Damn, I love you – chapter 3

Di sebuah hotel berbintang lima, suasana ramai terlihat di salah satu ballroomnya. Dengan dipadati oleh banyak socialitas dan wartawan. Acara peluncuran accesories line dari CLEO&Co berlangsung dengan mewah.

Suara penyanyi Jazz dengan lawas melantunkan lagu-lagu Barat diiringi oleh full grup band membuat pesta tersebut lebih berkesan berkelas dan berkualitas. Seperti slogan di spanduk utama yang dipasang membentangi langit-langit ballroom.

Di salah satu sudut ruangan, Micky mengambil champange yang ditawarkan oleh pramusaji dengan senyum lebar. Walau dalam hati ia merasa gelisah dan gugup.

Ia berhasil mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Yunna juga akhirnya setelah sekian banyak usaha gagal yang ia kerahkan sebulan ini.Tidak pernah ia mendapat kesulitan sebesar ini sejak nama Fox-T melambung tinggi.

Micky merasa kembali menjadi Micky 5 tahun lalu. Micky yang tidak memiliki apa-apa, yang tidak dikenal siapa-siapa. Perasaan yang segara ditepisnya. Micky harus tampil maksimal hari ini. Ia perlu menjadi perayu ulung.

Ia mengedarkan pandangannya. Setiap orang seperti menikmati acara pesta peluncuran Cleo&Co ini dengan antusias. Di sana sini, terlihat banyak orang mengerubuni model-model yang memamerkan koleksi perhiasan tersebut.

Harus Micky akui, ide peluncuran ini cukup unik, para model yang mengenakan perhiasan bertindak sebagai pramusaji sekaligus. Memastikan setiap tamu yang hadir mendapat pandangan jarak dekat dari koleksi-koleksi yang ada sekaligus kesempatan untuk menjajanya langsung.

Semua orang terlihat sibuk dan terus terang itu merupakan keuntungan untuknya. Micky tidak perlu memusingkan bila nanti ia melakukan pendekatan terhadap Yunna.

Kelihatannya tuan rumah tersebut belum menunjukan batang hidungnya. Atau mungkin ia yang belum menemukan sosok perempuan itu. Ia tidak tahu apa yang akan dikenakan oleh Yunna. Tapi seharusnya tidak lebih dari tamu-tamu undangan di sini.

Gaun malam formal dan dandanan sempurna.

“Micky? Kamu Micky kan?”

Micky menoleh dan menemukan perempuan tinggi yang menyapanya. Lee Min Ju, adik temannya, Lee Jae Hyun tampil memukau malam ini. Dengan gaun satin berwarna hijau selutut dan rambut coklat disusun tinggi, Min Ju tampak bak putri raja.

“Hei. Apa kabar?” balas Micky sambil menerima cium kiri kanan dari Min Ju. Mereka berbasa basi sebentar sebelum Min Ju menariknya ke tengah teman-teman Min Ju yang superticious.

Ia tidak memprotes saat Min Ju bergelayut manja di sampingnya. Ia cukup terbiasa malah. Tidak ada perempuan selalu bersikap posesif jika sudah berada di sisinya. Lagipula menurut Micky, lebih baik Min Ju yang mengelayutinya dibanding teman-teman Min Ju yang berisik.

“Jadi Micky, menurut kamu mana yang lebih cantik?” tanya cewek berambut pendek, yang Micky tidak ingat namanya.

Dengan senyum memikat Micky meneliti dua kalung yang disampirkan di dada perempuan itu. Micky mengerutu dalam hati, teman Min Ju tidak perlu terang-terangan mengodanya di hadapan orang banyak. Micky tahu dia tampan dan menarik, belum lagi status dirinya sebagai artis, tapi teman Min Ju harusnya mengerti saat ini ia sedang mendampingi Min Ju.

Micky memutuskan untuk memperhatikan kalung yang dipegang perempuan itu saja. Dua-duanya exquisite. Yang satu kalung dengan pendant berbentuk tear drop dengan berlian 5 karat. Yang satu lagi berbentuk untaian berlian yang dirajut sedemikian rupa hingga membentuk choker lebar seperti gulali.

Micky tidak tahu harus memilih yang mana. Ia tidak terbiasa memilihkan perhiasan semahal itu untuk perempuan.

