Damn, I Love You – chapter 14

Micky duduk dengan gelisah di ruang tamu Yunna. Benar, Lagi-lagi Yunna hanya mengirimkan pesan singkat padnaya untuk datang ke rumah. Tidak ada subject, tidak ada keterangan. Hanya, 3 kata, ketemu di rumah. Bahkan kata ‘di’ itu tidak bisa dimasukan hitungan.

Sikap uring-uringan Micky memang semakin menjadi sejak Yunna menghilang begitu saja sebulan ini. Teleponnya tidak diangkat, BBM, email. semua kembali tanpa jawaban.

Micky tahu tidak seharusnya ia mengeluh. Perjanjian mereka sudah terbayar lunas. Ia dengan kemunculannya di ulang tahun Papa Yunna dan Yunna sudah menandatangani kontrak dengan LIME.

Tapi salahkah jika Micky berharap mereka tetap berteman? Setidaknya saling bertukar kabar atau ngobrol biasa? Hubungan mereka sudah cukup akrab bukan?

Atau selama ini hanya dirinya saja yang menanggap mereka berteman? Sedangkan Yunna tetap melihat mereka sebagai rekan bisnis.

Micky mengerang dan melempar kepalanya ke belakang. Menyandar ke sofa. Terbalik begini, menyadari Yunna mengunakan cermin besar di langit-langit dan ruangan ini punya sebuah perapian! Perapian bentuknya saat unik. Tersembunyi di balik rak buku. Hebat, kalau ia tidak melihat umpukan kayu di sampingnya, Micky tidak akan menyadari kalau lubang besar di tengah itu adalah perapian.

Micky beranjak dan mulai memperhatikan salju terlihat turun memadati taman kecil tersebut. Beberapa bahkan terlihat menumpuk di atas pohonohon pinus berwarna hijau. Lampu-lampu hias menyala membentuk aliran cahaya bergelombang. Micky lihat, kolam dibiarkan kosong oleh Yunna. Kalau terisi ia pasti bisa melihat pantulan cahaya bermain di sana.

Sudah bulan Desember. Sudah 6 bulan sejak perkenalannya dengan Yunna. 5 bulan telah berlalu sejak ia memutuskan untuk pura-pura berpacaran dengan perempuan itu. 1 bulan sejak ia terakhir kali bertemu dengan Yunna.

Micky berusaha santai dan senyaman mungkin. Ia duduk mengeloyor, menyilangkan kakinya dan memainkan iphone. Sia-sia. Ia tetap saja merasa gelisah. Setiap suara yang didengarnya membuatnya begitu awas.

Ia bertanya-tanya apa yang membuat Yunna memanggilnya kali ini. Sekali itu Yunna memintanya datang, ia harus muncul di depan publik with style and big movement.

Heran mengapa setiap kali Yunna membuatnya memaklumi tindakan Yunna yang seenaknya. Bagaimana perempuan itu membuat permintaanya terdengar begitu istimewa. Seistimewa mendapatkan penghargaan dari kerajaan.

Micky menhela nafas, sudahlah, akui saja kalau kamu memang tidak sabar ingin bertemu dengan Yunna. Kalau sebetulnya kamu memang rindu pada perempuan itu. Kalau kamu menantikan teleponnya seperti kodok merindukan hujan. Tuduh nurani Micky.

Ia mengerang, menolak mengakui kebenaran isi hatinya itu. Ia tidak mungkin merindukan perempuan yang dengan mudah membuat boss LIME yang katanya tidak memiliki hati, menurut pada keinginan Yunna. Menandatangi kontrak yang disediakan Yunna tanpa mempertimbangkan lebih lanjut. Ia masih ingat dengan jelas saat Pak Simon keluar dari ruang rapat menepuk pundaknya dan tersenyum lebar sambil mengucapkan terima kasih padanya, “Semua berkat kamu, Micky. Ben, Alex, Jack, Max.” Pak Simon menjabat tangan mereka satu per satu.

Pujian yang membuat Micky merasa jijik. Setelah mengetahui sepak terjang Pak Simon dari Yunna, Atasannya itu telah kehilangan respek darinya. Pak Simon tidak peduli bagaimana Yunna memperlakukan mereka semasa uang terus mengalir ke perusahaan.

Bukan hanya dirinya yang mendengar persyaratan Yunna. Perempuanitu tidak menyebutkan jam kerja mereka dalam persyaratan tersebut sama sekali. Yang artinya begitu Pak Simon menandatangi kontrak, Yunna berhak mempekerjakan mereka sesuka hati Yunna. Yang bisa berarti kerja lembur tanpa batas waktu, tanpa jaminan kesehatan dan hal-hal lainnya.

