Double Matters – act 23

Punggungku terasa sakit luar biasa saat aku berusaha mengangkat tangan kananku. Kubuka mata, menatap langit-langit kusam klinik kampus. Kehela nafas panjang.
Akhirnya aku pingsan juga tadi. Kerumunan orang selalu menjadi musuh orang penyakitan sepertiku.
Aku meringkis saat mencoba menaikan lengan kanan. Dengan tangan satunya, kupijit-pijit bahu kananku itu. Sepertinya cedera bahuku lumayan parah nih.
Kira-kira papa mama ngomong apa ya? Mereka pasti mentertawakan kebodohanku. Lalu Mario akan kembali menobatkan diriku sebagai adik cowoknya.
Sial, harusnya aku tidak perlu berlaga pahlawan dan melindungi Donna!
Ngomong-ngomong siapa yang membawaku ke sini ya?
Baru juga aku menurunkan satu kaki, bersiap untuk meninggalkan kasur, mendadak tirai pembatas kamar tersibak.
“Aria?” panggil Denise panik.
Dia menghampiriku, bermaksud untuk memeluk tapi perban ditangannya menghalangi. Jadi dengan sopan, aku melempar senyuman padanya. Menyuruhnya duduk di sisi kakiku, di atas kasur.
Kalau ada yang melihat kami sekarang pasti pada bingung, siapa di antara kami yang sakit.
“Kok bisa ke sini? Memangnya kamu boleh keluar dari RS?”
Pertanyaanku dijawab dengan kedatangan Mario yang sama sekali tidak terlihat khawatir.
“Aku sudah bilang Mar pasti baik-baik saja.” kata Mario yang langsung menghempaskan tubuh ke bangku, “Mana Donna? Katanya dia ikut jatuh denganmu, kok cuma kamu yang dirawat?”
“Mana aku tahu, Rio. Aku pingsan, kamu ingat?” jawabku kesal, lucu juga melihat abangku ini. Aku pingsan dia tidak sepanik waktu tahu aku berpacaran. Baru tahu aku kalau pacaran lebih berisiko dibanding jatuh dari tangga.
“Makanya aku bilang juga hati-hati. Lagian kenapa juga ribut sama dia sih? Biasanya kamu paling males ribut sama cewek.”
“Tolong deh, bisa tidak ngomongin yang lain? Keberadaan mantanmu itu tidak penting sekarang.” tukas Denise tidak senang.
Aku berterima kasih untuk pembelaan Denise tapi mengenal kembaranku itu, Mario hanya akan semakin bawel dan memperpanjang alasannya.
“Lah, penting dong. Aku mau tahu dia sama parahnya tidak dengan Mar. Dia sudah membuat adikku menderita seperti ini, setidaknya Donna harus diberi pelajaran juga.”

“Nggak perlu nangis kali, Mar.” ledek Mario yang melihatku mulai sesengukan menahan tangis. Tangis haru. “Aku cari dia deh. Setidaknya Donna berhutang ucapan terima kasih padamu.”
Aku berseru menahan Mario, berkata tidak penting untuk mencari Donna.
Lagi-lagi pintu kembali terbuka, kali ini Donna dan Ethan berdiri di sana, di belakang mereka, aku bisa melihat kerumunan orang banyak.
“Speaking of the devil.” kata Mario mempersilakan mereka masuk. Dan menutup kembali pintu tersebut. Menyumbat semua hiruk pikuk protes orang di baliknya.
“Kali ini Mar, aku yakin kamu semakin terkenal.” ledek Mario, bisa-bisanya dia bercanda di saat seperti ini.
“Kamu datang untuk meminta maaf?” tanya Denise pada Donna.
Kalau tanya padaku, Donna sama sekali tidak berniat minta maaf dan jelas dia ada di tempat ini karena Ethan menyeretnya kemari.
Dan Donna mencuri-curi pandang ke Ethan!
“Hallo Ethan. Lama tidak lihat, aku pikir kamu sudah menghilang ke laut.” salam Mario sinis.
Dan aku ingin mencekik kembaranku itu.
“Hello juga Mario. Kalau aku sudah memutuskan kapan pergi berlayar, aku pasti mengabarimu. Lagi musim tenggiri kan sekarang.”
Dan sumpah, aku ingin menjedotkan kepala Mario. Dia langsung menarik Leher Ethan dan membicarakan rencana mancing, dengan berisik dan serius dalam skala Mario.
