Lovely Temptress – 4

“Kenapa lama?” tanya Celia begitu Larry duduk.

Satu alis Larry menukik, mengingat segala kerepotan yang ia alami tadi. Sedikit banyak dan dalam ketidak sengajaan ia telah membantu anak ini melarikan diri bukan?

Tadi ia menyadari kalau wajag bapak tersebut mirip dengan Celia. Mereka sama-sama mempunyai wajah berbentuk hati, mata belo dan  alis melengkung seperti bulan sabit.

Mungkin ini saatnya menagih hutang pada Celia.

“Tadi aku bertabrakan dengan bapak-bapak galak. Tanganku sampai sakit dipukul olehnya.” keluh Larry seraya mengelus-elus lengan kirinya yang sebetulnya tidak sakit-sakit amat. Tapi sedikit rasa bersalah rasanya akan membantu.

Wajah Celia memucat sedikit, belum cukup memuaskan bagi Larry, jadi ia menambahkan dengan berkata, “Aduh, kok kakiku nyut-nyutan ya?”

Larry belaga memijat kakinya, sambil menyeringai dalam hati, begitu Celia semakin panik, Larry tidak tahan untuk tidak tertawa.

“Gotcha!” seru Larry.

Walau Celia sempat terbengong-bengong sesaat, dengan cepat ia memulihkan dirinya dan menyubit lengan Larry yang katanya sakit tadi, karena gemas.

Mana ia tahu pria besar seperti Larry bisa bertindak kekanak-kanakan dan mengodanya seperti ini. Membuat ia khawatir sekaligus merasa super bersalah.

Ia pikir ia sudah membuat luka Larry bertambah, terlebih begitu mendengar Papa memukul Larry. Ia cukup akrab dengan pukulan Papa. walau tidak pernah merasakannya sendiri. papa terlalu menyayanginya untuk melakukan tindakan kekerasan seperti itu. Tapi tidak pada orang lain.

Saat Celia berusia 4 tahun, ia melihat Pak Marsid, yang saat itu bekerja sebagai sekertaris Papa keluar dari ruang belajar Papa dengan bibir memar. Suara Papa mengelegar mengusir dan memecat Pak Marsid.

Lalu Papa keluar dari ruangan terkejut, membuat Celia terkejut dan menabrak guci cina kesayangan Papa hingga pecah.Celia langsung ketakutan dan menangis meraung-raung.

Saat itu Celia yakin kalau Papa akan memukulnya, menghukumnya dengan berat, mungkin mengusir Celia seperti Papa mengusir Pak Marsid.

Dibutuhkan waktu berjam-jam untuk meyakinkan dan menenangannya. Papa sampai memanggil tukang es puter yang biasa keliling di sekitar rumah.
Sebagai anak kecil yang lugu, Celia mengambil es putar tersebut dan berdamai dengan Papa.

Kalau dipikir-pikir, mungkin itu pertama kalinya bagi Celia untuk memahami bahwa setiap orang mempunyai dua sisi muka. Karena sejak hari itu ia menjadi anak yang selalu bepikir dua kali sebelum memutuskan segala hal. Menjadi anak yang selalu percaya bahwa ada sebab dibalik segala hal yang terjadi.

Air mata Celia mengintip, dasar anak manja, baru juga beberapa jam jauh dari Papa. Celia sudah rindu padanya.

Rasa bersalah karena sudah meninggalkan Papa, membuat air mata Celia semakin mendesak tumpah.

Larry salah mengira. “Jangan nangis dong. Aku minta maaf deh, kalau bercandanya kelewatan.” Ia mengulurkan sapu tangannya untuk Celia.

Sekali lagi Celia menatap Larry, membisu sebentar, sebekum telunjuknya menusuk pinggang Larry dan membuat laki-laki itu beringsut dan mengaduh kesakitan. Sebeum akhirnya tertawa cekikikan karena Celia tidak menghentikan serangannya.

Tidak akan berhenti sebelum Larry sungguh-sungguh meminta ampun padanya.

Biar saja Larry lebih tua darinya. Celia tidak mau disepelekan.

Umurnya boleh 18 tapi ia yakin ia cukup berpengalaman menghadapi kenakalan laki-laki. Tumbuh besar bersama Dorian dan Charles, kakak Dorian, membuat Celia harus selalu kreatif dan defensif agar tidak dikucilkan.

Ia bahakan belajar untuk tidak menangis jika terjatuh. Atau Ia akan di tinggalkan dan harus seorang diri bermain di rumah.

Larry meyerah.”Stop, stop. Aku menyerah. Aku mengaku salah.” Ia menangkap dua tangan Celia. Pengakuan yang datang sedikit terlambat. Seorang pramugari datang menghampiri dan memberi kuliah singkat mengenai ketenangan umum dan sebagainya. Padahal bertengkar fisik di dalam pesawat tidak pernah termasuk dalam agenda Larry hari ini.

Usai mengucapkan maaf, Larry duduk kembali dan menoleh pada Celia.

Dasar anak nakal, anak itu malah tersenyum lebar, sepertinya puas sekali sudah membuatnya malu.

Tidak menerima dikerjai, Larry melakukan aksi bisu. Mengambil tutup mata dan pura-pura tidur. Mungkin ia akan terbangun nanti. Jika ia lapar atau jika ia memutuskan untuk memperdalam persahabatannya dengan Celia.

Advertisements

One thought on “Lovely Temptress – 4

  1. Pingback: Lovely Temptress – Synopsis and Links « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s