Damn, I love you – Chapter 11

Micky telah duduk di beranda rumah sejak ia tiba di rumah. Dengan rokok dan bir sebagai teman berbagi kesusahan. Dalam benaknya, wajah panik Yunna terus muncul, mempermainkan emosi Micky.

Yunna yang biasanya bersikap tegar dan angkuh. Yunna yang biasanya menampilkan wajah tidak peduli. Yunna yang tidak pernah terlihat takut telah kabur ke tempat terpencil untuk bersembunyi.

Micky melempar kaleng beer ke dalam tong sampah di seberang beranda. Continue reading

Damn, I love you – Chapter 10

“Satu masalah selesai.” bisik Micky.  Dirangkul Yunna lebih erat. Perempuan itu terlihat bisa pingsan kapan saja.

Lucu juga, Micky tidak pernah menyangka kalau Yunna akan panik saat berdiri di depan umum. Micky tersenyum dalam hati. Yunna ternyata memilki kelemahan! Mungkin seharusnya ia bersorak karena akhirnya ia memiliki sesuatu yang lebih unggul dibanding Yunna. Micky tidak pernah punya masalah untuk tampil di depan orang banyak. Baik sekedar bernyanyi atau berpidato. Mungkin nanti dia bisa mengajari Yunna? Continue reading

Damn, I love You – chapter 9

“Kenapa Simon sampai harus menyuruhmu? Apa yang akan kamu dapatkan sebagai gantinya?”

“Kenapa kamu berpikir aku akan mendapatkan sesuatu? Bisa saja aku hanya diberikan perintah dan harus menaatinya.” elak Micky.

Micky tidak merasa heran Yunna mencurigainya. Mereka sudah menyelidiki dirinya bukan. Cukup mudah menghubungkan titik-titiknya dengan otak Yunna yang cerdas. Yang menjadi pertanyaan seberapa jauh Yunna mengetahui rencananya dan seberapa banyak Micky harus berterus terang pada Yunna.  Continue reading

Damn, I love you – chapter 8

Micky masih tidak percaya ia menuruti begitu saja perintah Yunna. Ia melesat begitu mendapat telepon dari perempuan itu tanpa mempertimbangkan tujuannya.

Well, ia tahu bahwa yang ia tuju itu apartment baru di daerah KangNam yang harganya bermiliyaran. Kawasan elite yang bernuansa barat. Tapi ia tidak menduga kalau alamat Yunna itu merupakan penthouse yang harganya belasan Miliyar. Continue reading

Damn, I love you – chapter 7

Apapun rencana Yunna untuk hari ini. ia terpaksa membatalkannya. Seharian ini ia terus disibukan oleh pekerjaan, meeting, konsultasi dan seribu satu macam masalah. Yunna sampai harus membatalkan beberapa janjinya agar ia bisa makan siang dengan tenang.

“Missy, kalau aku tidak mengenalmu, aku akan menganggap kamu sedang melarikan diri dari tanggung jawab.” omel Big saat ia menemukan Yunna berjemur di atap gedung.

Yunna mengintip dari balik kacamata hitamnya dan kembali memasang tampang cuek. Sekali-sekali boleh dong ia bersikap sesukanya. Matanya berkunang-kunang karena terlalu banyak melihat model pakaian dan pola. Continue reading

Damn, I love you – chapter 5

Big berdiri dengan menyilangkan tangan di dada dan posisi beristirahat. Ia menurunkan kacamata hitamnya. Ia perlu melihat Yunna dan membuat Yunna melihat dirinya.

Sedari tadi ia sudah menahan diri untuk tidak memprotes kedekatan Micky pada Yunna. tapi karena ia cukup mengenal Nona yang dijaganya 10 tahun ini, ia tahu Yunna hanya ingin mengelabyhi orang tuanya.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa harus artis ini? Kenapa sekarang dan kenapa Big cemburu! Continue reading

Damn, I love you – chapter 6

“Apa rencanamu, Nona?” tanya Big tidak membuang waktu. Ia tidak menunggu mereka sampai di penthouse dan langsung menanyai Yunna begitu mereka masuk ke dalam lift khusus pemilik penthouse.

“Malam ini aku ingin istirahat. Cukup pastikan pihak Jepang siap menjemput kita besok. Kamu sudah lihat laporan keuangan cabang kita di Tokyo?”

Big melepas kacamatanya dan memberikan tatapan yang harusnya mengusik kesadaran Yunna, tapi ia telah mengajari Yunna dengan baik rupanya. Yunna bahkan tidak termakan gertakannya. Berterus terang mungkin lebih efektif untuk menyadarakan Yunna. “Apa maksud kamu dengan memcium Micky tadi?” Continue reading