Damn, I love you – Prologue

Micky mengumpat keseribu kalinya dalam hati. Mengeluh dan memarahi ketepatan waktu teman-temannya.
Bisa-bisanya mereka membuat dirinya yang benci hujan, lari di bawahnya dan menginjak puluhan kubangan dalam proses mengambil kue ulang tahun Jack. Kenapa sih Ben tidak mengatur kurir saja atau delivery service? Sekarang ini sudah jaman costumer service kan…
Ia kembali mengumpat ketika salah melangkah menginjak tepi kubangan, membuat celana jeans yang ia kenakan mendapat tambahan nilai artistik.
Micky baru bisa menghela nafas lega ketika akhirnya masuk kembali ke dalam mobil. Sekarang, ia hanya perlu menunggu jalanan sedikit lenggang untuk keluar. Ia melengok ke kiri dan berhenti total di sana.
Matanya terpatri pada perempuan yang berdiri di pinggir jalan. Mungkin karena perempuan itu memilih untuk berdiri di tengah hujan dibanding berteduh. Mungkin karena seulas senyum yang terpampang di wajah perempuan itu, seakan menikmati siraman hujam. Atau malah kesan puas yang menyeruak dari seluruh aura perempuan itu?
Kapan ia akan merasa puas dengan tindakannya seperti yang perempuan itu rasakan? Kapan ia kan merasa terpenuhi seperti yang dirasakan perempuan itu?
Ia mendecak resah. Tidak dalam waktu dekat ini pastinya. Kariernya sebagai artis baru menanjak. Sebagai salah satu personil Fox-T, mereka baru saja dinobatkan sebagai artis berpenghasil terbesar tahun 2008. Namun tidak ada perasaan puas di dadanya. Yang ada malah perasaan terhimpit oleh beban dan tanggung jawab.
Micky tersenyum muram. Mungkin ia akan merasa tenang saat ia hidup kembali bersama keluarganya. Mungkin ia baru merasa berada di rumah dan nyaman akan kehidupannya saat ia bisa melihat Mama dan Ricky tersenyum bahagia di sampingnya.
Mungkin….
Lamunan Micky terganggu saat seorang laki-laki tinggi besar dengan pakaian rapi keluar dan memayungi perempuan tersebut. Kemudian dengan tangan satunya mulai menghanduki kepala perempuan itu.
 Sekali lagi perempuan itu tersenyum, kali ini lebih lebar dan lebih bahagia.
Senyum itu meninju jantung Micky.
Damn, kalau sebuah senyuman bisa membuatnya merasa terganggu seperti ini, bayangkan apa yang akan terjadi kalau perempuan itu tertawa.
Saat perempuan itu masuk ke dalam mobil di depan Micky, ia baru sadar kalau sedari tadi ia mencengkram gagang setir dan menahan nafasnya.
Micky merenggangkan gengamannya dan menyalakan mesin mobil. Ia harus segera kembali ke rumah atau Alex akan membunuhnya.
Temannya yang satu itu sangat menjunjung tinggi ketepatan waktu.

Advertisements

One thought on “Damn, I love you – Prologue

  1. Pingback: Damn, I Love You – Synopsis and Links « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s