Damn, I love you – Chapter 11

Micky telah duduk di beranda rumah sejak ia tiba di rumah. Dengan rokok dan bir sebagai teman berbagi kesusahan. Dalam benaknya, wajah panik Yunna terus muncul, mempermainkan emosi Micky.

Yunna yang biasanya bersikap tegar dan angkuh. Yunna yang biasanya menampilkan wajah tidak peduli. Yunna yang tidak pernah terlihat takut telah kabur ke tempat terpencil untuk bersembunyi.

Micky melempar kaleng beer ke dalam tong sampah di seberang beranda.

Plung, kaleng tersebut masuk dengan tepat.

Micky tidak suka melihat Yunna yang lemah. Tidak suka melihat Yunna kalut. Tidak suka melihat Yunna tidak berdaya.

Micky menegak isi kaleng berikutnya dengan cepat.

Tapi yang paling ia benci adalah dirinya sendiri yang tidak mampu melakukan sesuatu untuk membantu Yunna. Ia bahkan tidak bisa dijadikan tempat untuk menyandarkan bahu!

Saat Yunna tertawa melihat kegugupannya, Micky ingin berlari ke sisi perempuan itu dan memeluknya, memujinya, merayunya untuk mempertahankan senyuman itu lebih lama lagi.

Ia ingin berkata bahwa semua akan baik-baik saja.

Tapi siapa dia? Yunna bahkan tidak bersedia memberitahukan masalahnya pada Micky!

Sebagai orang luar, Micky hanya bisa menunggu. Menunggu Yunna membuka dirinya.

Satu kaleng kosong lagi dilempar Micky ke dalam tong sampah. ia tidak ingin menghitung berapa kaleng yang sudah ia habiskan malam ini. Ia hanya ingin menengelamkan dirinya dalam minuman.

Sesaat melupakan wajah sedih Yunna.

Damn it! Kenapa Micky jadi peduli pada Yunna?! Seharusnya ia memakai kesempatan ini untuk membantu dirinya sendiri. Seharusnya Micky memakai otaknya untuk memikirkan cara memanfaatkan posisi Yunna yang sedang melemah dan memberinya keuntungan dari kerjasama mereka.

Damn, damn, damn, damn!

Ini sama sekali tidak bagus. MIcky harusnya tidak memikirkan Yunna lebih dari seorang partner. Ia harusnya tidak memikirkan keadaan Yunna, masalah Yunna ataupun kepentingan Yunna lainnya yang tidak berhubungan dengannya.

Micky harusnya sudah cukup pusing dengan masalahnya sendiri. Hari ini Pak Simon menelepon kembali dan menanyakan perkembangannya. Begitu mendengar ia belum mendapatkan apa-apa dari Yunna, Pak Simon langsung mengingatkannya akan tengat waktu yang diberikan.

1 bulan dari sekarang, jika Micky tidak berhasil membawakan kontrak CLEO&Co ke meja Pak Simon, ia harus melupakan waktu cutinya. Fox-T akan dikirim ke Jepang selama 3 tahun. yang artinya tidak ada kata liburan, cuti atau lain-lainnya.

Micky harus melupakan impiannya untuk membawa Mama dan Ricky pulang ke Korea. Ia harus melupakan rumah yang sudah ia beli, merelakannya untuk di kontrak. Ia harus melupakan semua impiannya untuk membahagiakan keluarganya.

Klontang.

Kali ini lemparan Micky meleset, membuat kaleng setengah kosong itu terpelanting ke luar beranda. Meluncur dengan suara kencang membentur jalan raya.

“Dan yang ada di otakmu hanya Yunna, Yunna dan Yunna!” teriak Micky tidak tahan, “DAMN it!”

Micky bangkit berdiri dan menghampiri beranda dengan keadaan setengah mabuk, ia mengambil nafas dalam dan berteriak, “KIM YU…NNAAAAAAA” sampai kerongkongannya sakit.

Waeeeee

???” jawab Yunna dari jalan raya.

Micky tertawa, “Aku pasti mabok berat..”gugamnya, kemudian kembali berteriak, “KIM YUNNA!!!”

WAEEEE?!” Jawab Yunna lagi, kalau tadi ia terkejut, kali ini ia menjawab dengan kesal. Micky sudah membuatnya malu dengan berteriak-teriak seperti ini padanya. Di tempat umum pula!

