Damn, I love you – chapter 2

Malam semakin kelam ketika Alex akhirnya pualng ke rumah. Ia duduk di ruang tamu rumah Fox-T – sebutan untuk tempat tinggal bersama mereka. Sebuah rumah dua lantai dengan 3 kamar tidur. 2 kamar mandi. Lumayan luas tapi jelas semakin sempit sekarang. Biarpun mereka berlima cowok, barang mereka tidak kalah banyaknya dengan sepuluh orang cewek dijadikan satu.

Semua bisa dilihat dari susunan koleksi sepatu mereka yang sudah mulai memenuhi ruang tamu. Padahal Micky baru mengganti lemari sepatu mereka bulan lalu. Tapi sepertinya dengan Jack dan Max yang memang doyan membeli sepatu, berapa banyak pun lemariyang disediakan. Akan selalu tidak cukup.

Jack sendiri punya 20 pasang sepatu dan Max hanya 2 pasang lebih sedikit. Micky diurutkan ketiga dan ia lalu Ben menyusul. Kalau ditotal-total ada 70 pasang!

Ok, Alex pasti mulai kurang kerjaan. Menghitung jumlah sepatu yang Fox-T punya. Ia pasti terlalu tegang sampai-sampai kehilangan akal sehatnya. Mungkin ia harus menelpon Ben lagi dan mendesak mereka segera pulang. Memang sulit mengandalkan Ben untuk melakukan sesuatu. Ben terlalu mudah mengikuti permintaan orang lain lalu lupa dengan tujuannya sendiri.

Alex melirik jam tangannya, sudah jam 1 pagi. Perasaan gelisah semakin melilit dirinya, hasil pertemuannya dengan Pak Simon sama sekali tidak mencerahkan. Bahkan permintaannya amat tidak masuk akal.

Alex tidak tahu bagaimana harus menyampaikan persyaratan yang diminta Pak Simon tanpa membuat Micky merasa putus asa.

Dari Pak Simon, Alex tahu bahwa saat ini LIME sedang berusaha mendapatkan kontrak dari CLEO&CO. Tadi siang, anak buahnya gagal meyakinkan pemilik CLEO&CO itu menjalin kontrak dengan Fendora dan Luna. Bukannya berkecil hati, tapi Alex merasa Pak Simon melupakan poin penting dari misi khusus Fox-T ini. CLEO&Co itu perusahaan yang bergerak di clothing line perempuan dan seluruh hal yang berbau perempuan.

Apa yang bisa ditawarkan oleh Fox-T yang akan membuat pemilik CLEO&Co itu ketika 9 perempuan cantik seperti Fendora saja gagal?

Fox-T, biarpun terdiri dari lima cowok keren, memiliki ratusan ribu pengemar. Punya selling power yang luar biasa. Tetap saja tidak akan membawa manfaat apapun untuk CLEO&Co.

Tidak mungkin mereka memakai rok- sekurus apapun pinggang Jack. Tidak mungkin juga Max atau dirinya mengenakan kaos perempuan dan berharap para wanita ingin mengenakan pakaian tersebut, seberapapun hebatnya mereka memodelkan pakaian-pakaian itu. Ben totally out of question. Sejarah Ben yang imut sudah terkubur sejak Ben memutuskan menambah massa otot di seluruh tubuhnya.

Yang tersisa tinggal, Micky. Yang diketahui, diakui dan dinobatkan sebagai most eligable man. dalam tanda kurung, Micky amat pria untuk menjadi perempuan dalam jenis apapun, termasuk waria.

Jadi ide Pak Simon itu gila, tidak masuk akal, tidak mungkin berhasil.

Alex semakin gelisah. Mulai putus asa memikirkan jalan keluar.

Ia perlu membantu Micky untuk mendapatkan liburan ini. Micky sudah menjelaskan dengan gamblang bahwa Tante Grace tidak akan mengijinkan Mama Micky pulang tanpa koki pengganti. Bagaimana Micky akan meyakinkan Tante Grace kalau meyakinkan Boss mereka saja sudah gagal.

Fox-T mengandeng CLEO&Co. Hmph! Tidak akan pernah terjadi kecuali mereka bisa meyakinkan Cleo untuk membuat clothing line pria.

Alex menyerengit sendiri akan ide brilian namun mustahil terlaksanakan itu. Karena berdasarkan kabar burung yang beredar, pemilik CLEO&Co itu sangat sadis dan kaku luar biasa.

