Damn, I love you – chapter 1

Micky sedang duduk di ruang tunggu komisaris LIME. agency tempat ia dan teman-temannya bernaung.

LIME adalah perusahan yang sudah membesarkan banyak artis idola di Korea Selatan ini sejak tahun 80-an. Salah satu perusahaan yang paling berpengaruh di kancah dunia entertainment. LIME menelurkan banyak model, aktor dan komedian. Tapi yang paling mengangkat nama LIME adalah divisi penyanyi idolanya. Terlebih sejak nama Fox-T berkibar dalam hitungan kurang dari satu tahun.

Micky memandang bosan ke arah ruang lobby. Petang hari seperti ini suasana lantai bawah LIME seperti pemakaman umum. Hening dan muram.

Micky tidak menyalahkan kekosongan ini. Siapa juga yang bersedia lembur dengan minimnya gaji yang diberikan oleh LIME. Paling-paling hanya para petinggi perusahaan atau orang-orang yang memerlukan bantuan khusus seperti dirinya, saat ini.

Tiba-tiba suasana lobby berubah ramai. Ia melihat manager Fendora muncul bersama 9 anak didiknya, sepertinya mereka bersiap menyambut seseorang.

Perempuan hujan itu.

Jantung Micky seakan behenti ketika ia melihat perempuan hujan itu masuk ke lobby, diiringi oleh pria berbadan kekar. Bersama-sama mereka disambut dengan ramah oleh manager Fendora.

Tidak ada senyum balasan dari perempuan hujan itu. Dia hanya mengangguk dingin dan berjalan mengikuti manager Fendora.

Micky tidak tahu harus merasa senang karena bisa bertemu dengannya lagi atau justru harus merasa was-was. Masih teringat jelas dalam pikirannya reaksi tubuhnya ketika bertemu dengannya.

Ia mengerang, bahkan dulu ia hanya melihat perempuan itu tersneyum di balik kemudi dan seluruh pikiran dan tubuhnya lumpuh total.

Tidak, tidak ada hal yang baik terjadi jika ia berniat mendekati perempuan itu sekarang. Saat ini seluruh waktunya sudah habis untuk bekerja dan mengurus ijin liburannya.

Ia perlu berangkat ke Amerika secepat mungkin untuk membawa Mama dan Ricky kembali ke Seoul. Tante Grace tetap bersikeras kalau restorannya akan bangkrut jika mama sebagai master chef tidak berada di tempat. Tidak peduli bujuk rayu yang telah Micky lontarkan.

Dan bisa-bisanya ia mengaku sebagai perayu ulung, jika membuat Tante Grace mempercayainya saja tidak bisa. Micky betul-betul merasa tidak berdaya akhir-akhir ini.

Ia kembali memandangi lobby, berharap perempuan hujan itu sudah menyelesaikan apa pun urusannya dengan manager Fendora dan muncul kembali di bawah sana. Ia berharap bisa mendapat sedikit keberuntungan malam ini.

Thanks God. Perempuan itu muncul kembali. Dahi Micky merengut saat melihat perempuan itu terkesan terburu-buru.

Micky tidak sadar kalau sedari tadi ia sudah menjadi tontonan teman-temannya. Bahkan Micky tidak mendengar ketika Ben bertanya, “Micky, kamu yakin mau bertemu dengan Pak Simon sekarang?”

Melihat Micky yang sibuk sendiri, Jack mengambil inisiatif menjawab Ben. “Tidak ada pilihan. Tante Grace meminta Micky datang ke Virginia dan membawa mamanya pulang sendiri.”

Tidak puas diacuhkan, Ben menusuk pundak Micky, “Memangnya adikmu ngak bisa menyakinkan Tantemu langusng biar ngak boros ongkos?”

Micky memang menoleh tapi ia cuma menatap Ben bingung, jiwa dan otaknya sedang tidak berada bersama tubuhnya. Ia meminta Ben mengulang pertanyaanya dengan pikiran kosong.

Ben menghela nafas dan mengulangnya dengan perlahan. Berharap dengan mengucapkan kata demi kata Micky yang mungkin sedang mengalami gagal otak bisa mengerti ucapannya lebih baik. Semua orang tahu Micky bisa menjadi orang idiot jika sendang tegang.

Micky menaikan satu alis, dan memberi tatapan Menurut-kamu? pada temannya itu.

Ben, menjadi Ben yang biasa, lambat berpikir dan kurang informasi, mulai sebal dengan sikap Micky yang acuh. Padahal dia berada di depan kantor Pak Simon demi menemani siapa coba. Ia menoleh pada Max yang tertawa. Mentertawakan dia pastinya. Heran, dia bukan yang paling muda diantara mereka berlima tapi tetap saja dirinay yang menjadi bulan-bulan kelompok mereka.

