Lovely Temptress – 5

“Larry.” panggil Celia, membangunkan laki-laki itu. “Larry!” bisiknya tidak sabar.
Sudah 5 jam sejak Larry tertidur dan mengacuhkannya. Rasanya sudah cukup waktu untuknya merajuk.

Terus terang Celia segan untuk membangunkan Larry, hanya saja ia tidak lagi sanggup menahan sistem pembuangannya lebih lama lagi. Ia sudah menahan diri cukup lama, sampai-sampai Celi yakin, ia bisa kencing berdiri.

Digoncangnya lagi pundak Larry, berharap kali ini ia lebih beruntung. Tapi kelihatannya peruntunagnnya masih jauh. Larry tetap tertidur.

Sial, jangan-jangan dia sengaja lagi. Ditatapnya wajah pulas Larry. Mungkin ia bisa keluar kalau ia memanjat dan melompati bangku Larry.

Celia mulai melepaskan sabuk pengaman, memanjat ke atas bangku dan melangkahi tubuh Larry. Dengan hati-hati dan sepelan mungkin.

Tapi dasar sial, salah satu pramugari melihat aksi Celia dan mulai berjalan menghampiri.

Rasa panik menyerbu Celia tanpa ampun, dengan kebulatan tekad untuk melarikan dari, Celia keluar dari deretan tempat duduknya dalam satu lompatan. Tapi tentu tidak ada yang mengharap banyak pada kemampuan olaraga Celia, mengingat betapa ceroboh dan kikuknya Celia.

Dengan sukses, Celia mendarat terkurap dengan kepala nyaris menyentuh lantai pesawat. Perutnya di atas pamgkuan Larry dan tidak perlu dijelaskan lagi kalau ia membuat Larry terbangun.

Celia malu luar biasa. Mukanya kontan memrah saat Larry mengulurkan tangan untuk membantunya kembali duduk.

Tapi mungkin tidak ada yang lebih membuat Celia ingin mengali tanah dan mengubur dirinyia sendiri selain senyuman sombong dan merendahkan dari Larry.

“Oh, please! Ketawa saja kalau mau. Aku tahu kejadian tadi cukup lucu. Tapi aku tidak akan minta maaf karena sudah membuat kamu terbangun.” Membuat Larry menatapnya namun jelas masih ingin menertawakan Celia. Setidaknya mata Larry menyiratkan demikian.

“Salahku?”

“Ya, tentu saja salahmu. Kalau kamu bersedia bangun, aku tidak akan berusaha memanjat bangku dan keluar dari tempat ini.”

“Membangunkan aku?”

Alis Larry terangkat satu menunjukan ketidak setujuan. Bagaimana mungkin ia setuju dipersalahkan untuk hal yang bahkan tidak ia pahami. Seumur hidup ini, tidsk pernah sekalipun ia tidur sampai tidak sadar telah dibangunkan.

“Ah, sudah lupakan saja. Sekarang permisi dulu. Aku mau ke wc. Aku tidak menjamin keselamatan tempat duduk kita semenit lagi. Rasanya aku bisa….”

Serta merta, Larry bangkit berdiri, menarik dan mendorong Celia keluar. Tidak peduli seberapa besar ia suka berdebat dengan Celia, ia tidak yakin ia sanggup menghadapi tempat duduk bau pesing.

Begitu ia memastikan Celia masuk ke dalam toilet, ia menarik tas tangan Celia dan mencari dompet serta paspor perempuan itu.

Ada sesuatu yang perlu diketahuinya sebelum semuanya terlambat.

Hanya detail kecil mengenai Celia sebelum ia memulai rencana balas dendamnya.

“Kamu ngapain?” tanya Celia, menatap Larry, tangan Larry yang memegangi dompet miliknya.

“Nama kamu Marcel?” tanya Larry seakan tidak menyadari kekesalan Celia.

Celia merebut passport berikut tas dari Larry dan mendorong laki-laki itu. Balas mengacuhkannya.

Ia memeriksa kembali isi tasnya. Dompet, passport, ipod semua ada. Kecuali diarynya.
Dengan terpaksa, Celia mendongkakkan kepala dan melihat Larry sudah sibuk membaca diarynya. Dengan suara lantang.

“Today he’ll come and i should confess to him. Oh my God. I hope he’ll accept it, or i’ll be doom and….”

Celia menyambar buku kecil dengan sampul coklat dari tangan Larry. Menyesali dirinya yang sudah menulis dalam bahasa Inggris, membuat semua orang di dalam pesawat, mereka yang bangun, atau mungkin yang terbangun karena kegaduhan mereka.

Intinya 3 gadis melirik padanya dan tertawa cekikikan. 1 bapak-bapak mengelekan kepala dan shit, cowok bule yang tadinya mau Celia ajak kenalan melihatnya konyol.

Dengan kekesalan bejibun, Celia duduk kembali, memeluk tas dan memejamkan mata.

“Cel, marah ya?” toel Larry, sekedar mencoba. Ia tahu pasti ia sudah membuat Celia marah, tapi situasi tadi tidak bisa ditolong lagi. Ia tidak mungkin menjawab kalau ditanya mengapa ia mengorek-ngorek tas perempuan ini.

“Cel….i’m sorry, I know it’s a lame joke. But I’m tempted. Kamu juga pasti akan melakukan yang sama. Aku yakin.” Melihat Celia tidak bergeming, Larry mengeluarkan senjata terakhirnya.

Coklat. Semua perempuan suka coklat kan?

Ia menyelipkan coklat tersebut ke tangan Celia, untungnya Celia tidak melempar coklat tersebut. Tapi dia juga tidak membuka mata untuk melihatnya.

“Sebaiknya kamu buka mata sebelum coklatnya nempel ke tas kamu. Setahuku agak sulit menghilangkan noda coklat dari bahan kulit.”

Usaha menakut-nakuti Larry sukses.

Celia membuka matanya dan plak, melempar coklat Snickers itu tepat ke jidat Larry.

“Auuuww…”teriak Larry. “Well?”

jidat mulai terassa panas. Tapi Larry menolak menunjukan rasa sakit. Jadi Ia hanya menatap Celia.

Ia tidak perlu menunggu lama untuk melihat bibir Celia yang mengerut berubah menjadi kedutan-kedutan.

Jelas Celia sedang menahan tawanya agar tidak menyembur keluar. Dan Larry tahu dengan pasti apa yang membuat perempuanitu tertawa.

Jidatnya pasti semerah pantat bayi.

Advertisements

One thought on “Lovely Temptress – 5

  1. Pingback: Lovely Temptress – Synopsis and Links « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s