Lovely Temptress – Proloque

Oktober 2011

Semua orang pasti setuju dengan Larry kalau tidak seharusnya seseorang bertamu pada pukul lima pagi. Ia punya setidaknya 5 alasan mengapa setidaknya ia tidak boleh melakukan hal tersebut.

1. Tamu tersebut wanita. Wanita yang amat cantik dan mempesona. Cantik yang bahkan disadari oleh otak setengah sadar milik Larry. Yang membuat pria tidak otomatis bersikap sopan dan mempersilahkan wanita itu masuk ke rumahnya, tanpa memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. Atau mungkin dia sudah memperkenalkan diri, hanya saja Larry tidak bisa mengingatnya dikarenakan oleh…

2. Ia terlalu terkejut sebelum akhirnya sibuk mengagumi kemolekan wajah wanita tersebut, bibir bulat penuh sempurna, tidak terlalu tebal atau pun besar, mirip bibir Blake Lively. Dagu lancip, hidung mancung dan kulit putih bersih. Tapi mungkin yang paling membuat pikiran Larry buntu adalah mata hitam bulat laksana boneka milik wanita itu yang seperti bersinar dan menghipnotis dirinya. Membuatnya bersedia melakukan apa saja.

3. Dan berdasarkan alasan nomor 2, Larry yakin dan seharusnya sadar kalau ia masih berada dalam pengaruh alkohol. Sebab tidak pernah dalam hidup Larry, ia ingin melakukan sesuatu untuk orang lain,yang tidak menguntungkan dirinya. Tidak pula bersikap sembrono dengan memasukan orang asing ke dalam tempat persembunyiannya. Benteng pertahanannya. Markas kecil miliknya.

Alasan ke 4 ini pasti terdengar klise, tapi Larry yakin alasan ini 60% orang akan setuju kalau tidak baik seorang pria dewasa, sehat dan tidak pernah mengalami masalah di atas ranjang. Bahkan selalu tampil prima dan cukup dipuji penampilannya, menerima seorang wanita dalam keadaan setengah telanjang dan hanya mengenakan kain seprai tipis untuk menutupi perangkat lunaknya. Yang tentu saja saat ini sama sekali tidak dalam keadaan lunak,  mencuat tinggi. Cukup mencolok namun tidak cukup rupanya untuk menakuti tamunya tersebut hingga menyembunyikan diri, pulang, dan kembali datang di jam yang lebih wajar untuk bertamu.

Dan, sungguh Larry berharap tamunya ini melakukan hal tersebut. Sebab ia yakin jika wanita tersebut berbalik pulang, ia tidak perlu menuliskan alasan terakhirnya ini.
Tidak baik seseorang menerima tamu di pagi buta karena ada kemungkinan kamu akan melakukan hal di luar kebiasaan, seperti tersandung, jatuh menindih tamu tersebut tanpa  sehelai kain pun. karena kain penutup tersebut dengan sukses terlepas dari genggaman tangan Larry saat ia berusaha mendorong wanita tersebut agar tidak tertimpa olehnya. 

Suara debuman keras, diikuti lengkingan tinggi, auman berat dan tawa renyah menyusul memenuhi ruang tamu Larry.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Celia sambil menahan kedua tangannya di atas dada polos Larry. Menahan agar dirinya tidak tertimpa seluruhnya oleh  pria di atasnya ini. Ia pasti tidak akan selamat kalau seandainya tubuh besar Larry mengilasnya, tubuh berotot Larry.
Celia tidak bisa menepis desiran di dadanya ketika tangannya meraba lagi dada Larry yang ternyata tidak polos-polos amat. Ada sedikit bulu halus di bagian tengah yang tidak ingin Celia telusuri, kerena dalam pikiran polosnya pun Celia tahu bulu-bulu tersebut akan berakhir dimana.
Melihat Larry hanya diam menatapnya, Celia beringsut sedikit, memindahkan satu tangannya ke pundak Larry bermaksud menarik dirinya keluar. Karena tidak mungkin ia mendorong Larry ke atas karena nanti ia akan melihat bagian tertentu dari Larry yang tidak pantas untuk dibahas, walaupun ia sedikit penasaran seperti apa benyuknya dalam fisik.

Larry pasti kaget luar biasa jika ia bertanya bagaimana keadaan pantat polosnya sekarang. pasti cukup kedinginan terekspos AC.

Sekali lagi tawa Celia lolos namun buru-buru ditahannya begitu Larry melolotinya dan sepertinya mulai mempertanyakan kewarasan Celia.
Dipelototi begitu, Celia malah merasa situasi saat ini semakin konyol. Desakan untuk tertawa kembali mengisi dadanya dan diperlukan satu tangan miliknya untuk menahan mulutnya agak tidak mengeluarkan semburan tawa tersebut.

“Tidak apa, kamu lebih baik tertawa sekarang. Karena setelah aku berdiri, aku pastikan kamu tidak akan menganggap hal ini lucu lagi.” ancam Larry sambil mendorong dirinya untuk bangkit. Namun kemudian sadar kalau ia betul-betul telanjang saat ini.
Kalau ia berdiri begitu saja, maka dipastikan wanita itu akan mendapat pertunjukan langsung dari jarak setengah meter dan dalam keadaan setengah mabuk pun, ia rasa ia masih memiliki moral untuk menyelamatkan ‘kepolosan’ wanita tersebut. Paling tidak menyalamatkan dirinya dari rasa malu, Larry menyuruh wanita tersebut untuk memejamkan mata.

