Damn, I love you – chapter 12

“Micky…Ky…..” panggil Jack berulang kali membangunkan temannya itu.

Micky tertidur di atas piano.

Jack tidak perlu bertanya apa yang dilakukan Micky di sana. Belasan kaleng beer kosong sudah mengutarakan cerita mereka dengan sendirinya. Setelah beberapa kali ia memanggil, akhirnya Micky membuka matanya. “Bangun. Kamu bisa masuk angin.”

“Dimana Yunna?” seru Micky terkejut, mencari perempuan yang sedetik tadi masih berada dalam pelukannya.

Micky memandang sekelilingnya. Ia berada di ruang tamu, duduk di atas bangku piano. Tidak mungkin ia bermimpi. “Dimana Yunna?” tanya Micky lagi. Micky menguncang tubuh Jack. Membuat temannya itu kebingungan.

“Tadi dia ada di sini, Jack.”jelas Micky, “Aku masih…”

“Ada apa?” tanya Ben yang baru masuk, ingin tahu.

Teman-temannya yang lain datang menyusul.

Micky tidak menghiraukan pertanyaan teman-temannya. Ia berlari keluar. Berusaha mencari tanda-tanda keberadaan Yunna. Tidak mungkin Micky bermimpi Yunna berada di rumahnya. Ia tidak mungkin bermimpi menciumi perempuan itu.

Setelah memutari beberapa gang, Micky kembali ke rumah dengan perasaan kalut. Tidak bisa menjelaskan mengapa Micky yakin ia tidak bermimpi. Bahwa perempuan itu memang mendatanginya. Seberapapun absurd pikirannya tersebut.

Micky masuk ke dalam rumah dengan perasaan limbung dan mendapati teman-temannya sudah duduk rapi di ruang tamu. Menantinya.

Micky menjejalkan diri di antara Ben dan Max, menghempaskan tubuhnya yang kelelahan.

Jack melemparkan handuk basah padanya dan meletakan segelas air putih untuknya.

Micky tahu teman-temannya itu menantinya untuk bercerita. Ia sudah bertindak aneh malam ini. Dari tatapan mereka, Micky tahu kalau dia sudah membuat mereka khawatir.

“Yunna datang ke sini?” tanya Alex hati-hati.

“Ya, tidak. Aku tidak tahu.” jawab Micky bingung, ia menceritakan apa yang telah terjadi.

“Kalau menurutku sih, kamu pasti bermimpi, Ky.” Max membuka suara, “Tidak mungkin Yunna datang ke rumah kita tanpa pengawalnya, malam-malam dan menghilang begitu saja.”

“Tapi bagimana kamu menjelaskan pintu depan yang tidak terkunci?” tanya Jack, menyampaikan informasi yang menguatkan cerita Micky.

“See! Bagaimana kalian menjelaskan hal itu? Aku tidak pernah tidak mengunci pintu.”

“Tapi kalau Yunna memang ada di sini, dimana dia sekarang? Kami tidak melihat ada orang yang mencurigakan berkeliaran. Tidak ada mobil yang berpapasan dengan kita.”

Micky tidak bisa menjawab pertanyaan Max. Ia tidak tahu bagaimana melawan logik pemikiran Max. Micky merasa semakin frustasi detik itu juga. Ia duduk semakin turun dan memejamkan mata.

Kalau memang ia bermimpi, ia pasti sudah lebih sakit dari yang ia duga. Ia sudah jatuh lebih dalam dari yang ia pikirkan. Ia sudah…

“Kamu jatuh cinta padanya.” ungkap Jack menyuarakan isi kepala Micky.

Semua mata tertuju pada Jack lalu beralih pada Micky yang menutup wajahnya dengan handuk.

“Jangan bercanda, Jack.” Ben mentertawai ide Jack itu, “Masa Micky suka sama Medusa?”

“Yunna terlalu berbeda dengan selera Micky selama ini.” Max melirik Micky sebelum melanjutkan, “Kalian tahulah, perempuan cantik, keibuan, tidak pernah menuntut, tipe perempuan yang ingin kamu lindungi.”

“Maksud kamu seperti Hanna?” Alex menyebutkan mantan Micky, seorang model dan terlibat kasus narkoba, mantan Micky yang itu agak kacau otaknya.

“Atau seperti Sisi?” kali ini Jack menyebut mantan Micky yang seorang single mother. Perancang busana yang kariernya sedang menanjak saat ini, tapi dulu saat dia dan Micky berpacaran, perempuan itu tidak pernah absen menemani fox-t. Ikut berkeliling. Tipe pacar posesif penghisap nafas kehidupan.

“Mungkin maksudmu yang seperti Da…” mulut Ben dibungkam oleh Max. Hampir saja Ben mengucapkan satu nama yang paling taboo di hadapan Micky.

Mantan Micky yang satu itu yang paling banyak menorehkan luka di hatinya. Mereka berpacaran selama 3 tahun di awal debut Fox-T. Hubungan mereka baik-baik saja awalnya. Sampai Fox-T harus pindahnke Jepang dan merintis karier mereka di sana. Lalu Dana memutuskan untuk terjun ke dunia artis juga.

