Damn, I love you – chapter 4

“Aku percaya kita belum diperkenalkan secara resmi.” Micky mengulurkan tangannya dan disambut dengan jabatan oleh Yunna.

“Micky.”

“Kim Yunna.” ucap Yunna dan menarik tangannya dengan cepat. Tidak ada senyuman untuk Micky. Sebuah penolakan lainnya keluar dari bibir merah Yunna. “Terima kasih untuk tawaranmu. Tapi aku tidak perlu didampingi.”

Yunna berbalik dan berjalan melintasi ruangan bak ratu.

Micky tersenyum, penolakan yang sudah ia kalkulasikan. Micky segera menyusul Yunna. “Mungkin benar. Tapi aku sudah berjanji akan mendampingimu. Dan Kim Yunna-ssi, I’m man of my word.”

Kalau diharapnya Yunna akan luluh dengan rayuan Micky, ia salah besar. Perempuan itu membalas ucapannya dengan senyum simpul yang kalau boleh Micky jujur, membunuh, meracuni dirinya dan membuatnya bersedia berlutut dan menyerahkan seluruh dunia ini pada Yunna.

Dibutuhkan waktu 3 detik untuk Micky tersadar dari senyuman Yunna, ia membalas dengan senyuman lebar penuh karismanya. Yang biasanya bisa membuat gunung es mencair.

Sekali lagi Micky harus menelan rasa kecewa.

“Micky-ssi, saya tahu siapa anda dan untuk menghemat waktu, saya menyarankan anda untuk menyerah. Saya tidak tertarik.” tuturnya dan Yunna kembali melanjutkan perjalanannya.

Dimana Big, di saat dibutuhkan seperti ini selalu saja menghilang. Yunna tidak ingin terlibat dengan artis seperti Micky lebih lama lagi. Ia memandang artis seperti wabah menular sejak ia bertemu dengan anak asuhan LIME. Hari itu adalah hari terburuk sepanjang sejarah ia berbisnis. Tidak pernah ada lawan yang meremehkan dirinya seperti yang dilakukan oleh Manager Fendora itu.

“Mau bertaruh?”

Yunna menghentikan langkahnya dan memutar tubuh untuk memandangi Micky. Ia tidak bisa mengacuhkan orang yang melemparkan tantangan padanya semudah mengacuhkan pria tampan.

Karena Micky memang tampan. Yunna tidak perlu berbohong mengenai hal tersebut bukan? Laki-laki itu sudah menarik perhatiannya sejak ia menghampiri Min Ju tadi. Tapi hanya sebatas itu rasa tertariknya.

Yunna segera mengenali Micky saat mereka berhadapan. Ia pernah membaca sepak terjang laki-laki ini di media gosip lainnya. Belum lagi, kesaksian teman-teman Yunna yang pernah berhubungan dengan Micky.

Kalau tidak salah ingat, mereka mengatakan bahwa Micky itu laki-laki paling sempurna yang pernah mereka kencani. Laki-laki paling romantis, paling baik, paling memuaskan.

“Bagaimana? Mau bertaruh?” tantang Micky kembali.

Yunna tersenyum angkuh, “Kalau kita tidak berada di pesta peluncuran saya, Micky-ssi. Saya akan melemparmu keluar dan memastikan kamu tidak muncul di hadapanku lagi. Sikap lancangmu tidak mempesona sama sekali.” Yunna membalikkan badannya dan kembali meninggalkan Micky.

Sambil menatap punggung perempuan itu, Micky bersiul. Micky membiarkan Yunna pergi. Tidak ada gunanya menekan perempuan itu sekarang. Yang penting tujuan Micky sudah tersampaikan. Ia sudah menyatakan dengan jelas kalau ia mengejar Yunna sekarang.

Micky berjalan menuju pintu keluar. Melepas dasi kupu-kupu yang mendadak terasa menyesakan. Berdiri di pojok dekat pintu darurat. Tempat yang pas untuk merokok dan melepas penat.

Kim Yunna, sejauh ini tidak ada yang salah dari infomasi yang ia dapat. Perempuan itu tegas, lugas dan bukan penakut. Yunna tidak pandang bulu, tidak ada toleransi.. Tidak peduli lawannya itu laki-laki atau perempuan. Penuh perhitungan dan presisi.

Lihat saja bagaimana nasib Min Ju yang menghinanya. Yunna dengan lihai mempermalukan Min Ju habis-habisan. Melalui tindakannya tadi, Yunna juga berhasil membuktikan bahwa produk buatannya tidak mengenal batasan usia ataupun limitasi lainnya.

Micky mendongkakan kepala dan mulai memijit tengkuknya. Kepandaian Yunna dikombinasikan dengan kesigapan pengawalnya. Entah apa yang harus ia lakukan untuk menembus pertahan mereka.

Micky segera mematikan rokoknya dan bersembunyi di balik pintu darurat ketika mendengar ada langkah kaki yang mendekat. Ia tidak mau diusir dan menimbulkan gosip.

