Damn, I love you – chapter 5

Big berdiri dengan menyilangkan tangan di dada dan posisi beristirahat. Ia menurunkan kacamata hitamnya. Ia perlu melihat Yunna dan membuat Yunna melihat dirinya.

Sedari tadi ia sudah menahan diri untuk tidak memprotes kedekatan Micky pada Yunna. tapi karena ia cukup mengenal Nona yang dijaganya 10 tahun ini, ia tahu Yunna hanya ingin mengelabyhi orang tuanya.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa harus artis ini? Kenapa sekarang dan kenapa Big cemburu!

Bukankah seharusnya ia sudah mendapatkan pelajarannya sendiri? Jatuh cinta pada majikannya sama seperti meminum pil pahit. Tidak bisa dielakkan namun juga tidak enak.

Big juga tahu tidak seharusnya ia masih menyimpan perasaan cinta pada Yunna. Tapi ia tidak bisa berhenti mencintai nona yang satu ini. Tidak ketika Yunna semakin mempesona dan mengkhawatirkan.

Big menepis kegalauan hatinya dan memfokuskan pada urusan yang lebih penting. seperti menatap Yunna tajam, mencari apa yang ada di balik mata usil Yunna yang sekarang mulai mengerling dan mengodanya untuk tertawa.

Mau tak mau Big tersenyum juga. Ia tidak sanggup menolak bila Yunna sudah menatapnya seperti itu.

“Jangan galak begitu. Kamu tahu aku tidak punya pilihan tadi. Lagipula aku sukses membungkam Mama, bukan?” ucap Yunna yang sudah beranjak ke sisi pengawalnya, memunggungi Micky. “Untuk sementara kita bisa istirahat dari gangguan Mama. Paling tidak satu minggu.”

Big tersenyum lagi, dan mengeleng. ” Tiga hari, Non. Arisa pasti sudah mulai melacak latar belakang pacarmu itu sekarang. Dan mengingat keahlian kakakku itu. 3 hari sudah cukup.”

Yunna menepuk-nepuk dagunya, tanda kala ia sedang menrencanakan sesuatu, “Kalau begitu lebih baik aku menerima tantanganmu.” ia memutar badannya dan melihat kalau Micky sedang memandangi dirinya dengan tatapan penuh hasrat.

Yunna berhenti sesaat, ia tidak menyangka laki-laki itu berani terang-terangan menunjukan belangnya. Tapi Yunna bersikukuh dan menunjukan wajah tak tersentuh miliknya dan menantang Micky.“Kamu bersedia?”

Micky terkesan dengan kepawaian Yunna memutar balikan keadaan mereka. Seakan-akan Yunna yang melemparkan tantangan dan Mickylah yang harus menjawabnya.

Dengan ketenangan serupa, Micky melirik pengawal Yunna. Memperhitungkan kemungkinan seberapa sering ia harus bertemu dan menghadapi tatapan membunuh laki-laki bertubuh besar ini. Micky penasaran apa Yunna tahu kalau pengawalnya itu menyimpan rasa untuk Yunna.

Dan seakan mendengar isi pikiran Micky, Yunna menjawab. “Ini pengawalku, Big. Dia akan bersamaku 24 jam, 365 hari.”

“Aku bisa melihat itu.” jawab Micky malas. Terus terang ia berharap bisa memiliki privasi untuk membahas tindakan berikutnya. Ia masih harus membuat Yunna bertekuk lutut bukan? Bagaimana ia bisa melancarkan serangan kalau Yunna selalu dijaga seketat ini. Sekarang saja, pengawal itu berdiri di tengah mereka, memberi jarak 1 meter dari dirinya dan Yunna.

“Aku bersedia membantumu tapi aku juga memiliki syarat.” ia menatap Yunna, membiarkan perkataannya diserap lebih dulu.

“Tentu saja. aku juga tidak akan menawarkan pekerjaan tanpa imbalan.” jawab Yunna setenang negosiator ulung. “Apa yang kamu minta Micky-ssi? Uang? Mobil?”

Ganti Micky yang tersenyum. Ia tidak menyangka akan semudah ini menyelesaikan pekerjaannya. Tapi untuk apa terburu-buru. Micky tidak ingin Yunna kabur di saat ia hampir berhasil. “Tidak perlu, aku hanya ingin menikmati waktu kita berdua.”

Sedetik ia melihat Yunna tertegun, tapi hanya sedetik hingga Micky tidak yakin kalau ia sudah mengejutkan Medusa dengan ucapan gombalnya.

“Kamu sadar tidak kalau aku ini bukan anak kecil yang akan mempercayai ucapanmu begitu saja?” tegur Yunna lalu ia mempertajam ucapannya, “Beritahu aku apa yang kamu inginkan.”

Micky mempertimbangkan sesaat perkataan Yunna. Ia tahu tidak mungkin ia berlama-lama menutupi agenda tesembunyinya karena menurut pengawal Yunna, keluarga Yunna akan mengetahui siapa dirinya dan kecil kemungkinan mereka tidak akan mengetahui Simon menyuruh Fox-T untuk mengejar pemilik CLEO&Co ini.

Jadi mungkin Micky bisa memperhalus maksudnya itu. “Yunna-ssi apa pendapatmu jika aku dan teman-temanku menjadi model iklanmu?”

