Damn, I love you – chapter 7

Apapun rencana Yunna untuk hari ini. ia terpaksa membatalkannya. Seharian ini ia terus disibukan oleh pekerjaan, meeting, konsultasi dan seribu satu macam masalah. Yunna sampai harus membatalkan beberapa janjinya agar ia bisa makan siang dengan tenang.

“Missy, kalau aku tidak mengenalmu, aku akan menganggap kamu sedang melarikan diri dari tanggung jawab.” omel Big saat ia menemukan Yunna berjemur di atap gedung.

Yunna mengintip dari balik kacamata hitamnya dan kembali memasang tampang cuek. Sekali-sekali boleh dong ia bersikap sesukanya. Matanya berkunang-kunang karena terlalu banyak melihat model pakaian dan pola.

“Big, bisa ingatkan aku lagi kenapa aku memutuskan untuk membangun perusahan pakaian wanita dan bukan menjadi pengacara seperti Oppa?”

“Karena kamu Yunna, bukan Yogi. Karena kamu lebih suka membantu orang lain dengan cara memberikan harapan dan mendukung masa depan mereka.” tutur Big mengulang sumpah Yunna. “Kenapa? Kamu menyesal sekarang? Aku bisa membantumu memilih suami dan kamu bisa langsung pensiun.” ledek Big sambil mengipasi Yunna.

Terik matahari hari ini termasuk yang paling panas sepanjang musim panas tahun ini. Big heran pada Yunna yang membenci matahari malah memilih untuk berjemur. Ditatapnya wajah cemberut Yunna. Ia menduga, Yunna pasti memikirkan hal-hal aneh lagi.

“Yunna-ya, kalau kamu bosan bekerja, kita bisa pergi mancing, diving atau manjat tebing. Kamu pilih saja. Aku tidak suka melihatmu cemberut mengerut seperti ini. Berasa mati kutu, tahu.” keluh Big bosan.

“Big,” ujar Yunna, ia duduk tegang sekarang dan melepas kacamatanya, meminta perhatian penuh dari pengawalnya itu. “Aku..” Yunna menjilat bibirnya, keraguan dan rasa malu untuk mengatakan rencananya membuat muka Yunna merah padam sekarang.

Big mengela nafas, sepertinya ia harus pasrah dan menurut pada kegilaan Yunna lagi. Dan sepertinya permintaan Yunna kali ini akan jauh lebih gawat dari yang sudah-sudah. “Bicaralah. Aku akan mendukung apa pun yang kamu rencanakan.”

Wajah Yunna berubah secerah matahari di langit sana. “Aku memutuskan untuk membuat kontrak dengan LIME.” Yunna mengangkat tangannya menghentikan protes Big. “Tadi kamu sendiri yang bilang kalau aku ini orang yang lebih suka menyediakan masa depan dibanding memberikannya dengan gratis. Aku menerima hasil laporan pembagian untung rugi LIME dan apa yang aku baca di sana membuat aku mual.” Yunna tersenyum selebar yang ia bisa, menutupi kegugupannya. Big memandanginya terlalu lekat. Yunna takut Big menyadari motif lain yang ia sembunyikan rapat-rapat di dasar hatinya.

Yunna menanti dengan sabar. Ia tahu tidak akan mudah untuk membuat Big memihak padanya. Yunna tidak ingin Big sekedar tunduk padanya, ia perlu persetujuan Big.

Pengawalnya itu tidak mengecewakanya. Big bersedia membantunya, mendukungnya seratus persen. “Aku akan mencari informasi lebih banyak lagi. Jangan bertindak sebelum aku yakin kamu bisa mengelabuhinya. Seekor buaya tidak akan disebut predator berbahaya jika mereka tidak mampu menunjukan giginya.”

Yunna melompat dan memeluk Big, “Aku tahu kamu akan selalu melindungiku. Aku berjanji tidak akan melakukan apa-apa tanpa seijinmu.”

Big mendengus, “Kalau aku mempercayai ucapanmu berarti aku sudah gagal mendidikmu, Yunna-ya.”

