Damn, I love you – Chapter 10

“Satu masalah selesai.” bisik Micky.  Dirangkul Yunna lebih erat. Perempuan itu terlihat bisa pingsan kapan saja.

Lucu juga, Micky tidak pernah menyangka kalau Yunna akan panik saat berdiri di depan umum. Micky tersenyum dalam hati. Yunna ternyata memilki kelemahan! Mungkin seharusnya ia bersorak karena akhirnya ia memiliki sesuatu yang lebih unggul dibanding Yunna. Micky tidak pernah punya masalah untuk tampil di depan orang banyak. Baik sekedar bernyanyi atau berpidato. Mungkin nanti dia bisa mengajari Yunna?

Kepercayaan diri Micky melambung tinggi. Ia bergerak semakin luwes dalam mendampingi Yunna. Ikut melemparkan lelucon kecil saat dibutuhkan atau sekedar diam mendengarkan  Yunna berbincang-bincang.

Yunna sudah kembali menjadi dirinya yang angguh, luwes dan penuh percaya diri. Sama sekali tidak terlihat kalau tadi ia baru saja mengalami krisis kepanikan.

Micky salut padanya. Yunna begitu cepat memulihkan diri. Tersenyum dan mengingat setiap orang yang berbicara padanya.

Melihatnya saat ini, Micky jadi mengerti apa yang membuat Yunna menjadi pengusaha sukses dan jauh dari gosip. Yunna memiliki pengetahuan yang luas, dari pembahasan politik sampai tempat hiburan. Yunna bisa mengingat setiap nama dan keluarga mana orang yang diajaknya berbicara termasuk remeh temeh kecil mengenai lawan bicaranya.

Yunna juga tahu saat yang tepat untuk mengangguk, diam dan menjadi pendengar atau memberi tepukan dukungan untuk mereka. Micky bisa melihat bagaimana Yunna mempesona setiap pendengarnya. Detik ini, Micky yakin jika Yunna memutuskan untuk beralih profesi menjadi politikus, Yunna tidak akan kesulitan untuk mendapat dukungannya.

Micky merasa bangga melihat Yunna. Tanpa sadar, ia merapatkan tubuhnya ke Yunna. Micky ingin seluruh dunia tahu kalau Yunna itu miliknya. Walau hanya sesaat, tidak masalah baginya. Micky sudah cukup puas.

Micky tidak melepaskan pandangannya dari Yunna barang sedetikpun. Tidak ada perasaan bosan saat melihatnya. Tapi kemudian mendadak Micky melihat Yunna menegang dan memusatkan pandangannya ke satu wanita paruh baya.

Micky ikut memandangi beliau. Tante itu mengenakan topi dengan bunga matahari besar yang senada dengan hanbok

yang berwarna kuning. Micky menyerengit melihat dandan si tante yang tidak nyambung.

Omo

, Ini pacarmu Yunna?” tegur sang Tante. “Pekerjaanmu apa? Orang tuamu siapa?”

Micky tidak yakin kalau kupingnya bekerja dengan baik, tapi jika tidak salah tante ini sedang mengintrogasinya? Ada apalagi ini?

“Hallo juga tante Kim MyeongRan. Apa kabar?” jawab Yunna dengan senyum lebar namun tidak bersahabat.

Micky ingin tertawa melihat mimik Yunna yang mirip orang yg baru saja habis mengecap jeruk nipis. Sepetnya minta ampun.

“Bagaimana menurutmu kabar tante setelah melihat kamu membawa pacar ke sini?” jawab tante itu sinis.

Yunna mengambil nafas panjang. Ingin sekali Yunna bertanya balik pada tante itu, memangnya yang punya hajatan siapa? Kok dia yang melarang Yunna datang. Semua pertanyaan itu ditelan Yunna kembali. Mama akan membunuhnya jika ia menyinggung penyokong dana partai Papa ini.

Rasa tidak suka Micky pada tante bertopi itu meningkat dua kali lipat. Tidak ada yang boleh membuat Yunna cemberut saat Micky ada di sisinya. Ataupun saat dia tidak berada di sisi Yunna. Micky menarik Yunna dalam pelukannya dan mengecup ujung kepala Yunna dengan mesra.

“Aku yang terlalu mencintainya, Tante. I beg for her to accept me.” tutur Micky lalu kembali mengencangkan pelukannya.