“Sial, hancur sudah!” pekik Alex putus asa.

“Siapa yang hancur?” tanya Micky yang masuk paling awal.

Alex kembali mengerang begitu melihat Micky dan teman-temannya pulang.

“Kalian kemana saja sih?” keluh Alex mengulur waktu. Ia jelas perlu mengumpulkan semua kemampuan berbicaranya untuk menyampaikan persyaratan Pak Simon tersebut.

Ben, yang selalu menjadi dirinya sendiri, tidak peka akan kegelisahaan Alex, menceritakan ulang hasil pengintaian 3 temannya tadi. Ia sudah membuat panggilan khusus untuk perempuan tak berhati yang ditaksir Micky – Medusa. Dewi cantik berkepala ular yang jika ditatap matanya akan membuatmu berubah menjadi patung.

Karena menurut Jack, itu yang terjadi saat perempuan itu membuka kacamata hitamnya dan membalas ratapan Tiffany dan Luna. dari dua perempuan itu juga, mereka mengetahui nama sang Medusa. Kim Yunna, sang pemilik CLEO&Co.

“Dia sama sekali tidak tersentuh oleh air mata Tiffany dan Luna. Kita yang melihatnya saja merasa tidak tega.” ujar Max menambahkan.

Alex mendengarkan dalam diam. Ia tahu wajahnya tidak menunjukan ketenangan serupa. tapi a harus berkata apa, Alex juga bingung. Masa dia harus bilang, Micky, perempuan yang kalian bicarakan itu adalah perempuan yang harus kita rayu agar Pak Simon memberikan ijin liburanmu.

Bisa-bisa Micky memutuskan untuk loncat dari teras rumah mereka ini.

Alex memandangi Micky yang sepertinya masih bermuram durja mendapati wanita yang ditaksirnya ternyata memiliki atau dalam hal ini tidak memiliki hati. Untuk seorang yang sangat menghargai perasaan orang lain, amat sulit bagi Micky untuk menerima kenyataan tersebut.

Micky tidak akan bisa bersimpati pada orang yang bersikap semena-mena pada orang lain. Tertarik pada perempuan dingin seperti Kim Yunna sama saja meminta Micky makan buah simalakama.

Temannya yang satu itu sudah mulai mengaduk-aduk isi kulkas tanpa mengeluarkan makanan atau minuman dari sana. Kebiasaan buruk Micky kalau sudah gelisah, yang kemungkinan besar tidak disadari oleh Micky sendiri.

Tapi Jack menyadarinya, dia langsung mengeluarkan botol air dari dalam kulkas dan bersandar di lemari dingin itu, menghalangi Micky untuk mengacaukan isi kulkas yang menjadi daerah kekuasaannya kembali.

Sepertinya cukup berhasil, Micky berjalan ke ruang duduk, tapi tidak ikut duduk bersama, ia mengambil bola basket dari tangan Ben dan mulai mendribel dan melakukan shoot jarak jauh di halaman belakang.

Bagus, sekarang Alex membutuhkan mujizat ketenangan batin selain kepandaian berbicara.

“Jadi apa yang bakalan hancur?” todong Max tidak melupakan perkataan Alex. Malah sebetulnya Alex terkejut Max tidak membungkam mulut Ben dan langsung bertanya padanya.

Dalam satu tarikan nafas, Alex menuturkan ide gila Pak Simon dan dengan sukses membuat Jack berhenti memotong kimchi2. Menurut dugaan Alex, Jack sedang menyiapkan makan malam mereka. Kimchi chige lagi. Bukannya menolak, tapi sudah 3 hari berturut-turut mereka makan malam dengan menu yang sama.

Syukurlah Max memiliki sentimen yang sama, cowok itu turun tangan sendiri merebut kimchi dari tangan Jack dan memohon agar malam ini ia diberi ijin memasak.

Mengenal Max, sepertinya kimchi itu akan digoreng dengan tepung. Jadi pancake kimchi, alternatif yang lebih baik.

“Kamu bercanda kan?” Ben mulai berdiri dan mengacung-acung telunjuknya. Jelas dia terkejut dan menyadari kemustahilan dari misi mereka. “Kita harus membuat Kim Yunna menandatanggani kontrak dengan LIME? Bilang kalau kamu cuma iseng dan mengoda Micky.”

So, sekarang Ben tidak hanya naif, tapi juga budek?

