Lovely Temptress – 2

“Maaf…” ucap Celia untuk kesekian kalinya.

Ia menyodorkan kopi pada laki-laki yang menjadi korban kopernya. Melirik takut-takut, dan ia lega ketika laki-laki itu mengambil kopi dari tangannya dan menepuk bangku di sebelahnya untuk Celia duduk.

Dengan ragu-ragu, Celia naik ke atas bangku dan duduk.

“Angkat kakimu.” ucap Larry mengejutkan Celia.

“Apa?”

Larry tersenyum melihat keterkejutan perempuan cantik di hadapannya itu, walaupun ia tidak akan berpikir hal yang sama mengenai koper coklat yang saat ini bertengger manis di samping perempuan itu.

Ia turun dari bangku dan melepaskan sepatu yang dikenakan perempuan itu dan mulai memeriksa. Saat perempuan itu menarik kakinya, Larry menahannya.
“Biarkan aku memeriksanya. Aku janji tidak akan macam-macam.”

Walau perempuan itu tidak yakin dengan niat Larry, tapi dia tidak menarik kembali kakinya. Begitu juga cukup. Lary hanya memerlukan waktu sebentar untuk meyakini dirinya kalau kaki tersebut hanya bengkak di permukaan, tidak ada cantengan atau lainnya.

Amat disayangkan jika kaki yang cantik ini ternodai oleh luka.

Larry terlalu sibuk untuk menyadari perubahan wajah Celia. Ia tidak tahu kalau setiap sentuhan yang ia berikan membuat jantung Celia berdentum kencang. Setiap pijatan, membuat perutnya merasa terpilin dan suhu tubuhnya naik, memanas. Tidak pernah kakinya disentuh oleh orang lain. Apalagi oleh laki-laki dan entah kenapa Celia merasa sentuhannya begitu personal dan teramat lembut.

“Tidak terlalu parah. Bengkaknya akan hilang dalam beberapa hari. tapi aku ragu kamu bisa kembali mengenakan sepatumu.” ujar laki-laki itu sambil meletakan sepatu dengan heel setinggi 6 cm ke pangkuan Celia dan kembali duduk di hadapannya.

“Terima kasih.” gugam Celia kikuk.

“Larry.”

Celia mengedip beberapa kali.

“Namaku Larry. Aku rasa setidaknya kamu perlu tahu namaku seandainya suatu hari nanti aku muncul dengan satu kaki.” canda Larry menakut-nakuti. Ia pasti sudah gila dengan mengucapkan alasan norak seperti itu hanya untuk berkenal dengan perempuan ini.

Melihat perubahan raut uka perempuan itu yang memucat dalam sekejap, Larry merasa bersalah namun sekaligus mengundang tawa. Sepeertinya teman abrunyaini amat polos hingga mempercayai ucapannya begitu saja. Sampai melompat turun untuk memeriksa kaki Larry.

Tindakan yang tidak akan Larry lakukan jika memeliki bengkak di dekat pergelangan kaki. Sikap ceroboh itu akan memberikan tekanan ekstra pada luka dan…
membuat seseorang memekik kesakitan.
Larry tidak bisa menahan tawanya lebih lama lagi. Walau ia tahu amat tidak sopan untuk mentertawai kemalanganorang lain. Tapi ada daya. Tidak mungkin seseorang tidak tertawa jika melihat wajah mengkerut perempuan ini dan ocehan marahnya yang amat Lady-like. Penuh sopan santun walau jelas semua kata, seperti, dasar bodoh, ceroboh, cewek cengeng, bukan merupakan kata yang positif.

“Maaf, aku hanya bercanda.” ujar Larry, kembali menuntun Celia duduk. “See.”
Larry mengerakkan kedua kakinya dengsn leluasa. Karena sebetulnya yang sakit hanya betisnya saja. Tidak sia-sia ia berlatih parkour selama ini. Geak refleksnya cukup terbukti berguna untuk menhindar dari tertimpa koper, walau sepertinya itu tidak cukup untuk menghindar saat koper itu mengantuk betisnya.

Celia mengeleng, “Tidak bisa. Ini kartu namaku. Atau Mungkin kita juga harus ke rumah sakit untuk melihat kondisi kakimu.” ia tlalu khawatir dan panik sampai lupa lagi dengan kakinya yang sakit dan dengan cerobohnya betisnya mengantuk meja.
Membuatnya kembali mengerang dalam hati.
Ia melirik sedikit ke laki-laki yang duduk di samping kirinya itu yang sepertinya menatap kartu namanya terlalu serius.

