In devil’s arm – part 13

Patrick terpana, memandangi Prue penuh tanya, bertanya juga pada dirinya apa dia sedang bermimpi atau betul tadi Prue berkata bahwa ia diberi kesempatan kedua.

Ia sampai menepi di pinggir jalan. Tidak baik berkendara dalam kondisi shock, otak buntu dan kesulitan memusatkan pikiran.

Saat ini ia hanya sanggup memandangi Prue, sambil meremas setir. Ia juga memikirkan kemungkinan Prue sedang mengerjainya. Pembalasan lebih terdengar masuk akal baginya.

Tapi Prue terus menatapnya, menanti jawabannya.

Dan sial, ia lupa apa pertanyaan Prue!! Stupid Patrick! Stupid!

Keningnya mengerut kesal tapi kemudian ia tertawa. Merasa konyol dengan dirinya yang telah menghabiskan banyak waktu dalam upayanya menaklukan Prue.

Kalau ia tahu hanya dengan berkata jujur pada Prue dan ia sudah termaafkan. Ia akan melakukannya 3 tahun yang lalu. Tidak perlu membuang waktunya. Tidak perlu pergi ke ujung dunia. Tidak perlu meninggalkan semua orang yang ia sayangi.

 

“Kamu tertawa?” tanya Prue bingung, “Kamu TERtawa?!” ulang Prue jengkel. Pernyataan perasaannya dianggap lelucon oleh Patrick!
Patrick yakin suara Prue naik satu oktaf dan kaca mobil bergetar? Namun Patrick tidak bisa berhenti tertawa. Rasanya semakin lucu saja situasi mereka ini. Dan kapan terakhir kalinya ia merasa sebahagia ini?

“KAMU TERTAWA?!!!”

Dan sekarang Patrick yakin telinganya budek untuk sepersekian detik.

“Fine! Lupakan! Seharusnya aku tahu kamu tidak memikirkan aku seperti itu. Kamu cuma ingin aku memaafkan perbuatanmu, memaafkan…”

Patrick menarik Prue, menempel bibirnya ke bibir Prue, mengecup ujung hidung Prue, mengecup keningnya lalu kembali ke bibir Prue. Kedua tangan Patrick menangkup pipi Prue, menanam bibirnya selekat mungkin ke bibir Prue.

Kalau saja Prue cukup kecil atau mereka tidak di dalam mobil tertutup, Patrick pasti sudah menarik Prue untuk duduk di pangkuannya. Merapatkan tubuh mereka, dan untuk selamanya seperti itu.

Baiklah, Patrick akui ia sedikit hiperbola, tidak mungkin ia selamanya di dalam mobil ini. Pasti ada DLLAJ yang akan menghampiri mereka lalu mempertanyakan keadaan mereka. Salah-salah malah mereka digiring ke kantor polisi. Kalau Patrick ingin mengamankan posisinya di sampaing Prue, yang ia harus lakukan adalah, melamar perempuan ini.

Jadi Patrick melepaskan Prue, menarik kedua tangan Prue dan mengecup keduanya, bergantian. Dan menatap mata Prue yang sedikit merah akibat menangis tadi.

“Aku sayang kamu, Prudence Danura. Kali ini aku tidak akan meninggalkan kamu, tidak akan melirik perempuan lain dan aku berjanji akan menemanimu kemana pun kamu mau.”
Prue tersenyum semuringah dan dengan mata berbinar usil ia bertanya, “Kemana pun aku mau?”

“Kecuali ke panti jompo, Yunani, Rumah sakit dan kamar mayat.” sergah Patrick cepat, menanggap niat usil Prue.

“Tidak bisa, kamu sudah berjanji akan menemaniku kemana pun juga.”

“No, Prue. Aku serius, kalau kamu sampai memintamu untuk pergi ke salah satu tempat tadi. Aku yakinkan padamu, aku tidak akan muncul.” ancam Patrick.

Prue berubah menatap Patrick sedih dan mengatup bibirnya. Membuat Patrick merasa bersalah. Tidak sampai sepuluh detik kemudian, Patrick mengerang dan menutup kedua matanya.

Sementara Prue bertepuk tangan riang.

“Terserah kamu, Prue. Aku tidak akan menanggung kekacauan apa yang akan aku perbuat nanti.” tutur Patrick menyerah.

Ia kembali menjalankan mobil.

Prue tidak melepaskan pandangannya dari Patrick, tidak bisa berhenti tersenyum.

“Kamu tahu, Pete. Dominique pasti akan terkejut kalau tahu kita kembali berpacaran. Dan dia pasti berpikir aku cewek plinplan karena selama ini aku selalu mengeluhkan sikap kamu di depan dia.”

Patrick mempertahankan sikap diamnya. Prue benar. Dominique pasti terkejut. Walaupun sepupunya itu menerima kencan buta yang diatur oleh orangtuanya dan kelihatannya Dominique juga tidak keberatan dengan Sherly. Tapi mereka belum bertunangan dan Patrick tidak yakin perasaan Dominique pada Prue hanya sebatas boss dan karyawan atau sebatas pertemanan biasa.

Ia terlalu sibuk mengurusi percintaannya sendiri sampai lupa menghubungi kakek. Patrick masih belum tahu apa dasar perjodohan sepupunya itu dengan anak mafia kelas kakap.

“Soal Dominique, biar aku yang memberitahu dia.” putus Patrick.

Prue mengangguk setuju, “Aku rasa juga begitu. Rasanya tidak enak jika Dom tidak mengetahuinya langsung dari kita. Menurutmua, dia akan mentertawakan kita? Mentertawakan aku tepatnya?”

Salah mengartikan aksi diam Patrick, Prue diserang rasa panik dadakan, “Dia tidak akan memecatku hanya karena aku berpacaran dengan sepupunya kan?”

Patrick tersenyum hambar, Dom bisa membuang aku kembali ke luar negeri kalau seandainya Dom mencintai Prue seperti dugaannya. Si manusia penguasa itu tidak akan mengijinkan apa yang menjadi miliknya direbut oleh orang lain. Walaupun Patrick adalah sepupu Dominique.

Sial, bagaimana kalau Dominique tahu soal hubungannya dengan Sherly dan memutuskan untuk membongkarnya di hadapan Prue. Perempuan itu tidak akan menerimanya dengan baik.

“Pete, tidak mungkin seburuk itu kan? Dominique orang paling bijaksana yang pernah kukenal. Dia tidak mungkin memecatku kan?” tanya Prue putus asa.

Patrick menoleh dan memberikan senyuman menenangkan, “Tentu saja. Dom akan selalu menjadi orang paling bijaksana dan berakal yang pernah kita kenal. Kamu serahkan saja padaku.”

Ia kembali menatap jalanan di depannya. Tidak merasa seyakin perkataannya pada Prue.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s