Damn, I love you – chapter 13

Yunna memasuki lobby LIMe dengan punggung tegak, siap bertempur. Big berdiri di belakanganya beserta para staffnya yang berjumlah 2 orang.

Kedatangannya disambut sendiri oleh Pak Simon, sang pemilik LIME. “Selamat datang Kim Yunna-ssi.” sambut Simon dengan senyum lebar dan jabatan tangan ramah.

Bersama-sama mereka naik elevator menuju ruang rapat di lantai 3.

Simon memperhatikan Yunna dengan kebanggan yang tak tertutupi. Ia berhasil membawa perempuan kecil ini kembali ke gedungnya. Ia berhasil membuat Kim Yunna yang tak tertandingi mempertimbangkan kembali kontraknya bersama LIME. Padahal sejarah menunjukan bahwa seorang Kim Yunna tidak pernah menoleh kembali pada hal-hal yang sudah ditapiknya.

Ia tahu ia sudah mengambil keputusaan yang tepat dengan mengutus Fox-T untuk mengajukan banding. Walau lebih lama dari yang ia jadwalkan, tapi pada akhiirnya mereka berhasil membawa Kim Yunna kepadanya.

Anak didiknya yang satu itu memang selalu bisa diandalkan. Lihat saja penghasilan yang dibawa Fox-Ttahun ini. 120 juta won. Bahkan senior mereka dulu belum pernah menghasilkan uang sebanyak itu.

Senyum Simon semakin lebar ketika ia mengingat ia hanya perlu mengijinkan Micky pergi ke Amerika selama 1 bulan untuk semua usaha mereka ini. Nanti ia akan mengirim seluruh anak Fox-T dan kru lengkap lau membuat dokumentasi mengenai perjalanan mereka selama sebulan itu kemudian menjualnya. Satu batu tiga burung mati.

“Silahkan masuk, Kim Yunna-ssi.” Simon membukakan pintu ruang rapat mereka.
Ruang besar yang dikelilingi oleh kaca tembus pandang yang dapat di lihat dari jalan raya.

Ia sengaja memilih ruangan ini agar setiap orang yang melewati gedung LIME, tahu KIM YUNNA berada di sana. Spekulasi akan muncul dengan sendirinya dan saham LIME tentu akan naik berkali-kali lipat.

Simon sudah membayangkan headline yang akan muncul besok, ” LIME mengandeng CLEO&CO?”

Yunna duduk di tempat yang dipilihkan oleh Simon. Tempat duduk yang membelakangi jendela besar. Ia tidak berkomentar apa-apa. Malah dalam hati Yunna, ia bersorak gembira. Semakin banyak yang melihat kehadirannya, semakin bagus.

Ia membiarkan Big memulai basa-basi dan acara perkenalan di antara mereka.
“Mari saya perkenalkan, Ini Lee Keiko, dia adalah managing director untuk setiap Techincal marketing Cleo&Co. Yang berikut ini, Park Jung Min, bagian legal.”

Senyum Simon Semakin lebar. Sepertinya Kim Yunna ini sudah menyiapkans emuanya. Sampai membawa bagian legalnya sendiri.

Bagus, bagus, ia juga tidak ingin menunda lebih lama lagi. Perjanjian dengan Cleo harus segera dirampungkan. LIME memerlukan suntikan dana untuk membiayai kampanye barunya di Amerika. Mungkin ia bisa memaksa Kim Yunna untuk memberikan 50 juta won untuk fee selama satu tahun. Angka itu akan menutup semua anggaran LIME selama satu tahun ke depan.

“Simon-ssi, bisa panggilkan anak didikmu? Saya perlu melihat apa ada di antara mereka yang cocok dengan konsep kami tahun depan.” pinta Keiko dengan senyum bersahabat.

Simon segara menyuruh anak buahnya untuk memenuhi permintaan perempuan cantik itu. Kalau setiap kali ia harus bertemu dua perempuan muda secantik mereka ketika melalukan negosiasi kontrak, mood Simon pasti akan baik sepanajng hari.

