Damn, I love you – chapter 8

Micky masih tidak percaya ia menuruti begitu saja perintah Yunna. Ia melesat begitu mendapat telepon dari perempuan itu tanpa mempertimbangkan tujuannya.

Well, ia tahu bahwa yang ia tuju itu apartment baru di daerah KangNam yang harganya bermiliyaran. Kawasan elite yang bernuansa barat. Tapi ia tidak menduga kalau alamat Yunna itu merupakan penthouse yang harganya belasan Miliyar.

Saat masuk ke lobby, ia langsung diperiksa menyeluruh, melepaskan sepatu, kaus kaki dan jaket. Membuatnya malu luar biasa. Terlebih karena keamanan yang memeriksanya itu perempuan dan sempat-sempatnya main mata dan meminta foto bersama, ngan dirinya yang setengah telanjang.

Dalam posisi linglung, ia setuju pula!

Ia betul-betul berubah menjadi cowok bodoh jika sudah berhubungan dengan Yunna. Otaknya berubah menjadi jelly cair bahkan sebelum bertemu dengan perempuan itu!

Namun neraka belum berakhir. Sekarang ia disuruh menunggu di ruang duduk. Sebetulnya ruang itu cukup nyaman. Ditata dengan gaya sederhana, dengan 3 sofa panjang yang mengelilingi meja pendek. Di sekelilingnya terdapat banyak lemari buku. Dan sebuah layar putih yang sepertinya digunakan untuk proyektor.

Di ujung kanan ada jendela besar menghadap beranda yang dihias seperti taman gantung. Dengan kolam berenang pribadi!

Semua terlihat begitu mewah dan homey. Seklai lagi, ia tidak mengerti mengapa ia merasa nyaman sekaligus canggung berada di ruangan itu.

Mungkin karena ada orang lain di sana?

Ia melirik canggung pada perempuan berambut panjang dan berkacamata yang sedang sibuk menjahit di pojok kiri ruang tamu. Perempuan itu tidak mengubrisnya sama sekali. Sibuk dengan pekerjaannya. Membuat situasi semakin tidak nyaman untuk Micky.

Ia tidak bisa mengacuhkan perempuan itu. Beberapa detik sekali ia akan mendongkak dan melihat perempuan itu. Mungkin rasa penasaran karena perempuan itu terlihat begitu larut dalam pekerjaannya. Tapi dari penampilannya, ia tidak bisa dikatakan bekerja untuk Yunna. Di sisi lain, ia tidak bisa membayangkan Yunna tinggal dengan orang lain. Terlebih jika orang tersebut begitu bertolak belakang dengan penampilan Yunna.

Perempuan yang ini mengenakan kaos gombrong bergambar Micky mouse, celana pendek dan betul-betul terlihat nyaman di sana.

Ia berdiri ketika melihat pengawal Yunna muncul. Ia baru saja ingin mengucapkan salam sebelum pengawal tersebut menyerbunya dengan ceramah panjang lebar.

“Sebelum kalian pergi, biar aku ingatkan padamu, Hubungan kalian hanya pura-pura. Anda tidak boleh melakukan sesuatu di luar dari perjanjian yang sudah anda tanda tangani. Setiap kegiatan kalian akan dipantau dan beritahu saya jika ada perubahan rencana.” tegas Big berapi-api.

Micky hanya tersenyum malas. Dasar anak buah Yunna. Intik sekali dengan majikannya.

“Big, jangan mengagetkannya seperti itu.” tegur si perempuan tadi. “Yunna akan memarahimu nanti kalau dia sampai kabur.”

Perempuan itu bangkit berdiri dan menjulurkan tangannya pada Micky. “Hai, namaku Keiko. Teman Yunna.”

Micky menyambut uluran tangan tersebut dan menjabatnya. Perempuan itu tersenyum lembut. Senyum yang membuat seseorang merasa diterima terlepas siapa dirinya. Senyum itu juga membentuk lesung pipit di pipi kanannya.

“Maaf aku tidak memperkenalkan diri terlebih dulu. Tadi lagi nanggung.” ujarnya lagi dan meminta Micky kembali duduk.