Dari balik pintu itu juga, Micky mendengar suara Yunna.

“Hentikan Ma.” seru Yunna pada wanita dalam pakaian hanbok. “Aku tidak akan melihat foto-foto calon dari Mama.”

Mama Yunna menjejalkan tumpukan berkas ketangan Big. “Pastikan dia melihatnya.”

Yunna merebut berkas itu kembali dan memdorongnya ke tangan mama.

“Please Ma. Aku baru 25 tahun. Masih terlalu muda untuk dijodohkan.” Yunna mulai kehabisan sabar. Mama tega sekali mendatanginya di acara besar seperti ini dan menariknya untuk membahas perjodohan.

Ya Tuhan. Memangnya ia perempuan jelek dengan kondisi yang mengenaskan apa? Sampai-sampai Mama perlu turun tangan dan mencarikannya suami.

Seakan-akan tidak ada puluhan pria yang selalu menganggunya tiap malam, tiap hati. Sampai-sampai ia perlu melarikan diri ke luar negeri. Itu pun belum cukup, cowok-cowok itu selalu saja ada yang berhasil menemukannya dan akhirnya ia harus melakukan pelarian diri dadakan. Membuat Big memarahinya.

Yunna melirik Big. Pengawalnya ini sebetulnya kasihan juga karena selalu harus siap menyelamatkan dirinya.

Yunna sungguh berharap ia bisa menjadi nona yang lebih alim dan feminim. Lebih kewanitaan dan menyukai hal-hal bersifat keibuan. Tapi apa daya, ia tidak terbuat dari bahan lembek. Malah kata Mama selama ia mengandung, Mama mendadak suka ski diving. Padahal Mama itu amat penakut.

Dan sekarang Mamanya tersayang takut anaknya yang cantik dan manis ini tidak menemukan pasangan.

Yunna menghela nafas, membiarkan Mama melakukan ceramah panjang dan membosankan yang bahkan Yunna sudah hafal di luar kepala.

“Yunna, wanita itu berbeda dengan pria. Kita memiliki masa batas guna. Kamu mengertikan? Sampai usia 30, indung reproduksimu akan melemah. Coba beritahu Mama laki-laki mana yang mau menikahi perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan.” Mama mengambil nafas. “Dan tolong kamu jangan lupa, laki-laki baik yang usianya lebih tua darimu, lebih sukses darimu akan selalu memilih perempuan berusia 20 atau kurang. Jadi…”

Yunna melanjutkan, “Katakan pada Mama kapan kamu akan berhenti membuat Mama khawatir.”

Mama melipat tangan di dada dan memasang wajah sedih. Bukan galak seperti biasanya yang ia lakukan.

Mendadak Yunna merasa bersalah. Merasa telah mengecewakan Mama. Ia menghela nafas lagi, baiklah. Kalau memang bisa menyenangkan hati Mama. Ia akan melihat foto-foto pria berpotensi yang Mama siapkan. Ia akan datang ke setiap acara yang Mama rancang untuk mempertemukannya dengan laki-laki yang Mama sukai. Ia akan…

Pikiran Yunna terhenti ketika melihat Micky berjalan mendekatinya.

Mau apa cowok ini? Dahi Yunna mengerut. Jangan bilang ia mendengarkan pembicaraan ini. Oh, tidak. Malunya.

“Sudah selesai Yunna?” tanya Micky dengan senyum.

Kerutan di dahi Yunna semakin dalam. Ia bersyukur saat ini ia memunggungi Mama, Yunna tidak perlu melihat reaksi Mama saat Micky tersenyum mesra padanya. Tersenyum seperti seorang pacar yang merindukan kekasihnya.

Astaga, apa-apaan cowok ini? Permainan apalagi yang dilakukan Micky sekarang? Lalu Berani-berani memanggil nama kecilnya tanpa seijinnya.

Tapi tunggu, ini kesempatan yang baik. Pikir Yunna dan ia segera merubah mimiknya.

“Oh tidak.” sambut Yunna terlihat panik. “Aku kan sudah bilang jangan datang.” ia terus berjalan menuju Micky dan memberi mimik perhatikan-dan-tiru-aku.

Kalau laki-laki ini sepandai yang terlihat, Micky akan mengerti. Yunna kembali melanjutkan sandiwaranya. “Bagaimana kalau ada wartawan yang melihat? Bagaimana kalau ada gosip? Kamu kan tahu aku khawatir, honey.”

Ia sampai di depan Micky dan mendorong Micky ke arah luar dari lorong. Ia berbisik, “Kamu ingin taruhan denganku? Try to catch up.” Micky tersenyum dan memberinya tatapan mengerti. Serta merta, Micky memutar badannya, memeluk pinggang Yunna.

“Mana mungkin aku tidak datang, baby.” sahut Micky tidak kalah romantis. Ia meletakan
tangannya di pinggang Yunna dan menariknya semakin mendekat. Berharap dengan demikian ia bisa menunjukan kedekatan mereka.

