Double Matters – 22

Aku duduk di kantin. Mengaduk-aduk bubur yang pastinya sekarang semakin encer.

Maap, Pak Maman, tapi asli aku tidak nafsu makan. Pusing memikirkan strategi mempertahankan Ethan. Bukan artinya Ethan ingin menjauh juga, tapi saat ini tidak ada kejelasan status diantara kami.

Aku tidak tahu bagaimana perasaan Ethan padaku. Dia tetap baik, perhatian dan kami sudah berciuman.

Adegan itu berputar kembali di kepalaku. Aku kembali membayangkan sentuhan Ethan, pelukannya, rengkuhannya dan tanpa sadar aku menyentuh kedua pipiku yang mendadak tertasa panas.

“MARIAAAA!” seru Donna dari seberang kantin, darii ujung lapangan.

Kontan, aku terkejut dan menoleh, memicingkan mata saking silaunya terik matahari hari ini. Dan Donna datang searah dengan sinar tersebut.

“MARIA!” teriak Donna lagi sering mengecilnya jarak diantara Donna dan meja tempatku duduk.

Mengundang perhatiann orang-orang di kantin, di lapangan dan aku yakin mereka yang di lorong dan tempat lain ikut-ikutan berkumpul, mengiringi Donna.

Dengan berat hati, kuletakan sendok dan keluar dari tempat dudukku. Berdiri sambil melipat tangan di dada.

Kalau di film-film, kami persis ada di adegan dua coboy siap berduel, atau dua pesilat yang sedang memasang kuda-kudanya siap menerjang.

Hanya saja dalam dunia nyata, Donna dengan pipi merah dan rambut panjang berombaknya berdiri bertolak pinggang. Mengaungkan telunjuk dengan dada naik turun.

Aku, masuh melipat tangan di dada, tersenyum tipis dan mengikat rambut sebahuku menjadi ekor kuda. Firasatku megnatakan Donna tidak datang hanya untuk mengajak bertengkar mulut.

“MARIA! Dimana Ethan?” tanya Donna memulai kerinutan. Memancing bisik-bisik di sekitar kami, yang sama sekali tidak berbisik.

Aku bahkan bisa mendengar dengan jelas spekulasi mereka tentang siapa Ethan (katanya aku merebut pacar Donna) lalu beberapa sedang memuji penampilan Donna yang bak artis bintang 10 (artis bintang kejora, umpatku dalam hati) dan yang lainnya sibuk bertaruh siapa yang akan memenangkan pertengkaran ini.

Aku kembali menyunggingkan senyum malas dan bertanya dengan sama malasnya, “Untuk apa mencari Ethan?”

“Kamu sembunyikan dimana pacarku?!” tuding Donna, kali ini dia mendorong bahu kananku. Cukup kencang, hingga membuat lipatan tanganku terlepas.

Aku mendengus, memperbaiki posisiku, biarpun agak takut juga melihat mata penuh maskara dan eyeliner hitam Donna melotot keluar, Aku tidak akan menunjukannya.

Aku, Maria, akan tetap menanggapi Donna dengan santai.

Setidaknya sampai ada bala bantuan tiba.

“Pacar kamu?”

“Jangan belaga bego, Maria! Dimana Ethan?”

“Donna, aku tidak tahu pacar kamu, Ehtan ada dimana, malah rasanya aku tidak pernah kenal dengan pacarmu Ethan itu.” jawabku yang tentunya membuat Donna semakin kesal, marah dan menudingku lagi. Kutangkap telunjuknya, mendorongnya ke arah Donna, “Tapi kalau yang kamu maksud Ethan, pacarku. Dia akan datang untuk menjemputku nanti.”

Donna berusaha menarik telunjuknya agar terlepas dari genggamanku, keputusan yang salah. Karena itu memberi kesempatan bagiku untuk memojokan Donna ke meja di belakang dia.

Untuk informasi saja, hari ini Donna mengenakan hak tinggi jadi ia sedikit kehilangan keseimbangan dan terduduk. Aku menurunkan kepalaku dan mencubit hidung Donna, “Bye..”

Dan wajah Donna berubah hitam. Membuat senyum lebar menyungging di wajahku.

Puas.

Aku sudah siap meninggalkan arena pertarungan, keluar dari kantin maksudnya, berpikir kalau semua urusan sudah selesai. Tidak melihat Donna menyambar mangkok buburku dan meleparnya ke punggungku.

