In Devil’s Arm – part 11

Showroom Merdeka di Jakarta Selatan

Prue memandangi pundak Patrick yang diikutinya, termasuk perempuan cantik yang semakin menempel, mungkin dia akan bergelayut bak monyet pada pohonnya kalau tidak ada Prue di sana.
Dengan kesabaran yang terlatih, bukan sekali ini ia harus menemani atasannya yang sedang berkencan. Dominick juga sama. Walau dalam hal ini ia lebih memilih ketahu-dirian Dominick, setidaknya atasannya yang satu itu tidak pernah membuatnya berlama-lama memandangi aksi rayu-merayu.
Lain dengan katak berkemeja di depannya ini!
Buat kesal saja! Padahal Prue masih punya banyak pekerjaan yang lebih penting dibanding menemani Patrick memilih mobil! Kenapa juga dia tidak menyuruh diantarkan?
Prue memasang senyum sopan ketika salah satu pramuniaga, pasti pramuniaga aka sales karena pria itu datang dengan brosur mobil dan Prue menghela nafas, tidak yakin sanggup melayani pertanyaan-pertanyaan basa-basi sekarang. Salah-salah ia malah, ngedumel.

“Selamat siang, anda tertarik melihat mobil baru kami?” Tawar si sales.
Lumayan ganteng, batin Prue, jadi ia tersenyum lebih manis lagi.
Boleh dong ia flirting, employernya saja lagi seru mengumbar lelucon yang sepertinya tidak senonoh. Prue melihat sales girl di samping Patrick tersipu-sipu tapi mau.
“Bagaimana? Kami punya mobil yang pas sekali untuk gadis muda dan menarik seperti anda. Ada warna merah juga loh.”
Prue memandangi lagi pria di sampingnya, lupa kalau ia sedang diajak bicara.
Untuk menutupi kesalahannya, Prue pura-pura merogoh tas dan mengecek hp, “Maaf, ternyata salah. Ehm, tanya apa tadi? Ah, mobil! Tidak, tidak, saya tidak berniat membeli apa-apa. Hanya menemani Boss saya yang di sana.”
Prue mengigit bibir bawahnya usai menjawab. Jelas ia bicara tidak karuan, membuat ia terlihat tidak profesional. Sial, awas kalau si sales mentertawakan dia. Prue semakin gelisah. Heran pada dirinya sendiri karena terus menerus melakukan hal bodoh hanya karena Patrick ada di sekitarnya.
Si sales tersebut berhasil mengubah keinginan tertawanya menjadi dehaman, “Kalau begitu kamu mau menunggu di sana? Kami juga punya tea, coffee and cookies.” Kata si sales dengan gaya memikat.
Prue melirik Patrick yang saat ini sedang berada di dalam sportcar keluaran Italy, dan sang sales girl genit, sepertinya berniat menunjukan sesuatu pada Patrick, dan sesuatu itu sepertinya ada di antara kaki Patrick, karena di perlu berjongkok di samping pintu dan menjulurkan kepalanya ke sana.
Prue kembali menatap sales di sampingnya, sepertinya ini best view si sales, jadi semakin tampan.
“Boleh, saya suka teh.”