Kebimbangan Micky rupanya tidak dirasakan oleh Min Ju. Karena buktinya ia bisa dengan mudah menjawab. “Dua-duanya jelek. Bahkan Bruno akan menolak mengenakannya.”

“Oh, please, Min Ju. Maksud kamu bukan Bruno, anjing siberian husky hitammu itu kan?” tanya teman Min Ju yang sekarang menurunkan kalung tersebut dari dadanya, ganti melihat dua kalung itu dengan penuh curiga.

“Tentu saja, Bruno anjingku itu. Memangnya ada anjing lain yang seleranya melebihi anjingku itu, bahkan David Beckham saja kalah?” Min Ju memandang Micky dan berbisik, “Bruno dinobatkan sebagai juara 1 se-dunia, semua berkat saranmu, Micky.”

Micky hanya tersenyum ketika teman-teman Min Ju mentertawakan lelucon Min Ju. Tidak dibutuhkan seorang jenius untuk tahu Min Ju menyimpan dendam pada Yunna.

Perkembangan yang menarik, pikir Micky. Ia tahu Min Ju sering kali bersikap konyol dan dangkal. Tapi jarang melihat perempuan ini membenci orang sampai tega-teganya mempermalukan orang tersebut.

Tiba-tiba suasana hening. Dan teman-teman Min Ju membuka jalan untuk seseorang.

Micky menahan nafas.

Itu dia, sang Medusa dalam balutan gaun brokat hitam. Gaun itu melekat erat di tubuh langsing Yunna. Memberikan kesan anggun yang mematikan.

Bagian atas yang tertutup diimbangi oleh potongan pendek di bagian paha ke bawah. Walapun potongan tersebut membentuk V terbalik, dan dari belakang Yunna terlihat mengenakan gaun tertutup sempurna, tapi Micky ragu ada yang akan melewatkan pemandangan paha mulus tersebut.

Sedetik itu, Micky ingin mencopot jas yang ia kenakan dan menutupi pakaian Yunna.

“Lee Min Ju-ssi? Maaf saya menyelak begitu saja. Tapi mohon maafkan saya karena saya tidak bisa tidak memperhatikan gelang yang anda kenakan. Sangat cantik dan…” Yunna memberikan senyum mempesonanya, “Mahal.”

Min Ju tersenyum mendengar pujian tersebut. “Tentu saja, Oppa4 yang memberikannya untukku pagi ini. Bagus kan.” Ia memamerkan gelang yang terdiri dari 4 baris diamond dengan ukuran berbeda. Simple namun benar kata Yunna. Terkesan mahal.

“Lee Jae Hyun-ssi.” panggil Yunna.

Laki-laki yang sedari tadi berdiri di samping Yunna maju ke depan, Micky bisa melihat temannya itu juga tersihir oleh kecantikan Yunna dari cara dia menatap Yunna.

Jae Hyun terlihat ingin melahap Yunna saat itu juga.

Juga? Apa barusan Micky mengakui kalau ia terpesona pada Yunna? Micky membuyarkan pikiran melanturnya dan berusaha memperhatikan ucapan Yunna. Bukan bibir Yunna yang merah dan begitu mengoda.

“Oppa, kalau aku tahu kamu akan memberikan gelang itu untuk Min Ju, aku akan memilihkan yang lebih mewah,” Yunna menegak minumannya sebelum melanjutkan, “Kamu tahukan aku hanya memberikan yang terbaik untuk teman-temanku.”

Micky tidak perlu melihat wajah Min Ju untuk tahu kalau perempuan itu terkejut, malah mungkin malu karena sudah memuji-muji gelang yang rupanya lansiran dari perusahan yang sama dengan kalung yang tadi dihina olehnya.

Jae Hyun mengambil tangan kanan Yunna, yang tidak Yunna gunakan untuk memegang gelas. Dan mengecupnya. “Dan harus melewatkan adegan cemburumu?” Jeremy mengecup tengan Yunna lagi, “Never.”

Yunna tersenyum, tersanjung. “Well, tapi setidaknya aku bisa memberikan gelang ini untuk adikmu.” ia mengambil kotak yang disodorkan oleh pengawalnya.

Kotak berisi gelang dengan 6 batu emerlad 10 karat yang dikelilingi oleh diamond berukuran setidaknya seperempat karat. Gelang yang jauh lebih mewah, dan sayangnya memang lebih sepadan dengan gaun Rika.