BUK…PRANGGG……

Aku meringkis kesakitan. Membalikan badan, kembali menhampiri Donna dengan langkah lebar. Berusaha menahan diri untuk tidak kembali meringkis karena mendadak aku merasa amat perih di bahu kananku.

“SEMUA SALAH KAMU SENDIRI!” pekik Donna sambil mundur selangkah demi selangkah, ketakutan. “Kalau kamu tidak merebut Ethan, aku tidak akan mencarimu! Kalau kamu tidak terus menerus dibicarakan oleh Mario, aku tidak akan membencimu! Semua salah kamu sendiri!”

Mendadak, semua terasa tidak menarik. Aku menghentikan langkahku, padahal hanya tinggal 1 langkah lagi dan Donna sudah dalam genggaman.

Dengan sengaja, aku melakukan gerakan lebar seperti orang ingin meninju, padahal sebetulnya aku cuma melepas tasku, memindahkannya ke pundak satunya.

“Aku tidak tahu apa yang dilihat Mario darimu. Tapi dia serius mencintaimu dulu. Tidak tahu sekarang. Tapi mungkin belum terlambat bagimu untuk memintanya kembali.” kataku padanya.

“Aku tidak peduli pada abangmu!” bantah Donna.

Kuangkat bahuku, terserah padanya. Bukan urusanku Donna mau kembali pada Mario atau tidak. Urusanku sekarang, masuk ke kelas dan kembali memikirkan cara agar bisa membuat Ethan tetap menjadi pacarnya.

Aku sudah sampai di turunan tangga kantin ketika mendadak merasakan hawa membunuh. Insting yang kudapat dari latihan anggar. Serta merta kumiringkan badanku ke kanan, menghindari serangan. Yang bukan lain dan bukan tidak berasal dari Donna, si cewek pantang menyerah.

Tapi entah apa karena aku bodoh atau gila, aku meraih tubuh Donna , memutar tubuhku dan terjatuh di bawah tangga. Menjadi bantalan.

Punggungku terasa sakit bukan main dan kali ini sepertinya memperparah luka sebelumnya. Sepertinya berdarah juga. Dengan sedikit dorongan, aku mengangkat Donna, menyingkirkannya ke kiri.

Dan cewek itu teriak!

Telat banget!

Malas menanggapi Donna, aku berdiri dan meninggalkannya. Orang-orang mulai mengelilingi Donna, memberikan simpati. Tapi kelihatannya tidak ada yang betul-betul berniat membantunya.

Aku mengerang, sial, kenapa sih aku tidak bisa dengan cueknya lenggang kangkung. Biarin saja nenek sihir itu sendiri.

Sambil menghentak-hentakan kaki, aku kembali mendatangi, berjongkok di hadapan dia dan mengenggam kedua bahu Donna, mengangkatnya berdiri. Menahan rasa sakit yang mengiris di bahu kananku. Tapi kupaksakan juga agar bisa menopang Donna. Membantunya duduk di kantin.

“Tunggu di sini, aku akan menyuruh anak klinik datang.” perintahku yang dituruti dengan anggukkan Donna.

“Biar aku yang panggil.” kata laki-laki yang berdiri paling dekat dengan kami.

Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih.

Lalu sepertinya dikomando, beberapa orang lainnya mulai menhampiri. menyerahkan tissue dan sebagainya.

Menawarkan bantuan.

Kupakai kesempatan itu untuk menyelinap keluar dari kerumunan Donna, diikuti oleh kerumanan yang lainnya. Tapi aku menolak dibantu oleh mereka.

“Tidak apa. kalian urus Donna saja. Sepertinya dia masih shock. Aku ke klinik saja.” elakku.

Kubuang nafas berat dan kembali membelah kerumunan orang-orang. Bukan hal yang mudah. Sepertinya merak tidak bisa meninggalkan aku sendiri. Semakin aku berjalan, aku merasa kerumunan semakin tebal, dan aku merasa semakin sulit bernafas.

“Permisi…” ucapku yang sepertinya tidak terlalu didengar. Sekali lagi kucoba, “Per..misi…”

Aku semakin terhimpit, setiap orang sepertinya berebut kesempatan bertanya, mengulurkan bantuan dan sebagainya. Dengan susah payah, aku menggerakan tangannku untuk melindungi bahu kananku agar tidak berbenturan dengan mereka.

Nafasku semakin berat dan ketika akhirnya aku mendengar seseorang memanggilku, aku sudah kehilangan kesadaran dan terkulai lemas.

 

Advertisements

One thought on “Double Matters – 22

  1. Pingback: Double Matters « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s