Kenyatan bahwa CLEO&Co memperlakukan mereka dengan baik ini tidak mengubah pandangan Micky terhadap Pak Simon. Pada dasarnya Pak Simon tidak peduli dan tidak ambil pusing bagaimana para artis mereka diperlakukan.

Ia belum pergi menagih janji Pak Simon padanya karena jadwal Fox-T yang begitu padat. Ia tidak tahu apakah masih penting baginya untuk meminta ijin. Rasanya ia jadi bimbang membawa keluarganya kembali ke Korea dan melihat dirinya diperlakukan baruk oleh perusahaan tempatnya bernaung.

Micky melempar tatapannya kembali ke perapian unik itu.

“Kalau dilihat seperti ini, kita ini serupa. Tanpa api di dalam tungku, kamu tetap sebuah hiasan dalam ruangan yang enak dipandang namun tidak memberi nilai lebih selain estetika. orang-orang dalam ruangan ini akan tetap mengigil kedinginan.”

Micky mencoba mencari cara untuk menyalakan perapian itu.

Tiba-tiba suara pintu dibanting terdengar, diiringi dengan langkah kaki terburu-buru dan berhenti.

Pasti bukan Yunna. Perempuan itu pasti akan langsung menerjang masuk tanpa mengetuk atau berhenti di depan pintu.

Damn it, sekali lagi terjadi, Micky yakin jantungnya akan pindah ke lambung. Ia memejamkan matanya dan menghela nafas. Lama-lama asma bisa kambuh hanya karena ia terlampau tegang.

Mendadak pintu terbuka dan Yunna muncul dengan tubuh basah kuyup. Long coay hitamnya terlihat lembab dan dia mengenakan life vest.

“Maaf, aku terjebak badai tadi.” ucap Yunna yang melangkah ringan seakan tidak ada yang aneh dengan penampilannya dan tidak melihat Micky yang memandanginya penuh tanya.

“Badai? Lalu bagaimana kamu bisa tiba di sini? Pengawalmu yang overprotective itu tidak mungkin membiarkan kamu kehujunan apalagi hancur-hancuran seperti ini.”

“Aku… Bisa bantu aku melepaskan kancingnya?”

Micky bangkit dan membantu Yunna menarik coat tersebut dari belakang. Tubuh Yunna sedingin tangan perempuan itu. Micky bahkan bisa merasa Yunna gemetar saat Micky melepaskan long coat yang walaupun basah pasti memperikan kehangatan yang cukup.

Pikiran untuk mengasihani Yunna langsung pudar begitu Micky melihat apa yang dikenakan Yunna di balik mantel panjangnya. Body suit menyelam berlengan panjang berwarna biru gelap.

Seakan bisa membaca pikiran Micky, Yunna berkata, “Aku pergi ke Seaworld hari ini, meresmikan fasilitas pelestarian ikan hiu putih. Kamu tahu ….”

Micky mencengkram lengan Yunna tidak sabar, “Aku tidak peduli hiu putih itu akan punah besok atau sepuluh tahun lagi. Jawab aku apa yang kamu kerjakan di tengah badai seperti ini dengan life jacket dan diving suit?”

Yunna memerjapkan matanya, bingung mendengar kemarahan laki-laki di hadapannya itu. Pelipisnya yang berkedut mengiringi mata Micky yang melotot.

“Eeer… Aku menyelam. Salah satu pelatih diving di sana mengajariku dan aku terlalu penasaran. Saat aku ingat akan janji kita, aku memutuskan untuk tidak menganti pakaianku. lagipula diving suit lebih hangat dibanding pakaian biasa.”

“Lalu life jacket itu? Apa yang kamu lakukan hingga memerlukan life jacket?”

Micky menatap mata coklat Yunna yang terlihat menghindarinya sekarang. Apalagi yang disembunyikan Yunna. Masa sih dia, Micky menguncang tubuh Yunna, “Bilang kamu tidak melakukan terjun bebas dari helikoptermu!” seru Micky.

Saat Yunna tidak membantahnya, Micky melepas perempuan itu dan mundur beberapa langkah, mencengkram rambutnya sendiri gemas, “God!!!! Aku tidak pernah percaya saat dulu Keiko bercerita kamu suka melakukan olahraga berbahaya. Aku pikir Keiko hanya membesar-besarkannya.”

Micky memutar badannya, “I have enough of this. Aku tidak datang untuk melihat kamu membunuh dirimu sendiri.” Micky mengeluarkan usb stick berbentuk kalung dari saku celananya dan menjejalkannya ke tangan Yunna. “Ini konsep untuk MV baru Fox-T. Managerku menitipkannya padaku saat mendengar aku mau menemuimu.”

Yunna meraih lengan Micky dan menahan laki-laki itu. “Bisa bantu aku mencopot resleting ini sebelum kamu pergi. Aku tidak bisa mengapainya.”