Yunna tertawa terbahak-bahak. Dasar Big, bisa saja meledeknya. Tapi biarlah, yang penting sekarang ia mendapat dukungan penuh dari pengawalnya itu. Yunna bisa lebih tenang menjalankan operasinya.

Micky-ssi, kamu akan menyesal sudah mengusikku.

Satu minggu kemudian. Yunna masuk ke studio NKTV. Stasiun nasional itu merayakan hari jadinya yang ke 50 dan mengundang dirinya untuk turut hadir.

Yunna duduk dengan manis di bangku tamu kehormatan yang telah disediakan oleh panitia. Dengan wajah jemu dan bosan. Berusaha mengingat kembali apa tujuannya menghadiri acara penuh keramaian seperti ini. Yunna tidak suka gedung tertutup dan dikerumuni banyak orang. Hal itu juga yang membuat dia jarang muncul di hadapan publik.

Yunna yakin sudah banyak orang yang berspekulasi tentang kedatangannya di acara ulang tahun ini. Bahkan sang pemilik NKTV duduk di sampingnya dan berusaha mengambil hati Yunna dengan mengajaknya berbicara setiap ada jeda pertunjukan. Memperkenalkan setiap nama artis dan pembawa acaranya.

Dalam hati Yunna, dia ingin menyumpal mulut si bapak itu dengan kaos kaki bau, biar pingsan sekalian.

Yunna memasang tampang serius sambil menonton penyanyi trot di atas panggung, berharap suara Kim Dae Won bisa meredam semua pikiran yang menari-nari di kepalanya. Setelah penyanyi kawakan ini, giliran Fox-T yang tampil.

Suasana ruangan mendadak riuh dengan teriakan dan jeritan gadis-gadis muda. Yunna berusaha untuk tidak menoleh ke sumber keributan tapi tangannya mengepal, mencengkram erat daun kursi. Panggung disinari oleh laser merah yang saling menyilang dan kemudian seluruh studio berubah gelap.

Satu per satu personil Fox-T dari tempat-tempat berbeda diikuti sorot lampu. Teriak kembali mengemuruh dan Yunna menyadari seberapa besar popularitas Fox-T. Tidak ada artis yang disambut semeriah Fox-T. Tidak ada artis yang sanggup membuat isi satu studio itu berteriak-teriak gila seperti yang Fox-T lakukan saat ini.

Kalau Yunna tidak mempedulikan image angguh dan tuan putri tak terjamahnya. Yunna juga akan ikut melompat dan berteriak bersama mereka. Lagu Switch yang dibawakan oleh Fox-T sudah membuat kakinya menari tidak bisa diam.

Lalu tiba-tiba matanya bersitubruk dengan mata Micky. Yunna berpikir jantungnya pindah ke lambung saat Micky menatapnya. Selama 5 detik itu, Yunna merasa dunia menciut. segalanya menghilang hanya tinggal dia dan Micky yang sedang bernyanyi di atas panggung.

Mata Micky yang memandang lurus hanya kepada Yunna, tidak hanya membuat jantung Yunna melambat. Seluruh tubuhnya seperti ikut bernyanyi sesuai dengan nyanyian Micky. Wajah Yunna memerah tanpa sebab dan ia tahu sesuatu telah terjadi dalam dirinya selama ia bertukar tatapan dengan Micky.

Lalu tahu-tahu lagu itu berakhir dan dunia kembali bersuara. Yunna tidak membuang waktu menunggu Fox-T selesai bernyanyi. Yunna segera meninggalkan bangkunya. Apa yang dilihatnya lebih dari cukup dan Yunna siap melakukan manuvernya sebelum menghadapi pemilik LIME.

Yunna memilih untuk mengunakan jalur khusus yang hanya boleh dilewati oleh artis pengisi acara atau orang penting lainnya. Jalur yang lebih aman untuknya agar tidak dikejar oleh wartawan. Yunna tidak akan sanggup menghadapi kuli-kuli tinta keras kepala itu seorang diri. Yang tidak Yunna perhitungkan, melewati jalur artis artinya ada kemungkinan dia akan bertemu dengan artis tersebut.

