Damn, I love You – chapter 9

“Kenapa Simon sampai harus menyuruhmu? Apa yang akan kamu dapatkan sebagai gantinya?”

“Kenapa kamu berpikir aku akan mendapatkan sesuatu? Bisa saja aku hanya diberikan perintah dan harus menaatinya.” elak Micky.

Micky tidak merasa heran Yunna mencurigainya. Mereka sudah menyelidiki dirinya bukan. Cukup mudah menghubungkan titik-titiknya dengan otak Yunna yang cerdas. Yang menjadi pertanyaan seberapa jauh Yunna mengetahui rencananya dan seberapa banyak Micky harus berterus terang pada Yunna. 

Tapi pikirannya sedikit buntu saat Yunna berkata, “Kamu tidak terlihat seperti sapi yang dicocokan hidungnya. kamu pasti membutuhkan sesuatu dari Simon. Bagaimana kalau aku yang mengabulkan keinginanmu dan kamu berhenti merayuku?”

Mau tidak mau Micky tertawa. Setelah membuatnya menjadi pacar pura-pura, sekarang Yunna memintanya untuk menjaga sikap.

Rasa penasaran menggugah Micky, “Apa seburuk itu? Atau kamu lebih terbiasa dipuji beautiful? Pretty than flower?” You eyes light my heart like the start light the sky?” goda Micky, Ia tahu Yunna mahir mengunakan bahasa Inggris. Dari Naver Micky mengetahui Yunna itu lulusan Chicago University. Dan sekali lagi ia berhasil membuat Yunna tertawa.

“Itu dan semua kalimat gombal lainnya.” jawab Yunna lebih santai. “Kenapa cowok itu tidak kreatif ya?”

“Karena tidak ada pujian yang lebih tinggi dibanding mengatakan seorang wanita itu cantik. Sedangkan mereka yang mengunakan kata-kata tidak ada kata yang bisa melukiskan blablabla itu orang-orang malas.”

Yunna terkikik sekarang, “Astaga, kamu sebagai playboy, kritis juga ya.”

“Memangnya playboy tidak boleh berintelektual?” Micky membela diri. “Aku ini dianggap cowok pandai loh.”

“Oleh perempuan-perempuan yang kamu kencani?”

Micky tersenyum mendengar nada cemburu Yunna. “Teman-teman Fox-T.”

Lagi-lagi Micky dibuat terpana oleh Yunna. Perempuan itu memasang senyum kesuakaan Micky. Senyum yang berasal dari hati dan membuat seluruh wajah Yunna berbinar. Senyum yang pernah Micky lihat di hari berhujan itu. Senyum yang membuatnya ingin mengapai dan memeluk Yunna.

Untung mereka ada di lampu merah, jika tidak mereka pasti sudah tabrakan. Micky terpesona hingga rohnya melayang keluar dari tubuhnya, alias bengong.

“Kenapa kamu…” Micky memulai kembali, “Kenapa kamu merasa terganggu jika aku memujimu cantik?”

Yunna memasang kembali wajah seriusnya. “Karena menurutku tidak perlu. Kita hanya partner bukan pasangan sungguhan. Jika pujian itu kamu lontarkan saat kita berada di depan umum.” Yunna mengangkat bahunya, “Aku tidak akan protes. Tapi berduaan begini.” Yunna memasang wajah mual.

 

“Aku tetap akan memujimu setiap aku menginginkannya.” tandas Micky acuh.

Mereka terdiam untuk beberapa saat. Micky memfokuskan kembali perhatiannya ke jalan raya. Hari ini lalu lintas padat luar biasa. Padahal hari sudah cukup malam.

“Jadi apa yang kamu butuhkan?” tanya Yunna kembali memulai percakapan. Diam malah membuat suasana menjadi aneh. Dan Yunna tidak suka keanehan. Membuatnya menerka-nerka akan ketidak pastian. Segala hal yang tidak pasti akan mendorong naluri Yunna yang biasanya berujung kekacauan.