Perintah yang ternyata juga salah, karena dari jarak 10cm dan dirinya yang masih berada di atas wanita tersebut, belum lagi kondisi setengah mabuknya. Ia malah menatap bibir wanita itu yang ternyata tidak hanya bulat penuh tapi juga merah. Mungkin akibat wanita itu menekannya tadi.

Dahi Larry mengerut, dimana ia pernah melihat wanita ini.

“Kalau kamu memang berniat untuk bangun, buruan Ry. Aku tidak yakin aku bisa menahan diri untuk tidak memperhatikan itu-mu. Walau aku cukup senang bisa bertemu denganmu lagi. Aku tidak yakin aku mau kembali menjadi apa sebutanmu, friends with benefit? Perempuan yang kebetulan ada? Sex buddy? Aku cukup suka istilah yang terakhir itu. Terkesan wild dan….” 

Celaan Celia dihentikan oleh serangan bibir Larry. Celia pikir ia sudah lupa betapa pandainya Larry. Namun ternyata tubuhnya masih mengingat dengan jelas setiap sensai dan desakan yang hanya bisa ditimbulkan oleh Larry. Ciuman yang selalu membuatnya merasa terlilit dan kesulitan bernafas. Ciuman yang selalu membuatnya lupa diri.

Saat  bibir Larry menjauh dari bibirnya, Celia baru sadar kalau tadi ia menutup matanya dan menikmati sentuhan jemari Larry diikuti kecupan-kecupan kecil dari kening, turun ke pipi, telinga, tengkuk dan dadanya.
Serta merta Celia membuka matanya dan mendorong Larry. Menarik dirinya dan berdiri, sebelum akhirnya jatuh terduduk di sofa. Di perlukan usaha keras untuk mengatur kembali deru nafas di dadanya. Dan ketahanan diri yang luar biasa untuk tidak melihat Larry dan menariknya kembali.

“Untuk apa kamu kemari?” tanya Larry dengan suara menderu. “Aku sudah memintamu untuk tidak pernah…”

“10 detik yang lalu kamu tidak berpikir untuk mengusirku.” potong Celia dengan senyum kemenangan. Ia tahu Larry tidak akan menerima kehadirannya dengan baik. Dan Celia tidak mengharapkan kurang dari itu.

Larry menyambar lengan Celia, mengenggamnya dengan kasar, tapi Celia tidak bergeming. Meringkis pun tidak.

Kemarahan Larry semakin memuncak. Ia menarik, menyeret Celia menuju pintu keluar.
“Keluar!” usir Larry, “Jangan pernah muncul kembali di tempat ini. Jangan pernah muncul kembali di hadapanku!”

Celia melawan, memutar tubuhnya, dan mengucapkan 2 kata, “Darion menelfon.” 

Dua kata yang dengan keras menghantam Larry, membekukan jantungnya dan untuk sepersekian detik, ia berhenti bernafas. hanya menatap Celia. Namun hanya sepersekian detik itu saja. 

Ia kembali memasang mimik galak dan lanjut mendorong Celia menuju pintu keluar. Ia harus segera menyingkirkan wanita ini dari rumahnya, dari hidupnya. Karena tidak ada hal yang baik yang akan dihasilkan dari berhubungan kembali dengan wanita yang satu ini.

“Kamu yakin tidak ingin mendengar apa yang Darion katakan?” tanya Celia lagi. Berharap ia tidak terusir dari rumah Larry.
Terus terang, Celia tidak tahu harus tidur dimana malam ini jika Larry menolak menampungnya. Bagaimanapun juga diakan hanya seorang guru les tidak tetap dengan gaji minim dan tidak memiliki rumah. Saat ini.

Jadi ia terpaksa menjual nama Darion untuk memancing Larry. Walau tidak mungkin berharap Larry akan bersimpati pada situasinya saat ini, setidaknya Celia berharap rasa dendam Larry bisa membuatnya tidur di bawah atap malam ini.

Tapi Larry tidak terusik, tersentuh atau tertarik dengan ucapan Celia dan seandainya semua itu hanya pura-pura, Celia tidak akan mengetahuinya. Sebab dengan dingin, Larry mendorong Celia keluar, membanting pintu rumahnya sebelum kembali keluar dan melempar koper milik Celia.

Dari balik jendela, Larry melihat Celia menarik koper dengan wajah tersenyum, sebelum berteriak bahwa dirinya akan menyesali perbuatannya.

Demi Tuhan, ia memang menyesal! 

Larry berharap ia bisa memperlakukan Celia lebih buruk, membuat wanita itu menangis dan memohon padanya agar Larry bisa membawa wanita itu kembali masuk dan menunjukan sedikit perhatian padanya.

Tapi mengenal Celia bertahun-tahun lamanya, ia tahu hal itu tidak akan terjadi. setidak sebeum Indonesia hujan salju. Celia tidak akan menunjukan air mata, memohon atau mengemis. 
Sekeras kepala itulah wanita yang pernah Larry cintai itu.
Sekeras kepala dirinya sendiri yang tidak bisa memaafkan dan melupakan dendam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s