6 bulan kemudian, Micky mendengar kalau Dana hamil.

Micky kaget luar biasa, ia tidak pernah berpikir kalau Dana akan berselingkuh darinya. Hubungan mereka lebih erat dari itu. Jadi tanpa mempedulikan apa kata agencynya, Micky kembali ke Korea dan berusaha berbicara pada Dana. Ia harus mengetahui bedebah mana yang membuat Dana hamil.

Tapi Dana menolak dirinya, memuntahkan semua usaha darinya untuk bertemu dan membantu Dana. Setelah 6 bulan berlalu tanpa kabar, Dana muncul kembali dan melakukan debut.

Kenyataan bahwa Dana adalah mantan Micky membuat karier Dana melambung dengan cepat dan suatu hari muncul foto Dana bersama anak perempuannya dan nama Micky ikut dikaitkan.

Fans Fox-T dan LIME bekerja sama untuk menyampaikan fakta dan mematahkan dugaan bahwa anak Dana itu adalah anak Micky. Gosip pun berlalu, diganti dengan skandal lainnya dari artis sukses yang mendadak melalukan bunuh diri, meninggalkan diarynya yang penuh skandal.

Kasus Dana pun terlupakan.

Namun, sejak saat itu, Micky menolak mendengar berita apapun yang menyangkut nama Dana, ia akan mematikan TV jika melihat grup Dana tampil, ia juga tidak bertegur sapa dengan perempuan itu.

Sejak saat itu juga, teman-teman Micky memutuskan untuk mentabookan nama Dana dari pembicaraan mereka. Sampai hari ini.

Micky menurunkan handuk dari wajahnya dan melipat kain itu dengan rapi di atas pangkuannya.

“Dana menghampiriku 3 bulan yang lalu.” suara Micky terdengar lebih tenang dibanding yang ia rasakan dalam hatinya. “Laki-laki yang menghamilinya sudah menikahinya diam-diam. Dia juga minta maaf karena tidak berusaha membersihkan namaku dulu. Pihak agencynya melarangnya untuk berkomentar.”

Melihat teman-temannya membisu, Micky melempar handuk ke wajah Ben. “Tutup mulutmu, Ben. Nanti ada nyamuk yang masuk.”

“Shitttt, Micky. shiiiit…” seru Ben kembali sok inggris.

Micky tergelak mendengar aksen Ben yang Korea sekali. Satu bantal empuk mendarat dengan sukses ke wajah Micky membuatnya berhenti tertawa.

Aksi timpuk menimpuk bantalpun dimulai. Awalnya mereka menyeang satu sama lain lalu lama kelamaan Jack bersatu dengan Micky melawan Alex dan Max lalu tidak tahu bagaimana, keempat laki-laki itu menangkap Ben dan mengerjai dia habis-habisan.

Mulut Ben disumpal dengan handuk Micky, kakinya diikat dengan sarung bantal dan kedua tangan Ben ditahan oleh Max.

Micky dan Jack melarikan diri terlebih dulu ke kamar mereka kemudian disusul oleh Alex dan Max. Meninggalkan Ben bergulat seorang diri di ruang tamu.

Micky mendengar Ben berteriak-teriak dan mengancam akan membuat mereka membayar penyiksaan itu.

“Menurutmu dia sungguh-sungguh?” tanya Jack khawatir juga. Takut mereka sudah bertindak kelewatan.

Micky tergelak, “Kapan Ben tidak akan mengancam akan membalas kita? Dia akan segera melupakan semua ini begitu kita membelikannya hadiah.”

Micky membuka pakainnya dan berganti dengan kaos yang baru.

“Kamu jatuh cinta padanya kan?”

Micky tidak menoleh, terus menganti celananya sekarang.

“Aku cuma mau bilang, kalau kamu memang jatuh cinta padanya, aku akan tetap mendukungmu.”

Micky tersenyum, Kalaupun Micky memutuskan untuk berhenti dari Fox-T, Jack juga pasti akan mendukungnya. Karena Itulah Jack. Teman yang tidak akan berpikir buruk tentang dirinya dan akan selalu berdiri di sisinya.

Micky menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, di samping Jack. Berdua mereka menatap langit-langit.

“Aku tidak tahu apa aku jatuh cinta padanya Jack. Yunna terlalu berbeda dengan semua perempuan yang pernah aku tahu.” Micky memutarkan badannya agar bisa melihat reaksi Jack. Temannya itu juga melakukan hal yang sama. “Saat aku berpikir dia akan menangis, Yunna malah tertawa. saat aku berpikir kalau aku harus mundur, dia malah maju dan menarikku. Tapi itu belum yang paling gawat.” Micky memutar badannya kembali, menatap langit-langit. “Aku tidak bisa berhenti memikirkan dia.”

