Lovely Temptress – 6

July 2009

Matahari terik menyirami kota New York tanpa ampun. Tapi sepertinya tidak mempengaruhi mood Celia. Ia tetap berlari dengan irama teratur. Malah ia senang hari ini ia bisa kembali ke berlari di Central Park. Beberapa hari ini hujan turun terlalu deras dan membuat suasana hatinya muram.

Mungkin bukan salah cuaca di New York yang membuat Celia uring-uringan. Moodnya memang sudah jelek seminggu ini.

Semua dimulais sejak ia ditodong perrtanyaan soal berita Larry mengencani supermodel Adriana yang amat dipuja di New York, malah mungkin oleh seluruh Amerika. Kenyataan bahwa Larry adalahorang Asia membuat gossip tersebut semakin ramai. Beberapa bahkan degnan tegas menyudutkan Larry dan mengolok-olok Adriana karena terpikat laki-laki berkulit kuning. Tapi Celia tidak sempat mengurusi angry citizen sebab menangai pertanyaan teman-teman di kampus sudah cukup membaut kepalanya pening.

Teman-temannya tahu kalau Larry adalah wali Celia. Jawabannya yang tidak tahu, malah membuat mereka semakin penasaran dan mereka mulai meng

Padahal kampus Kulinery seperti yang diikuti oleh Celia biasanya paling tidak terjamah a.k.a terisolasi dari dunia luar.

Yang menarik bagi para calon koki hanya cara membuat daging sapi mereka masak sempurna dan cara menyenangkan hati Chef Vanya. Chef killer yangsebetulnya senior mereka juga. Tapi prestasi Vanya terlewat berkilau.

Bahkan ada pojok khusus di billboard kampus yang khusus menuliskan sepak terjang Vanya.

Tahun pertama memenangkan kompetisi American Junior Chef. Tahun kedua menjadi assitant chef di Four Season Hotel yang terkenal sulit dan bergaji 6 digit in US dollar per annum. Yang paling menyebalkan, Vanya ditunjuk untuk membimbing freshman dan sophomore padahal Vanya sendiri belum lulus.

Suramnya lagi, laki-laki itu seperti membenci kehadiran Celia yang memang hanya satu-satunya perempuan dari 7 orang freshman di Cordon-Blue.

Memikirkan rasist itu membuat mood Celia semakin buruk.
Diputarnya suara ipod lebih kencang dan Celia memacu kakinya agar belari lebih cepat. Barang kali dengan semua emosi dan kekesalannya saat ini ia sanggup membuat rekor baru. Mengelilingi East Meadow dalam waktu 30 menit?

“I’ll pay a penny for your thought.” tegur Larry. Tentunya ia harus mencopot earphone di kuping Celia lebih dulu dan pastinya mengundang perempuan itu berhenti berlari dan memekik. Kencang.

Mungkin terkejut, mungkin marah. Larry lebih memilih kemungkinan yang pertama walau ia tidak mengerti dimana letak kejuan kehadirannya. Mereka sudah janji untuk lari pagi bersama dan walaupun ia tidak berjanji, ia pasti muncul juga untuk menemani Celia.

Perempuan ini masih menanggap New York, kota yang aman dan tidak pecaya kalau di daerah elite seperti Central Park seperti ini akan ada penjahat yang siap melakukan kejahatan.

Celia meninju dada Larry. Betul-betul meninju dengan kepalan, bukan pukulan asal ala perempuan. Walau sakit, Larry tidak menunjukannya.

“Don’t.” satu pukulan, “Do.” pukulan lagi, “That.” pukulan lebih kencang, “Ever.” pukulan lain tapi untungnya tidak sekencang sebelumnya. Larry yakin dada kanan yang dijadikan sasaran amuk Celia sekarang semerah pantat babon. Jadi ia memutuskan menangkap pukulan berikutnya dan menahan tangan Celia di dadanya.

“Again.” erang Celia kesal. Ia mencubit dada Larry.

“Auuuuuuw!” Larry melepaskan gengagamannya dan mengusap bekas cubitan tersebut, “Kenapa sih kamu brutal banget?”
Sepertinya ia salah berpikir Celia sudah puas menyiksanya jadi ia tidak mengantisipasi tendangan Celia. Buk, tepat mengenai tulang kering sebelah kanannya. Membuat Larry membali mengerang.

“You better stop it Lady.” ancam Larry, “or…”

“Or what?” tantang Celia balik. Sebagian kemarahannya sudah tersalurkan, tapi hanya sebagian. Sisa kemarahannya masih menyekat.

“Or you will never get you cruise ticket. Aku tahu kamu sangat teramat ingin ikut mencoba masakan Chef Raid Nasr.”

Celia mendengus bosan dengan akal-akalan Larry. Laki-laki itu sudah mengunakan ancaman ini berkali-kali selama seminggu. Dari sekedar untuk membuatnya bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan sampai mencucikan pakaian kotor Larry.

Ia bahkan tidak pernah tahu kalau laki-laki memerlukan lebih dari 2 pakaian untuk satu hari. rasanya dulu Papa tidak pernah repot-repot menganti pakaiannya hanya sekedar untuk bertemu klien, lalu mengantinya lagi di sore hari saat bertemu klien lain dan mengangtinya lagi untuk berkencan.

“Another penny for your thought, my Dear Celia. Karena sepertinya isi pikiranmu itu sanggup membuat kamu diam. Bahkan aku yang sebulan ini mengenal kamu belum pernah melihat kamu sediam sekarang.”