“Kim Yunna?!” teriak Micky lagi, ia mengucek matanya dan melihat perempuan dengan hoody hitam, celana training hitam dan ia membelalakan matanya, Yunna mengenakan kacamata hitam di malam buta seperti ini?

Perempuan itu balik meneriaki Micky. “Buruan turun, bukain pintu!”

Begitu mendengar teriakan tersebut, Micky yakin kalau dia tidak lagi membayangkan Yunna datang ke rumahnya. Buru-buru Micky berlari ke pintu rumah dan mempersilahkan Yunna masuk.

Pipi Yunna yang bersemu memerah karena malu dan kesal masih tersisa saat Micky menyambutnya. Yunna segera mendorong Micky agar ia tidak menjadi tontonan.

Yunna berdiri di tengah ruang tamu Micky dan mau tidak mau ia terkesima melihat betapa rapinya tempat itu. Tidak ada baju bertebaran, piring kosong ataupun majalah di lantai. Semua dalam keadaan teratur dan sunyi.

“Kamu betulan Yunna?” tanya Micky tidak percaya.

Yunna hanya memutar bola matanya, mengacuhkan pertanyaan Micky dan berjalan mengelilingi ruang tamu tersebut. Ia mencopot kacamatanya dan memperhatikan pajangan tropy di dinding dan di atas meja sebelah TV. Ada puluhan jumlahnya. Tapi yang paling membuatnya terkagum, ada 2 piala penghargaan best grup singer dan platinum album award.

“Kamu sama siapa ke sini? Dimana Big?” tanya Micky. Ia mengintip keluar jendela berharap pengawal Yunna yang posesif itu menunjukan batang hidungnya. Tidak ada. Jalanan sepi tanpa, tidak ada siapa-siapa.

“Kamu bisa main piano?” tanya Yunna melirik piano besar di ujung ruangan. Ia memainkan jarinya di antara tuts, membuat piano tersebut membunyikan nada tidak beraturan.

Dengan mendengus, Micky duduk di depan piano dan mulai memainkan Moonlight Sonata. Lagu yang pas sekali untuk malam bermandian cahaya bulan seperti malam ini.

Yunna bertepuk tangan kesenangan. “Ini lagu favoriteku.” ia mengeser tubuh Micky dengan paksa, ikut duduk di samping Micky dan mulai memainkan duet sonate tersebut.

“Dan kamu juga bisa bermain piano!” seru Micky, ia terlalu mabuk untuk menyadari betapa besarnya suara ia tadi. Tapi ia melihat Yunna meringkis, jadi ia mengucapkan maaf sambil tersenyum bodoh.

“Kamu minum ya?” ucap Yunna sambil mengibas tangannya di depan hidungnya.

Protes Yunna langsung dihentikan oleh Micky. Dia menangkap tangan Yunna dan mengelus buku-buku jari Yunna dengan lembut.

“Aku selalu berharap bisa melihat jemarimu dari dekat dan mengaguminya.” Micky memutar tangan Yunna dan mengelus telapak tangan Yunna, “Aku tidak menyangka jemari ini bisa bermain piano dengan indah.”

Micky mengecup telapak Yunna dan mendongkakan kepalanya, menatap jauh ke dalam mata Yunna, “Kamu cantik, Yunna. Kamu sempurna.”

Jari Micky beralih menyentuh pipi Yunna, membelainya dengan perlahan. Dipulasnya bibir Yunna dan ia menempelkan keningnya ke kening Yunna, sebelum ia mengecup hidung Yunna, mengecup bibir Yunna.

“Yunna,” panggil Micky, “bolehkah aku..?” dirasakannya Yunna mengangguk, dan itu sudah cukup baginya untuk lanjut menciumi bibir Yunna. Melumatnya dan mencumbunya. Membuainya dan melahapnya.

Mereka larut dalam pusaran cumbu yang semakin lama semakin tinggi. Nafas memburu, tubuh memanas. Mereka saling menarik, saling bertaut, saling memanggil. tapi semua itu belum cukup. Micky ingin menyentuh Yunna, merasakan tubuh mereka lebih dekat lagi. Tanpa ada yang menghalangi.

Micky ingin mencintai Yunna. Micky ingin….

“Micky??”

Advertisements

One thought on “Damn, I love you – Chapter 11

  1. Pingback: Damn, I Love You – Synopsis and Links « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s