“Memangnya apa untungnya aku usil begitu? Kita tahu betapa pentingnya ijin dari Pak Simon untuk Micky. Percaya deh, aku sudah berusaha menawarkan apa saja untuk mengubah pendirian Pak Simon. Aku bahkan bilang sama Pak Simon kalau kita bersedia melakukan promosi kecil-kecilan di Amrik. Tapi Pak Simon tetep ngotot kalau idenya lebih baik untuk menambahkan nilai jual perusahaannya.”

Alex menurunkan posisi duduknya, dan melirik Micky yang masih seru melakukan one man shoot. Tapi mengenal Micky 5 tahun, ia tahu tidak ada satu kata pun yang tidak didengar olehnya.

“Shit, sepertinya Pak Simon sengaja mempersulit kita. Di saat seperti ini pengen banget kerja di agency lain yang lebih manusiawi.”

Alex tidak mendengarkan lagi ocehan Ben. Ia memperhatikan Micky lekat-lekat. Membaca perubahan ekspresi temannya itu. Dari jarak mereka yang jauh, Alex tidak bisa menilai dengan pasti raut wajah Micky. Mungkin akan lebih mudah kalau ia ikut bermain bersama Micky.

Alex bangun dan menghampiri Micky di halaman. “Mungkin kita bisa membuat Yunna membuka clothing line pria? Aku yakin lebih mudah menjual Fox-T dibanding LIME secara keseluruhan.”

Micky tidak menjawab, tapi Alex tahu Micky mendengar dengannya dengan jelas. Tapi baik dia maupun Micky tahu itu sama saja meminta salju turun di bulan Mei.

Tiba-tiba Max menyerobot bola dari tangan Alex, “Kalau menurutku sih, lebih mudah menaklukan dia dari segi kewanitaan dibanding merayunya untuk mempertaruhkan perusahaannya.”

Saran itu membuat Micky nyengir malas. Bukan ide yang buruk, tapi memikirkan harus merayu seorang perempuan yang tidak tersentuh dengan air mata membuat darah Micky membeku. Sedari tadi ia berusaha mencerna sikap Yunna yang dingin. Ia tidak habis pikir apa yang terjadi selama 2 bulan ini sampai-sampai perempuan hujannya berubah demkian drastis.

Dari perempuan yang mampu tersenyum dengan penuh cinta hingga menjadi sedingin salju.

Jack yang tidak ikut bermain, berteriak dari pinggir lapangan, “Aku tidak tahu apa kita bisa merayu Medusa. Memikirkan cara untuk menerobos pengawalnya saja sudah membuatku malas.”

Max tertawa membenarkan ucapan jack. Pengawal Yunna memang keterlaluan seramnya. Selama ia menjadi artis belum pernah ia melihat bodyguard setinggi 2 meter dan berbadan ala pegulat sepert pengawal Yunna. Tapi karena Jack yang lemah fisik melontarkan fata tersebut, Max tidak bisa menahan diri untuk mencela jack. “Itu sih, kamu saja yang ketakutan. Percuma, Jack, kamu gedein otot kalau masih takut berantem.”

Jack segera membela diri, “Otot ini bukan untuk berkelahi tapi untuk membuat wanita jatuh hati.”

“Dasar narsis. Memangnya belum cukup stalker yang nguntitin kamu? Alasan kamu cetek banget.” timpal Ben yang tahu-tahu sudah satu regu dengan Micky, melakukan pivot dan mencetak dua angka.

“Masih lebih baik daripada alasanmu membesarkan otot untuk menghilankan image Angelic Ben.” Jack mengacungkan tinjunya ke arah Ben, memamerkan otot bisepnya yang seperti pahatan patung. mengoda iman para wanita.

“Bah! Aku tetap akan selalu imut” bantah Ben, ia kembali merebut bola dari tangan Max, mengopernya pada Micky, dan menerimanya kembali, “Kalau dibutuhkan.” dilemparnya bola dari luar lingkaran. “Three Point.”

Ia melakukan toss dengan Micky. Untuk catatan, Ben menguasai semua jenis olahraga, dan sekalipun ada olahraga yang belum ia tahu, ia akan segera menyerap ilmu tersebut dan menguasainya dalam sekejap. Sebab Ben itu disebut prodigy. Jenius.

Tapi, Alex dan Max memiliki keunggulan lain, mereka lebih tinggi dari Ben ataupun Micky.
Dengan kelebihan itu juga, Alex dan Max berhasil tidak mempermalukan diri mereka. Hanya selisih 4 poin dari Ben dan Micky.