“Hei.” tangkap Micky dengan nafas berderu.

Terbasuh keringat, Micky hanya bisa memandangi Yunna yang juga balas menatapnya terkejut. Mau tak mau dada Micky kembali menderu.

Benarkah Yunna secantik ini? Micky memandangi bibir Yunna yang terlihat lebih merah dari yang diingatnya. Rambut perempuan itu juga terlihat lebih halus dari yang ia lihat. Micky menarik sejumput rambut Yunna yang berada di pipi perempuan itu.

Halus dan lembut. Sesaat Micky lupa apa yang membuatnya mengejar perempuan itu sampai ke lorong. Sesaat Micky hanya peduli apa yang dilihat olehnya di balik mata coklat Yunna yang berbinar dengan lincah.

“Hai, Micky-ssi.” Yunna mundur, memberi jarak di antara mereka. Menghilangkan aura magis di antara mereka.

“Dimana pengawalmu?” tanya Micky setengah gugup, setengah bingung. Dahinya membentuk lipatan tajam, kenapa juga dia mencari pengawal Yunna yang kekar sangar itu?

Yunna tertawa, untuk menutupi kegugupannya. Dia kenapa sih? Masa ditatap beberapa detik oleh Micky langsung kehilangan ketenangan yang ia bangun bertahun-tahun?

“Kamu ingin dia ada di sini?”

Micky mengelengkan kepalanya polos, “Tidak juga. Aku hanya berpikir tidak seharusnya kamu jalan-jalan seorang diri. Apalagi di tempat ramai seperti sekarang. Kamu bisa saja…”

“Apa yang membuatmu berpikir aku tidak bisa membela diriku sendiri?” tanya Yunna terlalu ceria. Ia tahu tidak seharusnya ia merasa senang tapi ia tidak tidak bisa menahan dirinya.

Micky mengaruk lengan kanannya yang tidak gatal itu. “Well, it’s not that.” Micky tidak sadar ia sudah mengunakan bahasa Inggris. Micky terlalu gugup.

Yunna memandangi Micky selama beberapa saat, kemudian membalikan badan. Tidak baik berbicara dengan laki-laki ini terlalu lama. Orang-orang bisa melihat mereka dan gossip akan menyebar secepat kilat sebelum ia siap.

Tangan Micky kembali mencengkram lengan Yunna. Secara Reflek Yunna memelintir lengan tersebut dan menahannya ke punggung Micky. Membuat laki-laki itu menempel ke tembok lorong.

Belum rasa terkejut Yunna padam, dia tidak bermaksud untuk mengasari Micky. Hanya reflek melindungi dirinya. Tangan Micky yang bebas menyentuh pinggang Yunna, membuat Yunna terkejut dan melonggarkan cengkramannya.

Micky tidak menyia-nyiakan kelengahan Yunna, ia balik menahan kedua tangan Yunna ke tembok dan mengurung perempuan itu dengan kedua sikunya. Persis adegan-adegan romantis.

Micky yang kembali menatap mata Yunna harus kembali mengakui kalau Yunna itu memang perempuan yang tidak mudah diintimidasi. Alih-alih terlihat takut, mata coklat itu malah berbinar ceria.

“Aku tidak menyangka kamu menguasai beladiri.”

“Maaf, aku hanya reflek. Tapi sepertinya posisi ini boleh juga.” Micky menempelkan kepalanya lebih dekat dengan kepala Yunna. Maju satu langkah hingga pinggang mereka bertemu.

Tubuh mereka menempel dengan pas. Micky ingin menyatukan seluruh tubuh mereka tapi nanti Yunna bisa terkejut melihat – merasakan bukti gairahnya.

“Micky-ssi, kamu cari mati ya?”