Yunna rasanya ingin loncat ke jurang saat itu juga. Sikap Micky sudah kelewat romantis sekarang. Tante MyeongRan sampai melotot memandanginya. Yunna menyikut perut Micky sedikit, meminta dia untuk menjaga sikap. Ia betul-betul tidak ingin membuat Tante MyeongRan naik pitam.

Yunna menyunggingkan senyum tidak nyaman. Ingatkan dirinya untuk membacakan kembali perjanjian mereka, karena sepertinya Micky terlalu suka melakukan sentuhan-sentuhan fisik. Mungkin kalau di kalangan Micky, perilaku terbuka seperti ini bisa diterima, tapi kalau di lingkungan sosialnya, Yunna memejamkan mata, ia sama saja bersikap kurang ajar dan tidak sopan.

Yunna mematung saat ia mendengar suara dehaman yang teramat dikenalnya.

Here we come.

Micky menoleh dan melihat sepasang orang tua dalam batukan pakaian tradisional Korea. Yang satu Micky kenali sebagai Mama Yunna. Micky tersenyum dan membungkuk sopan.

Berarti yang laki-laki adalah Papa Yunna.

Pria paruh baya itu terlihat bugar di usianya yang ke-60. Senyum lebar dan berwibawa terpancar di wajahnya. Senyumnya sama persis dengan Yunna. Tipis dan singkat. Yang artinya, Papa Yunna tidak sesenang yang terlihat dengan kehadiran dirinya di pesta ini.

Micky menelan ludah. Mendadak ruangan hening mencekap dan Micky merasa jantungnya pindah ke ulu hati. Otaknya kusut dan dadanya terasa sesak. Dengan kekuatan tekad, Micky masih sanggup memperhatikan sekitarnya.

Yunna mengucapkan selamat ulang tahun pada sang Papa. Mengecup pipi kiri dan kanan dengan mesra. Dua ayah anak itu berpelukan sebentar sebelum Papa Yunna meletakan tangan kanan Yunna ke tangannya sendiri. Mengunci ‘pacar Micky’ dengan sempurna.

Berdiri seorang diri sambil dipandangi 3 pasang mata elang membuat Micky merasa seperti anak kecil yang tertangkap mencuri permen. Keringat dingin kasat mata membanjiri kening Micky. Dia berhasil mengucapkan selamat ulang tahun kepada Papa Yunna tanpa terbata-bata. Minus pelukan dan ciuman tentunya.

Papa Yunna tidak membuang kesempatan tersebut, menangkap tangannya dan menjabatnya erat.”Kamu yang bernama Micky?” tanya Papa Yunna.

Suara Papa Yunna terdengar seperti penyanyi bariton opera Italy. Setiap katanya disebut dengan pelafan sempurna dan bervibra. Kalau guru vokal Micky mendengar suara Papa Yunna, dia pasti menangis terharu.

Micky tersenyum sesantai yang ia bisa dan balas menguncang jabat tangan mereka. “Benar Pak. Saya Micky.”

“Apa kabar Mamamu? Dan tantemu Grace? Mereka masih di Amerika?” tanya Papa Yunna seakan-akan mereka sudah sering membicarakan keluarga Micky.

 

Micky menyembunyikan rasa terkejut sekaligus rasa paniknya dengan “Baik, Pak. Terima kasih atas perhatiannya. Mereka juga menitipkan salam serta minta maaf karena tidak dapat hadir.”

Papa Yunna tertawa kencang, “Bilang pada mereka tidak perlu khawatir.” ia melepaskan gengamannya dan menarik tangan Yunna kembali ke lengannya dan mereka saling berbisik sebelum akhirnya mereka berpamitan dan menyapa tamu lain.

Micky bersyukur Papa Yunna juga memanggil Tante Myeong Ran untuk ikut dengan mereka, berkeliling dan beramah tamah dengan tamu yang lain.

Micky tidak sadar kalau ia sudah menahan nafasnya sampai ia merasakan beban berat terlepas begitu ia menarik nafasnya kembali. Micky melirik Yunna yang masih memandangi orang tuanya. Dinariknya perempuan itu ke dekat meja saji dan menyodorkan segelas cocktail pada Yunna.

“Minum. Kamu kelihatan pucat.” Micky melihat Yunna masih termenung dan memandangi orang tuanya yang sekarang hanya berbincang dengan Tante MyeongRan.

