Damn, I miss you – chapter 6

Satu jam kemudian, Keiko masuk ke salah satu gereja tua daerah Jongno, satu-satunya gereja anglican ala roma di Seoul berdiri tegak dengan segala kemegahannya.
Ia menebar pandangannya mencari sosok laki-laki yang amat ia kenal dan menemukan Yogi duduk di deretan tengah barisan kiri gereja.
Tempat ini memang selalu sepi terlebih di hari Sabtu siang. Keiko melihat hanya ada dua pengunjung dan satu pelayan gereja di sudut kanan.
Mereka aman.
Keiko duduk di samping Yogi.
“Aku pikir kamu tidak akan datang.” bisik Yogi dengan suara pelan.

Continue reading

Damn, I miss you – chapter 4

Jack tertawa terpingkal-pingkal.
“Kei, kamu boleh mengambil nafas. aku tidak berniat menerkammu. Maaf soal ciuman tadi. Hujan, dingin, bukan situasi terbaikku untuk bersikap gentelmen.” tutur Jack dan membalut tubuhnya dengan selimut. Lebih untuk menutupi kondisi salah satu tubuhnya yang bandel daripada menyelamatkan Keiko.
Jack memutuskan untuk mengambil jalan panjang. Ia tidak ingin membuat Keiko takut padanya. Tidak setelah ciuman tadi. Ciuman yang kalau mau diberi nilai tidak akan muat dalam skala satu sampai sepuluh. Karena Jack belum pernah menciuma seseoran dalam keadaan lepas kontrol. Ia tidak pernah melakukannya hanya karena terdesak dorongan untuk mencium. Continue reading

Damn, I miss you – chapter 3

Begitu masuk ke dalam bus, Keiko memasang earphone di kuping. Lagu In Heaven – JYJ tak sengaja terpasang.
Jigeum waseo malhal sudo eobseo (Untuk saat ini, aku tidak bisa berkata apa-apa)
Neoui gijeok geu modeun ge heosang gata (Keajaiban dalammu-semua terasa mimpi)
Majimak geu moseubdo seoseohi gieok sogeman (Sosok terakhir dirimu terpatri di dalam ingatanku, begitu lekat)
Jamgyeojyeo ganeun geotman gata (Aku bertanya-tanya apa kamu memperhatikanku dari suatu tempat)
Air mata mengalir pelan di wajah Keiko. Continue reading

Damn, I Miss You – Chapter 2

Bar kecil yang dimaksud oleh Yogi ternyata terletak di ujung lorong terpencil. Jauh dari pusat keramaian CheongDam. Tampaknya Yogi tidak main-main dengan ketika berkata bar ini adalah tempat rahasia.

Keiko mempersilakan Jack untuk masuk terlebih dahulu kemudian menutup kembali pintu tersebut.

Ruangan itu gelap seketika sampai Yogi menepuk tangannya dua kali dan mendadak lampu laser saling silang menyilang menyala dari langit-langit menunjukan sebuah voyer pendek dengan bangku panjang di kiri kanannya.

Kemudian Jack melihat satu pintu lagi di ujung lorong tersebut. Yogi membuka pintu kaca itu dan sekali lagi menepuk tangannya dua kali. Continue reading

Damn, I miss you – chapter 1

Kira-kira 2 jam setelah keributan di depan cafe itu.

Keiko sedang berada di toilet wanita. Padahal adegan sedang seru-serunya. Wolfgang aka mozart dipaksa untuk meninggalkan kekasihnya dan harus pergi ke Salzburg bersama ibunya, hidup dalam kemiskinan.
Keiko pasti sudah menangis jika bukan karena menahan kencing. Buru-buru Keiko mencuci tangannya dan bergegas masuk kembali ke ruang opera.
Keiko celingukan mencari bangkunya, ia menyesal tidak memperhatikan nomor bangku tempatnya duduk tadi. Sekarang ia harus mengandalkan kepala Yogi untuk tahu dimana ia harus duduk. Continue reading