Damn, I love you – chapter 6

“Apa rencanamu, Nona?” tanya Big tidak membuang waktu. Ia tidak menunggu mereka sampai di penthouse dan langsung menanyai Yunna begitu mereka masuk ke dalam lift khusus pemilik penthouse.

“Malam ini aku ingin istirahat. Cukup pastikan pihak Jepang siap menjemput kita besok. Kamu sudah lihat laporan keuangan cabang kita di Tokyo?”

Big melepas kacamatanya dan memberikan tatapan yang harusnya mengusik kesadaran Yunna, tapi ia telah mengajari Yunna dengan baik rupanya. Yunna bahkan tidak termakan gertakannya. Berterus terang mungkin lebih efektif untuk menyadarakan Yunna. “Apa maksud kamu dengan memcium Micky tadi?”

“Salam perpisahan biasa ala Perancis.” tutur Yunna sengaja membuat Big kesal. Yunna menolak melihat lurus pada Big. Nanti Big akan menyadari efek ciuman itu pada otaknya.
Pilihan Yunna jatuh dengan menyibukan diri melihat foto-foto pria berpotensi yang dibuat Mama.

“Don’t tease me, missy. Ini aku, Big yang mengenal kamu lebih baik dari dirimu sendiri. Bahkan aku hafal berapa banyak tahi lalat di tubuhmu itu.” Tutur Big kesal.

“Hmph? Masa sih?” elak Yunna. Yunna tidak tahu mengapa ia menolak menjawab pertanyaan Big. Yunna tidak bersedia menganalia debarann yang ia rasakan saat berciuman dengan Micky tadi. Yunna enggan menilai tindakan irrasionalnya. Dan Yunna menolak dengan tegas diintrogasi oleh anak buahnya sendiri.

Menurut Yunna cukup dirinya saja yang memikirkan Micky. Benar, memikirkan laki-laki kurang ajar yang menganggap dirinya bisa ditaklukan dalam satu malam. Laki-laki yang bekerja sebagai penyanyi idola. Bukannya merendahkan profesi Micky. Yunna hanya menganggap pekerjaan tersebut bisa dilakukan siapa saja asal mereka berpenampilan menarik.

Lamunanya diusik oleh Big kembali.

“Aku serius Yunna. Dia bukan laki-laki yang bisa kamu ajak berkencan satu hari dan keesokannya kamu lempar kelaut. Micky itu artis dengan ribuan pengemar dan kepopularitasan yang hanya bisa ditandingi oleh Lady Gaga.” ungkap Big membuat Yunna tertawa.

“Kamu mendapat informasi dari mana sih? Aku tidak percaya Micky setenar itu. Lagian, Big, kenapa kamu khawatir aku akan melempar dia setelah sekali pakai. Micky bukan tampon dan aku tidak berniat melemparnya setelah satu kali pakai.”

Walau Yunna tidak menatap Big langsung, Big tetap bisa melihat kilat binar di mata Yunna.

Big semakin khawatir. Big terlalu sering melihat kilat mata itu. Dan biasanya hal itu berarti Yunna sedang merencakan kegilaan yang baru. Big tahu Yunna teramat menyukai tantangan dan ia sudah sering menjadi saksi penaklukan Yunna. Kalau dulu tantangan itu hanya berupa pemacu adrenalin atau memenangkan tender perusahaan. Sekarang Yunna memulai permainan baru yang lebih berbahaya.

Berbahaya karena Yunna mengunakan hatinya sebagai taruhan. Big harus menghalangi Yunna sebelum semuanya terlambat.

“Don’t.” ucap Yunna. “Aku tidak akan merubah pikiranku. Dia datang atas suruhan LIME dan itu mengangguku. Dan Guru, dari siapa lagi kita akan mendapatkan informasi kalau bukan dari Micky?”

Mata Yunna semakin berbinar senang. Seluruh nadinya bergejolak menyambut misteri dan tantangan yang diberikan Micky. “Tenang saja. Aku tidak akan membiarkan dia merayuku. Aku memberi ijin untukmu memukulnya kalau ia berada terlalu dekat.”

Big mendengus, “Kayak kamu butuh bantuanku saja.”

Yunna tertawa. Benar juga. Dengan keahlian bela dirinya sekarang, membanting Micky bisa dilakukan semudah menjentikan jari.

Pintu lift terbuka dan perempuan dengan rambut panjang serta berkacamata menyambut Yunna. Keiko, sahabat Yunna itu bersiap hendak keluar rumah.

“Apa yang lucu?” sapa Keiko dan membiarkan Yunna memeluknya.

“Kamu mau kemana?” tanya Yunna, tanpa menunggu Keiko menjawab, ia berkata. “Big antar Keiko.”

“Tidak perlu. Aku bisa sendiri.” tolak Keiko buru-buru. “Cuma mengantar pakaian kok.”

Big menghentikan Yunna yang hendak mendebat Keiko. “Ijinkan saya, Keiko-ssi. Saya perlu menyelamatkan diri dari tugas memijat kaki Yunna. Lagipula ada gosip menarik.” big mengiring Keiko ke dalam lift. “Tadi Yunna ditodong oleh Mama.”