“Dia hampir menangis tadi dan aku cuma bisa berdiri di samping dia, melihat kepanikan dia dan mendengarkan dia curhat ke pengawalnya!” erang Micky, “Aku tidak pernah merasa setidak berdaya hari ini.”

Jack diam mendengarkan semua cerita Micky. Ia tahu Micky perlu mengeluarkan semua unek-uneknya. Micky perlus seseorang untuk mengatakan padanya bahwa ia boleh jatuh cinta, bahwa tidak akan ada bahaya baginya dengan mencintai Yunna. Bahwa segalanya akan berjalan sesuai rencana. Bahwa Micky bisa membawa keluarganya kembali sekalipus mempertahankan Yunna untuk tetap di sisinya.

Jadi Jack mengatakannya. ia memberitahu Micky, bahwa segalanya mungkin. Bahwa tidak akan menjadi masalah jika Micky mengelabuhi Yunna sekarang. Toh pada kenyataannya Micky memang membutuhkan Yunna untuk meyakinkan Pak Simon. Bukan memanfaatkan perempuan itu dari hubungan mereka.

“Yunna tahu aku membantunya untuk mendapatkan kontrak Lime.”

“Dia tetap setuju?”

“Aku tidak memberinya pilihan.” Micky menceritakan bagaimana ia mengaku sebagai pacar Yunna di hadapan Mamanya.

“Tapi kalau kamu tidak mendesaknya untuk membuat kontrak dengan LIME. Kamu tidak mungkin mendapatkan ijin untuk cuti.” ulang Jack mempertanyakan strategi Micky yang amat keluar jalur. Sepertinya kondisi Micky lebih parah dari yang ia duga. Sampai bersedia mengorbankan waktu dan kepentingannya untuk Yunna.

Micky sudah jatuh, dengan keras pula.

“Aku hanya berharap Yunna bisa merubah presepsinya tentang Lime.” Micky terkekeh ironis, “Di mata perempuan dingin itu, LIME kita itu perusahaan penghisap darah yang mengeruk habis masa muda kita lalu mendepak kita begitu kita tidak memberikan keuntungan apa-apa.”

“Yunna bilang seperti itu?”

“Itu dan semua penghinaan lainnya tentang praktik kerja LIME. Terus terang aku jadi banyak memikirkan kehidupan kita selama di LIME. Apa benar selama ini kita sudah dirugikan, diperlakukan tidak adil dan sebagainya.”

“Aku tidak tahu, tapi selama ini kita sendiri sering membandingkan dengan teman-teman kita di agency lain bukan?’

Micky merebahkan badan kembali ke kasur, “Menurutmu apa kita perlu bertanya pada Yunna? Sekedar bertanya saja?”

Jack melempar handphone ke arah Micky.

Micky menekan nomor handphone Yunna yang sudah dihafalnay di luar kepala, bukan karena ingin, tapi selama ini Micky terlalu sering menelepon perempuan itu, baik yang diangkat oleh Yunna atau tidak dihiraukan.

“Hallo.”

“Yunna? Kamu dimana?”

“Di rumah, maaf soal tadi, kamu tertidur jadi aku memutuskan untuk pulang.”

“Aku pikir aku mimpi tadi. Kamu tidak bertemu dengan teman-temanku?”

“Tidak, mereka sudah pulang?”

Micky tersenyum malu ketika Jack memasang tampang galak padanya, mungkin lebih baik jika ia mengurus lebih dulu pekerjaan mereka.

“Begini, Yunna-ya, bisa membantuku mengecek sesuatu?” Micky menceritakan permasalahannya, dari segi perjanjian kontrak hingga welfare mereka.

Micky memutar bola matanya ketika Yunna menjawab pertanyaannya itu dengan makian untuknya.

“Aku akan menyuruh akutanku, biar kamu bisa melihat lebih jelas duduk perkaranya. Sekarang jawab aku, kamu masih ingin aku melakukan perjanjian dengan perusahaan labil seperti LIME?”

Micky menjawab tanpa berpikir lagi, “Aku rasa kamu bisa menangani LIME dengan baik. Aku tahu kamu pasti bisa menemukan cara untuk mengunci Simon-ssi.”

Micky tahu Yunna pasti sedang tersenyum mendengar keyakinannya pada perempuan itu.

Tapi kemudian, Yunna menghela nafas, “Besok aku akan pergi ke LIME dan mengajukan penawaran. Aku harap kamu bisa menyampaikan hal ini pada Simon-ssi. Sudah dulu ya, sudah terlalu malam. Aku ngantuk.”

Kemudian Yunna menutup telepon. Padahal Micky masih ingin berbicara dengannya.

Melihat Micky termenung, Jack menoel temannya itu.

“Apa katanya?”

“Yunna akan datang ke LIME besok dan dia bilang, dia akan mengenalkan pengacara untuk mengevaluasi kontrak kita.”

Advertisements

One thought on “Damn, I love you – chapter 12

  1. Pingback: Damn, I Love You – Synopsis and Links « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s