Damn, I love you – chapter 15

Yunna membuka pintu kamarny tanpa menghentikan ciuman mereka. Ia masih terlalu larut dalam gairah.

Tapi kesadarannya tiba ia merasa dirinya terlentang di atas ranjang dengan Micky di atasnya.

“Stop.” Yunna mendorong Micky sedikit. “Aku…”

“Kalau kamu ingin menghentikannya, ini adalah saat yang tepat.”

“Kamu tidak akan marah?”

Micky tersenyum dan mengecup bibir Yunna. Memandangi perempuan yang dicintainya itu dengan mesra.

“Tidak, sayangku. Aku tidak akan marah.”

Yunna memandangi Micky untuk sesaat, ia tahu tidak mudah untuk seorang laki-laki berhenti di tengah jalan seperti yang Micky lakukan. Jadi Yunna tahu apa yang akan terjadi pada mereka seandainya Yunna menyetujui melakukannya.

Yunna akan menginginkan lebih dari hubungan mereka padahal Yunna tahu dengan jelas tidak akan ada masa depan untuk mereka. Belum lagi kecanggungan yang akan mereka hadapi. Karena status mereka akan menjadi tidak jelas batasannya.

Dan Yunna benci kecanggungan. Ia ingin bersikap sewajarnya ketika bersama Micky. Ia ingin tertawa, marah dan bercanda dengan Micky tanpa beban.

Yunna membelai pipi Micky, “Aku minta maaf. Tapi aku rasa demi kita. Lebih baik kita menghentikan ini.”

Micky mengecup kening Yunna dan merebahkan diri ke samping. Yunna tidak tahu betapa puasnya Micky ketika mendengar kata ‘kita’ dari mulut Yunna. Kita berarti mereka saling berbagi. Kita berarti sekarang mereka memiliki hubungan.

Chandelier crystal bergaya baroque dengan 24 lampu dan rock crystal menarik perhatian Micky sekarang.

Yunna tersenyum saat melihat Micky memperhatikan chandelier kebangaannya itu dan menunjuknya dengan semangat.

“Itu chandelier dari Savoy kan? Aku nyaris membeli itu kalau saja harganya lebih terjangkau. Kamu bisa membeli sebuah CRV Honda baru untuk nilai yang sama.”

“Anak PM Perancis membelikannya untukku saat aku datang ke pameran Versailles. Aku jatuh cinta pada lekukan dan rock crystal utamanya.” Yunna menunjuk batu crystal besar berdiameter 30cm yang mengelantung di ujung chandelier.

“Aku selalu merasa bisa mengampai apapun keinginanku,”

Yunna mengangkat tangannya seraya mengenggam bandul itu.

Micky meniru gerakan Yunna, hanya saja ia mengenggam tangan Yunna sekaligus.

“Yes, I catch my dream.” gurau Micky yang dihadiahi tawa Yunna.

Tawa lepas yang ikut membuat hati Micky diterangi cahaya terang. Tawa yang membuat dirinya merasa telah melakukan keputusan yang tepat untuk menunggu. Ia tidak akan mendesak Yunna. Ia akan terus menemani perempuan ini sampai maut memisahkan mereka. Tidak peduli jika Yunna akan terus menolak perasaannya.

Saat ini kebersamaan mereka sudah cukup.

“Aku ganti pakaian dulu.”

Yunna meninggalkan Micky yang masih terpesona dengan lampu gantung miliknya. Ia masuk ke ruang ganti untuk berganti pakaian. Namun baru teringat tujuan ia memanggil Micky datang ke rumahnya.

“Ky, kamu masih di sana?” panggil Yunna dari dalam ruang ganti, ia mendengar Micky menyahut. “Di laci samping kasur ada kotak emas, kamu buka dan beritahu pendapatmu.”

Micky mengikuti perintah Yunna dan beranjak ke samping ranjang. Kotak emas yang disebut Yunna dengan mudah ditemukannya. Ia mengambil kotak tersebut dan duduk kembali di atas ranjang.

Kotak itu berisi jewelery pria berupa gelang, kalung, cincin dan anting. Semua dengan bentuk ukiran maya dan sangat unik. bahannya bervariasi dari perak, emas putih dan titanium.

Jack pasti akan girang bukan main jika melihat benda-benda ini. Ia tidak terlalu maniak perhiasan seperti temannya itu. Tapi tetap saja ia mencoba beberapa gelang dan kalung di antaranya. Ia menggunakan cermin panjang yang terletak di sisi kanan kamar.