Micky mengambil jeda panjang sebelum menjawab pertanyaan Yunna. Jika Micky mengutarakan rencananya, Micky tahu Yunna akan langsung turun tangan membantunya. Lalu mereka akan berpisah. Kembali ke kehidupan mereka masing-masing.

Mendadak Micky merasa sayang jika dia harus kehilangan Yunna. Perempuan itu tidak sekejam yang Micky duga. Malah rasanya ada Yunna ini mengemaskan dan lucu. Jadi melawan semua akal sehatnya, Micky memberi jawaban absurd, “Sesuatu yang hanya bisa diberikan oleh Simon.”

“I see.” jawab Yunna pendek. “Jadi kamu akan tetap memintaku untuk membuat kontrak dengan LIME untuk jasamu?”

“Tidak.”

“Tidak?” tanya Yunna bingung.

“Kamu akan membuat kontrak karena kamu tahu itu hal yang benar.” Koreksi Micky. “LIME memiliki lebih banyak artis kondang dan memiliki lebih banyak tawaran dari yang bisa kamu dapatkan di luar sana. LIME juga terkenal dengan kinerjanya yang optimal. Kamu tidak akan mengalami masalah dengan sang artis .” Micky memelankan laju kendaraan, mereka sudah tiba di depan lobby Hotel Shila. “Yang paling penting, dengan menandatangani kontrak bersama LIME, CLEO&Co. akan mendapatkan akses tambahan di bidang entertaiment.”

“Menarik.” ujar Yunna dan mulai menepuk-nepuk dagunya dengan telunjuk. “Kamu tahukan LIME banyak terlibat masalah HAM? Dengan menandatanggani kontrak dengan mereka sama saja aku mendukung kekejaman mereka.” tuding Yunna.

Micky tidak bergeming, ia malah menjawab dengan santai. “Masalah HAM itu selalu diselesaikan secara kekeluargaan. Lagipula kamu tidak bisa menyebut mereka melanggar HAM kalau pihak korban menyetujui dipelakukan demikian.”

Yunna mendengus, “Kamu bicara seakan-akan para trainees itu memiliki pilihan.”

Micky tersenyum. “Tepat itu maksudku.”

Mobil Micky hampir tiba di barisan depan lobby. Ia semakin jelas melihat tamu-tamu yang hadir. Semua orang penting. Ada mentri pariwisata yang kebetulan dikenalinya. Mentri pemuda dan olahraga serta istrinya.

Jantung Micky mendadak terasa dicengkram oleh seseorang, membuatnyaa sesak nafas. Dengan pengendalian yang sempurna Micky berhasil membisikan, “Acara apa sebetulnya ini?”

“Ulang tahun Papa.” jawab Yunna yang terdengar sebagai ultimatum kematian di kuping Micky.

Micky meringkis. Ingin sekali mencekik leher Yunna detik itu juga. Bisa-bisanya Yunna mengajaknya ke acara sepenting ini tanpa memberitahunya terlebih dulu. Micky jadi meragukan niat Yunna untuk menjadikannya tameng. Jangan-jangan tujuan Yunna itu untuk mempermalukan dirinya.

Ingin lari sekarang juga percuma. Lebih baik Micky menyiapkan senyum terbaik miliknya dan berakting dengan baik.

Ratusan kamera menyambut Micky ketika ia turun di depan lobby hotel. Micky membukakan pintu untuk Yunna dan kilatan kamera yang menghujani mereka bertambah dua tiga kali lipat.

Seorang anak politikus mengandenga penyanyi playboy. Micky membayangkan kira-kira seperti itu headline utama yang akan muncul besok. Ataulebih parah lagi, Alasan mengapa Micky Fox-T bersama Kim Yunna.

Micky tetap memamerkan senyum satu juta dollarnya dan mengiringi Yunna hingga ke pintu masuk.