Negosiasi siang ini pasti akan berlangsung dengan cepat. Dua anak bau kencur seperti mereka tidak mungkin dapat melawan dirinya yang sudah banyak makan asam garam. Simon melirik jam tangannya, kemungkinan besar 2 jam lagi ia bisa keluar dari ruangan ini dan pergi ke rumah Lily. Simpanannya itu menjanjikan untuk memijitnya hari ini.

40 anak didik LIME yang sudah melakukan debutnya muncul di ruangan itu. Berbaris nan rapi bak prajurit siap tempur. Semua berpakaian rapi dan sopan. Walau tidak lulut dari penglihatan Yunna dan Keiko kalau ada beberapa dari mereka yang masih berkeringat atau tampil terlalu pucat serta kelelahan.

Tidak ada seorangpun yang bersuara ketika Keiko berjalan mendekati mereka, menanyai nama mereka dan beberapa data lainnya. Menilai mereka dengan tatapan tajam dan penuh kalkulasi.

Wajah Keiko tetap serius dan tak terbaca meski ia bertukar pandang dengan Micky dan anak Fox-T lainnya. Ia tidak menunjukan gelagat kalau ia sudah mengenal mereka.

Usai melakukan inspeksi singkat, Keiko kembali duduk di samping Yunna. Berbicara dengan suara sekecil yang ia bisa sambil terus menunjukan wajah serius.

Wajah Yunna semakin keruh untuk setiap kaliamt yang keluar dari mulut Keiko. Ia bahkan menghela nafas dan mengelengkan kepala pada sahabatnya itu untuk menunjukan betapa kecewanya ia dengan hasil laporan Keiko.

Ia melirik Big yang memberikan anggukan kecil yang tentu saja tidak terbaca oleh siapapun selain dirinya, Big memberitahunya kalau aktingnya berhasil membuat Simon gelisah.

Pemilik LIME memang hanya duduk diam memperhatikan pertukaran diantara Yunna dan Keiko, tapi ketenangan itu tidak akan mengelabuhi Big yang memiliki pengalaman membaca pikiran orang melalui tatapan mata mereka.

Saat ini, mata Simon menunjukan ketegangan dan kegugupan. Mata itu berkedut setiap beberapa detik sekali dan urat-urat di sekitar rahang Simon terlihat mengencang dan menegang setiap kali Yunna bereaksi negatif.

Yunna menoleh pada Simon ketika Keiko selesai melaporkan penilaiannya. Melipat tangannya di atas meja dan menarik nafas panjang. “Simon-ssi. Saya sangat menyesal menyampaikan hal ini. Saya tahu seharusnya saya tidak menyimpan pengharapan terlalu tinggi. Karena impresi awal saya jarang sekali salah.” Yunna mengambil jeda dan memutar kursinya. Ia berdiri menghadap jendela besar, memandangi jalan besar yang sekarang muali dipenuhi wartawan.

Yunna tersenyum dalam hati. Bagus, pertunjukan bisa dimulai sekarang. Ia memutar tubuhnya dan menyilangkan tangan di bawah dada. ” LIME sebagai perusahaan besar dengan prestasi luar biasa pasti memilki pemimpin yang hebat. Pemimpin bijaksana. Pemimpin yang akan mempertimbangkan dengan akal sehat dan pikiran yang terbuka. Karena saya yakin anda tidak mungkin membesarkan nama LIME hanya dengan mengandalkan intuisi.”

Yunna kembali duduk di bangkunya. “Jadi saya berpikir, ” Yunna melemparkan senyum tipis, “Mungkin anda bersedia melakukan sedikit perubahan kecil.”

Yunna tahu ia berhasil membuat Simon tertarik dengan ucapannya. Ia berhasil meyakinkan Simon bahwa masih ada harapan bagi LIME untuk memenangkan hatinya asal dia mau menuruti beberapa syarat darinya.