Syukurlah Yunna tidak menginjak kakinya dan menolak kontak fisik yang ia berikan. Tapi Micky tidak siap saat Yunna membelai dadanya dan balas merangkul pinggangnya.

Mata mereka bertaut.

Micky tidak tahu apa yang merasukinya. Mungkin karena perasaan tidak ingin kalah. Mungkin ia terlalu ingin membuktikan dirinya. Atau karena memang ia sudah berpikir untuk mencium Yunna sejak perempuan itu muncul dalam balutan gaun yang provokatif.

Sesaat itu, tidak ada yang penting. Tidak peduli Mama Yunna yang membelalak terkejut. Tidak pusing berapa banyak orang yang akan melihat mereka. Tidak juga pada rencananya untuk merayu Yunna.

Bagaimana mungkin Micky dapat mengingat tujuan kehadirannya kalau reaksi Yunna begitu di luar dugaan. Ciumannya dibalas sama antuasias. Tangan kanan Yunna meremas rambutnya, tangan lainnya menarik keras jas Micky, memohon sentuhan lebih, lebih dekat dan menyentuh titik tertentu dalam benak Micky.

Mungkin bukan benaknya, tapi jelas ada bagian dari dirinya yang snap dan mendesak Micky untuk melampiaskan hasratnya.

God, ia ingin bercinta dengan Yunna. Satu pikiran yang langsung membawa kesadaran Micky kembali. ia tidak menghentikan ciumannya. Yunna yang terlebih dulu menarik diri.

Masih sambil berpelukan, Micky menatap mata Yunna. Perempuan itu ternyata memiliki mata coklat yang tidak biasa, ada sedikit serambut hijau tua di pinggir luarnya. Micky yakin itu bukan softlens. Karena ia pasti bisa mengenalinya.

Mata itu tertawa padanya.

Tertawa? Untuk alasan apa? Apa Yunna menikmati ciuman mereka atau senang akan permainan mereka.

“Kim Yunna! Apa yang kamu lakukan di depan umum?” teriak Mama dan ia menarik Yunna dari pelukan Micky.

Yunna tidak bergeming dan menyempatkan diri untuk menatap Micky lagi sebelum memandang Mamanya. “Ma, kenalkan. Micky. Singer dari band Fox-T. pacarku.”

Micky bisa melihat kalau Yunna sama sekali tidak khawatir dengan reaksi Mamanya yang terang-terangan terkejut dan mempertanyakan kewarasan Yunna dengan memacari artis.

Walau Micky tidak mengapa profesinya menjadi masalah. Ia bekerja dengan jujur dan prestasinya cukup membanggakan. Penghasilan pribadinya 1 juta dollar per bulan. Belum termasuk penghasilannya dari Fox-T.

Tapi ia rasa ia tidak boleh membuka mulutnya untuk membantah dan membela sedikit harga dirinya. Tangan Yunna yang memeluk lengannya memohon dirinya untuk menahan diri.

Sekali lagi, ia melirik Yunna. Perempuan itu terlihat menikmati kekacauan mereka saat ini. Menikmatinya seperti orang yang sedang menonton film drama seru. Micky merasa merinding untuk sebab yang tidak pasti ia merasa takut pada Yunna.

Micky mengeraskan hatinya dan mengingatkan dirinay kembali kalau saat ini adalah kesempatan emasnya. Ia sudah berhasil membantu Yunna untuk mengelabuhi ibu Yunna. Nanti ia bisa menuntun balas budi dari Medusa ini.

“Ma, aku sayang padanya.” jawab Yunna singkat.

Micky tidak tahu bagaimana mimiknya sekarang, mungkin sama seperti Mama Yunna. Mungkin tidak sampai megagap-megagap saking terkejutnya. Tapi matanya pasti sebesar mata Mama Yunna.

Tapi keterkejutan itu hanya sesaat. Berikutnya, Micky menarik Yunna lagi dan mengecup kening perempuan itu. “And I love you too.” bisik Micky cukup keras hingga Mama Yunna bisa mendengarnya dan membuat orang tua itu bersipu

“Oh, please. Hentikan sekarang juga.” teriak Mama saat melihat dua anak muda itu bersiap berciuman lagi. Ia menarik anaknya menjauh dari pria tampan yang diaku Yunna sebagai pacarnya. Ia sama sekali tidak mempercayai ucapan putrinya tersebut.

Yunna memacari artis. Lebih baik ia percaya kalau bumi ini datar dibanding putrinya melakukan kegilaan seperti itu.

Mama Yunna memandang putri nakalnya dengan wajah penuh ancaman. “Yunna, sebaiknya kamu menyiapkan penjelasan yang bagus karena Mama akan memberitahu Papa dan Abangmu.”

Setelah memberikan ultimatum, Mama berjalan keluar lorong. Meniggalkan Yunna dan Micky sendiri.

“Bisa jelaskan padaku apa maksud sandiwara kalian?” tanya Big.

Advertisements

One thought on “Damn, I love you – chapter 4

  1. Pingback: Damn, I Love You – Synopsis and Links « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s