Melihat raut muka Tante heboh itu kelihatannya pembicaraan mereka cukup alot dan membuat tante itu sebal. Micky menegak minumannya, ikut khawatir. Apalagi saat ia melihat tante itu pergi ditengah pembicaraan. Ia melirik Yunna yang semakin pucat.

“Ada apa? ” tanya Micky khawatir, “Kamu perlu ke ruang istirahat?”

“Big, aku perlu Big sekarang.” Yunna lebih terdengar seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Tanpa membuang waktu, Yunna meletakan gelas cocktail dan mulai berjalan dengan cepat ke arah pintu dapur.

Micky masuk berbarengan dengan para pengantar makanan yang ingin keluar. Membuat Micky harus menyingkir ke kiri dan kanan kemudian kehilangan jejak Yunna untuk sesaat. Memfungsikan tinggi badan Micky yang melebihi 180cm, Micky berhasil menangkap bayangan Yunna dan menyusul Yunna kembali.

Micky menemukan Yunna di sudut terpojok, sepertinya dapur yang tidak terpakai. Perempuan itu sedang berbicara melalui telepon dengan sengit. Yang Micky duga lawan bicaranya itu Big.

 

“Seperti yang aku bilang. Kita salah perhitungan. Eagle tidak memakan umpan kita.” ucap Yunna gusar, “Aku tidak tahu. Mereka terlihat cukup serius berdebat tadi. Bagaimana kalau dia memutuskan untuk…” Yunna memutar tubuhnya ke kiri, mengibas poninya dan mendengarkan Big sesaat. “Aku tidak tahu. Tapi bagaimana kalau…”

Yunna terdiam lagi, membiarkan Big memberikan seribu satu pernyataan untuk menenangkannya. Tidak ada satupun kata yang diucapkan oleh Big yang membuatnya merasa lebih baik. Yunna memijit dahinya dan memejamkan mata.

Saat ia membuka matanya kembali, sosok Micky memenuhi pandangannya. Berdiri menunggunya dengan sabar di pinggir dish washer. Laki-laki itu memberinya jarak yang cukup untuk privasi dan terlihat menikmati potongan strawberry yang tergeletak di sampingnya.

Tapi kemudian strawberry itu memberontak, melompat keluar dari tangan Micky dan membuat laki-laki itu terkejut, tangan Micky mengejar strawberry bandel tersebut dan dengan sukses menangkapnya kembali sebelum mengenai jasnya.

Lalu Hap, digigitnya strawberry tersebut dengan lahap.

Yunna tidak tahu apa yang lucu dari adegan tersebut, yang pasti ia mendapati dirinya tertawa terbahak-bahak dan membuat Big menanyainya.

Yunna mengeleng, “Tidak ada apa-apa.” jawabnya, “Kamu tolong pantau perkembangannya. Sudah dulu yah.” tutupnya.

Yunna mendekati Micky. Laki-laki itu tersenyum padanya.

“Barusan itu Big?” tanya Micky tidak terdengar marah karena Yunna sudah mendadak bertingkah aneh.

Yunna tersenyum dan berdiri di samping Micky, meniru posisi berdiri Micky.

“Yeap.” jawab Yunna singkat. Ia mengambil strawberry dari mangkuk Micky dan mulai mengigitnya. Yunna menunggu Micky menanyainya, laki-laki ini pasti penasaran dengan tindakannya. Ada sedikit rasa kecewa ketika Micky hanya terdiam dan sibuk menghabisi strawberry mereka.

Sungguh reaksi yang tidak biasa, pikir Yunna. Umumnya para laki-laki  yang dikencaninya akan langsung menodongnya dengan serentetan pertanyaan. Dan akhirnya mereka akan bertengkar karena Yunna tidak mau mengatakan permasalahnjya pada mereka.

Didiamkan seperti ini malah membuat bibir Yunna gatal untuk bercerita.

Ketika akhirnya Micky bersuara, dia malah bertanya “Siap kembali?”

Yunna mengangguk ragu, ia masih ingin berduaan dengan Micky, ia ingin bercerita pada Micky tapi di sisi lain ia Micky akan mendesaknya dan bertanya padanya.

Yunna tersenyum memandangi tangan Micky diulurkan padanya.

Mungkin lain kali.

Advertisements

One thought on “Damn, I love you – Chapter 10

  1. Pingback: Damn, I Love You – Synopsis and Links « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s