Ia mengangguk, menyuruh Big menyerahkan surat kontrak yang telah disusun olehnya. Big membacakan syarat-syarat yang diminta olehnya.

Sesuai perintah, Big mulai menuturkan semua persyaratan yang ia inginkan. Setiap butir syarat rersebut membuat wajah simon menghitam karena kesal.
– komisi artis akan ditransfer langsung oleh pihak Yunna ke artis yang bersangkutan.
– seluruh projek dan endorsement yang diberikan oleh Cleo akan menjadi stand alone projek, yg arrtinya LIME tidak berhak menahan ataupun memotong komisi yang diberikan oleh Cleo pada artis tersebut.
– selama menjadi icon Cleo, para artis yg dipakai tidak boleh bekerja sama dengan perusahaan lain yang bergerak di bidang serupa.
– kontrak ini akan berlangsung selama 1 tahun penuh.

Diakhir butir tersebut, Simon bangkit berdiri dan berjalan ke pintu keluar. Ia tidak perlu mendengarkan omong kosong ini lagi. Memangnya di dunia ini hanya ada seorang Cleo yang bersedia mengucurkan dana untuknya. Ia tidak butuh bekerjasama dengan anak kecil yang merasa bisa mendikte dirinya bagaimana menjalankan dan memperlakukan anak buahnya.

Sikap arogan Sumon tidak membuat Big gentar. Dengan santai, ia melanjutkan pembacaannya dan menyebutkan.” LIME akan mendapatkan 100 juta won atau 5% dari total sales yang dihasilkan oleh Cleo selama setahun kontrak ini berjalan.”

Simon mematung di depan pintu ketika menngar jumlahnayng ditawarkan oleh gadis mungil yang duduk di seberang ruangan itu. Ekspresi Yunna tetap tidak terbaca olehnya.

Permainan apalagi yang sedang dilakukan oleh Yunna, pikir Simon. Ia mulai memperhitungkan untung rugi dari persyaratan Cleo. Lalu sampai pada kesimpulan bahwa kontrak ini jauh menguntung untuk LIME dibanding apa yang akan diterima oleh CLEO.
Jadi pertanyaan yang tersisa hanya satu. Apa yang diinginkan Pemilik CLEO dan tidak ia perhitungkan sebelumnya. Apa ayng tidak ia pikirkan sebelumnya tapi ternyata menarik perhatian seorang KIM YUNNA?

Yunna tersenyum puas ketika melihat ekspresi Simon. “Simon-ssi, saya tahu anda orang pandai yang cepat tanggap. Saya rasa anda sudah sampai pada pertanyaan apa yang akan saya dapatkan dari memberikan fee tidak masuk akal itu bukan?”

Yunna menatap anak didik LIME sesaat, menghindari tatapan Micky secara keseluruhan. Ia tidak akan sanggup melanjutkan sandiwaranya dengan wajar jika ia melihat mata Micky.

“Saya melihat potensi pada anak didik anda. Saya ingin menjadi penyokong dana untuk LIME. Uang 100 juta itu untuk menunjukan kesungguhan saya.” ungkap Yunna mengejutkan Simon dan segenap anak didiknya. “Saya ingin mendukung gagasan LIME dalam mencerdaskan masa dean bangsa. Saya ingin terlibat dalam menyediakan pelaung dannlowongan kerja untuk penerus bangsa.”

Yunna terus melontarkan good cause atas visi dan misi LIME yang ia baca di buku panduan perusahaan tersebut. Memuji-muji hasil kerja Simon. Padahal dalam hati Yunna ingin muntah dengan semua omong kosong tersebut.

Mensejahterakan my ass, umpat Yunna dalam hati. LIME memberi janji-janji muluk pada anak-anak muda yang bermimpi bisa menjadi artis terkenal. Memperbudak mereka di masa keemasan mereka, di masa produktif mereka dengan membuat kontrak jangka panjang. Dengan iming-iming bonus, LIME menahan sebagian besar penghasil anak didiknya untuk mempertebal kantong para petinggi perusahaan.