Tendangan lainnya diluncurkan oleh celia, tapi kali ini Larry lebih sigap, ia menghindar dengan sempurna bahkan sempat-sempatnya mengeluarkan tiket Cruise dining dari saku celana training.

Celia meloncat, mengapai tiket tersebut dan membelalakan matanya, tidak percaya kalau Larry sungguh-sungguh kali ini. Ia membaca kata demi kata.

Full Moon Dining Cruise on Summer night. Course by Chef Raid Nasr. Date: 30th of July.

Tiga hari dari sekarang.

Theme: Warewolf or vampire,

Dine or be dine

Celia melotot. Membaca sekali lagi. lagi. Lagi.

“Ada apa?” larry emnghampiri Celia, bingung apalagi yang membaut Celia terlihat panik sekarang.

“Larry, warewolf or vampire? Memangnya ini acara santap malam apa? Kenapa ada pesta kostum segala? Bilang kalau aku salah baca, please. Mau cari kemana bajunya?” Celia masih memegangi tiket tersebut dan meneliti sekali lagi. Brharap tulisan itu akan berubah.

Tapi tidak, Larry membaca hal yang sama dengannya, “Warewolf or vampire. Aku pikir demam vampire sudah lewat.”

Celia merebut tiket dari tangan Larry dan membaca lagi. Sekarang ia harus melepaskan keinginannya. Tidak mungkin ia menemukan kostum yang pantas. Mengenal komunitas New Yorker, mereka tidak mungkin mengijinkannya masuk jika berpakaian tidak sesuai permintaan. Walaupun ia memiliki tiket masuk.

Larry tersenyum dan mengantungi kembali tiket tersebut ke dalam celananya dan memasangkan kembali earphone ke kuping Celia, memutar tubuh peerempuan itu kembali ke trek lari dan mendorongnya.

Celia memberontak, mencopot kembali earphone dan mulai histeris, “Kamu ngak denger ya, Larry? Aku bilang aku ngak punya kostum. Kalau kamu belum paham, aku ngak bisa masuk ke kapal tanpa kostum tersebut.”

“I know. But Adriana does.” Jawab Larry santai, sekali lagi ia mencoba memasangkan earphone tersebut ke kuping Celia.

Dan sekali lagi ditepis Celia. Malah sekarang earphone itu dijejalkan ke dalam kantung jaket Celia. Memuuskan harapan Larry untuk membuat Celia kembali berlari dan menyelesaikan acara lari pagi mereka yang sepertinya sekarang bisa disebut lari siang.

“Adriana?!” Kening Celia mengerut, mungkin ia harus memberitahu fakta lain pada Larry. Fakta kalau ukuran tubuhnya itu 6 bukan 0 seperti Adriana. Yang artinya ia gemuk dan jauh lebih besar daripada pacar Larry yang bak biola.

“Adriana. Dan bukan, Celia, bukan baju Adriana. Tapi dia yang akan menyiapkan baju untukmu. Karena aku, sahabatmu yang baik ini tahu kamu tidak akan punya waktu untuk berbelanja karena kamu, calon koki yang terhormat harus membuat simple cake dan meat pies. Itu kan tugas yang harus kamu selesaikan?”

Celia tertawa mendengar Larry salah menyebut Simnel cake, cake dari marzipan dan buah kering. Tapi setidaknya Larry masih mengingat kesibukannya.

“Simnel Cake, Larry. Sim-nel.”

“Sim-nel. Sekarang beritahu aku, I’m forgiven?”

“Yes. Kamu dimaafkan.” jawab Celia disela tawanya. Moodnya berubah baik.

“Bagus. Aku senang walau aku ngak tahu salah aku apa.”

Celia kembali tertawa. “Salah kamu…hmmm…mari kita lihat….”

Larry mengeleng, “Masa sih sebanyak itu?”

Tawa Celia semakin ceria dan niat menjahili Larry timbul, “Kamu, Larry. Sudah membuat aku menderita seminggu ini. Daniel ngak berhenti nanyain status kamu dengan Adriana. Jangan tertawa, kamu tahu betapa konyolnya dia. Dan sumpah, aku ngak pernah tahu cowok Amrik itu lebih bawel, lebih menuntut dan lebih gila dibanding cowok-cowok di Indo.”

Larry tertawa mengingat teman Celia yang satu itu. Memang benar terkadang pria Amerika ini lebih busy body, tapi itu hanya 3 persen dari seluruh populasi di sini.Ccelia saja yang sial harus mengenal satu dari minoritas tersebut. Tapi Larry tahu Celia menyayangi Daniel. Satu-satunya orang yang mau bteman dengan Celia di Cordon Blue.

Ia tahu betapa menyebalkannya menjadi orang Asia dan bekerja di lingkungan keras yang didominasi oleh pria. Ia sendiri mengalaminya. Situasi Celia apsti lebih buruk karena bukan hanya berkulit kuning, Celia juga perempuan. Perempuan yang cerdas dan pantang menyerah.

Larry membiarkan Celia mengeluarkan semua kekesalannya, memarahinya karena sudah mempersulit hidupnya dan mengeluhkan semua yang bisa Celia keluhkan.

Setidaknya Dengan menjadi pendengar, Larry tidak perlu berkomentar terlalu banyak dan membocorkan pikirannya sendiri. Pikiran yang jika meluncur keluar dari mulutnya akan membaut Celia terpana dan membencinya.

Advertisements

One thought on “Lovely Temptress – 6

  1. Pingback: Lovely Temptress – Synopsis and Links « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s