab Patrick dengan senyum 1000wattnya. Semuringah.

Prue kembili berteriak, mulai melempar bantal ke arah Patrick. Tidak terima paginya diganggu oleh playboy gila dan tidak bermoral seperti Patrick.

“Tidak!!!! pergi!!!! Keluar!!!” teriak Prue.

 

“Prue….Prue…. PRUE!” seru Dominique membangunkan Prue.

 

Ia terkejut mendengar teriakan perempuan itu dan buru-buru lagi ke kamar Prue. Ia mendobrak pintu kamar tersebut dan menerobos masuk.
“Tidak!!!” pekik Prue lagi sebelum akhirnya terbangun dalam pelukan Dominique.

“Tenang Prue. Itu hanya mimpi.” hibur Dominique sambil terus mengusap punggung perempuan itu.

“Dom…” jawab Prue lega, sebelum kemudian ia sadar kalau ia hanya memakai lingerie sutra tipis tanpa bra, dadanya menempel ke dada Dominick yang tidak sepenuhnya tertutup oleh singlet.

Malu dan panik, Prue memekik lagi dan mendorong Dominique sambil cepat-cepat meraih selimut untuk menutupi dadanya, “Dom! Bagaimana kamu bisa masuk?”

 

Prue memeluk dirinya, menenangkan debar jantungnya yang saat ini bahkan lebih cepat daripada kereta shinkansen. Ia tidak tahu mana yang lebih memalukan. Memimpikan Patrick atau didatangi oleh atasannnya sendiri saat ia mengigau.

 

Saat Prue menerima jabatan sebagai sekertaris, Mama Dom juga memintanya untuk tinggal sedekat mungkin dengan calon majikannya itu. Sesuatu yang sangat tidak wajar mengingat mereka berbeda jenis. Tapi mungkin Mama Dom hanya memikirkan efisiensi. Semakin dekat temapt tinggalnya dengan Dom, semakin mudah baginya untuk mengurusi Dom.

 

Apa yang lebih dekat dari tinggal seatap? Lagipula rumah ini cukup luas untuk menampung puluhan tamu. Memiliki 2 sayap. Dom tinggal di sayap barat dan Prue di sayap timur.

Mission accomplished tanpa merusak norma dan moral.

 

“Aku mendobrak masuk begitu mendengar kamu berteriak. Kamu tahu, aku pikir ada maling masuk saat aku keluar dari galeri tadi.”

Dominique berjalan menghampiri pintu untuk memeriksa kerusakan yang dibuat olehnya, Prue memakai kesempatan itu untuk mengenakan jubah tidurnya dan menghampiri Dominick, ikut memeriksa.

“Sepertinya pintu kamu harus diganti.” simpul Dominique, “Kamu mimpi apa sih? Sampai teriak-teriak seperti itu?”

Prue berterima kasih dalam hati pada Dominique yang dengan tengang rasa tidak membalik badan kepadanya, membuat ia dengan nyaman bersikap dan yah… menahan malu.

“Jadi kamu suka warna pink?” tanya Dom mengalihkan pembicaraan.

 

Maa tak mau Prue tertawa mendengar pertanyaan Dom, he’s so sweet to not mention her silliness.

 

“Tck tck tck tck, pantas kamu tidak memusingkan Sherly kemarin. Ternyata hubungan kalian seperti ini.” celetuk Patrick dengan seringaian lebar. “Tahu kamu juga tinggal di rumah angker ini, aku akan membawa koperku dari kemarin.”

 

“Kamu hanya menginap satu malam Pete. Memangnya menurutmu alasan aku menyembunyikan hal ini apa?”

 

Cuek dengan sindirian Dominique, Patrick melempar dirinya ke ranjang Prue.

 

Prue yang melihat tingkah tengil Patrick cuma mengulingkan mata.
“Dia cuma akan semalam kan? Kalau gitu aku kembali tidur.” ucap Prue dan mengambil bantal yang sedang dimainkan oleh Patrick lalu keluar kamar dan pindah ke kamar di seberangnya.