Micky kembali memandangi Yunna dengan penuh kemarahan, “Suruh saja pengawalmu atau pembantumu.” ia menepis lengan Yunna dan kembali ebranjak pergi.

“Aku meliburkan mereka semua.”

“Dan kenapa kamu meliburkan mereka?”

“Aku pikir…” Yunna menelah ludah, “Aku perlu berbicara denganmu empat mata.”

“Berbicara apa?”

“Apa saja, seperti bagaimana kabarmu, teman-temanmu. Apa kamu puas dengan kontrak yang diberikan oleh CLEO. Apa pendapatmu tentang produk-produk CLEO.”

Micky menatap Yunna berharap ia bisa mengerti isi kepala Yunna yang menurutnya semakin tidak bisa ia tebak. Kalau yang diinginkan Yunna hanya sekedar bertukar kabar, perempuan itu kan bisa mengangkat teleponnya.

“Bisa bantu lagi?” tanya Yunna memunggungi Micky, meminta tolong untuk mencopotkan diving suit yang melekat erat di tubuhnya.

Tangan gemetarnya terlalu mati rasa untuk melalukan tugas kecil tersebut. Yunna seharusnya meminta pengurus rumahnya untuk menyalakan perapian. Setidaknya dengan kehangatan tunggu itu, Yunna tidak akan mengigil di bawah sentuhan Micky.

“Oh..” Nafas Micky tercekat saat melihat kulit mulus tengkuk Yunna. Ia menelan ludah dan menahan nafas tanpa sadar saat menurunkan resleting itu.

Micky berusaha melakukannya secepat mungkin, namun tangannya lemas tak berdaya. Ia bahkan melihat tangannya itu gemetar dalam melakukan tugasnya. Ia mengigit pipi dalam mulutnya, berusaha mengembalikan kesadaran pada oaknya untuk bergerak lebih cepat.

Saat resleting itu turun dengan sempuran, Micky terkesiap dan memundurkan langkahnya, menatap bekas luka panjang yang melintang dari bahu kanan turun ke pinggang kiri Yunna. Ia meraba luka itu tanpa sadar.

“Oh, itu.” bisik Yunna, “Hanya luka kecil.” ia menarik diri dari Micky tapi laki-laki itu tidak membiarkannya.

Micky memeluknya dari belakang. Kepalanya di sandarkan di bahu Yunna dan berbisik, “Ceritakan padaku.”

Yunna tersenyum getir. Ia lupa sama sekali akan lukanya itu ketika ia meminta Micky membantunya melepaskan pakaian ketat sialan ini. Ia berpikir keras mencari cara untuk menghindar dari pertanyaan Micky. Tapi di sisi lain, sebagian dari dirinya ingin Micky mengenal dirinya. Luka itu akan menjadi awal yang bagus untuk menceritakan dirinya.

“Waktu aku SMA, aku pernah diculik oleh musuh papa. Setelah satu minggu disekap oleh mereka, akhirnya Papa setuju untuk membayarkan uang tebusan. Hanya ada satu penculik yang menjagaku hari itu. Orangnya kecil dan yang paling baik di antara mereka. Saat itu aku berpikir, kalau aku ingin kembali hidup-hidup, aku harus kabur saat itu.”

Micky menarik Yunna lebih dekat dalam pelukannya, menyandarkan Yunna sepenuhnya  kepadanya. Ia ingin Yunna merasa aman.

“Aku berhasil membuat penculik itu percaya kalau aku perlu melakukan nomor 2. Tentu saja penculit itu menemaniku, aku menabrak dia, membuat ia terjengkal menabrak pintu dan aku berlari sekuat tenaga menuju padang terbuka. Aku berasumsi jika aku berhasil melewati padang itu, aku akan tiba di samping jalan besar dan dari sana aku bisa meminta pertolongan.” suara Yunna tercekat, ia masih bisa merasakan ketegangan yang meliputi dirinya di hari itu.

Ia masih bisa merasakan panasnya jalan raya yang dilewati kaki telanjangnya. Jantungnya yang berderap dan teriakan sang penculik yang mengejarnya. Suara lecutan cambuk yang mengiringi setiap langkahnya.

“Yang tidak aku ketahui, penculik itu memiliki cambuk. Aku tidak berani menoleh untuk melihatnya. Aku terus berlari, berlari. Melewati jalan besar dan terus menuruni gunung. Harapanku timbul saat aku melihat kedai di pinggir jalan. Aku lari secepat yang aku bisa. Tepat saat aku tiba di depan pintu kedai tersebut, cambuk penculik itu mengenaiku.”

Yunna tertawa pelan, “Mungkin dia berpikir aku akan jatuh pingsan saat cambut itu mengenaiku. Tapi aku tidak mau menyerah, tidak ketika keselamatanku sudah di depan mata. Aku mendobrak pintu itu dengan bahu dan masuk ke dalam kedai tersebut dengan pakaian compang-camping.”