Keiko memandanginya dengan senyum lebar dan terlihat puas dengan apa yang ia lihat.

“Tapi Keiko, dia harus mengerti keseriusan tugasnya. Aku tidak bisa membiarkan Yunna pergi bersama laki-laki buaya sepertinya.” tegur Big lagi.

Micky meringkis, enak saja Big menghinanya seperti itu.

Keiko tertawa dan mengibas tangannya, “Memangnya kamu percaya semua yang diberitakan di media?”

“Aku percaya dengan hasil penelitianku.”

Sekali algi Micky meringkis. Jadi mereka sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh mengenai dirinya? Ia menganti posisi duduknya yang mendadak terasa tidak nyaman. Siap diceramahi kembali.

Keiko kembali tertawa, kali ini disertai dengan pukulan-pukulan kecil ke lengan atas Big. “Kamu mulai bertingkah seperti Yogi sekarang?” ledek Keiko mengungkit reaksi heboh abang Yunna kemarin yang sama-sama menolak gagasan Yunna. Abang Yunna sampai mengancam akan membocorkan rahasia ini ke orang tuanya. Namun ancaman itu ditepis dengan mudah, Yunna mengancap balik akan membuat istri Yogi mengikuti Yogi terus jika Yogi sampai mengagalkannya.

“Sudah, biarkan Yunna menikmatinya. Nonamu itu sekali-sekali perlu pencerahan.” Keiko tersenyum pada Micky sebelum berbisik pada Big. “Lebih baik dengan yang ini dibanding ia pergi dan….”

Big memutar matanya dan menatap Keiko, “Argh, jangan mengingatkan aku lagi. Memangnya kamu pikir kenapa aku setuju dengan ide gila ini.”

Mendadak Big memutar badannya dan menghadap Micky. Menilai penampilannya dari ujung kepala ke ujung kaki. Kemudian tersenyum senang.

Micky tidak melihat hal itu sebagai hal yang baik. apapun yang membuat Big senang tidak mungkin baik baginya.

Big menepuk-nepuk pundak Micky, “Selamat berjuang.” kemudian ia bangkit dan menghilang lagi ke balik pintu.

Meninggalkan Keiko yang tertawa terpingkal-pingkal dan dahi Micky semakin mengerut.

“Apa maksudnya?” tanya Micky tanpa sadar.

Tawa Keiko semakin kencang. Dibutuhkan beberapa saat untuk perempuan itu mengumpulkan ketenangannya, “Maaf, tapi ini terlalu lucu.” ia kembali terta kecil. “Aku tidak tahu Big seposesif itu. Dia sudah menjaga Yunna sejak kecil, persis kakak kandungnya sendiri.”

Micky hanya mengaruk kepalanya, bingung harus menimpali apa dari ucapan Keiko tersebut.

“Terus terang aku lebih khawatir dengan keselamatanmu.” ujar Keiko ringan namun sukses menyita perhatian Micky. “Yunna belum pernah secara terang-teranngan mengakui hubungannya di depan publik. Berita kalian pasti akan heboh.” Keiko tersenyum ceria, dan kembali tertawa kecil. “Cukup pastikan kamu tidak jatuh cinta padanya. Tapi aku rasa itu peringatan tidak perlu.”

Dahi Micky mengerut, apa dia salah lihat tadi? Keiko menatapnya dengan pandangan penuh simpati?

“Tenang saja, aku tidak akan jatuh cinta pada temanmu itu.” tuntas Micky. Entah apa yang mendorongnya untuk mengatakan hal tersebut. Tapi ia tidak bisa menariknya kembali, terlebih ketika Keiko membalasnya dengan senyuman penuh arti.

“You will.” ujarnya, “Or should i say, you have?”

Micky ingin mendebat ucapan Keiko. Ia tidak jatuh cinta pada perempuan dingin itu.

“What did you have?” tegur Yunna memasuki ruangan.

Dua orang itu menoleh padanya. Yang satu tsenyum hangat sedangkan yang satu menatapnya terkejut.

Yunna melirik dirinya, apa ada saus yang menempel di pipinya? Ia tidak bercermin dulu saat selesai makan ddeokpeoki buatan Yunna tadi.