 

Setelah mendengar bunyi pintu terkunci, Dominique segera menghadap Patrick dan meletakan kedua tangannya di pinggang. “Aku tidak peduli dengan masa lalu kalian, tapi sekali lagi, tolong jaga sikapmu.”

 

Usai berkata demikian, Domique keluar kamar dan kembali ke galeri. Saat ia mendengar jeritan Prue, ia sedang mencari lukisan untuk acara lelang yang biasa diadakan oleh perusahaan untuk amal.

 

Ia mendengar suara pintu dibuka dan tahu kalau Patrick menyusulnya.

 

“Aku tahu tinggal serumah dengan Prue itu pasti ide Mamamu, tapi Dom, memangnya kamu tidak bisa membantah dia? She a girl FGS, apa kata orang kalau sampai tahu kalian tinggal serumah?”

 

“Mereka tidak akan berkata apa-apa.”

 

“Mereka tidak mengatakannya di depanmu, kalau itu yang kamu maksud.”

 

Dominique menoleh sebentar sebelum kembali sibuk mencari.

 

“Aku serius, kamu harus segera mengatur agar dia dipindahkan.”

 

“Pete, rumah ini cukup luas untuk kami berdua dan aku yakin masih cukup untuk kita bertiga. Pilih kamarmu di sayap satu lagi dan kita semua bisa hidup tenang.”

 

Patrick mendengus, “Aku tahu kamu tidak menganggap Prue perempuan, tapi dia seperempuan semua perempuan yang pernah kamu tiduri. Kalau kamu belum menyadarinya, aku harap kamu…”

 

“Pete, aku tahu Prue perempuan.”

 

Patrick memandangi punggung Dominique dengan seribu tanya atau mungkin tepatnya dengan satu pertanyaan. Kalau begitu kenapa???????

 

Dominique berdiri dan menatap sepupunya, “Aku tahu tidak pantas untuk Prue tinggal di sini. Tapi pekerjaan dia mengharuskan Prue untuk berada 24 jam bersamaku dan kalaupun dia tidak bersama denganku, dia mengurusi segala hal yang berhubungan denganku. Tinggal serumah, memeprmudah banyak hal.”

 

“Dan kamu tidak pernah sekalipun bertindak tidak sopan padanya? Tidak pernah ada kejadian seperti malam ini?”

 

Dominique memicingkan mata tidak suka.

 

“Aku tidak pernah menyentuhnya kalau itu yang kamu khawatirkan. Sebajingan apapun diriku, aku tahu membedakan pekerjaan dan kesenangan.”

 

Patrick mendengus, ia harus percaya pada Dominique kalau sepupunya sudah berkata demikian. Mereka terlalu serupa untuk tidak saling mengenali belang satu sama lain dan Patrick tahu Dominique tidak suka mempersulit hidupnya dengan mengacaukan kehidupannya dengan konflik tidak perlu.

 

“Maaf.” ucap Patrick akhirnya.

 

“Tidak apa, aku mengerti.”

 

Dominique kembali meneruskan pencariannya ke sudut lain ruangan. Ia menerima dengan senang hati ketika Patrick menyodorkan bantuannya untuk mencari. Namun setelah satu jam mereka mencari dan membongkar seluruh sudut galeri, lukisan tersebut tidak juga terlihat dan pada akhirnya, Dominique menelepon Prue dan meminta perempuan itu datang

 

“Kamu tahu, kadang aku menyesal sudah terlalu mengandalkan Prue.” ucap Dominique yang entah kenapa terdengar ambigu. Seakan Dominique membutuhkan Prue lebih dari yang ia akui.

 

Patrick mendengus, tahu dengan pasti perasaan Dominique. Been there, done that and still figuring out how to escape.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s