Dengan bermandian keringat, mereka tiduran di bawah ring. Micky sudah ngos-ngosan mengatur nafasnya. “I’ll do it. “ Ucap Micky dengan mantap. Ia berhasil terdengar lebih meyakin dari yang ia rasakan.

“Melakukan apa?” tanya Ben yang tidak bisa mengingat kalau ada yang mengajukan kesanggupan Micky untuk melalukan sesuatu.

Tapi teman-teman Micky yang lain tidak se-Clueless itu.

“Kamu yakin?” tutur Jack yang sedang membagikan minuman dingin dan pancake. Dia menyelesasikan masakan Max. Sebagai tukang masak di rumah itu dia terbiasa menjamin keempat temannya itu selalu makan dengan baik dan kenyang.

Ben segera mengambil satu lembar dan memakannya dengan tangan. Alhasil, ia berteriak kepanasan. Ben menunggu Micky memarahi kecerobohannya. Tapi teriakan itu tidak kunjung datang. Yang ada,Micky malah memandangi keempat temannya dengan tatapan serius.

“Aku yang akan merayu Yunna.” ucap Micky.

Jack merasa ia perlu mengingatkan betapa menyeramkannya Yunna. “Micky, aku tahu kamu selalu bisa membuat wanita manapun menyerah padamu, tapi saat ini kita sedang membicarakan Medusa. Perempuan yang bahkan tidak menoleh kembali saat perempuan lain menangis dan memohonnya. Kita melihat dengan kepala kita sendiri bagaimana Yunna tetap masuk ke dalam mobil, meninggalkan Tif dan Luna di pinggir jalan. Menangis sambil berpelukan.”

Micky menganguk sebelum meneguk air lagi. Jika ia ingin diijinkan pergi ke Amerika, ia harus membuat Yunna menandatangi kontrak. Bahkan jika artinya dia harus berubah menjadi patung demi hal itu, dia akan melakukannya.

Micky bangkit dan melempar three point shoot dengan sukses.

Desperate man will do desperate action. Tetap Micky dalam hati, tapi sepertinya teman-temannya tidak setuju dengannya.

“Micky, kita butuh rencana kalau memang ingin menaklukan Yunna. Kita bukan berhubungan dengan orang biasa.” peringat Max, “Kim Yunna itu anak politisi, abangnya pengacara dan kita semua melihat pengawalnya yang tinggi besar sangar itu.”

“Benar. Kita ngak mungkin mendekati Yunna tanpa melewati pengawalnya itu dulu.” Jack setuju, “Mengingat pengalaman kita sendiri, artinya kita harus mengetahui kegiatan Yunna sebelum mendekatinya.”

Micky diam saja. Ia sendiri sudah memikirkan semua resiko dan rintangan yang akan ia hadapi. Tapi ia bukan anak kemarin sore. Ia tidak dijuluki Mr.Gentlemen tanpa alasan. Ia pasti bisa menaklukan Yunna. Mungkin bukan hatinya tapi setidaknya ia berharap Yunna bersedia menandatangi kontrak yang diminta.

“Ngak cuma itu, Jack. Kontrak yang diminta oleh Pak Simon itu kontrak eksklusif. Semua produk Cleo&Co harus dibintangi oleh artis Lime selama 1 tahun. Aku belum membaca nilai kontrak tersebut tapi yang pasti bernilai miliyaran.” Tekan Alex.

“Miliyaran?” Ben bersiul, “Pak Simon betul-betul oportunitis yah!”

Jack tidak mengubris ucapan Alex dan Ben, ia menatap punggung Micky tajam“Memangnya rencana kamu apa sih?”

Micky berbalik badan, menghadap teman-temannya lagi. “Aku akan mendekatinya. Memacarinya kalau dibutuhkan.”

Ucapan Micky langsung ditolak oleh keempat temannya.

“Kamu cari mati ya?” seru Jack. “Kamu tidak perlu melemparkan diri ke gua singa. Kita pasti bisa menemukan suatu cara tanpa harus mengorbankan dirimu.”
Jack berpikir seputus asanya Micky,dia tidak perlu sampai merayu seorang anak politisi dan membuat situasi panas. Tapi Micky tahu lebih baik tentang perempuan. Ia tahu tidak akan mudah membuat Yunna bergeming jika ia tidak berhasil menyusup ke dalam hati perempuan itu.