Aku melirik Denise yang sedang bingung, menepuk lengannya, “Mario lagi gila mancing.” jelasku.
“Gimana dengan sepakbola?”
“Berhenti di tahun kedua.”
“Judo?”
“Cuma muncul waktu pertandingan.”
“Anggar?”
“Barang-barangnya sudah dioper ke kamarku semua.”
“Racing?”
“Ngak pernah denger dia nonggrong lagi.”
Dan acara tanya jawab itu berlangsung beberapa menit. Sampai Donna berteriak jengkel. Membuat kami semua menoleh padanya.
“Kalian akan terus mencuekan aku?” tanya Donna tidak senang.
“Kamu boleh bergabung dengan kami kalau mau. Kami sedang membicarakan alat pancing.” tutur Mario sok polos.
“Kamu tahu aku benci memancing!” teriak Donna frustasi.
“Suit yourself.” jawab Mario cuek.
Donna memandangi Ethan, memohon belas kasihan.
“Jangan melihat padaku. Kamu yang memintaku mengantar ke sini.” ucap Ethan menarik perhatianku.
“Tapi….” ucap Donna panik.
“Kamu bisa mulai dengan, Maria, terima kasih.” bantu Ethan.
Donna menoleh padaku. Denise menoleh pada Donna sedangkan Mario, dia menghampari Donna.
“Berterima kasih? Memangnya apa yang Maria lakukan untukmu?” tanya Mario bingung.
“Maria menangkapnya saat Donna nyaris jatuh.” terang Ethan.
Mario membelalakan mata, memandangiku, menuntun penjelasan lebih tepatnya.
“Kamu melindungi Donna?” tanya Mario menuntut konfirmasi. “Jadi bukannya kalian bertengkar, saling dorong mendorong dan sama-sama terjatuh?”
Entah dari mana Mario mendengar cerita seperti itu, jadi aku mengeleng. Kemungkinan itu gosip yang beredar di luar sana.
Mario membuat semua orang terkejut dengan menarik tangan Donna dan menyuruhnya bersimpuh.
“Rio, Rio, stop.” teriakku dari kasur.
Aku tidak bisa turun dari sana karena Denise tidak berranjak, malah tertawa dan menyemangati Mario.
“Eth, hentikan Mario.” pintaku, tapi Ethan malah pura-pura budeek, menonton saja.
Aku menarik bantal dari kepalaku. Gerakan yang salah banget, membuat bahu kananku terantuk kepala kasur yang terbuat dari besi. aku berteriak meringkis.
“Sakit!!!! Sakit!!!!” erangku.
Serta mrta tiga cowok itu menghampiriku. Ethan di sebelah kanan, menahan tubuhku kembali duduk. Mario mengembalikan bantal tersebut ke belakang kepala. Denise, dia cuma bisa bertanya dengan panik kepadaku.
“Hati-hati kenapa!” marah Ethan.
Denise langsung membelaku, “Tidak perlu memarahi dia!”
Dan mereka langsung bertengkar, membuatku pusing sekaligus geli melihat mereka.
“Kamu senangkan?” bisik Mario padaku.
“Kamu juga kan?” balasku disertai kerlingan mata.
“Tentu saja, kapan lagi bisa mengerjai mereka.” jawab Mario meminta kelitikan dariku. Jadi kuberikan saja sesuai keinginannya.
Aku menusuk pinggangnya, cukup membuat Mario meringkis dan tertawa geli.
Untuk sesaat aku memperhatikanagi Ethan, dia masih bertengkar mulut dengan Denise, sekarang mengenai siapa yang membawaku pulang.
“Mar, kamu suka Ethan ya?” tanya Mario mendadak.
Aku menutup mulut Mario dengan tangan kiriku sebelum Ethan mendengarnya.
Terlambat, Ethan dan Denise sudah berhenti bertengkar, ganti memandangi kami.
“Errrr…. Ehem…” dehamku malu, bingung, serba salah.
“Apa katamu tadi?” tanya Denise pada Mario yang masih dibekap olehku, aku berusaha menahannya tapi dengan mudah Mario melepaskan diri dariku.
“aku bilang, kita harus pulang. Doktermu yang cantik itu akan membunuh kita kalau kita tidak ada di kamar.” jawab Mario, menarik Denise berikut Donna keluar.
Mereka langsung disambut oleh kerumanan orang yang seprtinya masih belum menyerah untuk mencari tahu apa yang terjadi di dalam.