Maka diusunglah Prue ke ruang di lantai 2. Ruangan kecil dengan 2 lovesofa berwarna hitam dari kulit. Meja panjang dan beberapa rak buku. Plat nama Danu Nasution tergeletak di sana.
“Kamu mau Earl Grey, English breakfast atau Jasmine?” Tanya si sales tampan yang sudah beranjak ke mini bar. Menyetel poci dan sebagainya.
Prue bertanya dengan gelisah, “Kamu yakin kita boleh berada di sini?”
“Tentu saja. Ini ruanganku kok.”
“Jangan bercanda.” Peringat Prue disertai tawa, “Jelas ini ruangan pemilik showroom benama Danu Nasution. Dan nama kamu…” Suara Prue hilang begitu ia sampai di depan sang sales dan bisa membaca plat nama di dada pria itu. “Danu Nasution. Tapi panggil aku Dan (den).”
Hening beberapa saat sebelum Prue memekik, “Kamu pasti bercanda! Ya, kan? Masa pemilik showroom menggunakan seragam kerja dan menawarkan mobilnya sendiri? Er, crossthat, Dominick juga sering begittu tapi dia tidak mengunakan seragam!”
Tawa Danu lepas tak terkendali, sesekali meminta maaf, tapi tidak juga berhenti tertawa.
“Yah silahkan tertawa, aku memang terlihat bodoh. Aku minta maaf sudah bersikap kurang ajar.”Tutur Prue akhirnya.
“Tidak apa. Kamu tidak perlu meminta maaf, jadi the apa yang kamu mau?” Tanya Danu setelah berhasil menghentikan tawanya. Ia mendapati Prue lucu luar biasa.
“Apa pilihannya tadi, Pak Danu?”
“Cukup panggil Dan,”
“Den?” Tanya Prue seraya berpikir.
“Yes, Dan. Jasmine perhaps? Sugar? Milk?”
Prue mengeleng.
“Anda pasti lama di Britain yah, aksen anda British sekali. Dan Den is so British.”
Prue menerima teh yang diseduh Danu, masih agak panas jadi ia hanya memain-mainkan sendok tersebut.
“Lahir dan besar di Bath. Kamu tahu kota itu?”
“Sekitar 4 jam dari London dengan kereta.” Jawab Prue sekenanya.
“Benar. Dari travel guide?”
Prue tersenyum malu, “Kamu harus tahu semua transportasi yang tersedia jika punya atasan seperti atasanku itu.”
“Dia merepotkan ya?”
“Siapa? Oh, bukan pria yang di bawah. Dia juga merepotkan sih, tapi atasanku bernama Dominick Radja.”
Prue tahu ia tidak perlu menjelaskan siapa Dominick itu, Danu terlihat cukup paham.
“Tapi yang di bawah itu atasanmu juga? Sepertinya kamu dapat diandalkan yah?”
Tanpa sadar Prue mengendik, “Seperti aku punya pilihan saja.” Bisik Prue.
Agak sia-sia karena Danu mendengarnya dan memandangi Prue penuh arti namun kemudian menyeringai dan kembali tertawa.
Mau tak mau Prue ikut tertawa, dan akhirnya ia betul-betul tertawa lepas.
“Aku tahu, aku pasti terlihat menyedihkan ya? Today is not my day.” komentar Prue.
“Kalau kamu bosan bekerja untuk mereka, aku dengan senang hati menerimamu.”
Danu mengedipkan sebelah matanya.
Dan Prue merutuki diri, sudah terlalu lepas berbicara. Padahal ia tidak mengeluhkan pekerjaannya. Semua gara-gara Patrick! Kalau ia tidak terjebak dengan pria katak itu, Prue pasti tidak semenderita ini.
Pintu tiba-tiba terbuka, Patrick berdiri di sana dengan tampang was-was.
“Imp?” Tanya Patrick, tidak jelas harus berkata apa.
Ia menyusul Prue secepat yang ia bisa. Setelah ia berhasil menyingkirkan salesgirl tadi, yang terlalu bernafsu menjajakan dirinya pada Patrick. Padahal ia hanya memanfaatkan gadis itu untuk membuat Prue cemburu.
Rencana tinggal rencana, Prue malah dengan santai mengikutinya tadi, sepenuhnya mengacuhkan kedekatannya dengan gadis itu. Lebih parahnya lagi Prue dengan enteng membiarkan dia sendirian.
Kakek pasti sedang mentertawakan kegagalannya.
“Silakan masuk Patrick, mobilmu sudah siap sesuai dengan pesanan. Tinggal tanda tangan di sini dan mobil itu bisa dibawa pulang.”
Prue menatap Patrick tajam sebelum menyambar berkas yang ditunjukan Danu, memeriksanya sebentar lalu menyerahkan pada Patrick termasuk pen untuk tanda tangan.
“Kamu semakin praktis, Imp. Mungkin aku harus berhenti memanggilmu Imp.” Kata Patrick, membubuhi tanda tangan dan mengembalikan berkas pada Danu.
Menerima kunci mobil Mercedes E class yang dipesannya dan berjalan keluar dari ruangan Danu.
“Prue, ingat pesanku tadi ya.” Kata Danu dan melemparkan kedipannya, lagi.
Prue tidak menanggapinya. Tidak keburu menanggapinya.
Patrick menenggam telapak tangannya dan menariknya keluar.
Patrick tahu pada akhirnya Prue tentu mengikutinya, ia hanya tidak cukup sabar untuk itu.
Ia ingin segera membawa Prue keluar dan melancarkan serangan berikutnya. Kalau taktik pria nakal tadi tidak berhasil, ia akan menjadi pria mempesona.
Dan syukurlah Patrick sibuk dengan pikirannya dan tidak mendengar ucapan Danu tadi. Tidak sadar kalau ia sudah mendapatkan saingan baru.