Saat ia mencoba kalung dengan aksen tengkorak, ia melihat Yunna keluar dari kamar gantinya dan langsung membantunya mengenakan kalung tersebut.

Micky tidak bisa melepaskan matanya dari wajah polos Yunna. Ia tidak pernah membayangkan Yunna akan memilih kaos oblong dan celana training untuk pakaian rumah. Yunna jadi terlihat sepeti perempuan biasa. Tidak ada bedanya dengan perempuan lain yang dikenalnya.

Ia tersenyum entah untuk alasan apa. Saat Yunna selesai mengaitkan kalung di lehernya, ia tidak membuang waktu dan merangkul pinggang Yunna.

“Do you know I’ll kill to see how you look right now? Aku terus membayangkan pakaian apa yang akan kamu kenakan ketika berada di rumah dan bersantai. Tidak terlintas dalam benakku kalau kamu akan berpenampilan normal dan terlihat seperti perempuan lain.”

“Aku ini trendsetter, Micky. Mereka yang berpakaian sama denganku, bukan sebaliknya.”

“And I’m in love.”

Ucapan Micky menyurutkan senyum Yunna. Yunna menghampiri Micky memeluk leher Micky.

Berikutnya tubuh laki-laki itu melayang dan terhempas ke atas ranjang.

Yunna membanting Micky.

“Jangan bercanda soal itu.” tegur Yunna tegas. Ia tidak suka Micky mempermainkan emosinya. Ia tahu dengan jelas Micky tidak mungkin memilki perasaan padanya. Nafsu mungkin, tapi nafsu bukan cinta.

Micky setengah terduduk di atas kasur Yunna. Terlalu terkejut mendapati dirinya dibanding dengan mudah oleh perempuan sekecil Yunna. Well, perempuan itu memang tidak terlalu kecil untuk ukuran perempuan. Setidaknya tinggi Yunna 170 cm. Tapi tetap saja lebih kecil darinya. Tidak seharusnya seorang perempuan bisa membanting laki-laki. Terutama saat laki-laki itu sedang mengutarkan perasaannya.

“Maaf kalau aku terdengar seperti kaset rusak. Aku juga tidak mengerti kenapa aku merasa aku harus selalu mengungkapkan perasaanku padamu. Setiap kali kita bersama, selalu ada saja sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah aku lihat sebelumnya darimu dan aku kembali jatuh cinta padamu. Aku tidak bisa mengontrol diriku dan meminta untuk berhenti.”

Yunna tertawa menghina. “Omong kosong!”

Yunna menyisir rambutnya yang sekarang mulai kering. Mengigit bibirnya dengan gugup. Ia tidak lagi yakin apa yang harus ia katakan. Ia memijit keningnya, berharap kening itu panas karena demam. Tapi tidak, keningnya malah dingin. Membuktikan ia memang cukup gila karena sebagian dari dirinya berharap apa yang Micky katakan benar dan ia memang pantas dicintai.

“Kalau begitu lihat aku.”

Laki-laki itu menarik lengan Yunna, membawanya kembali dalam pelukan Micky. Satu tangan lainnya menjambak rambut Yunna, memaksa Yunna untuk menatap mata Micky.

“Beritahu apa yang kamu lihat.” tantang Micky.

Oh, Yunna ingin menangis. Ia bisa merasakan matanya memanas dan butiran air mata mulai menghalangi pandangannya. Digigitnya bibir Yunna, memerintahkan dirinya untuk tetap tegar.

Tidak sanggup menahan laju perasaannya, Yunna memejamkan mata. Ia tidak mau melihat. Ia tidak ingin tahu. Ia tidak ingin mengakui bahwa Micky menyukainya. Bahwa Micky telah jatuh cinta padanya. Ia tidak mau laki-laki itu mencintainya. Ia tahu mau mengetahui bahwa laki-laki itu juga menyimpan perasaan untuknya.

Dirasakannya cengkraman Micky merenggang dan tubuh mereka menjauh. Yunna membuka matanya dan hatinya hancur saat melihat mata Micky yang terlihat terluka sekaligus khawatir.

Khawatir apakah dia telah menyakiti dirinya. Khawatir apa Micky telah bersikap kelewatan dan mengasarinya.

Yunna mengelengkan kepala, menjawab hujaman tatapan Micky.