……..

Nafas Yunna terasa semakin pendek dalams etiap langkahnya melewati karpet merah itu. AgoraPhobia memang sudah membaik tapi bukan berarti Yunna siap berada di tengah kerumunan.

Selama ini, Yunna selalu mengandalkan Big untuk menyelamatkannya. Baik dari sekedar menjadi tameng sampai mengatur agar Yunna tidak perlu muncul di awal acara.

Sial, kenapa juga Yunna menyetujui usul Keiko untuk meninggalkan Big. Pergi berduaan dengan orang asing di tempat umum sama saja seperti Yunna melemparkan diri ke kandang singa dengan berlumuran darah.

“Relax and smile. Aku ada di sisimu.” Bisik Micky disertai kedipan centil.

Perlu beberapa detik untuk Yunna mengolah ucapan Micky, tapi akhirnya Yunna bisa tersenyum. Senyum tipis dan hanya sekilas. Yunna memerintahkan dirinya untuk tenang. Gengaman tangan Micky yang erat turut membantu. Ditambah dengan elusan halus di punggungnya, Yunna menjadi lebih tenang dan lebih yakin pada dirinya. Pada Micky.

Yunna langsung tersipu begitu melihat Micky menatapnya dengan tatapan mengoda. Dasar playboy norak. Kenapa Micky bisa bermain-main di saat penting seperti ini? Bercanda dengan para wartawan. Melemparkan ciuman ke kiri dan ke kanan. Membuat mereka itu tertawa.

Yunna dibuat lupa kalau mereka sedang berjalan di tempat umum dan dikerubuti orang. Micky membuatnya merasa senyaman di rumahnya sendiri dan sedang melihat kekonyolan Micky. Tertawa dan ikut tersenyum bersama Micky dalam setiap langkahnya.

Tanpa terasa mereka sudah tiba di ujung jalan. Tepat di depan pintu masuk mereka memutarkan tubuh. Seakan mengerti, para wartawan itu mendorong mic mereka dan mengarahkan seluruh kamera ke arah pasangan itu.

Ini dia saatnya, pikir Yunna. Cukup dengan satu kalimat sederhana. ‘Kami berpacaran’ selesai sudah tugasnya. Yunna menarik nafas dalam-dalam, siap meluncurkan kata demi kata dengan perlahan dan ia mematung.

Lagi-lagi Micky mencuri ciuman darinya. Yunna ingin menjerit dan mendorong Micky agar menjauh. Menamparnya kalau perlu. Tapi Micky tidak menciumnya dengan mata terpejam. Micky malah memandanginya dengan kerliangan nakal.

Yunna sadar kalau Micky hanya membantunya untuk menyampaikan maksud mereka dengan lebih sedikit kata-kata. Yunna tahu ia seharusnya bersyukur akan creative thinking Micky. Action talks more than words, right? Lalu kenapa Yunna malah merasa sebal dan ingin mengigit bibir Micky.

Tiba-tiba ciuman ringan itu berubah menjadi lebih intense. Micky melumat bibirnya, lidahnya bermain-main di bibir Yunna. Mendesaknya untuk merespon. Membuat bibirnya terasa disengat dan bengkak. Yunna menelan dengan susah payah keinginan untuk merespon Micky. Keinginan untuk membelai laki-laki seperti yang dilakukan Micky padanya.

Mendadak Micky menghentikan ciuman mereka, melepaskan rengkuhannya dan menyapukan jari telunjuknya ke bibir Yunna yang bengkak dan memerah. Kerlingan nakal masih tertinggal di mata Micky walau sekarang mata itu sedikit lebih gelap.

“Aku berharap itu cukup untuk membuat berita.” ucap Micky sebelum menarik Yunna masuk ke dalam Hotel.

Advertisements

One thought on “Damn, I love You – chapter 9

  1. Pingback: Damn, I Love You – Synopsis and Links « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s