“Jadi kamu sudah memesan mobil ini?!” tanya Prue tidak senang.
Ia tidak lagi menjaga emosinya sejak mendapati dirinya duduk di dalam mobil. Berduaan dengan Patrick.
“Tidak perlu marah, kita memang harus kemari juga. Aku ingin memeriksa sendiri mobil ini.”
“Kalau memang kamu sudah memilih mobil yang kamu mau, kenapa tadi masih melayani sales tadi?”
Prue menyesal telah bertanya, sekarang Patrick pasti menganggapnya cemburu!
“Pete, aku tidak cemburu.” tekan Prue.
Percuma, Patrick terlanjur senang mendengarnya, ia mulai bersiul-siul sekarang.
“Fine! Aku memang kesal tapi bukan karena perempuan tadi, urusan pribadimu bukan masalahku, Pete. Aku kesal karena kamu sudah membuat aku melakukan pekerjaan sia-sia.”
“Itu Imp, alasan lain kenapa aku lebih percaya kamu cemburu. Sejak kapan sih, kamu peduli sekali dengan pekerjaanmu itu?”
“Aku selalu peduli dengan pekerjaanku!” Seru Prue, sekarang ia mulai marah.
“Lebih peduli dibanding aku?”
“Don’t push it, Pete.”
“Kamu tahu, aku suka sekali kalau kamu berbahasa Inggris.”
Satu pukulan mendarat di lengan atas kiri Patrick, disusul pekik kesakitan dan sumpah serapah dari pria itu.
“Dan aku masih menyesal mengajarimu tinju. Kamu masih sering latihan yah?”
“3 kali seminggu. Tidak percuma kan?” Balas Prue ketus. Memang percuma meminta Patrick bersikap serius.
Pria ini terlahir untuk bermain dan menikmati hidupnya.
Prue membuang muka ke arah jendela. Memutuskan lebih baik untuk dirinya, jiwanya dan masa depan pekerjaannya jika ia menutup mulutnya dan berbicara seperlunya dengan Patrick.
“Baguslah, Prue, setidaknya ada satu hal benar yang aku lakukan. Aku tidak bisa meninggalkanmu dengan tenang kalau kamu tidak bisa menjaga diri.”
Niat Prue mengacuhkan Patrick hanya bertahan 1 menit penuh.
Ia tidak kuasa untuk bertanya, “Apa maksud kamu?”
“Aku selalu mengikuti kamu, Prue. Menghubungi mama kamu, teman kamu, siapa saja yang bersedia memberitahukan keadaan kamu. tentunya tidak berhasil. Mereka setia padamu,Prue. Tapi aku tidak menyerah, aku membuntutimu setiap hari. Setidaknya sampai 2 tahun yang lalu. Aku melihat kamu kembali tertawa dan saat itu aku yakin, kamu akan baik-baik saja.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s