Yunna mengeluarkan gelang tersebut dan menarik tangan kanan Min Ju, memakaikan gelang tersebut dan melepaskan gelang yang lama.

“Nah, lebih cantikkan.” ucap Yunna mengundang decak kagum.

Micky melihat bibir Min Ju gemetar tidak jelas menahan tangis atau kegeraman. Micky mengulurkan tangannya siap membawa Min Ju pergi. Atau menyelamatkan Yunna, karena Min Ju sudah menyambar gelas champage dari tangan temannya dan siap menuangkan isi gelas tersebut ke…

Kejadian berikutnya hanya terdaji dalam hitungan detik.

Pengawal Yunna muncul entah dari mana, menarik Yunna keluar dari lingkaran dan mengunakan jas milik pengawal itu untuk menahan siraman sekaligus hendak merebut gelas dari tangan Min Ju.

Namun Micky lebih cepat, ia segera menarik Min Ju ke dadanya dan menahan tangan pengawal Yunna tersebut. Ia mengambil gelas dari tangan Min Ju dan meletakannya ke atas meja di sampingnya.

“Saya rasa tidak perlu bersikap sekeras itu padanya. Bagaimanapun juga dia seorang nona, bukan.” ucap Micky sambil mencengkaram lengan pengawal Yunna.

Sebetulnya, Micky ingin menunggu Jae Hyun untuk melakukan sesuatu. Tapi seperetinya temanya itu terlalu terkejut untuk mencerna apa yang sedang terjadi.

Micky sendiri masih takjub dengan ketangkasan pengawal Yunna itu namun karena ia sudah cukup terbiasa dengan aksi penyelamatan yang serupa, dan ia pulih lebih cepat.

Pengawal itu tidak bergeming. Dari jarak dekat seperti ini, pengawal ini terlihat semakin kekar dan sangar. Belum lagi raut mukanya yang kaku luar biasa. Tidak menunjukan ekspresi sama sekali.

Pengawal itu baru menepis tangannya saat Yunna memberinya isyarat untuk tidak meneruskan tindakannya. Micky bersyukur Yunna bersikap bijaksana, menyuruh pengawalnya mundur.

Masih dengan memeluk Min Ju, Micky berkata, “Terima kasih.” ia nyaris meringkis ketika melihat Yunna hanya mengagguk mengerti padanya.

Perempuan itu betul-betul Medusa. Micky yakin ia sudah mematung di sana jika Jae Hyun tidak menyelak masuk di antara mereka.

“Apa itu tadi?” tanya Jae Hyun seakan baru tersadar.

“Oppa….” sembur Min Ju dan pindah ke dada abanya masih menangis.

Micky bersyukur atas keputusan Min Ju tersebut. Sekarang ia bisa lebih leluasa mendekati Yunna. Dari sudut matanya, Micky melihat beberapa wartawan berjalan menuju kerumunannya.

Situasi bisa semakin keruh jika Micky bergerak sekarang.

“Tidak ada apa-apa Jae Hyun-ni.” jawab Micky.

Lagi-lagi Jae Hyun terkejut, seperti baru sadar kalau Micky sedari tadi ada di sana, “Ah, kamu datang? Dimana Jack? Hm, terima kasih untuk penyelamatanmu tadi.”

Micky tersenyum, tentunya senyumnya yang paling memikat dan ditujukan pada Yunna. “Jack menitip pesan kalau ia tidak bisa datang. Keluarganya datang berkunjung.” jawab Micky tanpa melepaskan pandangannya dari Yunna.

“Oh, orang tuanya datang dari Gongju?” tanya Jeremy terlihat kebingungan. Mungkin karena Min Ju yang tidak juga mengangkat wajahnya dari dada Jae Hyun dan semakin meraung.

“Ehm, sebaiknya aku antar Min Ju dulu. Yunna-ssi…” tutur Jae Hyun semakin salah tingkah.

“Tidak apa, aku akan mendampingi Yunna-ssi.”

Micky tidak melihat Jae Hyun meninggalkan mereka karena ia sibuk bertukar pandang dengan Yunna.

Advertisements

2 thoughts on “Damn, I love you – chapter 3

  1. Pingback: Lovely Temptress – Synopsis and Links « Sharing love to the world

  2. Pingback: Damn, I Love You – Synopsis and Links « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s