“Ada apa?” tanya Yunna semakin bingung ketika Keiko terbahak-bahak.

Temannya itu dengan menyebalkannya hanya mengeleng dan menaikan tangannya di atas kepala membentuk tanda hati. Yunna ingin membalas dengan menjulurkan lidahnya tapi dengan Micky berdiri diantara mereka, laki-laki itu pasti akan menatapnya bingung.

Yunna memberi tatapn menusuk pada Keiko, berharap sahabatnya menjaga sikap.

Tapi dasar konyol, Keiko malah berlaga memeluk Micky dan mebuat adegan cium kiri kanan.

Yunna mengeram menahan tawa. Lalu buru-buru menyapa Micky ketika melihat laki-laki itu ingin memutarkan badan.

Bisa gawat kalau Micky melihat kekonyolan Keiko.

“Micky, kenapa kamu datang dengan pakaian seperti itu?” Yunna mengigit bibirnya, kenapa juga ia harus mengkritik pakaian Micky. Laki-laki mengenakan jaket dengan kaos dan celana jeans. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan dandanan itu, tapi karena ia sudah terlanjut mengomentari, Yunna terpaksa meneruskannya, “Kamu tidak mungkin menemanikua ke pesta dengan pakaian itu!”

“pesta apa? Kamu ngak bilang apa-apa tadi.” protes Micky.

Sial Keiko malah tertawa melihatnya salah tingkah. Ia harus mengingatkan dirinya untuk mencekik sahabatnya itu nanti.

Keiko menghela nafas, sepertinya ia harus segera pergi kalau tidak ingin mempermalukan dirinya lebih lanjut. Ditariknya Micky keluar dari rumah, masuk ke dalam lift.

“Kita akan mampir ke tempat temanku dulu, tidak akan sempat jika kita kembali ke rumahmu untuk berganti pakaian.” Yunna mengibas rambut pendeknya yang sudah ditata rapi. Pouch berwarna emas dipindah-pinahkannya dari kiri ke kanan. Menunjukan kegelisahannya.

Micky mengambil tas tersebut dan menjepitnya di keteknya.

Sepertinya tindakannya cukup mengejutkan Yunna. Perempuan itu memelototinya sekarang.

Bagus, Yunna juga harus merasakan sedikit perasaannya tadi saat melihat perempuan itu muncul dengan mengenakan cheongsam berpotongan pendek berwarna merah marun dengan printing dan payet berbentuk anggrek yang bertebaran. Jelas pakaian untuk acara pesta.

Salah satu hal yang paling tidak disukai Micky adalh salah berpakaian. Ia heran mengapa ia selalu tampil salah jika berhadapan dengan perempuan ini.

Tapi sudah cukup. Ini terakhir kalinya ia membiarkan Yunna mengontrolnya.

Ia berjalan menuju pintu parkir, tidak menjawab pertanyaan Yunna dan terus menuju mobil ferarri merah miliknya.

Menekan tombol untuk membuka pintu bagasi.

Ditariknya salah satu bungkusan dan mengeluarkan setelan jas armani hitam miliknya. Ia tidak menunggu Yunna membalikan badan dan segera mencopot pakaiannya satu per satu.

“Kamu kan bisa memberitahuku dulu.” omel Yunna. Ia memungguni Micky.

“Impas kalau begitu.” balas Micky.

Yunna ingin sekali membalikan badan dan mengejutkan Micky. Ia menghabiskan cukup banyak waktu dengan pertebatan batin tersebut hingga saat ia memutar badannya, Micky sudah selesai mengenakan kemeja dan celana sopan. Jas hitam dilempar Micky ke jok belakang.

Laki-laki itu beralih ke pintu penumpang dan mempersilakan Yunna duduk tanpa sepatah kata.

Yunna masuk dan pintu dibanting cukup kencang.

Yunna mendelik, apa-apaan cowok ini. Ia siap memarahi Micky tapi cowok itu menaikan telunjuknya, “Save it. Aku tidak akan mendengarkan ocehanmu, kalau kamu ingin aku bersikap baik, kamu juga harus melakukan hal yang sama.”

“Apa maksudmu?”