Ada pepatah yang bilang kalau kelemahan utama seorang perempuan adalah hatinya. Jika kita berhasil masuk ke dalam, maka kita dapat mengontrol perempuan itu

Micky mengucapkan pepatah kuno yan entah dia dengar dari mana itu kepada temannya sekaligus menambahkan. “Aku yakin hanya cukup dengan satu pertemuan, aku bisa membuatnya Medusa mengikat rambutnya.”

“Maksud kamu, kamu ingin menjebak dia?” tanya Max yang memang cepat tanggap.
Micky menangguk. Partner in crime memang berbeda.

“Tunggu, bukannya lebih baik kita berlima sekaligus mencoba mendekati dia.” Ben berusaha bersikap pandai, namun sayang idenya malah ditertawakan.
Ben belum menyerah “Aku serius. Masa diantara kita berlima, ngak ada yang bisa menaklukan cewek itu? Dia kan bukan putri es.”

“Bukan putri es, cuma Medusa yang bisa membuatmu lari ketakutan. Ben.” Jack menunjukan hasil browsing yang ia lakukan dari Naver3. Ia menenteng laptop itu dari ruang tamu.
Lima kepala segera berkumpul di depan laptop Jack. Untung laptopnya Macbook 17 inch, jadi cukup lebarlah.

“Dia pernah berpacaran dengan artis Hollywood?” Ben membaca salah satu headline.

“Itu belum seberapa.” potong Max, ia menunjuk headline paling atas, CLEO MENERIMA PENGHARGAAN FEMALE LEADER WITH BEST WORKING ENVIRONMENT IN ASIA.

Semua orang terdiam. Sibuk membaca headline-headline lain soal Yunna. Dari keberhasilan bisnis, sepak terjang percintaan sampai ulang tahun pernikahan orang tuanya menjadi berita.

“Yunna itu persis kita dalam wujud perempuan.” simpul Max. “mungkin lebih parah. Kita bahkan belum pernah diculik dan kembali tanpa terluka sedikit pun.” Max menunjuk kejadian satu tahun yang lalu. Mereka semua pernah membaca berita dulu tapi tidak ada seorang pun dari mereka yang berpikir kalau mereka akan bertemu muka dengan perempuan tersebut.

Tidak ada seorang pun yang berpikir mereka harus menghadapi Yunna.

Ruangan itu kembali hening.

Micky memperhatikan teman-temannya satu per satu, lalu tersenyum. “You know, kalian tidak perlu membantuku kali ini. Aku akan melakukannya sendiri.”

Sekali lagi teman-temannya memprotes Micky. Dengan terpaksa ia membesar suaranya, “Aku tahu, tapi ngak mungkin aku membahayakan karier kalian juga.”

Max membantah dengan cepat, “Lalu kariermu tidak?”

Ia memberikan pandangan penuh arti pada teman-temannya, “Diantara kita semua, hanya aku yang tidak memiliki beban moral. Aku tidak punya kelaurga di Korea yang akan langsung diburu oleh wartawan jika seandainya nanti ada skandal yang muncul. Reputasiku sebagai seorang playboy memungkinkan namaku untuk disandingkan dengan siapa saja tanpa membuat spekulasi yang tidak-tidak. Aku tidak memiliki orang tua di sini yang harus aku perkenalkan pada Yunna kalau seandainya dia memutuskan untuk serius denganku. Jadi aku adalah kandidat terbaik di sini.” Micky terus mengutarakan alasan lain untuk menenangkan teman-temannya. “Lagipula, semua ini masalahku. Aku tidak ingin menyusahkan kalian.”

Ia sudah setengah jalan menuju ruang tamu ketika Ben berteriak, “Micky, all for one and one for all.”

Kalau seandainya saja bukan Ben yang pelafalan Ingrisnya amat Korean. Ucapan itu pasti terdengar gagah. Bukannya malah membuat Micky tertawa.

“Kita bakal selalu mendukung kamu.” sambung Alex.

Micky mengangguk dan melambaikan tangan pada keempat temannya dan menuju kamar mandi.

Di balik siraman air hangat, Micky kembali merenungkan tindakannya. Ia tahu teman-temannya akan membantu dirinya di saat ia perlu. Tapi kali ini, sebisa mungkin ia tidak akan bergantung pada mereka. Walau ia mengatakan bahwa semua ada dalam kendalinya, Micky tahu kenyataannya tidak semudah itu.

Advertisements

One thought on “Damn, I love you – chapter 2

  1. Pingback: Damn, I Love You – Synopsis and Links « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s