“Diem deh. Anak kecil.” umpat Ben kesal.

“Well, biarpun aku anak kecil. Setidaknya aku lebih tahu apa yang menarik perhatian uri hyung1.”

Max menangkap kepala Ben dengan dua tangannya yang super lebar dan memutar kepala temannya ke belakang. Mengikuti arah pandang Micky.

Reaksi pertama Ben, bibirnya siap mengeluarkan sumpah serapah pada Max, sudah saatnya menghentikan kekurang ajaran Max. Sebagai yang terkecil diantara mereka, Max harusnya tunduk bukan membabi buta memamerkan kekuatannya. Namun saat Ben melihat apa yang membuat Micky terbengong-bengong, ia bersiul.

“Cewek dari mana itu?” seru Ben mengomentari.

Kali ini Micky menyahut tanpa sadar, “Kalau aku tahu, ngak mungkin diam di sini.”

Ben nyengir bebek mendengar jawaban Micky, setelah mengacuhkannya berjam-jam, hanay itu kalimat yang diucapkan Micky. Ben siap mengamuk tapi perhatian segera teralih ketika melihat pria tinggi besar menyusul perempuan yang di’kagumi” Micky.

Alex yang jadi ikut memperhatikan tidak tahan untuk tidak berkomentar, “Kelihatannya orang penting ya. Aku berani taruhan cowok yang badannya gede itu pengawal dia. Porsi badannya sama nyeremin sama pengawalmu, Ky!”

Jack diam-diam ikut menoleh, sayang perempuan itu keburu keluar dari lobby dan Jack hanya kebagian melihat punggungnya saja.

But, it kills. Punggung itu begitu elegan dan Jack tidak perlu diberitahu oleh Ben atau Max atau bahkan Alex kalau Micky falls for it.

“Oh oh, itu Tiffany.” unjuk Ben pada perempuan jangkuk yang keluar menyusul perempuan tadi, anggota Fendora, grup perempuan terbitan LIME yang sedang naik daun. “Oh, oh, Luna juga!” pekik Ben lagi. Kali ini merajuk junior mereka yang baru debut. Pekikan Ben disambut dengan bungkaman dari Max dan desisan teman-temannya.

“Kira-kira ada apa ya?” tanya Max dan ia mengedipkan mata pada Jack dan disambut dengan senyum penuh arti dari temannya itu.

Tanpa aba-aba, Jack menarik Micky bangun, “Ayoooo.”

Harap dicatat, Jack merengut leher Micky, membuat temannya itu tidak berkutik walau masih sanggup mengeluarkan, “Hapi…hum…hahum…” yang sepertinya berarti, tapi aku harus minta ijin.

“Biar aku yang minta ijin. Kalian turun saja.” sahut Alex mengerti tapi ia menahan Ben yang sepertinya siap mengikuti 3 teman mereka.

Alex tidak akan membiarkan temannya yang naif ini untuk merusak acara detektif-detektifan mereka. Karena Ben tidak akan bisa menyumpal mulutnya barang 1 menit pun. lagipula Alex perlu dukungan moril dari anak emas Lime itu untuk meminta cuti lebih awal. Micky membutuhkan liburan setidaknya 1 bulan untuk meyakinkan Tantenya dan mengurus kepulangan keluarganya. Yang artinya 2 minggu lebih panjang dari yang pernah mereka mereka terima selama bekerja untuk LIME.

Mengingat sejarah LIME selama belasan tahun perusahan itu berdiri, Alex pesimis Pak Simon akan meluluskan permintaannya. Mereka tidak pernah memberikan liburan resmi lebih dari 1 minggu. Sering kali artis-artis yang sedang naik daun harus liburan sambil bekerja. Tentunya ada bonus ekstra.

Alex menghela nafas panjang, dan saat ini, ia tidak yakin pasukannya sanggup menolak jika seandainya Pak Simon menawarkan extra bonus. Setidaknya dirinya dan Max amat membutuhkan pemasukan tambahan.

Alex harus melunaskan cicilan rumah dengan segera dan Max memerlukan uang untuk pengobatan Mamanya.

Kesimpulannya saat ini Alex perlu dukungan dan banyak mujizat.

Sekali lagi, Alex menaikkan doa, memohon penyertaan dan belas kasih.

Advertisements

One thought on “Damn, I love you – chapter 1

  1. Pingback: Damn, I Love You – Synopsis and Links « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s