Ancaman Yunna terdengar seperti omong kosong murahan. Karena Micky bisa melihat Yunna menikmati kedekatan mereka. Dada perempuan itu naik turun dan mata Yunna sedikit mengelap.

Micky mengeleng, “Aku hanya mencuri kesempatan. Kamu sulit sekali dijinakkan. Yunna-ssi, apa kamu pernah duduk diam dan…’

Yunna memotongnya dengan terkikik, “Simpan rayuanmu. Aku datang kemari memang untuk mencarimu.”

Sekarang mata Micky membelalak terkejut. Yunna memajukan tubuhnya, membuat jarak kepala mereka semakin dekat, kurang dari 3 cm dan ketika Yunna berbisik, bibir itu nyaris menyentuh bibirnya. “Aku sudah mempertimbangkan tawaranmu.”

Tawaran yang mana? tanya Micky dalam hati. Otaknya sudah lumpuh dipenuhi oleh hasrat. Micky tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Yunna sama sekali dan sepertinya ia membuat Yunna kesal karena Yunna memundurkan kepalanya, seluruh tubuhnya kembali ke dinding dan menatapnya dengan tajam.

“Micky-ssi, kamu harus mengontrol dirimu lebih baik lagi. Tapi terserahlah, aku tidak akan muncul dalam hidupmu terlalu sering. Hanya 1 kali tampil bersama dan kamu bebas.’

Dahi Micky kembali membentuk segitiga. Tampil apa? Dimana?

“Micky-ssi, aku setuju untuk melakukan kontrak dengan LIME kalau itu yang menjadi syarat darimu. Tapi kamu harus menjadi pacar pura-puraku untuk batas yang tidak ditentukan. Aku belum mengkalkulasikan seberapa besar impact hubungan pura-pura itu, tapi melihat kepopularitasanmu sepertinya bisa berita kita tidak akan surut setidaknya satu bulan.”

Micky melepas kungkungannya dan menatap Yunna bingung, “Tunggu, bicara pelan-pelan. Kamu setuju dengan persyaratanku? Memangnya aku pernah mengajukan sesuatu padamu? Lalu apa maksudmu dengan pacar pura-pura?”

Belum juga Yunna menjawab, otak Micky sudah kembali dan menampilkan kejadian terakhir kali mereka bertemu. Micky menepuk kepalanya dan tersenyum malu pada Yunna. “Maaf, otaku tidak berpikir jernih. Jadi kamu setuju memakaiku sebagai modelmu? Dan aku cukup tampil 1 kali di depan publik sebagai pacarmu?”

Yunna kesal dengan pembicaraan berputar-putar ini jadi ia hanya mengangguk.

“Tapi aku harus tetap menjadi pacar pura-puramu sampai batas yang tidak ditentukan?” Micky menaikan satu alisnya. “Tidak bisa begitu, Yunna-ssi.”

Yunna memasang tampang aku-mendengarkan-silakan-teruskan.

Micky tersenyum, “Kalau kamu mau aku menjadi pacar pura-puramu, kita harus tetap berkencan selama masa yang tidak tertentukan itu. Kamu tidak mungkin memintaku untuk jadi pariah kan?”

Yunna menahan dirinya untuk tidak tertawa, dia pikir Micky keberatan karena apa. ternyata laki-laki itu hanya memusingkan desakan hormon dan hasratnya saja. Bukan penawaran yang buruk. Dengan jadwal sibuk mereka, seberapa sering sih mereka akan bertemu?

Yunna mengangkat tangan kanannya.

“Aniya, Yunna-ssi. Untuk perjanjian seperti ini, harus disahkan dengan sebuah ciuman.”

Micky mengecup bibir Yunna. Kecupan singkat yang harusnya tidak berarti apa-apa. Hanya untuk mengagetkan Yunna. tapi tahunya Micky sendiri mengalami gagal jantung, ia mematung dan membiarkan bibirnya menempel lebih lama di bibir Yunna.

Advertisements

One thought on “Damn, I love you – chapter 7

  1. Pingback: Damn, I Love You – Synopsis and Links « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s