In Devil’s Arm – part 12

Prue tertawa.
Trtawa geli seperti orang nonton komedi. Hanya saja ini komedi hidupnya.
Apa kata Patrick tadi? Mengikutinya? Berusaha mencarinya?
“Jangan bohongi aku, Pete. Kamu memang bajingan tapi bukan pembohong. Jangan memulainya sekarang.”
Kening Patrick mengerut, “Apa yang membuatmu berpikir aku bohong? Kamu boleh tanyakan pada mama kamu atau Fiona temanmu itu.”
“Aku tidak perlu bertanya pada mereka, Pete. Aku pasti sadar kalau kamu membuntutiku selama 1 tahun penuh. Tapi tidak sekalipun aku melihat mobil kamu apalagi bayangan kamu. Jadi jangan. Aku tidak…”
“Prue, aku tinggal di depan rumahmu selama setahun. Kamarku persis berhadapan dengan kamar kamu. Aku pakai motor, lebih mudah mengukuti bis dengan kendaraan kecil. Bekerja sebagai tukang sapu di kampus kamu. Kalau kamu tidak memperhatikan berarti aku cukup berbakat menjadi mata-mata.”
“Dan selama itu kamu tidak berusaha mendekati aku?”
“Aku sudah membuat kamu menangis, Prue. Melanggar janjiku sendiri. Aku, cowok yang berjanji untuk menjaga kamu, malah membuat kamu menjadi mayat hidup! Awalnya aku menunggu, berharap suatu hari kamu akan menyadari kehadiran aku. Karena seridaknya saat itu aku yakin kamu sudah sedikit memaafkan aku. 1 tahun itu waktu yang panjang, Prue.”
“Kalau begitu kenapa kamu pulang sekarang?” isak Prue. Air matanya sudah mengalir sejak ia mendengar Patrick rela bekerja sebagai pesuruh.
Patrick tersenyum, mengulurkan jemarinya mengusap air mata Prue. “Jangan menangis, Prue.”
“Aku benci kamu, Pete. Aku benci kamu.” kata Prue.
Ia memeluk Patrick dari samping dan pria itu meletakan kepalanya di atas kepala Prue.
Tidak banyak yang bisa ia lakukan untuk menghibur Prue. Kedua tangannya harus dipakai untuk menyetir dan ia tidak ingin ditangkap oleh polisi. Karena menyetir ugal-ugalan.
“Jadi kamu memaafkan aku?” tanya Patrick.
Tangisan Prue berhenti mendadak dan ia mendongkak, menarik kembali pelukannya dan Patrick tahu ia sudah menghapus mantra tadi.
Prue kembali ke tempat duduknya dan membisu.
Patrick mendesah, menyesal sudah berpikir waras dan mendahulukan keselamatan mereka.
Hujan mulai turun, cukup deras hingga mengaburkan pandangannya. Jadi Patrick perlu konsentrasi penuh kalau tidak ingin mendarat di rumah sakit.
“Pete, aku ingin mendengar penjelasan kamu.” ujar Prue setelah keheningan total.
Bukan kalimat yang ingin didengarnya tapi ia tetap bersyukur karena Prue mengajaknya bicara.
“Kenapa kamu bisa ada di hotel itu dengan Sherly?” tanya Prue dengan kesiapan hati. Ia harus mendengarkan penjelasan Patrick sekarang.
“Aku mabuk.” jawab Patrick mengangtung, ragu-ragu untuk melanjutkan.
Dan Prue menunggu, ia tahu Patrick ingin mengatakan lebih dari itu. Mengatakan ada alasan lain selain kekhilafan. Mengatakan bahwa Patrick tidak pernah mengkhianatinya, baik sadar ataupun tidak. Memberikan alasan yang masuk akal.
Berapa lama pun Prue menunggu, Patrick tidak mengatakan apa-apa lagi.
Mabuk. Hanya itu alasannya. Hanya sebatas itu arti kesetiaan untuk Patrick. Arti dirinya, hubungan mereka dan segalanya. Lalu mengapa Patrick melakukan semua usaha gila untuk membuntutinya? Dan Prue yakin tidak sekali dalam setahun itu Patick melindunginya.
Sebab selama setahun itu, ia sering kali merasa Patrick tetap bersamanya. Tapi perasaan itu selalu ditepisnya, karena tidak mungkin Patrick mencari dirinya, kalau Patrick sudah bersama perempuan lain. Dan  tidak seorangpun berusaha membetulkan pikirannya itu.
Tidak ada yang percaya kalau Patrick bisa melakukan sebaliknya.
Namun Prue percaya. Jadi kenapa Patrick tidak mempercayainys?
“Maaf, Prue. Aku berharap Ada alasan lain. Aku minum terlalu banyak hari itu. Tidak sabar menunggu kamu. Terlalu mabuk untuk apa pun juga.”
Prue menatap Patrick dalam, ucapan Patrick terlalu datar, seperti telah terlatih untuk mengatakannya.
Bahu Patrick bergoncang sedikit, tawa Patrick lolos.
Tawa kesakitan.
“Dan kamu tiba di saat yang paling salah. Sampai sekarang aku tidak mengerti bagaimana cara kamu menyusulku ke hotel itu.”
“Aku membuntutimu.” jawab Prue mengejutkan Patrick, “Aku melihat kamu keluar dari Bar, mengambil taxi dengan Sherly.”
Tawa Patrick semakin kencang, “Benar. Kamu akan selalu penasaran kalau tidak mengetahui keadaanku kan?” Patrick mengelus pipi Prue dingin, “Kamu pasti berharap aku pulang ke rumah kan? Bukannya masuk dan memesan kamar?”
Prue mengangguk dan kenangan menyakitkan kembali muncul di hadapannya, “Aku terlalu keras kepala dulu. Terlalu menganggap tinggi hubungan kita. Berpikir kalau kita berbeda.” senyum tipis mengembang di bibir Prue, “Naif sekali yah dulu.”
Patrick ingin memeluk, mencium, berteriak dan mengatakan yabg sesungguhnya pada Prue. Mengatakan bahwa ia memang menghargai Prue sebesar itu. Bahwa ia memang mencintai Prue dan hanya Prue. Selalu dan sampai sekarang tetap mencintainya. Mengambil Prue untuk dirinya.
Tapi tidak bisa. Ia tidak boleh. Ia telah berjanji dan ia selalu memegang janji itu. Cukup sekali ia melanggar kata-katanya sendiri. Dan lihat apa akibatnya.
Ia tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Ia tidak ingin ada lagi korban. Ia akan membuktikan kakeknya bahwa ia bukan perusak. Bahwa ia berhak mendapatkan kebahagian. Terlepas siapa dan apa dirinya.
“Jadi Pete, kalau aku mengatakan tidak bisa memaafkanmu, kita tidak bisa kembali bersama?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s