“You won’t hurt me. But I’ll hurt you. Eventually.” bisik Yunna.

Micky tidak mendengar bisikan tersebut. Ia terlalu kalut mengurus pikirannya sendiri.

Damn it. Seharusnya ia tidak terbawa emosi dan memaksa Yunna. Perempaun itu baru saja melewati badai dan bercerita mengenai kenangan terburuk dalam hidupnya. Dan dia sebagai laki-laki tidak berperasaan sudah memaksakan kehendaknya pada Yunna.

“Maaf.” ucap Yunna membuat Micky dada Micky semakin sakit.

Bukan Yunna yang harus meminta maaf. Dia yang telah menyakiti Yunna. Ia telah mengejutkan Yunna dengan menyatakan perasaannya di malam tidak jelas ini.

“Maaf.” ulang Yunna. “Aku tidak bisa menerima perasaanmu. Aku sudah berjanji tidak akan mengulang kesalahanku lagi.” Yunna mendorong Micky menjauh. “Maafkan aku.”

Micky melepaskan Yunna. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana menanggapi penolakan Yunna. Hati kecilnya merasa bahwa Yunna sengaja menolaknya. Sebab jika Yunna memang tidak memiliki perasaan untuknya, mengapa perempuan itu menangis?

Ia tidak tahu harus merangkul Yunna dan meyakinkannya bahwa semua akan abik-baik saja atau pergi meninggalkan Yunna. Ia tidak sanggup melihat Yunna menangis. Ia tidak sanggup melihat perempuan itu terlihat tidak berdaya di hadapannya. Terlebih jika yang menjadi penyebab Yunna mencucurkan air mata adalah dirinya.

Damn, ia merasa menjadi laki-laki paling hina di dunia ini.

Ia tidak tahu apa alasan Yunna menolaknya. Mungkin kesalahan masa lalu yang disebut Yunna itu yang menjadi penyebabnya. Ia tidak berani bertanya kembali. Ia tidak sanggup mendesak Yunna lebih jauh.

Mungkin lebih baik jika ia membiarkan Yunna menata perasaannay dulu. “Jangan menangis.” bisik Micky lembut. Ia menyapu butiran air mata dari pipi Yunna. Menaikan dagu perempuan itu agar memandang padanya. “Lupakan semua yang aku katakan tadi. Lupakan.”

Micky meletakan telunjuknya di bibir Yunna, menahan bantahan perempuan itu. “Sst….aku laki-laki dewasa, aku tidak akan hancur hanya karena kamu menolakku saat ini.” ucap Micky dan ia melemparkan senyum untuk menenangkan Yunna,

“Tapi aku ingatkan missy. I won’t give up.” ia menekan telunjuknya lebih dlam ke bibir Yunna. Perempuan itu ingin kembali membantahnya. Dasar perempuan nakal. “Aku akan pergi sekarang.” Micky melirik jam di tangannya. Hamlir pukul 11. “Aku harus kembali ke tempat syuting kalau tidak mau managerku memberikan sangsi.”

Micky melepaskan Yunna dan tahu Yunna bingung melihat perubahan sikapnya. Ia mengusal rambut Yunna gemas. “Sekarang, jadi anak manis. Pergi tidur. Aku akan tahu kalau kamu tidak menurut.”

Yunna memandangi punggung Micky yang terlihat gagah saat meninggalkan kamarnya. Saat pintunya tertutup, Yunna sudah tertawa terbahak-bahak.

Astaga, apa itu tadi?

Ia menangis, tertawa, panik dan lega dalam waktu, Yunna melirik jam dinding di atas pintu, kurang dari 2 jam. Semua dilakukan oleh satu orang yang sama.

Awalnya Yunna tertawa kecil, namun semakin lama semakin kencang.

“You’re damned, Yunna-ya. Kehuncuran akan datang merengkuhmu cepat atau lambat kalau kamu tidak bisa mengontrol emosimu.” bentak Yunna pada dirinya sendiri.

Ia mulai menangis. Kesal pada dirinya. Kesal pada keadaannya. Kesal pada situasi dirinya.

Ia mulai berharap ia hanya gadis biasa dan bukan seorang Kim Yunna. Setidaknya jika ia seorang gadis biasa, ia tidak perlu ragu untuk menerima perasaan Micky. Kalau ia hanya seorang gadis biasa ia boleh bermimpi.

Air mati bergulir membasahi pipinya, hatinya, jiwanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s