Setelah pidatonya yang berapi-api, Yunna meminta Simon untuk duduk kembali ke bangkunya. Bertindak seolah-olah dialah tuan rumah dan Simon tamu yang datang berkunjung.

“Tuangkan teh untuk boss kita, Keiko-ssi.” tutur Yunna, secara sengaja mengumpankan temannya yang berperan sebagai staff kepercayaan pada Simon. Ia ingin Simon merasa bahwa dia mampu memanipulaasi Keiko agar berpihak padanya.

Sekarang saatnya melemparkan serangan terakhir, Yunna bangkit berdiri. “Simon-ssi, saya akan memberi waktu untuk anda memikirkan penawaran ini. Saya percaya anda akan mengambil keputusan terbaik.”

Yunna keluar dari ruangan bersama Big, sengaja meninggalkan Keiko. Simon pasti memiliki segudang pertanyaan untuk diajukan. Keiko bisa menjawabnya.

Ia memberi senyum tipis pada anak didik LIME dan membuang muka saat melewati Micky.

Yunna tidak mengerti mengapa ia harus merasa malu atas apa yang sudah ia lakukan di ruangan itu. Bukankah Micky yang memintanya untuk mempertimbangkan kontraknya degan lime? Dia hanya berimprovasi sedikit dengan caranya dalam bernegosiasi.

ia hanya menjadi dirinya yang biasa? Dirinya yang bertangan besi dalam menjalankan bisnis. Dirinya yang tidak mengenal ampun dan hanya mementingkan keuntungan bagi perusahaannya.

Kenapa kali ini ia merasa seperti orang jahat hanya karena ia menjebak Simon dengan penawaran yang tidak sanggup ditolak pemilik LIME itu.

100 juta won hanya untuk persetujuan kontrak.pekik Yunna dalam hati. Dan semua itu hanya demi membantu Micky.

Jadi apa hak laki-laki itu menatapnya seakan-akan ia telah melakukan penipuan besar?

Yunna menelan semua kegelisahannya ketika sampai di lobby LIME. Sambil memasang kacamata hitam miliknya, ia berjalan melewati kerumunan wartawan. Ia tidak perlu khawatir pada keagresidan kuli-kuli tinta itu. Dengan tubuh Big yang besar, pengawalnya itu dengan mudah menghalau mereka. Membantunya masuk ke depan mobil dengan mudah.

Wartawan-wartawan itu tidak menyerah, terus melontarkan pertanyaan mereka, apa tujuannya datang ke LIME, siapa ayng dipilih olehnya untuk mewakili Cleo. Berapa nilai kontrak yang diajukan.dan sebagainya dan sebagainya.

Yunna memutar badannya, berbicara dari balik punggung Big, “Nilai kontrak yang kami ajukan adalah 100juta won selama satu tahun.”

“Kapan kontrak ini akan berlaku?” tanya salah satu wartawan.

Yunna tersenyum, “Saya rasa hanya Simon-ssi yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Selamat siang.”

Usai berkata demikian, Yunna masuk ke dalam mobil. Meninggalkan kerumunan wartawan tersebut.

Selesai, ia sudah melemparkan dadu ke arah Simon. Sekarang semua mata akan tertuju pada laki-laki itu. Kalau Simon menolak persyaratanya, publik akan bertanya-tanya mengapa LIME menolak tawaran Cleo.

Tidak ada jalan keluar bagi LIME sekarang.

Yunna memejamkan matanya. Ia sama sekali tidak merasa senang kali ini. Tidak ada kegembiraan karena sekali lagi ia berhasil mengukuhkan kontrak ngan cepat. Tidak ada apa-apa.

Yang terus berputar di kepalanya hanya tatapan Micky.

Advertisements

One thought on “Damn, I love you – chapter 13

  1. Pingback: Damn, I Love You – Synopsis and Links « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s