Lovely Temptress – 3

Belum selesai rasa terkejut Larry, tiba-tiba Celia menarik koper miliknya dan berlari panik. Menabrak beberapa bangku dan berlari menuju ke….

Kemana perempuan itu pergi?

Dengan mata terpicing, Larry menatap punggung Celia yang sekarang sudah cukup jauh, menghilang di antara kerumunan orang. Tapi dengan kaos merah menyalak milik Celia, rasanya mustahil bersembunyi juga.

Dahi Larry mengerut dan bibirnya gatal ingin tertawa melihat perempuan itu berlari dengan sembrono, menabrak beberapa orang, lalu sempat-sempatnya menundung dan meminta maaf pada mereka.

Yakin kalau Celia sedang melarikan diri dari sesuatu, mungkin seseorang. Larry menoleh ke arah sebaliknya. Mencari beberapa tersangka pengejar.

Mata Larry dengan lihai menelusuri dan mengamati orang-orang. Tidak ada yang patut dicurigai.

Sebetulnya apa yang dilihat oleh Celia?

Mungkin lebih cepat mengejar perempuan itu dan bertanya langsung.

Baru juga Larry menapakan kaki keluar dari lounge, seorang laki-laki berumur, mungkin sekitar awal 40 berlari sambil meneriakkan nama Celia.

Laki-laki itu berlari cukup cepat, tapi tidak cukup cepat menghindari Larry. Tanpa sengaja, Larry berdiri di lintasan lari laki-laki tersebut, namun kali ini Ia beruntung, ia terjatuh menimpa laki-laki tersebut.

Jadi sementara ini pantatnya cukup aman.

“I’m sorry, did i hurt you?” cerocos Larry, dilanjutkan dengan serentetan pertanyaan sok peduli seperti: apa ada yang sakit? Sakit di bagian mana? Semua sengaja dengan bahasa Inggris.

Larry bertanya terus, sambil memeganggi pundak pria itu dan melakukan aksi pemeriksaan layaknya dokter kawakan. Menaikan tangan satu per satu, kemudian kaki dan memutar bapak itu ke kiri dan kanan.

Sikap Larry tampaknya menghambat, menganggu dan mengelitik syaraf marah si bapak. Karena buktinya si bapak, mengaum dan memarahi Larry, “I’m fine! Let me go.”

Matanya berkedip dua kali sebelum Larry melepaskan tangannya, yang saat ini mengangkat kaki kanan si bapak, membuat kaki si bapak terantuk ubin lantai.

Jadi rasanya cukup maklum jika berikutnya si bapak ngamuk sejadi-jadinya dan mulai memukul lengan Larry. Tidak sampai 5 kali, Larry menghitung setiap pukulan yang ia terima, jadi cukup akurat. Ia memberontak dan menjauh.

Harga diri Larry sedikit terusik, namun ia tidak sanggup membalas. Dari kecil ia sudah diajari  untuk selalu menghormati orang tua. Walau saat ini orang tuanya tidak akan bisa memarahinya kalau seandainya Larry melanggar ajaran tersebut.

Mereka bahkan tidak lagi bisa memuji saat ini karena telah menemukan penjahatan yang telah menjebak ayah hingga bangkrut dan di penjara.

Tidak ada lagi ibu yang mengatakan bahwa ia sudah berusaha keras. Tidak ada lagi ayah yang akan mengodanya karena telah terpesona pada perempuan yang bahkan belum bisa dikatakan wanita.

“Kamu tuli ya?”

Larry mendongkak, seraya jiwanya kembali ke dunia nyata. Dengan wajah kaku, Larry membungkuk dan mengucapkan maaf sekali lagi. Kemudian lari secepat mungkin menuju gate.

Hanya itu langkah yang tersisa bagi Larry jika ia ingin tetap memegang teguh ajaran orang tuanya.

Ia mengatur nafas begitu juga dengan langkah dan pakaiannya. Dengan senyum ramah ditunjukannya boarding pass pada sang pramugari cantik.

Benar, ia harus kembali berkonsentrasi pada rencana besarnya. Ia tidak oulang ke Jakarta untuk tersandung dan bermain. Ia datang menghancurkan dan mencari keadilan. Untuk itu Larry perlu menguatkan hati, pikiran dan tubuhnya.

Ia membutuhnya seluruh akal sehat dan pikirannya untuk tetap berjalan dengan teguh. Tidak ada waktu untuk mengurusi Celia.

Apapun bentuk hubungan mereka. Atau betapa suka dirinya pada perempuan itu.

Ia yakin, ia sudah cukup meyakinkan dirinya sendiri. Sampai Celia berdiri dari balik bangku pesawat, melambai riang padanya dengan senyum secerah matahari.

Celia, adik? Hmph. Mungkin di kehidupan berikutnya.

Tidak, di kehidupan berikutnya pun, Larry yakin ia tidak mungkin bisa melihat Celia sebagai keluarga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s