“Perusahaanku itu bergerak dibidang pakaian wanita, kosmetik wanita dan perhiasaan wanita.” ujar Yunna mencemooh, sebetulnya ia ingin tertawa terbahak-bahak tapi demi menjaga wibawanya, ia hanya mencibir cuek. “Aku tidak tahu kalau kamu bersedia mengenakan rok dan berlengak lenggok di atas cat walk.”

Micky mengangguk, sama sekali tidak tersinggung dengan hinaan Yunna. “Aku bersedia tapi menurutku kamu pasti punya ide yang lebih baik daripada membuatku berjalan seperti waria di atas cat walk.”

Mata Yunna memicing tidak senang. Sindiran halus Micky menyentuh ego dan harga dirinya. Ia tidak suka dipermainkan dan Micky berpikir kalau dirinya bisa dipermainkan hanya karena ia perempuan.

Well, laki-laki itu salah.

Yunna tersenyum menusuk persis seperti senyum pemain antagonis yang senang menemukan korbannya. Kalau Micky berniat untuk bermain dengannya, Yunna akan melayani dengan senang hati.

Sudah lama ia tidak mendapatkan tantangan yang cukup menantang. Tidak akan diperlukan waktu lama untuk mengetahui motif Micky mendekatinya juga, ia yakin saat ini Big sudah mulai menentukan akan menyelidiki Micky dari mana terlebih dahulu.

Otak Yunna berpikir dengan cepat. Micky muncul di pesta ini tanpa undangan. Yang artinya dia memang datang dengan tujuan ingin mendekatinya. Tapi kenapa? Yunna belum pernah bertemu dengan Micky ataupun teman-temannya. Jadi apa yang membuat Micky tertarik padanya.

Tiba-tiba ia teringat, Micky atau FOx-T itu berada di naungan yang sama dengan Fendora. Artis LIME yang baru saja ia tolak. Ada sedikit rasa kecewa di dada Yunna saat mengetahui kalau Micky datang atas utusan agency korup yang tidak bisa menjaga anak didiknya dan memperlakukan mereka secara layak.

Hal ini juga yang membuat ia menolak bekerja sama dengan LIME. Padahal ia cukup menyukai beberapa artis perempuan di perusahaan itu. Mereka anak muda yang bersemangat, rajin dan maunbekerja keras. Sangat pas dengan konsep Cleo&Co.

Yunna memandangi Micky lagi. Setelah mengetahui tujuan Micky. Dengan berat hati ia harus merubah strateginya.

Yunna berdeham. “Maafkan kekurang ajaranku. Terus terang saya pikir kamu sebagai artis besar tidak mungkin bersedia menjadi figuran. Jadi lupakan proposisiku tadi. aku tidak akan mempermalukanmu.” ia tersenyum tipis melihat Micky.

Yunna sudah jalan kelaur lorong ketika Micky berusaha menarik tangannya. Yang tentu saja digagalkan oleh Big. Sebagai gantinya, Micky ditahan dengan muka menempel dinding.

“Beri aku 5 menit. Tidak, cukup 1 menit untuk menjelaskan padamu.” ucap Micky, panik. Ia tahu kalau ia tidak berhasil meyakinkan Yunna saat ini. Maka ia tidak akan memiliki kesempatan lagi.

“1 menit?” tanya Yunna tertarik. Ia meminta Big melepaskan Micky dengan satu anggukan.

Micky mengibas tangannya yang tadi dikunci oleh pengawal Yunna. Sial rasanya sakit bukan main.

“50 detik.” hitung Yunna.

Micky menghela nafas. “Lupakan soal penawaranku tadi. Aku akan membantumu secara cuma-cuma.”

“Itu saja?” tanya Yunna kecewa. Ia berharap Micky mengatakan sesuatu yang lebih cerdas. Tapi seharusnya ia tahu, seorang artis tetap hanya seorang artis. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk bersilat lidah.

Tapi ternyata Micky tersenyum. Senyum mengoda.

Mendadak Yunna merasakan debaran kencang di jantungnya. Debaran penuh antisipasi.

“Tentu saja tidak hanya itu Kim Yunna-ssi. Aku tidak hanya akan menjadi pacar pura-pura. Tapi aku menjadi tamengmu dan aku akan memberikan pelayanan penuh.”

Yunna tertawa, kembali kecewa, “Well, no thank you. Ada Big yang akan melakukan hal itu dengan senang hati.”

Yunna tahu seharusnya ia beranjak pergi dan menutup pembicaraan konyol ini. Tapi ia malah berdiri di sana. Memberi kesempatan lain untuk Micky. Entah kenapa ia menaruh harapan dan yakin kalau Micky akan menemukan sesuatu untuk meyakinkan dirinya.

Mungkin jika Yunna memberinya waktu yang memadai, Micky akan menemukan sesuatu.

Yunna menghampiri Micky dan mengecup pipi Micky. “Have a nice day. Micky-ssi. Senang berkenalan dengan anda. Aku akan menghubungimu jika memerlukan jasamu.”

Advertisements

One thought on “Damn, I love you – chapter 5

  1. Pingback: Damn, I Love You – Synopsis and Links « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s