“Tidak ada nomor telepon? Email?” Tanya Larry, mengankat kartu namanya dan menyodorkan kembali ke Celia.

Celia tersipu malu. Ia lupa kalau ia tidak membubuhkan apa-apa di kartu nama tersebut. Diambil kembali kartu tersebut dan ditambahkannya dua detail tersebut. Bagaimana pun ia tidak terbiasa memberikan daftar kontarnyapada orang asing. Walaupun ia bertanggung jawab atas kecerobohannya. Walaupun laki-laki itu laki-laki paling menarik yang pernah Celia kenal.

Dada bidang, rambut hitam pendek, hidung mancung, dan tampan.

“Begini lebih baik.” ucap Larry saat menerima kartu nama Celia dan memasukannya ke dalam saku celananya. “Aku pasti menghubungi kembali, jika seandainya dibutuhkan.” lanjutnya sambil melemparkan kedipan genit.

Tidak ada salahnya mengoda perempuan ini kan? Menilai dari kematangan fisik tubuh perempuan itu, setidaknya dia berusi 20 tahun, hanya beda 5 tahun darinya, jadi ia sama sekali tidak bermain dengan anak kecil bukan.

“Kamu tinggal di Jakarta?” tanya Celia.

Larry tersenyum, “Tidak, hanya urusan pekerjaan. Kamu sendiri?”

“Lahir dan besar di sini. Mungkin sampai mati pun akan tetap di Jakarta kalau hari ini aku tidak melarikan diri.”

Celia mengigit bibirnya dan memarahi dirinya sendiri kerena begitu ceroboh. Buru-buru ia menambahkan, “Bukan begitu, kamu harus tahu, orang tuaku itu sangat saangat gila dan protektif. Masa sudah besar begini masih tidak boleh pergi kuliah di luar. I’m 18 for For God shake!”

Mau tak mau Larry tertawa mendengar keluhan Celia. Astaga, pantas dia bertanya apa Larry orang Jakarta atau bukan. Pasti selain khawatir ia menghubunginya lagi. Dia pasti khawatir Larry akan mengenali dia atau lebih parah mata-mata orang tuanya. Lucu juga mendengar  masih ada orang tua yang memandang sekolah di luar negeri itu berbahaya. Tapi mungkin itu menjelaskan sedikit sikap polosnya, kemungkinan besar perempuan ini pasti dimanja oleh keluarganya.

Ia melihat Celia mulai merengut dan sekali lagi tawa Larry lepas tak terkendali. Bibir manyun perempuan itu terlalu mengemaskan. Sedikit mirip dengan adiknya Luna. Tapi luna pasti akan melanjutkannya dengan merajuk dan menangis sampai keinginannya dipenuhi. Bibir Luna juga tidak akan membuatnya merasa ingin mencium.

Buru-buru ditepisnya pikiran tersebut. Ini di Indonesia, bukan Amerika yang bebas dan terbuka. Perempuan ini bisa terkejut kalau ia menyampaikan keinginannya untuk membawa perempuan itu pergi dan melakukan hal-hal yang membuat kuping panas.

“Penerbangan Tujuan New York, flight  ….”

“Itu penerbanganku. Sampai jumpa lagi?” ujar Larry sambil mengulurkan tangan pada Celia. Alasan bodoh lain baginya agar bisa bersentuhan dengan Celia.

Teman-temannya pasti mentertawakan kelakuan bodohya ini jika mereka mengetahui betapa konyol dan kuno cara yang ia pergunakan untuk merayu.

“Kamu ke New York juga?” tanya Celia dengan mata berbinar-binar.

Larry mendadak merasa was-was, dan mulai berdoa agar Celia tidak duduk di sampingnya. berada sepuluh menit bersama Celia sudah membuatnya mabuk seperti anak sekolahan yang sedang mabuk kepayang, ia tidak bisa membayangkan harus berada dalam satu kabin selama 25 jam bersama.

Celia menunjukan tiket boarding pass miliknya dengan senyum lebar dan bangga.

Mata Larry hanya tertuju pada kotak kecil di sudut kanan, tempat buasa nomor bangku pesat tertera. Ia memejamkan mata begitu membaca tulissan yang tertera di sana.

36B, persis di samping kursinya.

Advertisements

One thought on “Lovely Temptress – 2

  1. Pingback: Lovely Temptress – Synopsis and Links « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s