Aku sempat menengar Mario memberi beberapa penjelasan dan membubarkan mereka sebelum akhirnya pintu tertutup rapat.
Aku bertukar pandang pada Ethan. Mendadak sadar kalau hanya tinggal kami berdua di ruangan ini. Di atas kasur pula.
Entah kenapa aku langsung membayangkan ciuman kami.
Mungkin karena Ethan menatapku sama seperti ketika ia mau menciumku. Mungkin karena kasur terdengar seintim ciuman. Mungkin karena aku mau dicium olehnya lagi. Mungkin karena…..
Aku menunduk.
Sebaiknya aku berhenti sebelum Ethan menebak isi pikiranku.
“Mereka tidak akan berkumpul di depan sana terus kan?” tanyaku menatap kembali pintu di seberang sana.
Aku bisa merasa kalau Ethan tersenyum, mentertawakan kecanggunganku.
“Ya, mereka bisa saja di sana sampai malam.”
“Sampai malam?” tanyaku terkejut, kembali memandangi Ethan dan sadar kalau dia hanya meledekku. “Ngak lucu.”
“Aku tidak keberatan menemani kamu kok.” lanjutnya, ia mengeser tubuhku ke kanan sedikit, ikut duduk menyandar di sampingku sekarang. Membuat jantungku berdetak tidak teratur, terutama ketika ia berkata, “Sampai malam.”
Aku membuang muka, kembali menatap pintu. Enggan membuat Ethan menyadari ketidak nyamananku berada satu kasur dengannya.
Lama kami terdiam. Dan aku mulai berhitung dalam hati. Berharap bisa mengalihkan perhatian dari panas tubuh Ethan terlalu dekat denganku. Yang ada aku malah menyesuaikan hitunganku dengan setiap tarikan nafas Ethan.
12, 13,14,15….
“Boleh kulihat punggungmu?” tanya Ethan mengangetkanku.
“Apa?” tanyaku balik.
Ethan memutar tubuhku hingga punggungku menghadap padanya sepenuhnya. Menarik kausku ke atas. Saat ini tubuhku nyaris dibalut sepenuhnya dengan perban, bahkan aku tidak lagi mengenakan bra.
Jari-jari Ethan menyentuh kulitku, perban sebetulnyan tapi entah kenapa aku bisa merasakan sentuhannya langsung ke kulitku. Meninggalkan panas di jejak yang ditinggalkan jarinya.
Ethan menurunkan kausku. Memelukku dari belakang dan mengecup bahu kananku. Dan seharusnya aju merasa sakit kerena tekan tersebut bukannya malah ingin memeluk Ethan balik atau berharap ia terus menciumku tempat lainnya.
“Aku minta maaf. Aku langsung ke sini waktu tahu Donna menghubungi Noah. Aku minta maaf karena datang terlambat. Aku tidak tahu dia bisa membuatmu…Donna…dia tidak pantas kamu selamatkan.”
“Kamu pikir aku tidak menyesal?”
Ethan tertawa, membuatku ikut tertawa.
“Donna bilang ia menyesal, dia bilang kalau denganmu, ia bersedia mundur. Donna berjanji untuk tidak mengangguku lagi.”
Aku membatu, punggungku menegang dan untuk beberapa saat aku berhenti bernafas.
“Sekarang aku bebas.” kata Ethan, dan ia mengeratkan pelukannya.
Menghantarkan rasa sakit ke bahuku dan membuatku kembali bernafas. Aku mengeliat sedikit, melepaskan diri dari pelukan Ethan.
“Baguslah.” jawabku tawar. Aku memerosotkan tubuhku, kembali ke posisi tidur menghadap samping, karena dengan punggung terluka, posisi ini lebih nyaman untukku.
Kami kembali terdiam. Menghadap pintu seperti ini membuatku ingin pulang. Jadi aku bertanya pada Ethan.
“Aku rasa kita bisa pulang. Kamu bisa berdiri sendiri?”
Aku mengangguk. Ethan membantuku membawa tas dan melihatku berjalan sambil membungkuk.
“Kamu yakin?” tanya Ethan khawatir. “Aku bisa mengendongmu kalau mau.”
Aku kembali mengangguk. Dalam tiga hitungan aku terangkat dari lantai, mendarat di lunggung Ethan. Kubenamkan kepalaku di bahu Ethan.
Menyesap kedekatan kami untuk terakhir kalinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s