“Kamu sudah mengajukan semua persyaratan dan aku sudah menyetujuinya. Sekarang giliran aku.” ucap Micky sambil memacu mobilmya keluar dari lapangan parkir. “Aku minta kamu untuk memberikan pemberitahuan setidaknya 3 jam sebelumnya jika kamu mendadak memutuskan untuk mengajakku keluar.” micky terus mengoceh, “Kamu harus bersyukur hari ini aku tidak ada pekerjaan dan tolong jangan buat aku menganti pakaian lagi di tempat umum seperti tadi. Aku tidak pernah nyaman dengan exposure, apalagi kalau itu dilakukan di tempat parkir.”

Micky masih punya segudang komplain tapi Yunna keburu tertawa di sampingnya.

Micky menghentikan mobilnya dengan kasar. Mereka sudah berada di depan gedung apartment Yunna, di perempatan besar.

“Apa yang lucu?” tanya Micky sengit.

Yunna menepuk bagian bawah matanya, menghapus airmata tawanya. “Aku..hahaha…ya ampun…” Yunna mengigit bibirnya menahan tawanya agar tidak kembali lepas. “Maaf, tapi.” Yunna mengambil nafas, “Kamu marah karena aku tidak membuatmu ganti baju di parkiran? Perasaan tadi aku memintamu untuk pergi ke tempat temanku.”

“Aku tidak suka mengenakan pakaian orang yang tidak dikenal.”

“Temanku bernama Bobby Kim.” ujar Yunna menyebut nama designer terkenal Korea.

Micky tidak tahu ia harus menaruh mukanya dimana. Sekarang ia tahu kenapa Yunna tertawa. Ia sudah bertingkah bodoh lagi dengan marah-marah sendiri.

“Tapi aku minta maaf. Kamu benar. Tidak seharusnya aku memintamu datang mendadak seperti ini. Tapi situasi sedikit genting dank aku terpaksa memanggilmu.” Yunna menambahkan senyuman manis untuk menutup perrmintaan maafnya.

“Senyum kamu cantik.” ucap Micky mengejutkan Yunna. Mengejutkan dirinya juga.

Yunna memandang Micky, mencari tahu apa tujuan laki-laki itu mendadak memujinya demikian.

“Aku mengatakannya dengan keras ya?” Tanya Micky merasa bodoh. Mengutuki dirinya lagi. Tampaknya ia memang tidak ditakdirkan bersikap baik di hadapan Yunna.

Ia melirik Yunna yang masih juga menatapnya. Micky tidak bisa balik memandang Yunna, ia harus melihat ke arah jalanan kalau tidak ingin tabrakan.

“Tujuan kita Hotel Shila. Kamu bisa putar balik di depan sana.” unjuk Yunna, dan Micky mengikuti.

Yunna duduk menyamping, menghadap Micky. Ia ingin mendapatkan full akses untuk memperhatikan laki-laki itu. Ia harus mempertimbangkan masak-masak apa yang harus ia lakukan sekarang. Ucapan Micky tadi membuatnya tersentak.

Satu karena ia tidak menyangka akan menurunkan pertahanannya secepat itu. Tapi rasanya wajar setelah apa yang dilakukan oleh Keiko. Sahabatnya itu selalu bisa membuatnya merasa santai kapan saja, dimana saja.

Kedua, kemarahan Micky tadi entah bagaimana membuat Yunna merasa penting. Bukannya ia tidak penting, ia tahu Micky menghargai perjanjian mereka sebesar dirinya menghargai perjanjian tersebut.

Kemarahan Micky tadi lebih menunjukan bahwa kepentingan Yunna menjadi perhatian utama Micky. Bahwa apa yang ia katakan, ia inginkan penting untuk laki-laki itu.

Tapi apa alasan Micky melakukan hal itu, ia harus tahu.

“Micky-ssi. Boleh aku bertanya satu hal?”

Micky mengangguk.

“Soal kontrak dengan Lime. Simon yang menyuruhmu untuk melakukannya? Pikirkan jawabanmu baik-baik.” tanya Yunna sekaligus memperingati.

Advertisements

One thought on “Damn, I love you – chapter 8

  1. Pingback: Damn, I Love You – Synopsis and Links « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s