Yunna tidak bisa mendengar lagi apa yabg dikatakan oleg Big. Pintu lift sudah tertutup. Tapi ia tidak ragu Big akan melaporkan seluruh kejadian hari ini sedetail mungkin sampai Keiko diantar ke tempat tujuannya.

Ia tersenyum. Di dunia ini memang hanya Big yang bisa ia andalkan. Ia telah berbohong saat mengatakan bahwa ia meragukan ucapan Big.

Tapi apa gunanya. Big tidak akan pernah menjadi lebih dari pengawal. Sebaik apapun hubungan mereka. Sehebat apapun kerjasama mereka. Hubungan mereka tidak akan keluar dari batasan boss dan anak buah.

Mereka sudah mencobanya dulu dan gagal. Big bahkan nyaris kehilangan segalanya. Ia sudah cukup banyak belajar bahwa cinta tidak dapat menghidupi seseorang. Mungkin cinta bisa memberi semangat namun Yunna ragu cinta akan membawa keabadian.

Setidaknya cinta tidak memegang kendali dalam kehidupnya.

Dalam dunia Yunna, cinta hanya digunakan untuk memanipulasi orang lain.

Valentine hanya propaganda marketing untuk meningkatkan penjualan.

Bunga dan hadiah hanya pemanis.

Jika nanti ia menikah, laki-laki harus sepadan dengannya. Disetujui oleh keluarga dan membawa nilai tambah bagi Cleo&Co. Seorang laki-laki yang mampu mengimbangi kesibukannya, mendukungnya dan tidak membuatnya pusing.

Yunna mentertawakan kriteria laki-laki yang dicarinya. Ia betul-betul berubah menjadi wanita dingin rupanya. Dilirik file laki-laki berpotensi yang dipilihkan Mama. Mungkin ia harus membacanya, barang kali ada yang sesuai.

Bukan untuk dirinya. Untuk Keiko. Ia harus membuat Keiko melupakan abangnya yang bodoh itu. Sudah 2 tahun tapi Keiko masih saja menutup hatinya.

Ia sebagai mak comblang mereka dulu merasa sangat bersalah. Saat abang memutuskan untuk memilih kakak perempuan Keiko sebagai istrinya. Yunna ingin memutuskan hubungan dengan abang bodoh itu.

Bahkan orang tuanya tidak menyangka Yogi akan memilih perempuan selain Keiko. Tidak ada yang tahu apa sebab pindahnya hati Yogi ke Chiko. Tapi sekarang mereka sudah menikah dan dikaruniai seorang putri.

Yunna duduk di ruang kerjanya dan mulai meneliti daftar yang disiapkan Mama. 30 menit kemudian, Yunna melempar daftar tersebut ke dalam tog sampah.

“Sial, masa tidak ada satu pun sih yang cocok. Kalau mereka tidak terlalu tua, mereka tidak enak dilihat.” ia melirik daftar nama phonebook di hp-nya. Berusaha mendapat ilham.

Matanya terpaku pada nama Lime PH yang tertera di salah satu berkas yang teronggok di dalam tong sampah.

Kenapa juga ia jadi memikirkan Micky sih?

Memang cowok itu lumayan tampan, menarik dan masih muda. Tapi dia tidak akan bisa mengimbangi kepintaran Keiko. Apalagi kelihatannya Micky itu tidak pandai berbicara. Bisa-bisa mereka hanya diam-diaman saja saat kencan.

Yunna memutar kran di bathtub dan menyiapkan air hangat untuk berendam. Berharap air hangat itu bisa merenggangkan otot dan otaknya yang kusut.

Tidak sampai lima menit, pikiran Yunna kembali pada Micky. Pada ciuman mereka. Bukan kecupan asal yang ia berikan. Tapi ciuman panas yang mereka lakukan di depan Mama.

Ia meraba bibirnya. Mencoba merasakan kembali ciuman tersebut. Sudah berapa lama ia tidak dicium seperti itu?

Yunna tersenyum.

Well, setidaknya Micky pencium ulung. Mungkin ia betul-betul harus mempertimbangkan saran laki-laki itu. Setidaknya saat ia membutuh adegan seru, Micky tahu apa yang harus ia lakukan.

Laki-laki itu bahkan menantangnya untuk bertaruh.

Hmp!

Yunna keluar dari bath tub dan tergesa-gesa mengambil kertas dan pen. Mencatat semua ide yang terlintas di kepalanya untuk memulai permainan baru.

Ia menulis Conquer and quest. Y vs M sebagai judul dan semua ide mengalir lancar. Setelah 2 jam berlalu, Yunna naik ke atas kasur dan tertidur dengan senyum puas.

Besok akan menjadi hari yang menyenangkan.

Besok.

Advertisements

One thought on “Damn, I love you – chapter 6

  1. Pingback: Damn, I Love You – Synopsis and Links « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s