Micky mengecup tengkuk Yunna untuk menenangkan nafasnya yang memburu. Mungkin Yunna tidak sadar jika perempuan itu menjadi semakin tegang.

“Konyolnya kedai itu ternyata sedang mengadakan pesta. Kehadiranku tentu saja membuat mereka terkejut dan mereka mulai mengerubuniku. Aku panik dan jatuh pingsan.”

Yunna tidak sadar kalau Micky sudah memindahkan tangannya dan mengelus lengan Yunna . Ia juga baru tersadar kalau dirinya telah begitu tegang ketika ia merasakan detak jantungnya yang berderap sekecang kuda yang berpacu liar.

Ia tidak menolak ketika Micky memutar tubuhnya, mempermudah laki-laki itu untuk memeluk Yunna. Ia mengelamkan diri ke dada Micky yang bidang dan hangat. “Saat aku bangun, aku sudah berada di rumah sakit. Big yang pertama kali menyadari kalau aku sudah siuman, dan pria bodoh itu berteriak membangunkan Yogi dan orang tuaku. Kamu harus melihat wajah mereka saat itu. Bengong seperti orang bodoh.” gurau Yunna. Mendadak ia merasa tidak nyaman di peluk seperti ini oleh Micky.

Ia merasa dirinya yang lemah dan tak berdaya kembali terekspos.

“Jadi karena itu kamu tidak suka berada di antara kerumunan orang banyak?” Micky merasa Yunna kembali menegang sebelum memberi anggukan kecil di dadanya. Gerakan kecil yang membuat hatinya meringkis. Ia memeluk Yunna lebih erat dan mengecup kepala Yunna. “Aku melihat kamu tidak nyaman saat dikerumuni oleh wartawan hari itu.”

“Touche”

Micky mengecup kening Yunna dan menaikan dagu Yunna dengan tangan kanannya, memaksa Yunna untuk membalas tatapannya, “Aku senang kamu memiliki kelemahan.” ujar Micky jujur. “Aku jadi bisa melihatmu lebih baik.”

Yunna tergelak dan memukul dada Micky, “Kamu setakut itu yah padaku?”

“Bukan takut, Non. Tapi aku hormat padamu. Asal tahu saja, tidak banyak perempuan yang aku kagumi. Kamu harus berbangga hati.”

“Oh? Kalau begitu kamu juga harus berbangga hati Mister. Tidak banyak laki-laki yang sanggup membuat aku tertawa.”

“I’m at your service, Mam. Beritahu saja kapan kamu membutuhkan lelucon untuk tertawa, aku akan datang secepat kilat dan mempersembahkan diriku dengan pita emas.”

“Dart it. Berhenti mengombal Micky. Aku tidak nyaman mendengarnya.”

“Kenapa?” tanya Micky mendadak berbisik dengan suara serak.

“Aku tidak percaya romantisme.”

“Lihat aku.” pinta Micky, tangannya kembali mengelus pipi Yunna tanpa sadar dan memaksa mata mereka saaling bertaut. Masih ada canda di sana dan Micky enggan menghapusnya. Ia tidak rela menahan dirinya agar tidak menerjang dan mencium Yunna detik itu juga.

Senyum Yunna lebih berharga dibanding berlian manapun. Lebih berkilau daan cemerlang.

“Aku tahu semua kalimat yang aku katakan padamu terdengar picisan. Tapi Yunna, aku tidak pernah mengerti apa itu merindu sebelum aku bertemu denganmu. Aku tidak mengerti arti mendamba sebelum kamu mendadak memutuskan untuk menjauhiku. Aku tidak paham apa itu sesal sebelum aku tidak bisa mendengar suaramu. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak membuatmu kecewa. Aku ingin kamu bahagia bersamaku.”

Yunna menatap Micky dengan perasaan menyesakan. Ia tidak lagi mampu membohongi dirinya kalau ia juga merasakan hal yang sama. Ia rindu, ia ingin bertemu. Ingin bersama. Tapi demi kebaikan mereka berdua. Yunna harus menahan dirinya.

Tapi tubuhnya tidak mau menurut, Yunna mencium Micky. Ia menarik leher Micky dan Micky menarik pinggangnya. Micky memainkan mulutnya paa mulut Yunna, melumat, melahap, memainkan lidahnya, menjelajah hingga puas.

Yunna tidak menahan dirinya, mengerang puas. Benar, seperti inilah ciuman itu seharusnya terasa. Panas yang membakar dirinya hingga menjadi asap sekaligus lembut dan menhanyutkan.

Berdua mereka melakukan tarian cinta. Sampai mereka berjalan menuju kamar Yunna.

Advertisements

4 thoughts on “Damn, I Love You – chapter 14

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s